Apa yang terjadi ketika kita mati? (bag. 3)

Untuk mengetahui apa yang terjadi ketika kita mati, kita perlu
mengetahui dulu apa yang sebenarnya terjadi ketika kita masih hidup.
Maksudnya adalah mengetahui dahulu apakah esensi dari dunia ‘nyata’
ini dengan cara mengetahui apa yang ‘tidak nyata’ atau yang disebut
dengan ‘ilusi’. Sehingga dengan demikian kita bisa terus ke pencarian
definisi yang paling mendekati ‘kebenaran’ tentang apa itu mati.

Apa beda antara yang ‘tidak nyata’ dengan yang ‘nyata’? Menurut
definisi yang umum, yang ‘nyata’ adalah yang bisa dicerap oleh indera
tubuh. Sedangkan yang ‘tidak nyata’ adalah yang tidak bisa dicerap
oleh indera tubuh, dan hanya bisa di’rasa’kan saja. Dengan demikian
dunia material disebut dunia ‘nyata’, dan dunia non-material
(spiritual) disebut dunia yang ‘tidak nyata’. Namun benarkah demikian?

Ketika kita HADIR dalam dunia materi, sebenarnya apa sih yang sedang
terjadi? Apa yang dimaksudkan dalam kata ‘HADIR’? Selama ini kita
mengandalkan indera tubuh kita untuk menentukan mana yang nyata dan
mana yang tidak nyata. Andai kita TIDAK MENGANDALKAN INDERA TUBUH
KITA, APA YANG TERJADI? Masih HADIRKAH diri kita? Kalau disadari
benar-benar, kehadiran kita, atau lebih tepat KEHADIRAN DUNIA MATERI
SANGAT MENGANDALKAN KERJA OTAK, PIKIRAN ATAU INTELEGENSIA. TANPA
KEHADIRAN KITA, DUNIA MATERI TIDAK ADA. Dan bisakah hal ini dibalik?
TANPA DUNIA MATERI, KITA TIDAK BISA HADIR? Dua-duanya sifat
keeksisannya sangat tergantung satu dengan yang lain. Mari kita lihat
satu-persatu apakah bisa diterima pernyataan diatas tersebut.

“Tanpa kehadiran kita, dunia materi tidak ada”. Pernyataan ini
ditelisik dengan memulai membuktikan, ‘apakah dunia materi benar-benar
ada tanpa kehadiran kita (atau tanpa SI PENGAMAT)’? Pengamatan dan
pengumpulan bukti bisa melalui pernyataan-pertanyaan berikut ini :
1. Mengapa pengalaman dalam mimpi terasa hampir-hampir sama riil-nya
dengan pengalaman sewaktu terjaga? Apakah itu berarti hampir-hampir
ada dua dunia nyata? Dan bila kita mengalami tidur lelap atau bahkan
koma dan kemungkinan kecil kita bisa kembali ke dunia nyata, apakah
itu berarti dunia mimpi bisa berubah hampir-hampir menjadi riil
seperti dunia nyata? Apakah ketika itu kita bisa mengetahui
perbedaannya?
2. Dunia ‘nyata’ memang bisa dibuktikan dari sinkronitas dan konsensus
dari pengalaman orang-orang lain. Misalnya, sama-sama menyetujui
disana ada sebuah meja berwarna coklat. Hanya saja kesimpulan
sinkronitas ini tidak bisa lepas dari sudut pandang individu yang
meneliti yang berasal dari kinerja otaknya sendiri. Tidak mungkin kita
mencari ‘individu yang netral tanpa pengaruh dari kinerja otak’. Jadi
sinkronitas dan konsensus beserta label-labelnya (misalnya pelabelan
tadi yaitu ‘meja coklat’) hanyalah konsep dari pikiran dari gejala
kinerja otak.
3. Kita tidak dapat menemukan dunia ‘nyata’ dengan hanya mengamati
kinerja otak baik melalui CT Scan ataupun bedah otak. Kesimpulannya
tetap sama, ketika kita melihat sebuah pemandangan pantai yang
bermandikan cahaya, yang terjadi di dalam batok kepala kita tetaplah
hanyalah berisi pergerakan sinyal-sinyal listrik antar jaringan neuron
otak, dan kita tidak menemukan cahaya apapun di situ, batok kepala
kita tetaplah segelap-gelapnya goa.

Kesimpulannya, buktikan dunia nyata ini ada tanpa bantuan kinerja dari
otak! Yang bisa berarti, buktikan dunia nyata ini ada TANPA KITA TURUT
HADIR UNTUK MENGAMATINYA! Jadi, APAPUN YANG KITA LAKUKAN, TIDAK DAPAT
TERLEPAS DARI KINERJA OTAK atau PIKIRAN atau INTELEGENSIA. Bukti kedua
yang paling nyata adalah, ADANYA FENOMENA KEMATIAN MEMBUKTIKAN DUNIA
NYATA MUTLAK TERGANTUNG DENGAN KINERJA OTAK DAN PIKIRAN. Ada dua sifat
yang mengiringi fenomena kematian sebagai bukti dunia nyata adalah
ilusi :
1. Kita lupa total keadaan kehidupan kita sebelum lahir.
2. Kita tidak tahu total apa yang terjadi setelah kita mati.

Amnesia total dari pra lahir dan pasca mati inilah yang menjadi tanda
bagi kita bahwa KEHIDUPAN = KINERJA OTAK. Yang artinya bila otak tidak
bekerja maka tidak ada kehidupan seperti saat ini. Dan memang itulah
batasan-batasan kinerja otak, yaitu mulai bekerja saat kita lahir dan
mati saat kita juga mati. Cocok bukan dengan batasan kehidupan? Cocok
juga dengan batasan ilmu. Cocok pula dengan batasan konsep-konsep yang
ditawarkan dalam tulisan saya ini.

BERSAMBUNG.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s