Dunia Per Konteks

Suatu saat, saya merasa penasaran dengan suatu pemikiran. Apakah benar seorang yang melakukan bom bunuh diri karena fanatik dengan agamanya tidak dapat melihat apa yang telah diperbuatnya adalah sebuah kesalahan fatal? Kebenaran seperti apakah yang dirasakan olehnya sehingga perbuatan membunuh orang lainpun dapat dilakukannya tanpa rasa bersalah sedikitpun? Apakah benar kalau orang sudah fanatik dengan agamanya maka sanggup menyakiti orang lain yang tidak seiman dengannya? Hal-hal inilah ketika itu masih menjadi misteri bagi saya. Mengapa di dunia ini ada orang-orang yang rela (?) berperan sebagai tokoh antagonis? Ketika perang atau pertengkaran atau konflik terjadi terjadi, siapakah sesungguhnya yang rela dinilai sebagai yang berperan antagonis? Saya yakin masing-masing pihak merasa dirinya yang paling benar. Dan pihak lainnya yang pasti salah. Kecuali ada kepentingan lain yang dapat melahirkan kompromi, maka saling salah-menyalahkan sulit sekali dihindari dalam perang maupun dalam konflik biasa.

Oleh karena itu, saat itu saya berniat melakukan sebuah percobaan kecil. Sebelum saya mengatakan percobaan apakah itu, perlu untuk diketahui bahwa latar belakang saya adalah beragama Katolik. Namun saat ini (sampai saat ini pun), saya tidak terikat dengan agama manapun. Saya juga tidak terikat dengan keimanan akan Tuhan (yang artinya boleh menganggap saya percaya atau tidak percaya dengan adanya Tuhan). Tapi tidak pula atheis karena saya masih dapat menikmati kegiatan keagamaan seperti berdoa kepada Tuhan. Mengikuti misa (walaupun tidak ada yang dapat saya imani benar-benar), dlsb. Nah dengan latar belakang seperti ini, sayapun melakukan sebuah percobaan kecil. Saya mencoba mengikuti kegiatan retret Seminar Hidup Baru Dalam Roh (retret khas gaya Katolik Karismatik), dimana saya yakin orang-orang yang mengikuti retret ini (paling tidak panitianya) biasa saya golongkan kedalam orang-orang yang cukup fanatik terhadap agamanya (tentu dalam arti yang positif). Tujuan saya mengikuti retret ini supaya saya dapat mengetahui dari dalam bagaimana karakteristik orang-orang yang sangat tergantung dengan keimanannya (atau fanatik atau alim atau aktivis gereja, dlsb). Dan saya juga telah berkomitmen untuk mengikuti semua acara dengan sangat sungguh-sungguh, yang artinya, kalaupun ketika itu saya diharuskan mengimani Tuhan, maka itu akan saya lakukan tanpa banyak pertimbangan macam-macam. Kemudian, benar juga, saya ketika itu sanggup mengikuti dengan hati penuh semua mata acara. Sampai-sampai saya bisa berbahasa roh. Sampai-sampai saya mau menerima lagi sakramen pertobatan (sakramen yang lama telah saya tidak terima setidaknya selama 10 tahun lebih). Sampai-sampai pula saya ikutan terjatuh ketika sedang didoakan dalam bahasa roh (gambaran bagi umat muslim mengenai kegiatan ini, dalam Islam kalau gak salah mirip dengan kegiatan ruqyah…maaf kalau salah). Tapi saya tetap menyadari ada sebuah jurang perbedaan besar antara diri saya saat ini dengan diri saya yang masih Katolik ting-ting dulunya (setidaknya sampai saat saya mulai kuliah). Mungkin dengan keadaan yang dulu, saya malah takut didoakan dalam bahasa roh (kelihatan ekstrim bagi saya), takut untuk bertobat (karena dosanya makin gak enak untuk diakui), apalagi sampai bisa berbahasa roh (mirip dengan komat-kamit tidak karuan, malu khan…?). Tapi saat ini, saya sanggup melakukan semuanya tanpa ada rasa bersalah, pura-pura, malu ataupun ketakutan. Namun tetap saja ada perbedaan besar. Dan saya harus mengakui diri saya tidak berubah menjadi mengimani Katolik 100 persen.

Jadi manfaat apa yang akhirnya saya dapatkan dari retret/percobaan tersebut? Manfaat yang saya rasakan adalah perubahan cara pandang saya terhadap orang-orang yang saya anggap fanatik. Inilah manfaat yang paling saya rasakan. Manfaat yang ke dua mungkin saya lebih bisa lagi menikmati kegiatan keagamaan tanpa diembel-embeli dengan keluhan-keluhan seperti konsep iman yang saya bodoh-bodohi-lah, pastornya yang saya anggap kurang cerahlah, konsep dosa yang saya anggap merendahkan manusialah, dlsb. Sekarang saya nikmati saja misa, doa, ibadah saya tanpa peduli pada hal-hal seperti itu lagi. Karena apa, karena saya sudah mendapatkan pelajaran yang paling penting dari percobaan saya tersebut, yaitu, masing-masing dapat dimaklumi konteksnyaDunia per orang adalah per konteks. Artinya, misalnya saja jika kita berada pada sol sepatunya orang yang mau melakukan bom bunuh diri, dijamin kita dapat memaklumi mengapa orang itu melakukan demikian. Lebih ekstrim lagi, kalau misalnya dirinya adalah diri saya, berikut dengan latar belakangnya, maka tindakan saya pun saya rasa tidak jauh berbeda dengan tindakan orang tersebut. Saya akan tega melakukan bom bunuh diri dengan resiko orang yang tidak bersalah terbunuh. Jadi saat ini saya dapat memaklumi apa yang telah dilakukan oleh Amrozi misalnya. Ingat, saya memakluminya, tidak hanya berempati atau bersimpati. Terlepas bahwa perbuatannya memang berakibat buruk bagi kita semua.

Darimana saya bisa mengambil pelajaran/kesimpulan seperti ini? Ini semua berasal dari tumbuhnya kemampuan saya untuk dapat memetakan sekaligus merasakan sendiri hasil dari pemetaan tersebut. Dengan kata lain saya tidak menciptakan perbandingan pemetaan lagi (yaitu misalnya iman saya begini kok dia begitu, kok pasturnya begini, begitu, kok gereja tidak peduli dengan konsep yang salah kaprah, dlsb). Melainkan menikmati hasil pemetaan saya sendiri yang sudah pasti cocok (dan dapat saya nikmati) karena telah sesuai dengan karakteristik diri saya sendiri. Jadi, ketika saya mengikuti retret tersebut, saya bisa tidak mengeluh lagi karena tidak lagi membuat bahan perbandingan seperti biasanya, melainkan mengikuti semua acara dengan cara ataugaya saya sendiri. Inilah yang saya sebut sebagai menikmati dengan konteks saya sendiri. Menikmati dengan kesesuaian latar belakang saya sendiri. Inilah yang menurut saya menjadi titik pangkal permasalahan mengapa orang sulit beradaptasi dengan keadaan. Yang menurut saya, kebanyakan karena mereka tidak dapat menikmati/menjalaninya sesuai dengan konteksnya sendiri (atau merasakan hasil pemetaannya sendiri).

Lalu seperti apa sih pemetaan yang telah saya lakukan terhadap acara retret tersebut? Mudah saja sebenarnya. Saya melihat diri saya memang mempunyai kebutuhan untuk bersekutu/berjemaat. Di sini yang saya maksud dengan berjemaat adalah berbagi rasa. Dan biasanya tempat ibadah atau kegiatan keagamaan adalah kondisi yang paling kondusif bagi kita semua untuk berkumpul dan saling membukakan diri, saling menyembuhkan diri, saling menguatkan diri. Tidak peduli itu melalui iman dengan Tuhan, ataupun tidak, ataupun hanya pengen kumpul dan senang-senang belaka. Ataupun hanya kewajiban saja. Terlepas dari semua itu, bagi saya kebutuhan untuk merasa senasib dan sepenanggungan dalam menjalani hidup dan merasakan beban hidup itulah yang terpenting bagi saya.

Nah, seperti itulah hasil pemetaan saya terhadap acara retret tersebut. Dan dari hasil pemetaan itu, saya menjadi sadar kesia-siaan mempertanyakan keadaan ataupun mempertanyakan iman orang lain. Karena apa? Karena ternyata kebutuhan saya tidak jauh beda dengan kebutuhan mereka, per konteks masing-masing.Artinya, jika saya diletakkan pada posisi/konteks orang lain, maka bisa dijamin model keimanan saya akan mirip dengan model keimanan yang orang itu miliki. Tingkah laku sayapun akan menjadi mirip. Bahkan bila saya menoleh diri saya kebelakang, dulupun saya juga menjalani seperti mereka juga. Alias jika saya pernah menjalaninya, maka jalan saat ini yang saya tempuh tidak terlepas/masih menyambung dari jalan yang dulu pernah saya tempuh. Menyangkal bahwa saya tidak pernah berjalan di jalan yang dulu tersebut sama-saja seperti kacang lupa kulit, atau sama-saja saya tidak menghargai usaha yang telah saya lakukan sendiri. Lagipula kalau dipikir-pikir, per konteksnya setiap orang memiliki agenda uniknya masing-masing. Alias jalan yang saat ini sedang saya tempuh tidaklah lebih tinggi atau lebih rendah dari jalannya orang lain. Itu sangat tergantung dari agenda dan tujuan unik masing-masing individu atau masing-masing konteksnya. Mungkin bagi orang-orang yang saya anggap fanatik itu, bagi mereka (misalnya Amrozi), mereka telah berjalan cukup jauh (dalam hal spiritual) menurut agenda mereka tersebut. Inilah yang saya maksud dengan memiliki agenda yang unik. Inilah yang saya maksud dengan per konteks.

Jadi, pertama kali yang perlu kita lakukan agar kita dapat menikmati kegiatan apapun dalam hidup ini adalah menyadari tak ada sesuatu apapun yang di luar konteks diri kita. Cara kita memandang hidup, melihat, mendengar, berpikir semua ini tidak dapat dilepaskan dari pengaruh latar belakang diri kita. Menerima atau mengerti tentang diri kita sendiri bisa dimulai dari menyadari bahwa kita hanya memiliki satu kumpulan konteks, yaitu sejarah kehidupan diri kita sendiri. Kita tidak mungkin memiliki sejarah kehidupan orang lain. Setiap manusia mempunyai sejarah hidup yang unik. Sehingga pemetaan yang baik seharusnya merupakan pemetaan yang menyatu dengan diri kita. Dengan kata lain, apapun permasalahan yang kita hadapi,sesungguhnya selalu kita jalani dengan cara unik kita sendiri. Sesuai dengan konteks diri kita sendiri.Seringkali banyaknya pertimbangan berasal dari ketakutan kita sendiri akan ketidakmampuan menjalani/menjawab permasalahan berdasarkan standar yang telah ditetapkan (yang tentu saja seringkali standar tersebut bukan kita yang bikin melainkan orang lain). Padahal pengalaman hidup sering mengajarkan kepada kita ternyata kecemasan kita banyak sekali yang tidak terbukti benar. Ternyata hal-hal yang kita takutkan sering kali tidak terjadi. Ini semua berlaku pada apapun masalah yang akan kita hadapi, apapun kegiatan yang akan kita jalankan, apapun itu. Karena saat menjalaninya selalu ternyata kita jalankan sesuai dengan konteks kita sendiri (atau biasa dikatakan, sesuai dengan kemampuan diri kita sendiri). Cara kita menentukan kontekslah (apakah dalam konteks riang? Bete? Sedih? Marah? Frustasi?) yang menentukan bagaimana kita mendapatkan solusi yang memuaskan/menikmati kegiatan tersebut. Banyak konteks yang bisa kita ciptakan sendiri. Banyak pilihan konteks. Namun itu semua selalu kembali lagi kepada diri kita. Kepada konteks utama, yaitu latar belakang sejarah hidup kita yang seutuhnya. Inilah mesin yang memberikan kecenderungan-kecenderungan dalam menciptakan maupun memilih konteks. Jika kita selalu berpikir untuk mengikuti standar orang lain, untuk meniru sejarah orang lain, untuk menjadi orang lain, maka kita sudah tahu konfliknya terjadi dimana. Konflik terjadi pada diri sendiri yang kebingungan bagaimana cara meniru atau mengikuti standar orang lain dan akhirnya hanya untuk mendapati perasaan dirinya bukan dirinya sesungguhnya. Inilah pangkal dari perasaan kesepian. Inilah pangkal dari kehilangan integritas atau jati diri.

Hal yang paling mudah untuk dapat melihat bagaimana cara mengerti/memahami orang lain yang benar-benar bertolak-belakang cara pandangnya dengan diri kita (misalnya terhadap orang-orang yang dianggap fanatik atau teroris atau penjahat atau koruptor, dlsb), adalah lihat saja pada orang-orang yang lagi jatuh cinta. Atau mengingat-ingat kembali saat kita sendiri sedang jatuh cinta, atau bagi yang sedang jatuh cinta, keheranan anda sendiri terhadap orang-orang yang tidak mempunyai semangat hidup. Pokoknya segala sesuatu yang berkaitan dengan cinta, terutama cinta lawan jenis. Ketika kita melihat orang lain sedang mabuk cinta, maka bagi kita semua yang pernah jatuh cinta akan mengerti cara pandang orang tersebut akan sangat-sangat dipengaruhi oleh kadar jatuh cintanya. Kita akan mudah memahami mengapa sepertinya orang tersebut seperti memiliki dunianya sendiri. Dan terkadang pula kita hanya tersenyum-senyum melihat teman kita yang bisa tergila-gila sama gebetannya padahal bagi kita gebetan itu biasa-biasa saja. Itulah konteks. Itulah yang terjadi pada Amrozi dkk. Mereka menurut saya telah jatuh cinta pada suatu hal (yaitu doktrin agama). Orang lain yang tidak fanatik akan sulit memahami mengapa mereka bisa sampai tergila-gila sedemikian rupa. Hal ini sama saja seperti kita tidak mengerti mengapa si Udin cinta sama Tuti misalnya. Padahal menurut kita Tuti tidak cantiknya sama-sekali, dan orangnya biasa-biasa saja. Namun kitapun mahfum dengan kondisi jatuh cintanya dia, karena kitapun pernah mengalami situasi yang serupa. Jadi bisa disadari bahwa setiap jatuh cinta itu unik. Terjadinya sesuai dengan latar belakang, pemetaan, kebutuhannya, sejarah hidupnya, keunikan per individu, per konteks, dlsb. Sehingga wajar saja kalau kita tidak bisa merasakan apa yang sedang dirasakan baik oleh orang yang jatuh cinta dengan si x ataupun yang tergila-gila/fanatik dengan agamanya. Selalu ada contoh orang yang bunuh diri karena cinta ditolak. Ataupun seseorang yang berusaha mati-matian memenuhi permintaan sang kekasih. Begitu juga dengan para fanatik agama, yang melakukan bom bunuh diri karena cinta akan agamanya. Saya dapat memahami kadar kecintaannya yang begitu mendalam sehingga mau melakukan bom bunuh diri. Orang lain sering mengatakan mereka telah tercuci otak. Dan menurut pendapat saya, begitu pula dengan kita sendiri, tercuci otak ketika kita sedang jatuh cinta pada apapun. Orang lain akan sulit memahami diri kita. Sebabnya, kita memiliki konteks yang pasti unik.

Kembali lagi ke cerita awal saya. Ketika selesai melakukan percobaan tersebut, saya langsung tersadar bahwa saya akhirnya bisa saja menjalani kegiatan/keadaan kehidupan manapun dengan sepenuh hati. Saya berikan sebuah contoh pada diri saya sendiri. Dalam mengikuti sakramen tobat (pertobatan), selalu dikatakan akui dosa kepada pastur dosa-dosa yang memang telah disadari sebagai dosa. Saya pada awalnya ketika retret itu berpikir tidak mungkin saya bisa mengakui dosa-dosa saya dihadapan pastur. Ada 2 alasan. Pertama, saya tidak percaya adanya dosa sekaligus berarti saya tidak percaya ada penghukuman (neraka) ataupun ganjaran (surga). Kedua, saya mempunyai konsep bahwa kesalahan hanyalah ketidakberfungsian dalam pemenuhan tujuan hidup kita saja. Sehingga bagi saya cukup bila saya sudah dapat menyadari apa kesalahan saya kemudian dapat memperbaikinya atau malahan berubah arahpun sama baiknya. Jadi bagi saya, dosa hanyalah konsep fiktif untuk menghidupkan dimensi fiktif pula yaitu dimensi surga dan neraka. Hanya itu kegunaan dosa menurut saya. Tapi saat itu saya sudah mengikuti acara retret dan sudah masuk/sesuai dengan konteks saya. Saya telah dapat menikmati nyanyiannya. Telah dapat berbahasa roh. Telah disembuhkan secara roh, dlsb (catatan, roh dalam hal ini menurut kepercayaan Katolik adalah Roh Kudus, unsur ketiga dari 3 unsur yang menjadi satu Allah). Jadi, seperti yang saya katakan, saya sudah tahu saya tidak akan dapat menerima sakramen pertobatan kalau mau tetap sesuai dengan integritas/konteks diri saya (kecuali kalau saya mulai pura-pura saja, tapi bukan ini yang saya inginkan dalam percobaan/retret tersebut). Namun entah mengapa, saya teringat lagi sebuah perkataan pastur mengenai pertobatan. Mengapa harus diakui di depan manusia (kalau di depan Allah yah memang sudah semestinya dan saya tahu alasannya). Kata pastur itu, seringkali kita sulit mengakui kesalahan kita di depan orang yang telah kita rugikan. Akibatnya seringkali hal ini meninggalkan jejak luka dari hati yang masih penasaran atau hati yang masih merindukan maaf, atau dari hati yang ingin berdamai kembali namun tidak bisa atau tidak kuat karena tidak pernah terucapkan secara fisik. Bila saja pengakuan kesalahan telah diucapkan secara fisik, maka itu akan merupakan sebuah tindakan yang akan sangat menguatkan hati, bahwa kita telah benar-benar membawa pertobatan/komitmen untuk berubah ke atas permukaan/tataran fisik. Saya melihat hal ini dan kemudian saya tersadar masih ada beberapa kesalahan saya yang saya perlu akui secara terbuka dihadapan manusia sehingga apa yang masih mengganjal dalam hati saya bisa dihilangkan/diperkuat komitmen untuk berubahnya. Ketika itu salah satu komitmen saya adalah membahagiakan ibu saya dengan menuruti buta keinginan supaya anaknya selalu mengikuti misa dengan kesungguhan hati, yang mana sudah sering sekali saya menyakiti hati ibu saya dengan sengaja di depan matanya menyepelekan misa yang saya ikuti. Mengetahui bahwa saya akan mengakui secara ucapan fisik (yang jauh lebih sulit daripada hanya mengakui dalam hati, yang mudah berubahnya), ternyata saya malah menangis tersedu-sedu. Sungguh waktu itu penyesalan dan rasa tobat untuk tidak menyakiti hati ibu saya sendiri begitu berdentam di dalam hati saya. Dan saat itulah saya melihat teman-teman saya yang juga menunggu giliran untuk menerima sakramen tobat juga sedang menangisi dosa/kesalahannya sendiri seperti saya. Ketika itulah saya mengerti merekapun sama seperti saya.  Saya merasa malu hanya bisa menilai dari kulit luarnya saja. Saya kemudian mengambil kesimpulan, apapun alatnya (apapun agamanya, ibadatnya, konsep imannya, bahkan bila fanatikpun), manusia tetaplah sama-sama manusia. Semua alat dapat digunakan menurut kebutuhannya masing-masing. Semua orang dapat menerima manfaat yang dapat menjawab permasalahannya masing-masing. Setelah menerima sakramen pertobatan, saya baru merasa baru kali ini tobat saya benar-benar mengena pada diri saya. Atau dengan kata lain mungkin saya baru tahu bagaimana cara yang baik untuk bertobat, menyesal, kemudian benar-benar berkomitmen untuk tidak mengulanginya lagi. Sudah tidak ada prasangka lagi terhadap keimanan orang lain atau prasangka terhadap lembaga agama (dalam hal ini gereja). Saya tidak peduli lagi. Saya sudah dapat melihat dan merasakan langsung apa yang dialami oleh teman-teman saya yang saya anggap fanatik tersebut. Ternyata apa yang mereka alami sama seperti yang saya alami. Hanya perbedaan konteks. Hanya perbedaan latar belakang saja. Hanya itu.

Mungkin ada orang yang akan terheran-heran bila saya saat ini saya sering mengatakan “terima kasih Tuhan atas retretnya dan sakramen tobatnya dan juga hidup ini…!” Saya sendiripun juga heran bisa berterimakasih seperti itu. Tetap saja secara intelektual saya tidak dapat mengakui keberadaan Tuhan karena secara integritas, atas pertanyaan adakah Tuhan, saya lebih memilih menjawab “tidak tahu!”. Walaupun demikian bagi saya saat ini saya sudah tidak peduli lagi Tuhan ada ataupun tidak. Karena ‘Tuhan’ yang ada di dalam diri saya, adalah juga ‘Tuhan’ yang ada di dalam diri anda semua. Tuhan sengaja saya masukkan dalam tanda petik, karena Tuhan disini artinya adalah konsep Tuhan per konteks. Jika konteks anda secara umum adalah Islam maka Tuhan adalah Allah. Pada Kristen, maka Tuhan adalah Tuhan Yesus. Pada Budha, maka (mungkin) Tuhan adalah pencerahan diri. Pada Atheis maka (mungkin) Tuhan adalah Humanisme. Pada Komunis maka (mungkin) Tuhan adalah kesejahteraan bersama. Pada Agnostik maka (mungkin) Tuhan adalah kebaikan hidup. Dlsb, dlsb. Begitulah. Walaupun konteks kita berbeda-beda, satu hal yang dapat saya tarik kesimpulannya adalah kita tetap sajasesungguhnya bisa secara berjamaah, bersekutu, berjemaat, berkumpul. Karena memang kebutuhan kita sama. Sama-sama sebagai manusia menjalani kehidupan ini. Sama-sama ingin saling berbagi. Apapun itu.

Uraian penutup. Bagaimana cara kita menghadapi fenomena terorisme, kemerosotan moral, kejahatan, perang, kesenjangan sosial, dlsb. Kuncinya cuma satu. Pahami dunia orang lain tersebut sebagai dunia per konteks. Hidup per konteks sekuat hidup dalam jatuh cintanya masing-masing. Tentu kita bisa mahfum dan lebih kurang menghakimi kalau itu sedang melibatkan cinta. Lalu sesungguhnya apa bedanya dengan kejahatan? Bukankah itu hanyalah cinta dalam bentuk frustasi, kemarahan, penolakan, dsb? Dengan begitu kita sedianya telah mengetahui, pendekatan paling baik bagi orang yang tertolak cintanya tentu bukan dengan menghakimi belaka, melainkan pertama-tama dengan berempati dengan penuh cinta. Selayaknya seperti kita menerima sahabat kita yang sedang berkesusahan karena cintanya tertolak. Seperti itulah kita seharusnya dalam menghadapi fenomena kekerasan. Siap untuk mendengarkan/menjadi pendengar yang baik dari kesusahan cinta orang-orang yang ditolak.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s