EGO

Sang Ego, sang Aku.
Ego adalah sebuah kata benda yang tak terpisahkan dari kehidupan
kita sehari-hari. Seringkali kata ego berkonotasi negatif. Hal ini
bagi kebanyakan orang disebabkan karena banyak sekali masalah yang
timbul karena kemunculan si ego. Seolah-olah timbulnya masalah
dipandang sebagai timbulnya ego. Kemudian, ego sering dianggap
sesuatu yang harus ditekan, dihindari atau dilawan. Bahkan sebagaian
besar ajaran agama dari barat maupun dari timur selalu mengajarkan
untuk menguasai ego, melawannya atau setidaknya dapat tidak tunduk
terhadap tuntutan-tuntutan ego. Yang mana memang sebenarnya pendapat
umum atau ajaran seperti itu adalah baik, namun karena kurangnya
pemahaman terhadap cara kerja pikiran dan jiwa diri kita sendiri,
maka secara langsung maupun tidak langsung kita telah menempatkan
ego sebagai momok atau musuh kita. Dan sayangnya perlawanan kita
terhadap ego kita terasa abadi dan sering tidak pernah terselesaikan
sepanjang hayat sejarah manusia.

Kalau kita telusuri benar-benar, kita bisa melihat bahwa menderita
karena ego dengan menderita karena `melawan’ ego terlihat sama kuat
kadar penderitaannya. Kedua-duanya mempunyai prinsip `memperjuangkan
kehidupan’. Mengapa? Karena penderitaan yang berasal dari ego
disebabkan oleh tuntutan-tuntutan ego yang terkadang tidak masuk
akal dalam `memperjuangkan’ kehidupan, sedangkan penderitaan yang
berasal dari `melawan’ ego ternyata disebabkan juga oleh tuntutan,
yaitu `dari ego yang melawan ego yang lain’ dan dalam posisi
perjuangan hidup juga. Melawan ego tanpa kita sadari ternyata juga
membutuhkan ego! Coba saja sekarang bayangkan kita sedang melawan
ego kita sendiri. Melawan berarti akan ada kemungkinan suatu saat
kita bisa menang atau kalah dari hasil perlawanan tersebut. Maka,
jika kita masih mendapatkan diri kita `sakit hati’ di antara kedua
kemungkinan itu, menang atau kalah, kita bisa melihat itu masihlah
sifat-sifat dari ego. Sakit hati merupakan reaksi dari dunia yang
terbatas (menang-kalah atau dualitas) yang bisa juga disebut masih
di dalam dunia ego.

Lalu apabila kita tidak bisa melawannya apakah itu berarti kita
harus menerimanya saja? Sebelum kita lanjut untuk mencoba menjawab
pertanyaan ini, mari kita mulai dengan mengamati apa itu ego yang
berasal dari diri kita sendiri. Pertanyaan pertama yang sangat
penting dalam mengamati di sini adalah, `apakah mempunyai ego itu
alami?’ Kemudian pertanyaan selanjutnya adalah, `apakah kebahagiaan
sejati bisa diperoleh dari ketiadaan ego atau dari penerimaan ego?’
Mari kita telusuri satu-persatu.

Apakah ego itu alami? Apakah ego itu sudah muncul dari sananya atau
merupakan hasil dari kerja pikiran yang tidak disadari? Lalu mengapa
melawan atau menerima ego itu susah sekali? Apakah ego sama dengan
keliaran pikiran? Atau ego adalah pikiran itu sendiri? Apakah ego
adalah jati diri kita? Banyak sekali pertanyaan terkait dari
pertanyaan pertama tersebut. Dan kita harus memulainya dari cara
kerja pikiran kita. Karena kita sudah jamak menganggap ego berasal
dari pikiran-pikiran kita.

Melihat dan mengamati cara kita berpikir akan menjadi kegiatan yang
lebih sederhana kalau kita mulai melihat dari cara kerja
biologisnya. Kita bisa mulai mengamati dari mana pikiran itu bermula
atau tercipta. Sel-sel otak yang terdiri dari jaringan neuron kalau
kita lihat secara fisik hanyalah memancarkan sinyal-sinyal listrik
yang berseliweran di antara jaring-jaring rumit tersebut. Kita tidak
bisa `menemukan’ pikiran di situ. Karena memang pikiran bukan berada
dalam tataran fisik, melainkan dalam tataran mental atau konsep.
Yang hanya kita temukan secara fisik yang paling mendekati
sebagai `gejala berpikir’ adalah adanya aliran listrik dari satu
neuron ke neuron yang lain. Gejala aliran listrik inilah yang
melahirkan pikiran di benak mental kita. Jadi bisa disimpulkan,
pikiran hanyalah gejala (arus listrik) yang dihasilkan dari beda
potensial listrik antara jaring-jaring neuron yang telah terbentuk
melalui sistem memori dan kecerdasan. Sistem memori dan kecerdasan
itu sendiri adalah sistem yang telah dipunyai oleh manusia akibat
dari perkembangan evolusi genetiknya dan pembelajaran selama
hidupnya sehingga telah membentuk jaringan-jaringan neuron secara
fisik untuk mendukung gejala berpikir ala manusia ini. Jadi bisa
disimpulkan sekali lagi bahwa gejala pikiran yang kita miliki
mempunyai sejarah pembentukan yang panjang yang telah dimulai oleh
evolusi gen juga dari pembelajaran seumur-hidup. Hal ini membawa
implikasi bahwa gejala pikiran pada manusia adalah gejala khas dari
spesies homo sapiens yang tidak dipunyai (atau kurang lengkap
dipunyai) oleh spesies lainnya seperti hewan atau mahluk yang lebih
rendah. Dengan kata lain, kita tidak bisa berpikir ala monyet
misalnya, walaupun kita menginginkannya!

Dari penjelasan dan pengamatan di atas tersebut amanlah kalau
dikatakan bahwa pikiran itu sifatnya alami. Artinya, kemampuan kita
untuk berpikir dan mempunyai pikiran memang sudah dari sononya.
Kemudian dari titik ini, mari kita lanjutkan pengamatan kita. Di
kalimat yang sebelumnya ada pernyataan, `kemampuan untuk berpikir
dan mempunyai pikiran’. Nah dimanakah letak ego dalam hal berpikir
dan mempunyai pikiran? Dalam hal ini, jawaban yang paling mendekati
adalah ego terletak dalam sistem memori! Mengapa? Untuk menjawab hal
ini, mari kita melihat bahwa sistem memori itu sendiri adalah sistem
mempertahankan/menahan suatu informasi. Untuk apa? Ya jawaban paling
elementernya adalah untuk bertahan hidup! Jika suatu mahluk hidup
tidak mempunyai sistem memori sama-sekali, maka secara harafiah
dapat dikatakan mahluk hidup tersebut tidak mempertahankan apapun
baik informasi maupun fisiknya sendiri (karena `kesadaran fisik’
membutuhkan informasi dari indera sensornya sehingga mutlak
dibutuhkan sistem memori untuk menyimpan informasi sensorik
tersebut). Maka dia akan gagal bertahan sebagai mahluk hidup, atau
dipastikan bakal mati! Bila kita melihat secara general, maka kita
akan mengetahui dan menyimpulkan bahwa seluruh mahluk hidup
mempunyai sistem memori dan kecerdasannya sendiri-sendiri. Artinya
seluruh mahluk hidup (tidak terkecuali mahluk bersel satupun)
mempunyai gejala yang disebut pikiran! Dan kalau kita terapkan pada
tubuh manusia yang terdiri dari jutaan sel mahluk hidup, maka kita
akan mempunyai gejala `pikiran’ yang tersebar di seluruh tubuh!
Berbeda sekali dengan pendapat umum yang biasanya mengatakan pikiran
hanya terdapat dan dihasilkan oleh otak belaka. Kaitan penjelasan
ini dengan ego adalah ego merupakan suatu `pertahanan diri’ dalam
setiap percikan pikiran. Karena sifat-sifat dari sistem memori yang
mempertahankan segala sesuatunya, maka implikasi logisnya adalah
akan dibutuhkan suatu energi (suatu tingkat kesulitan) untuk
melepaskan segala sesuatunya pula. Pertahanan diri (sistem memori)
dibutuhkan, pertama, untuk mendefiniskan dirinya sebagai mahluk
hidup (yang menciptakan dan mempertahankan kehidupannya) dan kedua,
difungsikan sebagai `katup keluar-masuknya informasi (atau juga
makanan bagi mahluk hidup) untuk penyeimbang hukum kekekalan energi
(atau yang biasa disebut hukum sebab-akibat). Untuk fungsi pertama
mungkin sudah cukup jelas. Dan penjelasan untuk fungsi kedua adalah
bahwa secara makrosistem alam semesta, mahluk hidup menberdayakan
dirinya untuk mempunyai kesanggupan menyerap makanan/informasi dari
alam semesta (misalnya kegiatan makan dan membuang kotoran yang
tidak diperlukan masih dalam rangka menyerap energi dari alam
semesta) kemudian sebagai penyeimbangnya mengekspresikan dirinya
lagi dalam bentuk energi kerja (misalnya berkembang biak,
beraktivitas, berinteraksi dengan alam, dsb). Fungsi ini membentuk
suatu jalinan keseimbangan energi makrosistem kehidupan alam semesta
yang rumit. Menurut saya, makin tinggi tingkat evolusi suatu mahluk
maka makin efisien tingkat penyerapan energinya sehingga mempunyai
energi yang cukup berlebih yang perlu dikeluarkan dalam bentuk yang
lebih tinggi/rumit, yaitu ekspresi dalam bentuk kecerdasan! Dan
segera kita bisa melihat keterhubungannya. Pertahanan diri (sistem
memori) bagi evolusi tingkat tinggi seperti spesies homo sapiens
(manusia) tidak hanya berupa pertahanan fisik tapi juga mencakup
pertahanan mental atau pikiran. Karena penyerapan energi secara
fisik sudah begitu efisien, maka manusia memiliki banyak sekali
kelebihan energi yang harus diekspresikan. Dan ekspresi manusia
sebagai bentuk penyeimbang hukum kekekalan energi atau hukum sebab
akibat sudah berevolusi begitu jauh dalam bentuk kecerdasan manusia
sampai saat ini (kecerdasan manusia modern). Sehingga implikasinya
adalah hal ini juga membentuk banyak sekali (hampir tak terbatas)
pertahanan-pertahanan diri (sistem-sistem memori) dalam bentuk
mental atau pikiran. Pertahanan diri dalam bentuk pikiran inilah
dari hasil pengamatan kita bersama dapatlah kita sebut sebagai ego
(yang di kehidupan sehari-haripun secara umum memang sering kita
menganggap ego sebagai suatu bentuk pertahanan diri).

Setelah melalui pengamatan di atas dan membaca atau melihat lagi
melalui pengalaman kita sendiri mengenai ego terlihatlah benang
merah antara ego dan pikiran (yang juga bisa dikaitkan dengan
kecerdasan sebagai hasil dari evolusi pikiran manusia). Bila kita
memang mengetahui bahwa munculnya gejala pikiran itu alami adanya,
apakah itu berarti `pertahanannya’ atau yang disebut ego adalah
alami pula? Pertahanan diri dalam bentuk pikiran (ego) merupakan
agen penyeimbang hukum kekekalan energi (hukum sebab akibat), juga
merupakan agen pendefinisi diri sebagai mahluk hidup. Menilik hal
ini, ternyata ego merupakan agen yang sangat penting sebagai unsur
dasar adanya kemampuan hidup kita! Ego bahkan bersanding dekat
dengan kode genetik kita! Ego berperan penting sebagai keutuhan
setiap sel hidup di seluruh tubuh kita. Dan terutama ego berperan
sebagai ekspresi pikiran untuk penyeimbang energi antara kehidupan
kita sendiri dan energi alam semesta, dalam memenuhi hukum utama
alam semesta yaitu kekekalan energi dan hukum sebab-akibat! Lalu,
dengan peran yang sebenarnya sedemikan mulia ini mengapa banyak
orang di kehidupan ini menganggap ego dapat/sering menimbulkan
masalah?

Jawabannya adalah, bukan ego yang menimbulkan masalah. Ini yang
sangat penting harus digarisbawahi jika kita ingin selalu hidup
bahagia dan damai. BUKAN EGO YANG BERMASALAH, NAMUN KESEIMBANGAN
ENERGI KITALAH YANG BERMASALAH. Merasa diremukkan oleh peristiwa-
peristiwa kehidupan? Keseimbangan energi anda yang sedang menjadi
masalah. Merasa anda begitu egois atau orang lain juga begitu egois?
Keseimbangan energi andalah juga yang menjadi masalah. Merasa
menderita lahir-batin karena tidak bisa mengendalikan ego (atau
nafsu) anda? Lagi-lagi keseimbangan energi anda menjadi biang-
keroknya. Intinya adalah anda/kita lagi tidak seimbang dalam hal
hukum kekekalan energi atau hukum sebab-akibat. Kita memang telah
menyerap energi dalam bentuk makan dengan semakin efisien (kegemukan
adalah contoh modern yang riil), namun sayangnya pengekspresian
energi (dalam bentuk pikiran-ego) tidaklah sama efisiennya. Banyak
sekali energi yang tersumbat dalam tubuh kita —– terlalu banyak
tersumbat malah! Banyak yang menjadi tumpukan energi negatif
(definisi dari jenis energi yang sangat memboroskan energi tubuh
sehingga malah mengancam pertahanan diri atau ego itu sendiri –
mengancam sistem kehidupan diri kita sendiri secara fisik maupun
mental). Tumpukan atau sumbatan energi berubah menjadi energi
negatif karena memang tubuh tidak begitu membutuhkan begitu banyak
energi yang menumpuk (dengan kata lain lihatlah kehidupan sel tubuh
kita, mereka tidak pernah menumpuk makanannya. Hanya mengambil
secukupnya lalu bekerja lagi secara menyehatkan. Penumpukan makanan
hanya merugikan sel itu sendiri). Tumpukan energi malah mengganggu
keseimbangan energi yang berada di dalam tubuh, — juga —,
mengganggu keseimbangan energi di luar tubuh! Alias keseimbangan
alam semesta! Dan alam semesta akan cenderung keras terhadap
anda/kita bila diri kita tidak seimbang demi terciptanya hukum
kekekalan energi (sama seperti bandul yang berayun tidak seimbang,
akan terus berayun sampai berhenti di titik berat atau titik
setimbangnya, sama juga seperti contoh sel tubuh yang sakit harus
segera dibuang atau diperbaiki demi terciptanya keseimbangan
kesehatan tubuh).

Mengapa bisa terjadi penumpukan atau penyumbatan energi? Pertama-
tama alasannya karena memang kita jarang diajarkan (atau belajar
mengamati sehingga mendapatkan kebijaksanaan tubuh) sehingga kita
tidak bisa menyikapi gejala ego dengan sealami mungkin. Kebudayaan
modern cenderung mengajarkan kita untuk menekan atau melawan! Banyak
orang yang mungkin telah mengerti bahwa dibutuhkan suatu penerimaan
ego. Namun telah salah sangka pula mengira penerimaan disamakan
dengan kepasrahan atau kepasifan. Sepasif atau sepasrah apapun kita,
kalau sumbatan energi belum disadari atau bahkan belum dimengerti,
maka sumbatan energi itu tetap akan mencari jalan keluarnya yang
biasanya sudah sangat terlambat untuk menjadi tidak meledak, atau
malah menjadi penyebab penyakit tubuh yang tidak kentara. Dibutuhkan
suatu gabungan kemauan — pengetahuan/pengamatan — dan kesadaran
yang utuh mengenai apa yang sebenarnya terjadi dalam tubuh kita
supaya diri kita dapat mengurai sumbatan-sumbatan energi tersebut.

Alasan kedua mengapa terjadi penumpukan atau sumbatan energi adalah
karena memang pikiran kita sendiri (atau ego) sifatnya adalah
terpecah. Jika sifat terpecah-pecahnya pikiran ini tidak disadari
maka kita akan sangat mudah terjatuh ke dalam suatu gejala jati diri
semu atau pertahanan diri semu. Kita akan menjadi sering mengaitkan
jati diri kita dengan peran-peran kita atau dengan salah satu sudut
pandang pemikiran kita sendiri. Kita menjadi jarang sanggup untuk
melihat jati diri keseluruhan kita (the whole self). Masing-masing
keterpecahan (atau masing-masing peran, sudut pandang, dsb)
mempunyai pertahanan diri masing-masing (atau ego masing-masing)
yang sering bentrok dengan pecahan-pecahan lain (misalnya dengan ego
orang lain, dengan peran-peran, sifat atau kebanggaan orang lain,
dsb). Mereka akan berkonflik memenuhi pikiran anda/kita yang gejala
paling ringannya adalah dalam bentuk kecemasan atau kegelisahan. Dan
itu bisa mengarah ke depresi alias ketidakmampuan melihat realita
akibat memilih pandangan hidup yang terlalu kecil/negatif karena
mengikuti ego keterpecahan pikiran. Konflik-konflik psikologis
inilah yang disebut dengan gejala penumpukan atau penyumbatan energi
yang perlu diurai, dimulai dari kesadaran bahwa dia berpihak pada
salah satu keterpecahan pikirannya sendiri.

Saya akan memberikan salah satu contoh penumpukan atau penyumbatan
energi yang cukup tidak kentara dalam budaya modern. Yaitu
keserakahan. Banyak orang menganggap manusia menjadi serakah karena
hanya ingin mementingkan egonya sendiri. Orang itu cenderung dinilai
jahat oleh masyarakat. Padahal keserakahan sebenarnya adalah suatu
penyakit ketidakseimbangan energi. Kalau mau benar-benar diamati,
sebenarnya tidak ada orang yang mau serakah! Tapi yang luar-
biasanya, akibat dari budaya modern, kita hampir-hampir tidak
percaya bahwa ada orang yang tidak mau serakah! Kebanyakan orang
bersikap pragmatis terhadap keserakahan ini. Artinya kita semua
dalam derajat tertentu menerima suatu keserakahan dalam suatu
peristiwa, atau menganggap hampir normal-normal saja keserakahan
tersebut, apalagi dalam hal berbisnis atau berkompetisi! Sehingga
wajar banyak orang yang kena stroke, stress tinggi atau depresi
dalam berbisnis atau berkompetisi karena menganggap penyakit serakah
sebagai sesuatu yang hampir normal. Keserakahan adalah suatu
penyakit. Dan penyakit tetaplah suatu penyakit. Mungkin bisa saja
dikatakan normal-normal saja tapi yang jelas tidak alami! Tubuh dan
pikiran kita tidak dikondisikan setimbang dan kuat untuk menanggung
keserakahan! Tubuh akan segera mengalami kebuntuan dan penyumbatan
energi ketika kita mulai dan melesetarikan keserakahan. Dan jarang
sekali budaya modern mulai mempertanyakan, mengapa dan asal mula
kita menjadi serakah? Atau mau jawaban yang enggak pakai mikir?
Sebut saja serakah sebagai hasil dari godaan setan. Beres khan! Tapi
tidak menyelesaikan masalah. Yang sedihnya di Indonesia tercinta
ini, jawaban seperti itulah yang sering digunakan dalam
merasionalisasi keserakahan. Jawaban model kambing hitam!

Keserakahan, bila dilihat dari sudut pertahanan diri adalah suatu
bentuk ketidakamanan finansial atau ketidakamanan penghidupan diri
(karena serakah bisa saja dalam bentuk keserakahan spiritual
misalnya). Orang menjadi serakah melulu karena dirinya merasa
terancam. Keamanan dirinya tidak terjamin. Pertahanan dirinya
cenderung labil karena menganggap ada ancaman dari luar. Alias ego
yang terancam. Reaksi orang (seperti 2 alasan mengapa terjadi
sumbatan energi di penjelasan paragraf sebelumnya) biasanya ada 2
jenis. Jenis pertama adalah melawan rasa tidak amannya (melawan
ego). Ini biasanya dilakukan dengan mencoba memperbaiki diri melalui
metode-metode pengembangan diri supaya tidak serakah. Jika tidak
sanggup pada titik ini, orang tersebut biasanya kemudian memilih
menekan perasaan tidak amannya (menekan ego), artinya menganggap
permasalahan rasa amannya sudah selesai (menyangkal kenyataan
perasaan diri). Tapi seringkali orang ini akan merasa menyesal
karena ternyata dia terbukti masih serakah juga dan sering tidak
mendapatkan hormat dan integritas yang merugikan citra dirinya.
Karena sintom keserakahannya masih juga ada, maka akhirnya orang itu
menyerah, menerima apa-adanya saja, menerima nilai yang mengatakan
kadang-kadang kita perlu menjadi serigala yang serakah, tentu untuk
tujuan yang lebih tinggi atau mulia. Cara ini memang berhasil sediki
menekan jumlah sintom keserakahannya, namun dia tetap tidaklah
tenang karena terpaksa menerima nilai yang sebenarnya tidak sesuai
dengan integritasnya. Contoh seperti orang ini banyak sekali terjadi
di dunia bisnis. Dan akhirnya banyak dari mereka berbisnis dengan
hati yang kering, karena energi mereka sudah banyak yang tersumbat
atau menjadi negatif (penumpukan energi yang berbahaya) di dalam
tubuhnya.

Jenis kedua adalah jenis orang yang segera mengambil tindakan
pengobatan atau peran yang dapat meminimalisir kerusakan akibat
keserakahan yang mereka perbuat. Ini sangat berhubungan dengan citra
diri. Jadi segala sesuatu yang dia lakukan untuk memperbaiki
keserakahannya adalah dalam rangka perlindungan citra dirinya. Dia
akan berusaha mati-matian, setidaknya, terlihat tidak serakah! Atau
paling tidak, di mata keluarganya tetap dipandang sebagai kepala
rumah tangga yang mumpuni dan bermoral tinggi. Tindakan pengobatan
sering kali yang dia cari terutama dalam hal apa yang terlihat baik
oleh orang lain. Maka dia akan menuruti cara pengobatan/perbaikan
dari orang yang sangat dihormatinya hanya supaya orang lain tahu
bahwa dia juga sangat memperhatikan aspek moral dalam bisnisnya.
Namun sebenarnya baginya, dia tidak terlalu peduli apakah dia
beneran serakah atau pura-pura tidak serakah. Malah kalau memang ada
kesempatan yang bagus untuk serakah, dan hal itu tidak dilihat oleh
orang lain yang berarti citra dirinya tidak terganggu sama-sekali,
maka dia akan mengambil kesempatan untuk serakah tersebut! Walaupun
mungkin bisnisnya bisa berjalan baik (karena yang tidak baik berada
di bawah permukaan), sebenarnya dia akan terus diserang rasa
khawatir dan cemas yang cukup berlebihan kalau-kalau citra dirnya
terbongkar atau hancur. Dia akan menjadi nervous di setiap
kesempatan bersama orang-orang lain. Dan kebanyakan dari mereka
akhirnya harus menjadi penjilat, banyak melakukan nepotisme, dan
sangat menjadi tergantung dengan orang lain sehingga sering terjadi
konflik, yang walaupun konfliknya banyak yang terlihat sepele tapi
sudah hampir pasti selalu dibesar-besarkan masalahnya oleh citra
dirinya sendiri.

Semua permasalahan seperti itu dan seperti contoh di atas yaitu
keserakahan jawabannya ada dalam ketidakseimbangan energi. Ego
hanyalah pertahanan katup aliran pikiran dan perasaan. Ego
diperlukan untuk supaya diri kita `mengada’ dan supaya diri
kita `bertahan’ hidup. Dan ego juga diperlukan dalam hal ekspresi
dalam memenuhi kebutuhan hukum kekekalan energi. Keserakahan dalam
contoh di atas adalah merupakan contoh pertahanan katup aliran rasa
aman finansial atau penghidupan yang terganggu. Dan
ketidakseimbangan energilah yang menjadi masalahnya. Mari kita coba
telaah dengan mengamati cara alami tubuh membuang stress.

Wajar dan alami sekali setiap orang mempunyai derajat rasa aman
tertentu. Implikasinya adalah rasa aman tersebut mempunyai batasan
katupnya masing-masing. Yaitu katup penyerap energi rasa aman, dan
katup pembuang (ekspresi) sebagai batasan untuk tetap merasa aman.
Misalnya orang yang serakah tadi, tingkat rasa aman finansialnya
sebenarnya adalah 20 juta perbulan. Namun penghasilan dia hanyalah 5
juta perbulan. Artinya ada selisih 15 juta perbulan yang sewaktu-
waktu bisa terjadi konflik atau ketidakseimbangan rasa aman.
Misalnya ketika dia menghadapi suatu transaksi bisnis ternyata dia
punya pilihan untuk serakah. Berarti ini adalah kesempatan dia untuk
memenuhi ketidakseimbangan tadi (yang selisih 15 juta tersebut).
Namun dengan mengambil kesempatan untuk serakah, dia malah
mengurangi rasa aman penghidupannya, yaitu integritasnya sendiri.
Dan seperti setiap orang, bobot nilai rasa aman untuk penghidupannya
tentu lebih besar dibandingkan dengan hanya bobot nilai finansial
saja (yang bagi orang kebanyakan uang tidak bisa membeli
kebahagiaan!). Jadi dihitung secara netto, setelah berbuat serakah
orang itu malah bertambah minus rasa amannya dan terjadi peningkatan
dan penggumpalan energi (rasa tidak puas) akibat dari rasa tidak
terimanya bahwa rasa aman penghidupannya jauh berkurang banyak.
Akibatnya sungguh tidak mengenakkan. Dia semakin tidak puas akan
hidupnya, rasa amannyapun secara netto jauh berkurang.

Saran dan cara bagi dia untuk memperbaikinya adalah pertama-tama
tentu saja menyadari mekanisme pikiran — ego — perasaan yang
bekerja dalam dirinya seperti yang telah dijelaskan barusan di atas
(yaitu cara kerja rasa aman, katup, jenis-jenis rasa aman, dan
kekekalan atau sebab akibat energi dalam dirinya yang cukup
dimengerti secara sederhana melalui kemauan pengamatan). Setelah
bisa menyadari dengan kemauan, selanjutnya sebenarnya menjadi sangat
mudah. Sadari dan patuhi saja hukum kekekalan energi atau hukum
sebab-akibat (dua-duanya adalah merupakan satu hukum saja). Hukum
tersebut adalah dasar dari permainan kehidupan dualitas yang sedang
kita jalani dan telah dipatuhi sampai ke dalam tingkatan sel tubuh
atau sampai tingkatan mahluk bersel satu! Kejutannya, jika toh ingin
tetap melanggar hukum tersebut, misalnya tetap berbuat serakah,
setidaknya kita tahu dan telah siap dengan implikasi atau akibat-
akibatnya. Dengan model menyadari seperti ini saja walau kita tetap
nekat serakah, penyembuhannya akan tetap berlangsung sangat cepat!
Sampai-sampai nanti di suatu titik kalau anda/kita sudah bosan
dengan permainan ini (alias sudah bosan menyadari penderitaan karena
serakah), anda/kita malah sudah tidak akan sanggup lagi untuk
serakah, bilapun mau!!! Pokoknya waktu itu anda sudah tidak bisa!
Itu saja. Sesederhana itu. Mirip seperti perokok berat yang berhenti
merokok setelah tahu paru-parunya bolong dan kesadarannya datang
begitu saja sebelum semuanya menjadi sangat terlambat. Atau seperti
pemabuk berat yang tiba-tiba mendapati dirinya di selokan bau dan
kesadarannya datang begitu saja. Ketika kesadaran yang begitu saja
datang (kesadaran sederhana), mereka tidak akan sanggup lagi menjadi
perokok berat atau pemabuk berat (mungkin masih sekali-sekali, tapi
tidak akan sampai tingkat perokok berat atau mabuk berat) atau malah
sangking sederhananya kesadaran yang datang tersebut, mereka tidak
sanggup menyentuh lagi rokok atau minuman. Begitulah manusia belajar
melalui pengamatan. Jika manusia tahu suatu cara kerja, maka dia
menjadi berkuasa atas cara kerja tersebut, dan……. kesadaran akan
datang begitu saja. Gratis. Sederhana. Gak perlu lagi ikut seminar
mahal-mahal dan macem-macem hanya untuk misalnya menghilangkan
keserakahan. Hanya KESADARAN SEDERHANA.

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s