Apa yang terjadi ketika kita mati? (bag. 2)

Sebenarnya apa yang disebut dengan dunia nyata? Apakah benar dunia
nyata hanya berbatas dunia yang bisa dicerap oleh indera? Benarkah
pengalaman kita sebelum lahir dan sesudah mati tidak dapat disebut
sebagai pengalaman di dunia nyata yang sama seperti ketika kita masih
hidup? Mengapa harus dibedakan (menjadi dunia gaib misalnya)? Apakah
dunia nyata BENAR-BENAR nyata, atau ‘nyata’ HANYALAH SUATU KONSEP JUA?

Satu hal yang telah kita sepakati. Kita tidak dapat menemukan jiwa/roh
kita secara fisik. Dan kita bisa mengatakan jiwa/roh bukanlah realitas
fisik atau realitas dunia nyata. Begitu pula dengan ‘pikiran’ yang
menurut saya level ke-berwujud-annya sama seperti jiwa/roh. Pikiran
tidak bisa ditemukan secara fisik. Pikiran hanyalah suatu gejala dari
aktivitas otak. Demikian pula dengan SEMUA konsep keilmuan yang hanya
merupakan gejala atau fenomena dari aktivitas otak. Namun biasanya
kita tidak menyamakan pikiran dengan jiwa/roh. Karena kita telah
mengasumsikan pikiran akan lenyap setelah kematian dan belum ada
sebelum kelahiran, sedangkan jiwa/roh akan terus eksis baik sebelum
lahir, selama kehidupan, maupun sesudah mati.

Namun jiwa/roh adalah konsep yang sangat abstrak yang mempunyai
definisi, ‘sesuatu yang terus eksis setelah kematian atau sebelum
kelahiran’. Bagaimanapun kita berusaha untuk mengerti ‘apa itu
jiwa/roh’ atau ‘seperti apakah kehidupan setelah kematian atau lebih
tepat kehidupan yang kualami sebelum kehidupan seperti sekarang ini’,
ujung-ujungnya adalah kita membuat konsep-konsep lagi dan lagi. Di
sinilah titik pentingnya atau titik balik pengertian kita.

KITA MENGIRA KITA MEMILIKI JIWA/ROH. PADAHAL YANG BENAR ADALAH : KITA
MEMILIKI ‘KONSEP’ TENTANG JIWA/ROH.

Pernyataan di atas adalah pernyataan yang paling penting dan mendasar
jika kita ingin mengerti tentang ‘diri’ kita. SEMUA yang kita miliki
adalah KONSEP. Perhatikan penekanan pada kata ‘SEMUA’. Itu yang
dimaksud, termasuk adalah benda fisik, dunia fisik/nyata, tubuh kita.
segala hal berwujud fisik maupun non fisik. Bisa saya katakan
menganggap dunia sebagai dunia ‘nyata’ adalah ilusi. Namun saya
sarankan anda tidak percaya begitu saja omongan saya. Silahkan membawa
sudut pandang ini (dunia adalah ilusi) dalam pengalaman kehidupan anda
sehari-hari dan membuktikannya sendiri. Dan sebagai bahan
pengertiannya silahkan baca paragraf berikut ini.

KONSEP adalah BUAH PIKIRAN. PIKIRAN adalah GEJALA dari AKTIVITAS OTAK.
Sebenarnya tidak tepat mengatakan pikiran hanyalah berasal dari gejala
aktivitas otak belaka. Kita mengetahui pikiran atau yang kita bisa
sebut sebagai intelegensi dimiliki oleh seluruh makhluk hidup di dunia
ini. Dari makhluk bersel satu sampai bersel kompleks, dari tumbuhan,
hewan, sampai manusia mempunyai intelegensi masing-masing. DEMIKIAN
PULA DENGAN TUBUH KITA, yang terdiri dari tak terhitung banyaknya sel
hidup yang bisa kita sebut sebagai makhluk hidup. Ilmu kedokteran
telah membuktikan, sampai taraf tertentu, setiap sel di tubuh kita
mempunyai intelegensinya tersendiri. Misalnya bagaimana setiap sel
mempunyai perilaku yang berbeda-beda dalam mendekati sumber
makanannya. Atau bagaimana organ hati yang terdiri sel-sel hati secara
cerdas menyeleksi mana yang berupa sel/virus penyakit dan mana yang
bukan. Di tingkat sel masing-masing mempunyai derajat kebebasan dan
derajat intelegensinya sendiri. Sehingga bisa dikatakan, intelegensi
tersebar di seluruh tubuh kita. Dan bisa dikatakan pula, otak hanyalah
sebagai mainframe atau server dari seluruh jaringan intelegensi di
tubuh kita. Sehingga kita merasa berpikir berasal dari kepala/otak
kita, padahal ketika kita berpikir, seluruh sel tubuh kita IKUT
BERPIKIR. Otak hanya merupakan mainframe atau server (otak) yang
mempunyai aktivitas berpikir yang paling intens.

Lalu jika intelegensia terdapat pada seluruh sel tubuh, apa yang
menyebabkan seluruh sel tubuh itu menjadi sinkron dalam kesatuan yang
disebut sebagai makhluk manusia? Ternyata telah diketahui otak kita
kira-kira dapat dibagi dalam 3 hirarki. Bagian pertama adalah otak
primitif yang bertugas untuk pertahanan hidup. Bagian kedua adalah
otak ‘jati diri’ yang bertugas untuk memberikan kesadaran akan ‘diri’
yang utuh (ego). Dan bagian ketiga, bagian yang baru saja berkembang
adalah otak kognitif, dimana di sini termasuk kemampuan berkomunikasi
dalam bahasa, kemampuan berpikir abstrak dan mengkonsepkan atau
melabelkan segala sesuatunya. Nah, 3 bagian ini secara simultan
menyatukan seluruh sel tubuh dalam kesatuan gerak. Baik yang disadari
maupun yang di bawah sadar. Ada pertanyaan lagi, mengapa seluruh sel
tubuh tersebut rela melebur menjadi satu identitas baru? Nah, hal ini
dapat dijelaskan dalam teori evolusi atau evolusi yang terkompreskan
dalam kode-kode genetik dna.

Mengapa bisa terjadi evolusi? Pertanyaan terakhir ini akan saya bahas
dalam tulisan bagian ketiga nanti. Yang pasti untuk memahaminya,
menuntut kita untuk mengerti cara kerja pikiran kita. Dan mengerti
cara kerja pikiran kita berarti berusaha memahami diri sendiri. Ini
tidak bisa berjalan dengan masih mempunyai otoritas pengetahuan dalam
diri kita. Kita SENDIRI yang harus menyelami diri dan jalan pikiran
kita. BUKAN MELALUI ORANG LAIN, ATAU MELALUI SAYA, ATAU MELALUI
KONSEP-KONSEP PENGETAHUAN. Karena jika kita melakukan hal itu, maka
kita hanya akan mendapatkan pengertian yang basi. Yang jelas kita
bukan mengejar suatu konsep lagi, namun mendapatkan pemahaman dan
PANDANGAN utuh terhadap dunia. Juga terhadap kematian.

BERSAMBUNG

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s