Hak milik dan sifat posesif

Apa artinya memiliki? Apa yang biasanya kita lakukan ketika kita
memiliki sesuatu? Nah, dalam nilai2 dunia modern ini, hak milik
berarti hak mendayagunakan sebebas apapun sesuai kepentingan kita
sendiri. Yang berarti bila ada sebuah objek yang menjadi hak milik
kita, maka objek itu bisa disebut berada di dalam kuasa kita SECARA
EKSKLUSIF.

Secara sepintas, definisi hak milik seperti itu terlihat wajar dan
alami. Seperti kita melihat, hewanpun memiliki kekuasaan wilayah
dalam menjaga habitatnya. Dan ini diwujudkan dalam kehidupan modern
berupa sistem kapitalis. Setiap orang berhak memiliki sesuatu untuk
menunjang kehidupannya, dan setiap usaha tersebut dilindungi melalui
sistem kapitalis yaitu pasar bebas.

Kembali lagi ke masing-masing diri kita. Apa yang kita rasakan
ketika memiliki sesuatu? Misalnya, anda memiliki sebuah pulpen. Apa
yang anda lakukan terhadap pulpen tersebut? Anda bebas memperlakukan
apapun bukan? Anda mempunyai kuasa terhadap pulpen tersebut. Dan
ketika ada orang lain yang mencoba menggunakan pulpen-anda, maka
anda tidak akan melepaskannya dengan sukarela tentu saja. Mungkin
anda tidak melepaskannya atau menjualnya atau meminjamkannya atau
memberikannya begitu saja, intinya adalah nasib pulpen itu ada di
tangan anda bukankah begitu? Di dalam sistem pemikiran anda, pulpen
itu adalah termasuk properti kepemilikan anda, jadi anda harus
menjaga properti kepemilikan anda, bukan demikian?

Dengan begitu otak kita akan segera penuh dengan seabrek pemetaan
hal-hal mana atau objek mana yang masuk ke dalam properti
kepemilikan dan mana yang tidak. Sehingga pemikiran kita juga
menjadi cukup penuh dengan kekhawatiran kita harus menjaga
kepemilikan-kepemilikan tersebut. Lama-kelamaan kekhawatiran berubah
menjadi rasa aman dan rasa takut kehilangan, biasa disebut dengan
rasa posesif. Dan semakin besar harga dari kepemilikan kita
(misalnya semakin mahal atau bernilai barang yang kita miliki),
semakin kita memegangnya dengan erat. Semakin langka atau bernilai
suatu objek, semakin banyak diperebutkan dan dijadikan hak milik
eksklusif. inilah nilai-nilai dasar dunia modern tentang perdagangan
di dalam sistem kapitalisme.

Yang menjadi masalah, hal apa yang membuat kita dapat dikatakan
mempunyai hak milik atas suatu objek? Banyak faktor. Diantaranya
adalah uang, kekuasaan, legalitas, warisan, pemberian, turun-
temurun, dll. Nah, faktor-faktor inilah yang biasanya jadi pemicu
konflik akut dan sumber stress di dunia modern ini. Sebagai
ilustrasi mengapa hal tersebut menjadi pemicu konflik adalah sebagai
berikut :
Dimisalkan, dalam suatu komunitas, ada 100 keluarga anggota
komunitas. Dan di komunitas tersebut terdapat 100 unit pertanian
yang 1 unitnya cukup mememberi makan 1 keluarga anggota komunitas
selama 100 tahun. Hanya saja 98 unit pertanian dikuasai oleh 5
keluarga kaya di komunitas tersebut. Sedangkan hanya 2 unit sisanya
baru diberikan dan dimiliki oleh 95 keluarga yang lain. Yang itu
berarti 95 keluarga itu akan kehabisan unit pertanian dalam jangka
waktu 2 tahunan saja. Sedangkan untuk dapat menumbuhkan 1 unit
pertanian lagi dibutuhkan waktu 100 tahun siklus lagi. Berarti akan
ada masa kelaparan yang membayang selama kira-kira 98 tahun
kehidupan 95 keluarga di komunitas tersebut. Mengapa 5 keluarga di
komunitas tersebut dapat menguasai seluruh unit pertanian? Setelah
ditelusuri, penyebabnya adalah, 5 keluarga tersebut adalah penduduk
asli komunitas sebelum 95 keluarga lainnya bergabung dalam komunitas
tersebut. Dan 95 keluarga tersebut hanya mampu mengolah 2 unit
pertanian sisanya itupun pemberian, karena semua unit telah dikuasai
secara ekslusif oleh 5 keluarga penduduk asli tersebut. Mengapa 5
keluarga tersebut tidak mau banyak berbagi, sederhana saja…
bukankah 100 unit itu memang menjadi hak milik yang sah dari 5
keluarga itu, dan bukankah mereka telah berusaha secara susah-payah
untuk membangun 100 unit pertanian mereka sendiri? Lalu apa
kewajiban mereka bagi para pendatang? Tidak ada bukan? Lagi pula
para pendatang bagi mereka orangnya barbar-barbar, tidak tahu malu
masuk begitu saja ke komunitas mereka. Sudah untung para pendatang
dapat tempat berlindung. Untuk makanan, para pendatang harus
berusaha menyenangkan mereka. Mungkin dengan bekerja dengan mereka,
menjual jasa, atau berdagang dengan mereka tidaklah masalah. Hanya
saja para pendatang ini tidak mempunyai skill apapun, datang dalam
keadaan miskin dan papa. Jadi kemudian tidak ada yang dapat
ditawarkan kecuali menjadi budak bagi 5 keluarga penduduk asli
komunitas tersebut. Demi terhindar dari bencana kelaparan 98 tahun
yang mengerikan.

Bisa melihat relevansinya dalam kehidupan modern kita sendiri?
Kebanyakan dari kita sudah menjadi budak dari 5 keluarga kaya
tersebut hanya demi mempertahankan hidup. Bahkan MASIH DENGAN TEGA-
TEGANYA MELIHAT RATUSAN ATAU MILYARAN ORANG KELAPARAN HANYA KARENA
TIDAK MAU SALING BERBAGI KELEBIHAN HARTANYA. Ini bukanlah imbauan
moral. Ini ADALAH KEGILAAN!!!

Jika kita pikirkan, berapa sih harta yang bagi kita sudah bisa kita
bilang CUKUP? Coba kita lihat. Di Indonesia, bagi yang hidup
berkeluarga, kira-kira penghasilan sekitar 10 juta rupiah per bulan
sudah bisa untuk hidup sederhana dengan sebuah rumah, mobil dan
motor beserta rekreasi dan makanan sekunder. Nah kita misalkan si
Udin merintis karir dan bisnisnya dari muda. Ketika gajinya sudah
mendekati 10 juta per bulan, dia memutuskan untuk berbisnis
sekaligus berkeluarga. Kemudian bisnisnya menjadi semakin besar dan
semakin besar. Ketika penghasilan bersihnya mendekati 20 juta per
bulan, keluarga si Udin sudah bisa mengalami hidup yang lebih dari
cukup. Lalu penghasilan bersihnya terus menanjak ke 30 juta, 50
juta, 100 juta per bulan. Di titik ini, akhirnya si Udin sudah tidak
sanggup lagi menghabiskan uangnya sendiri walaupun gaya hidupnya
sudah cukup tinggi. Sehingga sisanya hanya dia kumpulkan berupa
tabungan, investasi, atau tanam ke bisnis lain. Kemudian karena
investasinya ternyata berbuah juga, dan sistem bisnisnya semakin
menggurita, maka penghasilan bersihnya menjadi 200 juta, terus 400
juta, terus 700 juta, terus 1M per bulan. Di titik ini, Udin
ternyata tidak bisa berhenti untuk berbisnis karena dia merasa
dengan bekerja maka dia bisa terus mewujudkan dirinya sendiri, atau
dengan kata lain kerja sudah menjadi hobi sekaligus kebutuhan. Yang
jadi masalah adalah, karena uangnya yang berlebihan sudah diusahakan
diinvestasikan ketempat yang lain, maka uang itu juga turut berbuah
lagi dan lagi sehingga menciptakan masalah baru bagi Udin. Yaitu
masalah kebanyakan duit. Itu masalah pertama. Masalah kedua adalah,
rasa khawatir yang tidak jelas. Si Udin malah takut kehilangan harta-
hartanya, oleh karena itu dia semakin memproteksinya dan
mengembangkannya terus-menerus. Akhirnya ketika penghasilan
bersihnya sudah mencapai 3 M per bulan, dia membuka yayasan kanker
dan menyalurkan sebagian kecil dari uangnya untuk sosial. Dan si
Udin merasa senang sekaligus sebagai terapi menghilangkan stressnya.
Oleh karena itu orang-orang menganggap dia sangat dermawan dan baik
hati. Bayangkan Udin membiayai yayasannya 5 M pertahun! Dan sering
kali memberikan donasi ke gereja atau masjid sekitar 500 juta rupiah
rutin dalam setahun. Namun penghasilan bersihnya kini sudah sekitar
10 M per bulan, dan uang segitu gak begitu berarti bagi Udin. Yang
dia khawatirkan adalah justru ketakutan bahwa ini akan hilang
sekejap. Bahwa anak-anaknya tidak ada yang beres mengurusi bisnis,
bahwa umurnya sudah merangkak naik ke 70 tahun, bahwa menemukan dia
cukup stress sebagai pengumpul duit, ada yang hilang dalam nilai-
nilai idealisnya selain ngumpulin duit saja.

Anda tentu bisa lihat relevansinya dalam ilustrasi pertama. Dalam
ilustrasi pertama, si Udin seperti 5 keluarga yang mempunyai 100
unit pertanian dan sudah cukup baik memberikan 2 unit pertanian
kepada yang membutuhkan. Coba kita tanya si Udin, maukah dia balik
lagi ke gaji 10 juta per bulan dengan menyumbangkan 98 persen
hartanya ke negara…. pasti si Udin akan berteriak-teriak tentang
HAM, tentang kebebasan berusaha, tentang pasar bebas. Padahal ada
ratusan juta orang yang hidupnya pasti akan tertolong melalui
uangnya tersebut.

Adalagi ilustrasi lain yang menggambarkan keposesifan kita terhadap
uang. Misalkan gaji seorang manajer standarnya adalah 15 juta rupiah
per bulan. Si Parto orangnya sangat dermawan. Maka dari itu
perusahaan miliknya menggaji manajernya sebesar 25 juta perbulan,
lumayan jauh diatas rata-rata gaji manajer lain. Tentu saja para
manajer perusahaannya senang bukan kepalang. Namun Parto adalah
orang yang bijak, dia bisa melihat nilai sesungguhnya uang. Suatu
hari ada seseorang yang melamar kerja di perusahaannya Parto untuk
menjadi tukang sapu. Karena Parto jatuh kasihan dengan orang
tersebut, maka Parto memberikan gaji kepada orang itu sebesar 50
juta rupiah per bulannya (padahal rata-rata gaji tukang sapu hanya
900 ribu per bulan). Akibatnya banyak manajer yang protes kepada
Parto. Parto hanya bertanya heran, “Kenapa kalian pada banyak yang
protes? Bukankah ini adalah hak saya memberikan gaji berapapun?”
Manajer-manajer tersebut berkata, “Iya, tapi dia hanya tukang sapu,
dan tidak pantas dia digaji segitu, nanti dia malah
ngelunjak.” “Hahaha… kalian yang sudah ngelunjak kepada saya. Udah
saya gaji tinggi masih iri hati? Kalian justru harus bisa melihat
nilai uang sesungguhnya. Apakah tukang sapu itu bisa mengatur gaya
hidup 50 juta per bulan? Dia harus banyak belajar menahan dan
mengatur uang supaya hidupnya sejahtera. Sedangkan kalian, kalian
sudah pintar-pintar semua dalam mengatur uang, sehingga 25 juta per
bulan bisa dimanfaatkan optimal sesuai dengan gaya hidup kalian. Dan
lagi pula saya yakin kalian bisa mengembangkan uang 25 juta per
bulan itu menjadi lebih besar lagi karena kalian punya pendidikan.
Bayangkan tukang sapu itu yang masih harus belajar mendidik dirinya
sendiri dalam mengatur uang. Boro-boro bisa mengembangkan uangnya
sehingga bisa lebih banyak. Alih-alih dia bisa bangkrut karena salah
urus keuangan. Jadi dari sudut pandang saya, kalian masih
mendapatkan pembayaran yang jauh lebih banyak daripada tukang sapu
itu. Lagi pula, maukah kalian kembali lagi menjadi tukang sapu
selamanya? Kalian bisa lihat sendiri kan, ternyata banyak hal lain
yang lebih penting daripada segepok uang per bulannya.” Wah panjang
lebar deh kotbahnya si Parto. Dan karena sudah nggak sreg lagi, maka
Parto memecat semua manajer-manajernya dan diganti dengan yang baru
yang bisa menerima gajinya si tukang sapu.

Hal yang paling mudah untuk menghilangkan kelaparan dunia dalam
semalam adalah……HILANGKANLAH ANGGARAN UNTUK SALING BERPERANG.
ALIHKAN DANA 80 PERSEN DARI ANGGARAN MILITER KE ANGGARAN
KESEJAHTERAAN BERSAMA. Cukup polisi untuk mengatur ketertiban
wilayah. Tidak perlu ada senjata pemusnah masal untuk saling
mengancam. Tidak perlu menghancurkan militer lain yang membutuhkan
dana besar. Tingkatkan saja kesejahteraan, maka kebencian akan
lenyap dan perlawanan akan pudar.

Hal itu bisa dilakukan kalau ada perubahan radikal terhadap
pandangan kita tentang nilai-nilai kehidupan dan kepemilikan. Kalau
saja kita bisa merasa cukup dengan penghasilan kita, beranikah kita
merasa cukup? Misalnya gaji saya sekarang adalah 3 juta, apakah
ketika gaji saya 10 juta saya bisa merasa cukup? Kalau tidak, maka
berapakah yang cukup bagi saya? Saya sudah memikirkan hal ini. Saya
sudah menemukan saya akan merasa cukup ketika gaji saya 100 juta per
bulan, dan saya berjanji kepada diri saya sendiri setiap sen yang
saya terima setelah 100 juta perbulan akan saya gunakan untuk
sosial. Mungkinkah? Dan belum lagi dengan saran 10 persen dari
seluruh penghasilan saya untuk sosial juga? Kalau saja kita semua
bisa seperti itu, maka kemiskinan akan jauh-jauh berkurang. Inilah
nilai yang terutama, BERANIKAH ANDA MERASA CUKUP?

Karena semua adalah titipan yang akan kita tinggal setelah mati.
Jadi hal yang paling masuk akal supaya kita gak stress dengan harta
benda adalah…. jadilah pemelihara (steward) harta anda. Yang
artinya anda bisa meningkatkan nilai-nilainya sehingga bisa
mewujudkan nilai yang paling hakiki…..KESEJAHTERAAN SELURUH UMAT
MANUSIA DAN ALAM SEMESTA.

Jangan hanya jadi pengumpul duit!

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s