Apa yang terjadi ketika kita mati? (bag. 4) (bagian terakhir).

Jika anda bisa membuktikan sebaliknya bahwa dunia nyata itu benar-
benar ada dengan bisa mengenyampingkan peran kinerja otak, silahkan
memberikan pendapat dan masukan anda di sini. Namun, bagaimanapun,
mari kita lanjutkan.

Setelah kita mengetahui bahwa apapun realitas yang ‘ada’ tidak dapat
terlepas dari kinerja otak atau intelegensia, maka kita mulai bisa
mengira-ngira apa yang terjadi setelah kita mati. Terlebih dahulu kita
mencoba mengerti dulu bagaimana cara kerja pikiran atau intelegensia
itu sendiri. Seperti yang sudah disebutkan di bagian tulisan
sebelumnya, setiap sel mempunyai intelegensianya sendiri. Namun
bagaimana mereka semua bisa sinkron dan menyatu menjadi identitas
baru, ini yang harus kita telisik lebih lanjut. Dari sinilah muncul
konsep ‘kesadaran’.

Untuk sebagai latar belakang bahan pertimbangan, baru-baru ini saya
mendapatkan informasi dari koran KOMPAS tentang artikel, ‘mana yang
lebih duluan ada, telor atau ayam?’ Ternyata menurut artikel tersebut,
yang lebih dulu ada adalah telor, baru menetaskan spesies unggas yang
baru yaitu ayam. Jadi spesies unggas yang bukan ayam bertelor dan
menetaskan spesies unggas yang baru yaitu ayam. Begitu juga dengan
teori Darwin yang terkenal mengenai evolusi manusia, dan ada dari
konsepnya yang dinamakan ‘missing link’, yaitu garis keturunan yang
hilang dari spesies simpanse/gorila/monyet, tiba-tiba loncat menjadi
spesies manusia primitif yang karakteristik perkembangan otaknya jauh
berbeda dengan nenek moyangnya yang sampai sekarang evolusinya hanya
mentok pada spesies simpanse/gorila sekarang. Tidak seperti spesies
manusia primitif yang sekarang menjadi spesies homo sapiens modern.
Dan sampai sekarang tidak pernah bisa ditemukan ‘missing link’
tersebut. Persis seperti cerita sebelumnya dimana perubahan gen
dimulai dari telur yang menghasilkan spesies yang berbeda (ayam) dari
nenek moyangnya. Jadi perubahan atau evolusi terjadi dalam lompatan
kuantum yang perubahannya tidak berdasarkan adaptasi (penyilangan,
keturunan).

Begitu juga dengan sel-sel tubuh kita yang telah mempunyai identitas
baru berkat perubahan kuantum evolusi, bukan hanya beradaptasi semata.
Nah bagaimana cara sel-sel tersebut bersinkronisasi dan menyatu
membentuk identitas baru saya ceritakan dalam bentuk gambaran konsep
di bawah ini.

Misalnya saja kita bisa mengkuantitaskan level intelegensia sel-sel
tubuh. Dan kita misalkan saja sel-sel tubuh mempunyai level
intelegensi level 4 sedangkan kita sebagai kesatuan tubuh mempunyai
level intelegensi level 20. Level-level ini bisa saja kita sebut
sebagai tingkatan kesadaran. Namun sekarang kita perhatikan saja apa
yang terjadi dalam level sel-sel tubuh. Setiap sel-sel tubuh berarti
mempunyai derajat kebebasan dalam kehidupannya sampai pada level 4
intelegensinya. Jadi sampai pada level tersebut sel mempunyai kehendak
sendiri, mempunyai keinginan sendiri, dan bisa dianggap sebagai
entitas atau individu yang terpisah dengan sel-sel yang lain. Namun
bila sebuah sel dapat menembus level intelegensianya melebihi level 4
maka ini dapat kita katakan sebagai sel-sel yang bersifat kanker atau
tumor. Yang bisa merugikan kesinkronitasan dan kesatuan tubuh. Nah
dari sini kita bisa bayangkan dari sudut pandang si sel. Si sel ini
tingkat intelegensinya hanya sampai pada level 4. Sehingga kesadaran
sel ini TIDAK BISA melihat gambar keseluruhannya. Yaitu bahwa
sebenarnya dia itu bagian dari tubuh yang lebih kompleks, dan dia itu
adalah bagian dari kesatuan tubuh. Dia tidak bakal mengerti
intelegensia level 20 karena memang intelegensinya hanya sampai pada
level 4 saja. Setiap gerak-geriknya SEBEBAS APAPUN DIA, TIDAK AKAN
LEPAS dari SINKRONITAS dan KESATUAN. Karena memang intelegensia level
1 sampai dengan level 4 didesain tidak membahayakan sinkronitas dan
kesatuan tubuh manusia. Sehingga bisa ditebak, sel tersebut mengira
dirinya bebas, padahal di intelegensi level lebih lanjut dia tidaklah
lebih dari anggota sel yang sinkron dan bersatu satu sama lain.

Siapakah yang memiliki intelegensi level 20 ini? Tentu saja pertama-
tama adalah berasal dari kode genetik dna kita. Inilah pemilik asli
intelegensi level 20 tubuh kita. Kemudian diterjemahkan ke dalam
perangkat keras yang mainframe atau servernya adalah otak kita. Dan
juga diterjemahkan ke seluruh sistem intelegensia sel tubuh. Ya
termasuk pengaturan level-level intelegensi sel-sel tersebut supaya
sesuai dengan tugas masing-masing dan dapat membentuk kesadaran tubuh
manusia baik di tataran kesadaran maupun di kegiatan bawah sadar
(seperti detak jantung, nafas, dsb, yang harus selalu beraktivitas
walaupun tubuh keseluruhan lagi tidak sadar atau tertidur). Sekali
lagi, bila ada sel tubuh yang melebihi level intelegensia yang lebih
dari seharusnya, maka sel tubuh itu menjadi sel kanker yang dapat
mengacaukan sinkronitas, kesatuan dan keutuhan tubuh secara
keseluruhan.

Kemudian kita naik lagi ke dalam kesadaran manusia. Sudah saya
sebutkan dalam tulisan saya di bagian sebelumnya, otak terdiri dari 3
hirarki. Yang paling dasar adalah otak primitif untuk pertahanan diri.
Di sinilah dasar dari segala pembentukan dan perlindungan sinkronitas
dan kesatuan tubuh. Di sinilah kita selalu berusaha mempertahankan
hidup sebagai SATU KESATUAN TUBUH. Kita tidak akan mendahulukan organ
tubuh manapun (misalnya kita lebih membela kelingking kita dari pada
jempol kita???), dan yang kita lakukan selalu untuk kepentingan
keseluruhan tubuh, bahkan kita bisa mengorbankan sebagian anggota
tubuh untuk keselamatan keutuhan tubuh kita (misalnya mengamputasi
kaki kita untuk mencegah infeksi pembusukan lebih lanjut). Bagian ke
dua adalah otak jati diri. Di sinilah kita bisa ‘menyadari’ dan
‘hadir’ dalam level intelegensia level 20 (mengikuti perumapaan atau
gambaran konsep di atas). Berkat bagian otak ini, kita tidak merasakan
diri kita adalah jempol kaki, atau tangan sebelah kiri doang, atau
hidung saja, atau dsb. Untungnya tidak seperti itu! Kita merasakan,
menyadari, hadir sebagai SATU BADAN yang utuh. Bahkan kita tidak
mengidentifikasikan diri sebagai aku si jempol, aku si hidung, atau
aku kumpulan organ-organ tubuh. Kita mengenal aku sebagai aku (yang
kemudian dilabelkan di bagian otak selanjutnya menyebutnya sebagai
nama diri misalnya Adhi). Dan bagian terakhir adalah otak kognitif.
Inilah bagian yang mengidentifikasi, melabelkan, mengkomunikasikan
melalui bahasa (baik isyarat maupun suara, gambar atau teks). Di
sinilah kita bisa menamakan diri kita dengan nama masing-masing (nama
saya Adhi Purwono). Di sini pula kita bisa melabelkan segala
sesuatunya, membuat dan mengerti dalam level konsep. DAN DI BAGIAN
OTAK INILAH LAHIRNYA PEMISAHAN-PEMISAHAN ATAU FRAGMENTASI PANDANGAN
TERHADAP KEHIDUPAN. Di sinilah kita sadar akan adanya kehidupan dan
kematian secara konsep dan membentuk keilmuan di sekitarnya. Dan di
sinilah timbul konflik ego (yaitu jati diri yang sudah dilabelkan).

Nah apa yang terjadi ketika kita mati? Anda mungkin sudah bisa menebak
jalan logikanya. Benar! Tiga bagian hirarki otak kita tidak berfungsi
lagi. Ini analoginya seperti server yang dimatikan, sehingga
workstation yang biasanya berupa dumb terminal tidak sinkron lagi
dengan operating system yang berasal dari server tersebut. Artinya
tidak ada genetik dna yang berupa intelegensia level 20 (gen-gen
manusia) yang mengatur kehidupan para sel-sel tubuh di level-level
intelegensia yang lebih rendahnya. Akibatnya, selain yang mengatur sel
tersebut adalah intelegensianya sendiri (misalnya sel yang hanya
berintelegensia level 4), tidak ada lagi konduktor atau otoritas bagi
sel-sel tersebut. Sehingga akibatnya jelas. Sel-sel yang kehidupannya
bersifat sangat tergantung dari makanan yang disuapkan oleh sistem
intelegensia yang lebih tinggi (level 20) akan kolaps karena tidak
mendapatkan makanan lagi (sel-sel tersebut akan mati dan membusuk).
Sel-sel yang sifatnya memang mandiri, akan mati juga kemudian karena
memang umurnya sangat pendek dibandingkan umur manusia dan juga karena
tidak diperbarui dengan sel-sel yang lain, sehingga sistem lokal yang
dibangun oleh sel-sel tersebut (misalnya sistem lokal si jempol), akan
masif kehilangan anggota-anggota selnya (karena pada uzur semua dan
tidak ada pengganti) yang mengakibatkan kolapsnya juga sistem lokal
tersebut. Inilah yang persisnya kita lihat pada tubuh jenazah yang
kita amati.

Itu yang terjadi dalam sudut pandang sel-sel tubuh. Pertanyaan
pentingnya adalah, APA YANG TERJADI DALAM KESADARAN DIRI KITA? Atau,
APA YANG TERJADI PADA DIRI KITA? KEMANAKAH DIRI KITA? KEMANAKAH ROH
KITA? KE DUNIA MANAKAH KITA?

Diantara pertanyaan-pertanyaan tersebut, yang paling tidak relavan
adalah pertanyaan kemanakah ROH kita akan pergi? Karena sekali lagi
saya katakan, roh hanyalah sebuah konsep yang HANYA KITA BISA MENGERTI
KETIKA KITA MEMPUNYAI OTAK SEPERTI BENTUK SAAT KITA HIDUP SEKARANG
INI. Ketika otak kita kolaps, kolaps pula pengertian tentang roh dan
menjadi TIDAK RELAVAN KARENA PENGERTIANNYA MENJADI SAMA dengan
‘tubuh’, ‘diri’, dsb yang sama-sama kolaps pengertiannya ketika otak
telah tiada. Jadi semua konsep tersebut cukup disebut konsep ‘diri’
dan itu telah mencakup semua pengertian tentang YANG MENGALAMI
KEHIDUPAN ‘NYATA’.

Lanjut lagi, ketika kita mati, maka yang PALING MASUK AKAL ADALAH,
kesadaran kita akan tersedot ke dalam kesadaran tingkat sel. Atau bisa
dikatakan tersedot menjadi hanya mempunyai intelegensia tingkat sel.
‘Diri’ kita yang susah payah dibangun melalui evolusi yang tersimpan
dalam genetika dna melalui 3 bagian hirarki otak menjadi BUYAR DAN
TERPECAH-PECAH.

PERINGATAN : JANGAN MEMBACA DAN KEMUDIAN MENCOBA MENGERTI PENJELASAN
DI ATAS MELALUI OTAK ANDA. KARENA ANDA TIDAK AKAN MENGERTI APA MAKSUD
‘DIRI’ YANG TERPECAH DAN BUYAR. YANG MENJADI BANYAK BAGIAN ‘DIRI’.
ANDA AKAN BERTANYA-TANYA TERUS KALAU MENCOBA MELALUI PEMIKIRAN OTAK
ANDA.

Ini karena otak kita bekerja berdasarkan kesatuan tubuh. Bukan bekerja
berdasarkan keterpisahan setiap milyaran sel tubuh. Jadi ketika tubuh
menjadi terurai, otak berhenti bekerja karena TIDAK ADA KESATUAN TUBUH
LAGI. Intelegensi level 20 berhenti bekerja karena TIDAK ADA KONDUKTOR
BERUPA GEN-GEN DNA MANUSIA LAGI. Dan pikiran berhenti bekerja secara
tingkat tubuh DAN MENJADI BEKERJA SECARA TINGKAT SEL YANG MASIH HIDUP
ATAU BERUBAH BENTUK. Dan anda ingin mengetahui bagaimanakah merasakan
kehidupan sebagai sel yang mempunyai pikiran? Yang jelas dunia ‘nyata’
yang hadir saat sekarang tidak akan kita alami lagi ketika kita
menjadi sel. Karena dunia ‘nyata’ hanyalah film atau proyektor dari
kegiatan gejala-gejala gerakan-gerakan neuron otak ketika masih dalam
kesatuan tubuh. Ketika menjadi sel, bisa dibayangkan tentu indera
tubuh sel sudah jauh lebih berbeda dan lebih rendah dibandingkan
dengan indera tubuh manusia.

Bayangan konkritnya adalah seperti ini. Indera apakah yang paling
mendasar sebagai prasyarat yang harus ada supaya bisa hadir di dunia
‘nyata’. Nah dalam hal ini kita bisa lihat makhluk bersel satu yang
paling rendah. Ternyata ‘konsep’ yang paling dasar mengenai indera
adalah, mendeteksi lingkungan sebagai syarat dasar untuk berkembang
biak dan makan. Nah, syarat dasar kita sebagai manusia supaya bisa
bertahan hidup apa? Mudah saja, yaitu indera perasa yang terdapat pada
sekujur kulit kita. Inilah kontak dasar kita terhadap kehidupan
‘nyata’. Dari indera perasa saja mungkin kita sudah bisa mengkonsepkan
dunia 3 dimensi di dalam otak kita. Kita menjadi terdefinisi melalui
‘terasanya’ di sana dan di sini. Kita bisa menentukan posisi. Otak
jati diri kita mendapatkan informasi indera tersebut. Otak primitif
kita mempertahankan apa yang disebut jati diri dari informasi indera
tersebut. Dan otak kognitif kita memperkuatnya menjadi ego, dan sim-
salabim, kita eksis sekaligus eksis pula dunia ‘nyata’ kita. Lalu
karena gen dna kita sudah cukup maju, maka makin banyak teknologi
ilusi canggih yang kesemuanya hanya berupa memori (percikan listrik
yang bergerak diantara jaringan neuron-neuron otak yang sudah JADI)
yang berupa indera penglihatan, pendengaran, pengecapan dan penciuman.
Lengkap sudah dunia nyata menurut UKURAN MANUSIA.

Dan untuk membuyarkan ilusi tersebut sebenarnya cukup mudah. Cukup
berpikir bilamana tangan kita kehilangan indera perasanya, maka ketika
kita memukul tembok, tangan kita tidak akan terasa sakit. Hilangkan
penglihatan dan hilangkan pula pendengaran. Maka anda akan percaya
bila seseorang bilang tangan anda bisa menembus tembok tanpa tangan
anda menjadi hancur. Karena anda memag tidak mempunyai umpan balik
informasi apapun selain memegang perkataan orang tersebut. Dan inilah
KENYATAAN SEBENARNYA. SESUNGGUHNYA KITA TIDAK MEMILIKI INFORMASI UMPAN
BALIK APAPUN SELAIN YANG DIGARISKAN UNTUK DIKETAHUI OLEH GEN-GEN DNA
KITA. Persis itulah, kita hanya diberitahu apa itu dunia nyata oleh
dna kita. Dan oleh karena itu bersiaplah terkejut ketika kita
mengalami kematian. Mengalami kematian berarti bersiap mengalami
pergantian bos sesungguhnya kita. Yaitu pergantian konduktor, dna
berganti dari tingkat dna manusia berubah hanya menjadi dna tingkat
sel evolusi rendahan. Paling banter kita hanya punya indera perasa,
dan dunia nyata yang diberitahu oleh dna akan-akan jauh lebih keciiiil
dan terbatas. Tapi hebatnya KITA TIDAK AKAN MENYADARI HAL ITU. KITA
AKAN BERBAHAGIA MENJADI SEBUAH SEL! MERASA TERBATAS? TIDAK JUGA….

Kesimpulannya, ternyata ketika kematian terjadi, ‘diri’ kita akan
menjadi buyar dan TERSEBAR. ‘Diri’ kita akan terfragmentasi menjadi
sistem-sistem yang lain. BAYANGKAN INI kita akan berubah menjadi
sistem sel yang paling sederhana. Mungkin juga terikut oleh rantai
makanan sehingga ‘diri’ kita menyatu dengan dna yang lebih besar yang
mungkin saja setelah kita mati, jasad kita dimakan oleh belatung,
belatung dimakan oleh predator yang lebih besar dan seterusnya yang
akhirnya dimakan oleh adik kita sendiri! Sehingga ‘diri’ kita menjadi
bagian ‘diri’ adik kita! Atau bahkan bila adik kita tersebut kawin,
dan sebagian ‘diri’ kita akan menjadi sperma yang membuahi ovum lalu
lahirlah kembali ‘diri’ kita menjadi bayi yang cantik! Semuanya
mempunyai tingkat kesadaran yang berbeda-beda tapi sebenarnya satu
jua, yaitu ‘diri’.

Tak percaya? Lihatlah sendiri kehidupan kita sendiri. Lihatlah
sinkronitas (mengapa orang lain mengalami kehidupan yang bisa dibilang
sama-persis tingkatannya dan sinkron dengan anda?), lihatlah penyatuan
dalam perkawinan dan pembuahan. Lihatlah ke atas, ke bintang-bintang,
ilusi paling indah yang bisa diberikan oleh dna kita, namun hebatnya
sinkron satu sama lainnya. Apakah kita tidak bisa juga dikatakan
sebagai mahkluk berintelegensia level 20 YANG BERADA DALAM SINKRONITAS
DAN KESATUAN PADA TUBUH YANG INTELGENSIANYA BERLEVEL 100??? Inikah
yang bisa menjelaskan kenapa kita semua merasa senasib? Kenapa kita
semua seperti merasa satu? Kenapa kita hanya merasa manusialah yang
paling tinggi derajatnya (karena kita tidak bisa melebihi intelegensia
level 20 dan selanjutnya)? Mengapa seperti ada peristiwa yang sinkron
satu sama lain seperti itu sudah diatur? Apakah kita persis seperti
sel yang merasa dirinya super bebas padahal hanya dalam lingkup yang
terbatas (level 1 sampai 4 saja kebebasannya dan itu tidak mengganggu
sinkronitas dan kemenyatuan)? Mengapa kita selalu ingin menyatu satu
sama lain?

Semua jawaban itu ada dalam kematian yang kita semua akan
mengalaminya. TAPI KEMUNGKINAN BESAR KITA PUN TIDAK AKAN PUAS DENGAN
JAWABAN APAPUN. Karena memang jika tidak ada pertanyaan lagi, tidak
akan ada lagi gerak, dan tidak akan ada lagi intelegensi. Dan semua
akan mati serentak.

Maka biarkan yang menjadi misteri adalah misteri, karena kehidupan
adalah bersumber pada pertanyaan yang melahirkan gerakan dan
menghasilkan gejala intelegensi.

Selamat datang ke dunia ilusi. Hidupkan pertanyaan anda!

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s