Abu-abu

Siapa yang tidak kenal dengan kata moralitas? Moralitas merupakan
suatu kumpulan penilaian baik-buruk suatu tindakan. Tindakan yang
dianggap tidak bermoral adalah tindakan yang dianggap tidak mempunyai
standar penilaian baik-buruknya sehingga sanggup menghalalkan segala
cara apapun. Moralitas sering dikaitkan dengan hati-nurani. Sehingga
banyak manusia merasa bahwa moralitas selalu berasal dari
pengejawantahan hati nuraninya mengenai suatu sikap atau keadaan.

Hanya saja, menurut hemat saya, sebenarnya ada perbedaan yang sangat
besar antara mengikuti hati nurani dengan mengikuti moralitas.
Pernahkah terpikir terkadang apa yang menjadi kata hati yang berasal
dari nurani kita malah bertolak belakang dengan yang telah menjadi
standar moralitas dari suatu peristiwa/perilaku yang kita hadapi? Nah
pertanyaannya, apakah itu berarti moralitas tersebut yang sudah tidak
merefleksikan hati nurani kita atau hati nurani kita yang malah telah
terpolusi sehingga menjadi tidak murni lagi karena mungkin telah
tertutupi oleh hawa nafsu? Mana yang lebih tepat? Moralitas yang
terlalu kaku sehingga malah memperburuk keadaan atau hati nurani yang
telah korup? Justru dengan semakin modernnya budaya manusia, semakin
beragamlah standar moralitas yang ada, sehingga manusia modern semakin
bingung dalam menuruti atau mengarahkan hati nuraninya. Jaman dahulu
jauh lebih simpel, dimana agama menjadi satu dengan negara sehingga
rakyatnya tidak mempunyai pilihan selain mengikuti standar/dogma
moralitas yang ada kalau tidak mau, bisa dianggap makar terhadap
raja/negara.

Keberagaman standar moralitas inilah yang malah terkadang membuat
kemampuan untuk melihat keinginan dari hati nuraninya menjadi tumpul
karena kemalasan untuk melakukan kontemplasi untuk mengenal diri,
hanya ikut-ikutan mengadopsi suatu standar moralitas tertentu. Banyak
manusia modern takut mengambil keputusan moralitas tersendiri
dikarenakan takut disalahkan oleh lingkungan masyarakatnya, dimana dia
melihat keselamatan dirinya sangat bergantung dengan penerimaan
lingkungan sosialnya. Ketidakmandirian mentalitas seperti inilah yang
menyebabkan ketergantungan pada penerimaan, tidak terkecuali pada
pilihan standar moralitasnya.

Mengapa bisa sampai timbul ketidakmandirian? Ini tidak lain dan tidak
bukan berasal dari sudut pandangnya sendiri mengenai kehidupan. Bila
seorang manusia memandang kehidupan sebagai perjuangan atau bertujuan
untuk mencari keselamatan, maka wajarlah kalau dia merasa wajib
mendapatkan pegangan moralitas itu sangatlah penting. Nah dalam hal
mendapatkan pegangan moralitas, tentu yang paling mudah adalah
mengadopsi pegangan moral yang sudah ada di lingkungan sosial
terdekatnya sendiri. Karena bila dia tidak mau mengadopsinya, maka
bisa-bisa disalahkan oleh lingkungan terdekatnya/yang dicintainya.
Misalnya disalahkan oleh sanak-keluarganya sendiri, atau disalahkan
oleh teman-teman dekatnya. Bisa dibayangkan ketidaknyamanan yang bakal
dia terima bila pegangan moralnya berbeda dengan pegangan moral
lingkungan terdekatnya. Pegangan moral dalam tulisan ini bisa
diartikan sebagai kepercayaan, agama, nilai baik dan buruk, tradisi,
pendidikan, dlsb. Di Indonesia saja kebanyakan masih sulit sekali bila
seorang anak nekat melepaskan agamanya yang dianut oleh ortunya lalu
memilih agama yang lain atau bahkan memilih untuk tidak beragama.
Segera saja otoritas orang dewasa lain seperti gurunya, pamannya,
ulamanya, akan menentang sikap anak tersebut, setidaknya menyayangkan
keputusan yang diambil oleh anak itu. Oleh karena itulah di Indonesia
masih jarang individu yang memang dapat memilih sendiri pegangan
moralnya (agamanya) sesuai dengan kebutuhan dari hati nuraninya sendiri.

Tapi saya disini tidak berbicara tentang bagaimana supaya mandiri
dalam memilih pegangan moral berdasarkan hati nurani. Bukan itu yang
ingin saya bicarakan. Yang ingin saya bicarakan adalah lebih jauh dari
hal itu saja. Saya malah menyarankan lebih jauh bahwa lebih baik jika
kita tidak terikat dengan moralitas. Saya tentu tidak menyarankan
supaya kita tidak bermoral. Tentu saja kita harus mempunyai batas
moralitas tertentu supaya dapat hidup harmonis dalam budaya modern
ini. Tapi keterikatan kita dengan standar moralitas tertentu dapat
membuat hidup kita malah menjadi penuh dengan perasaan was-was dan
tidak tenang. Memiliki standar moralitas yang baku dan kaku
menyiratkan individunya melihat kehidupan sebagai perjalanan dalam
perjuangan kehidupan yang tentu membutuhkan panduan arah sekaligus
keselamatan dalam perjalanannya agar tidak tersesat atau malah menemui
kesengsaraan. Si individu juga menyiratkan keinginan untuk mempunyai
acuan baku/kompas supaya bisa selamat dalam perjalanan/perjuangan di
kehidupannya ini. Sehingga hampir bisa diramal, seluruh kehidupannya
bakal dipenuhi oleh perasaan yang tidak tenang yang terus-menerus
mengkhawatirkan keselamatan atau kesuksesan dari
perjalanannya/perjuangannya di kehidupannya tersebut. Dia akan
terus-menerus mengkalibrasi dirinya/berusaha mematuhi acuan atau
pegangan moralnya (atau agamanya), supaya dapat yakin dia masih berada
di jalan yang lurus dan tidak lagi tersesat.

Bagaimana bila saya mengatakan bahwa acuan/kompas tidak diperlukan di
kehidupan ini? Pegangan/standar moralpun tidak diperlukan. Sia-sialah
beragama jika yang dituju adalah standar moral tertentu, karena bagi
saya di kehidupan ini, hal itu hanyalah sebagai beban sahaja. Bisakah
anda melepaskan standar moral anda? Bisakah anda melepaskan agama
anda? Bisakah anda melepaskan perjuangan anda, bahkan perjalanan anda?
Jika anda tidak bisa, artinya anda memang masih memandang kehidupan
sebagai perjuangan/perjalanan. Anda memandang kehidupan mempunyai
suatu tujuan perjalanan yang harus dituju. Dan tentu saja supaya
sukses dalam perjalanan anda, anda membutuhkan suatu
peta/kompas/acuan/standar moral. Inilah mengapa anda tidak bisa
melepaskan hal-hal tersebut. Melepaskan dalam hal ini bukanlah berarti
melepaskan untuk selamanya…., tapi tidak terikat dengan hal-hal
tersebut. Saya sendiri bisa saja membutuhkan acuan/standar moral. Tapi
saya juga bisa melepaskannya sesuai dengan kebutuhan saya. Atau kalau
mau bicara muluk, sesuai dengan hati nurani saya. Jika saya lagi butuh
jawaban, saya mungkin mencarinya dari standar moral tertentu (atau
kebijaksanaan dari agama tertentu), jika saya belum mendapatkannya
sesuai dengan kebutuhan saya, saya bisa mencari di tempat lain, tidak
terkecuali mencarinya dari dalam diri saya sendiri juga. Saya tidak
terikat hanya mencari dari suatu standar moral tertentu saja (agama
tertentu saja). Saya pada dasarnya menerima semua masukan, dan
memilihnya bila hanya sesuai dengan kebutuhan atau hati nurani saya
saja. Kebebasan seperti ini saja rasanya sudah sangat mendamaikan hati
dan perasaan. Karena saya tidak lagi diliputi oleh perasaan cemas dan
khawatir kalau-kalau saya telah tersesat atau salah langkah. Saya
tidak peduli saya sedang tersesat atau tidak. Sebabnya simpel. Karena
saya sudah bukan pejalan lagi. Saya tidak melakukan perjalanan lagi.
Saya tidak mempunyai tujuan dimana saya harus sukses untuk tiba di
tujuan dengan selamat. Jangan salah, saya masih mempunyai tujuan.
Namun bedanya, saya tidak peduli tujuan saya tercapai atau tidak. Saya
tidak peduli saya bisa selamat sampai tujuan atau tidak. Mengapa saya
bisa tidak pedulian? Karena memang, saya telah memilih memandang hidup
dengan cara saya sendiri (dengan hati nurani saya sendiri). Ini hasil
dari kontemplasi saya sendiri. Bahwa kalau kita tidak memandang
kehidupan sebagai perjuangan ataupun perjalanan yang harus sukses
serta selamat, maka secara ajaib semua kekhawatiran mengenai kehidupan
yang sedang kita jalani sangat-sangat jauh berkurang kadarnya. Saat
ini saya sering memandangi teman saya yang terus ngoyo membawa diri
saya ke cara pandangnya, bahwa hidup itu penuh dengan perjuangan dan
air mata kalau mau mendapatkan sukses dalam perjalanan hidup kita
masing-masing. Dulu saya pernah mencoba untuk merubah cara pandangnya
tersebut, yang hasilnya hanya membuat dia marah besar dan menganggap
otak saya konslet bila mempunyai pandangan hidup hanya untuk pelesiran
belaka. Aneh, kok ada yah teman yang mempunyai sifat begitu pedulinya
dengan saya (teman ini memang sifatnya pedulian dan senang menolong
teman-temannya), tapi ngotot mengajak saya untuk stress bareng sama
dia ya? Kadang bingung saja. Sejak saat itu, saya tidak berusaha lagi
merubah cara pandang hidupnya, hanya jaga jarak dan pura-pura ikut
saja permainannya supaya tidak mengganggu cara pandang teman saya itu.
Cuma kadang kasihan saja. Tapi tidak apa-apa jugalah, ini bukan
masalah baik atau buruk. Ini hanyalah masalah pilihan ekspresi. Teman
saya lagi menikmati sinetron buatan sendiri berjudul Perjuangan Hidup,
saya lagi menikmati sinetron buatan sendiri juga berjudul Pelesiran Di
Kehidupan Saat Ini. Masing-masing penikmat sinetron bukan?

Kalau anda merasa tulisan ini `bukan gue banget!’ ya tidak perlulah
ikut-ikut mengadopsi cara pandang saya ini. Silahkan anda menikmati
cara pandang anda sendiri. Kalau sudah tidak suka lagi, ya silahkan
berubah. Gitu aja repot? Dan bagi yang mau berubah dan visinya
kelihatannya sama seperti saya, yaitu cari kehidupan pelesiran
(mumpung saya lagi main sinetron pelesiran nih), silahkan ikut
bergabung dalam ikut membaca tulisan ini. Dan mari kita lanjutkan
ocehan saya ini.

Bagi anda yang masih berminat, saya bawa lagi anda-anda lebih lanjut.
Lebih lanjutnya, sayapun tidak terikat dengan pelesiran saya…!
Maksudnya tidak terikat adalah, saya kemudian tidak ngoyo untuk tetap
dalam keadaan pelesiran. Tidak ngoyo untuk tetap dalam keadaan
liburan, tidak ngoyo untuk bermalas-malasan. Saya tidaklah mirip
dengan anak sekolahan yang masih sangat pengen memperpanjang
liburannya ketika musim sekolah sudah tiba lagi. Tidak begitulah. Jika
saya ngoyo untuk tetap liburan, lha sama saja dong saya malah
menciptakan suatu perjuangan lagi, hehehe…! Perjuangan untuk tetap
libur! Wah-wah, itu mah saya berarti malah juga mempunyai tujuan
perjalanan yang harus tercapai/sukses lagi dong…..! Harus sukses
mempertahankan pelesiran! Terikat lagi dong dengan dogma/acuan, yaitu
bahwa kita harus membedakan diri dengan orang-orang yang gila
perjuangan/stress. Ini khan juga acuan. Ya.. acuannya mereka itu
(orang gila perjuangan) kita jadikan acuan. Dogmanya ya saya kasih
contoh saja, bisa saja ada buku seperti, Anti Sukses, 1001 Cara Untuk
Malas, Tidur Siang Itu Harus, Kaya Tanpa Usaha, dlsb. Nah terlihat itu
adalah acuan/buku-buku teks/wajibnya. Sama saja dong saya akhirnya
punya panduan/pegangan moral, bahwa pegangan moral saya adalah menilai
buruk jika berjuang dan menilai baik jika terus pelesiran. Akan
memandang orang yang gila kerja sebagai pendosa, dan memandang orang
yang bisa menikmati hidupnya sebagai nabi…. ! Nah lho! Sebentar saja
perasaan was-was, takut tersesat, khawatir akan menjadi lagi teman
setia saya, walaupun ironisnya saya lagi berusaha pelesiran!

Nah, oleh karena itulah saya bisa saja terikat dan sekaligus bisa
tidak terikat oleh pegangan moral. Bagi saya itu tidak penting lagi.
Weleh, sekarang ketika saya dihadapkan kepada suatu masalah moral,
misalnya saja baru-baru ini saya dimintai nasihat dari teman saya
(cewek), bagaimana cara memintai duit (memeras) dari mantan pacarnya
yang telah menyakiti dirinya. Menurut standar umum, tentu tidak baik
memeras orang lain. Tapi bagi saya, enggak efek jika mau memeras kek,
atau malah mau tetap terus ditindas kek, bukan itu yang terpenting.
Saya melihat teman saya ini terus-menerus merasa dirinya tersakiti
oleh mantan pacar (atau masih pacaran gak jelas). Rasa sakit inilah
yang terpenting soalnya mempengaruhi dia untuk menikmati hidup sesuai
dengan keinginannya (tentu keinginannya tidak termasuk terus merasa
sakit ). Nah saya sarankan saja kalau mau bales dendam, bales dendam
saja dengan sepenuh hati (dalam hal ini memeras). Terus teman saya
cukup senang mendengar saran saya ini. Saya merasakan dia `cukup’
senang, bukan senang sampai jingkrak-jingkrak. Nah ini khan berarti
dia agak was-was juga dengan aksi memerasnya nanti. Ya saya bawa saja
untuk mengajak dirinya memetakan sendiri, meramal konsekuensi yang
bakal terjadi pada dirinya. Apakah memintai duit mantan pacarnya
adalah hal yang realistis? Kemudian ternyata teman saya ini terus
menekankan alasan mengapa mantan pacar itu layak untuk diperas, tapi
kurang mau melihat konsekuensi atau rasio keberhasilan, seberapa besar
kemungkinan dia berhasil memintai duit mantan pacarnya? Setelah
melihat sendiri kemungkinannya cukup kecil untuk sang mantan pacar mau
ngucurin duit ke rekening teman saya, dia pun jadi sadar, rencananya
kurang realistis dan hanya habis-habisin energi. Saya bilang saja
mengapa dia lupa menghitung rasio keberhasilan, sebab dia begitu
menikmati perannya sebagai `sang yang tersakiti hatinya sehingga layak
dapat duit pengganti’. Nah peran itulah dengan judul sinetron `Sang
kekasih yang telah berkorban namun cowoknya hanya memanfaatkan saja,
sehingga cowok tersebut layak diperas duitnya (kalau tidak pernah
merasa dihargai sekalian ajah jadi pelacur gak usah nanggung!)’,
dengan judul tersebut, teman saya sumingrah menikmati perannya plus
dengan menjalani perasaan naik-turun kayak jet-coaster. Saya bilang
saja lagi, setelah putus ini (dan jadi mantan pacar), perasaan
jet-coaster itu akan masih ada dan baru akan hilang paling cepat 6
bulan kemudian. Keterangan tambahan, dia udah sering putus-sambung
seperti ini. Kemudian teman saya menjadi tercenung dan bingung. Saya
bilang lagi, terserah nona, kalau masih asyik main sinetronnya, saya
gak mau ganggu dengan saran yang melawan kehendaknya. Tapi kalau udah
bosen, bilang-bilang aja sama saya, mungkin bisa saya bantu lagi. Dia
hanya diam dan bingung. Saya tambahkan terakhir kali, non, kita udah
lihat khan, yang realistis dari rencana kamu sedari tadi ya cuma aksi
balas dendamnya saja (memeras dengan ancaman rahasia pribadi mantan
pacar dibuka dihadapan keluarganya sendiri), yang bisa
dilaksanakannya, tapi mantan pacar belum tentu mau ngucurin duit.
Lagipula masih ada konsekuensinya lho setelah kamu memeras dan
mengancam. Itupun kamu masih harus memetakannya. Kalau tidak ya… terus
saja kamu akan bermain sinetron. Entah apa nanti yang terjadi. Yang
jelas makin lama dosisnya makin berat lho… (dalam hal beban perasaan
jet-coasternya tadi). Itukah yang kamu nikmati? Telepon kemudian
selesai dan ditutup karena udah malem.

Dari ilustrasi di atas, kalau saya hanya menekankan standar moral
saya sendiri, maka hasil bersihnya hanyalah rasa bersalah dan
mengambil keputusan berdasarkan dari rasa takut salah langkah. Efek
sesudah mengambil keputusan berdasarkan standar moral yang kaku adalah
nanti akan memiliki perasaan waspada, was-was, khawatir kalau-kalau
dia akan tersesat kembali. Mendingan saya serahkan saja keputusan
moralnya di tangannya sendiri sambil dibantu memberi dorongan supaya
bisa memetakan sendiri permasalahannya. Dengan begitu tidak ada rasa
menyesal karena tahu telah berbuat salah. Karena dengan pemetaan
mandiri, tidak ada benar-salah berdasarkan standar orang lain,
melainkan hanya berupa konsekuensi-konsekuensi (hasil pemetaannya)
yang bakal dirasakannya sendiri atau dipilihnya sendiri oleh hati
nuraninya sendiri. Saya jamin, kalau sudah sampai pada tahap ini, dia
bisa mulai terhubung kembali dengan hati nuraninya (membaca dirinya
sendiri) bukan? Dan itu berarti segala keputusannya nanti sudah tidak
tergantung lagi oleh pedoman/pegangan moral tertentu melainkan sesuai
dengan kebutuhan manusiawinya. Dia kemungkinan besar selanjutnya akan
menyadari permainannya dalam peran di sinetron buatannya sendiri. Dia
akan mengerti mengapa dia tergila-gila dengan sinetron seperti itu
(kekasih yang tersakiti). Dia akan menemukan juga pola-pola yang
berulang mirip dengan sinetronnya. Dan jikalau dia sudah bosan, ya
dengan mudah mengambil keputusan tidak memerankan sinetron dengan
judul kayak begitu. Ataupun jika dia masih senang dengan perannya,
setidaknya dia tahu ini hanyalah peran/permainan yang dia ciptakan
sendiri, dan bukan berasal dari orang lain yang dianggap bertanggung
jawab atas penderitaannya. Jadi tentu saja dia dapat memastikan
dirinya untuk berkuasa dalam memilih konsekuensi yang aman dalam
permainannya sendiri. Jadi apakah dia tetap akan melaksanakan balas
dendamnya dengan membeberkan keburukan mantan pacarnya dihadapan
keluarganya (ortunya) sendiri yang selama ini telah capek-capek
disembunyikan oleh sang anak (mantan pacarnya)? Teman saya satu lagi
telah menyebutkan juga, bisa saja dia menerima konsekuensi buruk
seperti dikejar-kejar oleh bodyguardnya mantan pacar, karena mantan
pacar ingin membalas dendam balik ke diri temen cewek yang curhat ke
saya itu. Nah serem khan? Saya sih sudah bilang juga, jejak negatif
akan menimbulkan buntut yang negatif pula. Jadi sekarang bola ada di
tangannya sendiri. Saat ini saya sedang menunggu kabar lebih lanjut
darinya. Kalau pakai akal sehat sih, saya yakin dia pasti telah
menciptakan batas aman permainannya dengan sudah memperhitungkan
konsekuensi kalau-kalau bakal disamperin bodyguard mantan cowoknya
untuk membalas-dendam balik ke dirinya. Tapi saya tetap jadi khawatir
juga kalau dia gagal/tidak mau memetakan konsekuensinya. Namun
begitulah hidup.

Setelah anda melihat keseluruhan contoh di atas, bukankah anda melihat
saya sendiri belum sepenuhnya yakin dengan teori-teori yang saya
ungkapkan sendiri di separuh paragraf di atasnya lagi? Ya begitulah.
Saya menyebut diri saya berada di wilayah abu-abu. Antara terikat dan
tidak terikat dengan pegangan moral. Antara yakin dengan teori sendiri
dengan tidak yakin. Jika ada diantara anda yang merasa, seharusnya
saya memaksa teman saya untuk tidak membalaskan dendamnya, menurut
saya, bisa jadi percuma lho.. Soalnya dia khan udah dewasa, bisa saja
di depan kita, dia bilang iya atau nurut-nurut saja, tapi tetap saja
dia melaksanakan balas-dendamnya di luar nasihat kita yang telah kita
capek-capek berikan. Dan lagi pula kalau disadari benar, yang
realistis, ternyata bola memang mau tidak mau ada di tangan dia lho….!
Jadi begitulah cara saya membimbing dirinya. Tidak apa-apa sama-sekali
kalau cara anda jauh berbeda, mungkin malah bisa memperkaya wawasan saya.

Jadi sesungguhnya apa yang saya tawarkan dalam tulisan ini? Abu-abu.
Hanya itu. Semua itu menyatu dalam kehidupan ini. Baik pelesiran
maupun perjuangan hidup. Baik perjalanan maupun tidak kemana-mana.
Baik menderita maupun bahagia. Itu khan asyiknya? Selamat menikmati
nasi tumpeng kehidupan….! Supermarket perasaan serba ada.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s