Anggapan bahwa Atheis kering spiritualnya

Sejauh pengamatan saya, banyak sekali kalangan agamais menganggap kalau tidak percaya kepada Tuhan, maka manusia tidak bisa memenuhi kebutuhan spiritualnya. Manusia akan jatuh ke dalam pemikiran materiil belaka.

Menurut saya anggapan ini muncul karena agamais TIDAK/BELUM BERANI mempertanyakan kepercayaan/agamanya sendiri untuk LEBIH JAUH menyelidiki SENDIRI tentang TOPIK KETUHANAN/TUHAN.

Saya jelaskan lebih lanjut.

SEMUA manusia di bumi ini SUDAH PASTI TAKJUB akan segala kehidupan dan AKAN HIDUP DIA sendiri. Dasarnya karena manusia belum/tidak mengetahui asal mula alam semesta ini juga masih banyak sekali yang belum/tidak diketahui tentang cara kerja alam.

Nah dari fakta inilah, keingintahuan manusia merekah dan mulai mempelajari cara-kerja alam semesta. Yang akhirnya melahirkan ilmu pengetahuan modern/ilmiah yang bersifat materiil.

Namun masalahnya ilmu pengetahuan materiil belum juga mengobati kerinduan manusia atas pengetahuan MUTLAK tentang dirinya dan alam-semesta. Yang secara pararel melahirkan gerakan spiritual yaitu berupa peribadatan/penyembahan, agama, kitab-kitab suci, pencari spiritual, dlsb.

Dalam hal ini, agama berusaha memberikan pada umatnya suatu rasa KEPASTIAN atas kegelisahan manusia mengenai dirinya terutama NASIBNYA DAN KEFANAANNYA. Akibatnya, segala kisah dan ajaran yang diutarakan oleh agama BERASAL DARI PROYEKSI KETAKUTAN MANUSIA ITU SENDIRI yang tidak terlepas dari PENGARUH PADA JAMANNYA MASING-MASING.

Contoh proyeksi ini adalah, tentang kehidupan sesudah mati, yang merefleksikan keinginan manusia untuk hidup abadi. Tentang dosa, surga dan neraka yang merefleksikan pandangan bahwa hidup di dunia merupakan ujian. Tentang perkembangan teologi dari banyak Tuhan ke satu Tuhan, dari menyembah alam ke menyembah Tuhan, dari non wahyu ke kitab berdasarkan wahyu/kesaksian, dlsb.

SEMUA PROYEKSI/KONSEP itu adalah KARANGAN/HASIL PEMIKIRAN MANUSIA dalam usahanya meredakan kegelisahan akan KETIDAKTAHUAN/MISTERI hidup ini.

Setelah semua usaha berpikir itu, tetap saja tidak/belum memuaskan diri manusia. Sehingga dalam berbagai tingkatan, pilihan yang tersisa adalah PASRAH. Penyerahan diri dalam Islam. Memanggul salib dalam Kristen. Pelenyapan diri/meditatif dalam Budha, dlsb.

Menurut saya, masalah yang dihadapi oleh umat adalah KELEKATAN atas segala proyeksi/konsep yang diusung oleh agama/aliran spiritual TERTENTU. Yang sayangnya kelekatan ini MENGHASILKAN perpecahan di antara manusia HANYA KARENA PERBEDAAN PROYEKSI/KONSEP. Penyebabnya adalah EGO manusia yang tersinggung dan KETAKUTAN manusia KEHILANGAN PEGANGAN terutama bagi citra dan ego dirinya.

Padahal yang DITUJU adalah sama, yaitu untuk memenuhi KEBUTUHAN SPIRITUAL, kebutuhan untuk menutupi kegelisahan atas segala kefanaan dan nasib yang tidak kita ketahui.

Jika kita hanya mendasarkan pada ego masing-masing, maka tanpa disadari kita telah menyempitkan topik ketuhanan/misteri alam menjadi terbatas pada apa yang benar dan apa yang salah. Lupa bahwa topik tersebut SAMA-SAMA tidak kita ketahui. Kita perlu ingat kembali, dalam KETIDAKTAHUAN, kita tidak VALID menyalahkan/membenarkan satu proyeksi/konsep dengan yang lain asal tidak masuk dalam domain pengetahuan ilmiah (yang sudah jelas salah secara ilmiah ya PASTI SALAH).

Nah di sinilah atheis masuk. Atheis menyuarakan secara keras KETIDAKTAHUAN INI. Menentang proyeksi agamais mengenai SOSOK TUHAN, yang dengan gamblang mengatakan bahwa TUHAN ITU TIDAK ADA/TIDAK NYATA selain dalam benak manusia.

Karena saya agnostik, maka saya mengatakan Tuhan BELUM ada. Tapi esensinya kurang-lebih sama dengan atheis.

Ini tidak berarti pandangan saya ataupun pandangan atheis PASTI BENAR. Sekali lagi kita sedang membahas KETIDAKTAHUAN. Maka apapun pendapatnya tidak valid saling menyalahkan bukan?

Masalahnya, umat seringkali tidak bisa membedakan mana domain ketidaktahuan/ketuhanan dan mana domain pengetahuan ilmiah/kenyataan materiil. Akibat dari KELEKATAN pada proyeksi/konsep dan akibat dari MENCAMPUR-BAURKAN antara pemikiran/konsep/proyeksi dengan kenyataan yang materiil.

Mengatakan Tuhan itu nyata yang bisa mengarang kitab suci, ini telah melanggar domain pengetahuan ilmiah. Kita VALID menyalahkan argumen seperti ini. Jadi saran saya, umat harus berhati-hati dalam menyampaikan pendapatnya, jangan sampai melanggar domain pengetahuan ilmiah.

Inilah yang membuat saya meragukan integritas pengarang kitab suci yang beralasan wahyu Allah.

JELAS semua ide dan konsep yang tertuang dalam kitab suci tersebut muncul dari benak pengarang. Namun dirinya tidak ingin mempertanggungjawabkan sendiri hasil karyanya melainkan malah melemparkan ke entitas yang tidak diketahui yaitu ketuhanan/Tuhan. Ini demi MENCURI PENGAKUAN atas hasil karyanya, karena dalam berbagai jaman sampai jaman sekarangpun orang masih SEGAN dengan segala sesuatu YANG BERBAU ketuhanan/Tuhan.

Saya sengaja memberikan contoh kitab suci yang berdasarkan wahyu Allah karena bisa menjadi contoh yang sangat jelas dimana domain ketidaktahuan/ketuhanan telah melanggar domain pengetahuan ilmiah.

Sebaliknya dengan atheis, DENGAN TEGAS MEMISAHKAN antara domain pengetahuan ilmiah dengan domain ketidaktahuan/ketuhanan (yang secara sarkasis sering disebut sebagai ANGAN-ANGAN). Lalu bagaimana atheis memenuhi kebutuhan/kegelisahan spiritualnya?

Mudah. Kembali lagi ke paragraf awal kalau anda masih ingat, SEMUA manusia TAKJUB akan segala kehidupan dan hidup dia sendiri. Ketakjuban ini ditambah rasa ingin tahu yang tulus plus rasa syukur, sehingga bisa menikmati semua ini, adalah obat yang mujarab yang paling tidak sebagai MEMOTIVASI UNTUK TERUS BERKARYA DAN MENERUSKAN HIDUP.

Menggunakan konsep-konsep agama/aliran spiritual tertentu ASAL TIDAK BENTROK dengan domain pengetahuan ilmiah juga boleh (dan entah apa ini masih bisa disebut atheis? kakakak). Tidak semua hasil pemikiran dan budaya yang terutama dari agama jaman dulu buruk. Terkadang kita harus belajar dari masa-lalu untuk dapat lebih memahami sejarah dan nilai kemanusiaan.

Bagi orang atheis (dan juga seluruh manusia), misteri alam semesta ini selalu memanggil manusia untuk TERUS mencari jati dirinya.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s