Hidup adalah Kesadaran

Manusia dari awal selalu bertanya, mengapa saya dilahirkan? Apa tujuan
saya hidup? Apakah saya? Siapakah saya? Siapa pencipta saya? Dan
siapakah pencipta?

Dari awal sekali seharusnya kita sudah menyadari bahwa kita tidak
minta untuk dilahirkan. Setidaknya kita bisa protes, kok saya bisa
sampai dilahirkan dan hidup di dunia seperti ini? Tak ada orang yang
sengaja melahirkan diri. Kelahiran kita adalah sepenuhnya keinginan
orang tua kita. Lalu kita juga tidak bisa memilih di keluarga mana
kita akan dilahirkan. Di negara mana kita akan dilahirkan. Bahkan kita
pun tidak memilih hidup di bumi ini. Kita MEMANG tidak punya pilihan
sedari awalnya untuk menentukan apakah kita mau dilahirkan atau tidak.
Begitu saja kita ada di dunia ini. PLOP! Dan selamat datang di
kehidupan manusia bumi tanpa kita bisa menolaknya. Akupun dulu
berpikir andai kelahiranku di dunia ini adalah pilihanku, tentu hidup
di dunia ini akan jauh lebih nrimo, karena toh aku telah memilihnya
untuk hidup di dunia seperti ini. Tapi kenyataannya tidaklah begitu.
Aku tidak bisa protes. Dan nrimo maupun ndak, aku tetap di sini. Hidup
di bumi bersama kalian, kita semua.

Kita seperti terperangkap, bertanya-tanya terus. Aku kadang-kadang
merasa takjub membayangkan bahwa hidupku belumlah begitu lama (baru 28
tahun). Pengalamanku di kehidupan ini tentulah sangat sebentar
dibandingkan dengan apa yang kualami sebelum aku lahir. Aku ingin bisa
membayangkan kehidupanku sebelum lahir. Aku ingin menerka-nerka. ME
NOT FROM HERE… batinku berkata keras. Selalu merasa takjub. Merasa
sangat enteng, seolah semua masalah duniawi terangkat ketika
menginsafi aku TIDAK HANYA berada di dunia ini.

Begitu juga ketika aku membayangkan detik-detik saat kematianku. Akan
begitu menggairahkan, menggelisahkan, penuh antisipasi petualangan
baru. Aku sering dan senang sekali berpura-pura bermain peran sebagai
orang yang tertembak peluru di dadanya. Tepat menembus jantung. Aku
akan memegang dadaku, menutup darah yang bocor keluar. Mungkin akan
terasa sakit sekali. Mungkin pula malah tidak sakit. Soalnya
kesadaranku pasti ketika itu beringsut memudar. Nafasku akan tersedak
di tenggerokan tersendat di rongga mulut. Membayangkan seperti apakah
kehilangan kontrol akan tubuh sendiri. Bau darah yang memercik
memenuhi rongga hidung. Aliran cairan isi perut yang tak bisa
dikontrol lagi keluar begitu saja dari mulut, hidung, telinga, mata
bahkan anus. Mungkin tidak semenderita ini. Tapi tetap saja peristiwa
ini akan sangat menarik dan pasti kutunggu-tunggu. Walaupun aku
kemungkinan besar tidak mati tertembak. Paling mungkin mati sakit.
Tapi kedramatikan adegan kematian itu selalu menarik hatiku. Selalu
bikin penasaran. Aku telah meloloskan kedramatikan adegan kelahiranku
karena aku kurang menyadarinya (aku hampir tidak ingat apa-apa ketika
masih orok dan baru dilahirkan), namun pasti saat-saat kematianku, aku
dapat menyadarinya dengan kesadaran penuh. Menikmati setiap momennya.
Hadiah yang paling bikin penasaran!

Saya tidak peduli apakah anda sudah mengira saya sinting mengidam-
idamkan kematian. Atau karena penasaran mengingat-ingat kembali
seperti apakah kehidupan sebelum lahir, saya tidak peduli. Ini adalah
hidup SAYA, dan saya berhak sepenuhnya menikmati momen-momen ajaib
seperti ini. Saya ingin membebaskan semua kungkungan yang telah
memenuhi memori otak saya dan hanya ingin merasa takjub lagi perasaan
“I’m not here!” Perasaan seperti ini seperti nyanyian yang memanggil
kenangan-kenangan manies, dimana bisa mengakui permainan drama dunia
ini adalah perkara sepele yang telah dibesar-besarkan oleh kita semua.
You’re so small, but your problem was so BIG? Non sense. Itulah yang
kurasakan. Hanya tertawa-tawa memandang bintang-bintang di langit
sambil berencana besok mau main game kehidupan apa lagi yaa….? Tentu
saja dengan hati senang. Walaupun mungkin esoknya aku udah lupa
sensasi menyenangkan tersebut dan sedang tercebur dalam kumbangan
stress dan kesedihan. Tak mengapa, karena tokh liburan perasaan itu
dapat datang kapan saja aku minta, dan aku akan mulai tersenyum-senyum
lagi sendirian. Tak ada musuh. Tak ada tekanan. Yang ada hanyalah
cengiran bibirku dan kadang beberapa air mata jatuh pengobat stressku
yang baik.

Penuh dengan konsep dan penuh dengan derita buatan, itulah kita. Pura-
pura-nya senang menderita ini, senang menderita itu, walaupun
terkadang bisa terlalu menghayati juga, namun dengan cepat pula senyum
menggantikan tawa yang penuh tangis. Gelisah tergantikan dengan gairah
untuk apa? Ya untuk mendapatkan penderitaan yang lebih tinggi lagi
seleranya. Yah, ini hanyalah masalah selera tokh? Kita berselera untuk
menderita. Kalau tidak, kita tak akan memelihara orang miskin di
perempatan lampu merah tokh? Dan tentu saja kita tidak akan memelihara
perang. Perang di Israel, maupun potensi perang dengan temen sendiri.

Potensi apa yang paling disenangi? Ya potensi penderitaan tokh? Kerja
keras untuk mencapai kebahagiaan yang ujung-ujungnya adalah berakit-
rakit mengecap sebanyak-banyaknya penderitaan kalau bisa, berenang-
renang di kehahagiaan yang telah dibangun dari pondasi kecapan
nikmatnya mengenang penderitaan-pendertiaan tersebut. Nikmatnya
menjadi pemenang sanggup melewati penderitaan-penderitaan tersebut.
Bahkan kita bikin kompetisi seperti ini. Yang sanggup menelan
penderitaan paling banyak, dialah yang menang. Baik itu menumpuk harta
maupun menumpuk luka batin. Ha, luka batin pun bisa menjadi
keselamatan yang kekal, asal luka batinnya HAMPIR kekal adanya. Hampir
lho mas, jgn kekal ya, soalnya dipercaya setan akan dikurung selama-
lamanya di neraka jahanam yang paling dalam.

Hahaha, aku hanya tertawa-tawa saja sekarang. Walaupun pernah aku
menangis semalaman. Tapi tangisan sedih nampak di hati senang. Senang
bisa menangis. SENANG BANGET bisa jadi laki-laki yang DAPAT menangis.
Melepas beban dengan menangis adalah kemewahan. Membuat tertawa
terkadang menjadi hambar kadarnya kalau dibandingken dengan menangis.
Tak bisa sering memang. Karena aku memakai topengku kembali.

Kesadaran sederhana yang hadir dimana-mana. Bukan model kesadaran
panik yang telah diciptakan oleh dunia modern ini. Kesadaran yang
dikejer-kejer oleh rasa bersalah, dikejer-kejer oleh rasa sakit yang
menyerang dari kesalahan masa lalu, penyesalan, ketidaksengajaan,
kemarahan, ketakutan, penyangkalan, kecemasan rencana ke depan,
taktik, strategi, siasat, membaca orang, ketegangan, membaca pikiran,
dan 1001 hal macam lain yang harus berebutan perhatian di kesadaran
yang tentu saja PANIK! Budaya modern pinter sekali membuat batin dan
pikiran tak bisa istirahat sejenakpun. Dibombardir oleh kegelisahan
dari televisipun dianggap sebagai hiburan. Kadang-kadang miris juga
melihat tayangan filem tv yang memperlihatkan adegan manusia
dipukulin, wanita dicambuk, manusia diledakin, ditusuk dengan pisau,
bedil, melihat penderitaan yang berlimpah-limpah. Kita anggap drama
hiburan. Kita secara harafiah senang sekaligus terlatih melihat orang
menderita. Dunia ini gak bakalan nyaman bagi orang yang tak minta
dilahirkan. Tak terkecuali alienpun akan mikir hidup yang maniak
penderitaan seperti ini. Penderitaan sudah menjadi komoditi hiburan.
Seperti aku tadi menikmati benar rasanya ditembak peluru di dada.
Terinspirasi dari nonton tv berulang-kali orang ditembaki dengan
peluru tajam maupun karet.

Hadir pak! Itulah yang paling menyenangkan mengenai kesadaran. Aku
hadir. Aku ada woooiiiii!!! Aku ini, aku ini, itu aku, aku di sana
tuh, aku tampil, aku tuh, woi woi denger gak. Hehehe aku khan? Banyak
menyebutnya sebagai ego. Namun aku lebih suka menyebutnya sebagai
KEHADIRAN. Inilah kenikmatan tertinggi dari mempunyai kesadaran. Bahwa
aku hadir, ada, diperhitungkan, dan bisa ikut memanipulasi sekitar.
Berinteraksi dengan sekitar. Dengan otoritas aku sendiri. Dengan
kemewahan keakuan yang tiada tara! Aku milikku. Tidak bisa menjadi
milik orang lain. Tubuhku ya tubuhku tidak bisa jadi milik orang lain.
Terus menjalar ke istriku, kompieku, rumahku, anakku, bendaku,
tuhanku, dsbnyaku. Kesadaran-kesadaran-kesadaran! Sadar-sadar-sadar.
Asik aku sadar-hadir-lalu punya… mobil, rumah, diriku, istriku,
dsbnyaku. Aku hadir dan aku diperhitungkan. Kesadaranku bermacam-
macam. Dan aku senang.

Termasuk penderitaanku. Aku hadir. Aku sadar diri atas menderitanya
aku. Aku sadar penyangkalanku. Aku sadar harus berobat. Dan aku sadar
aku masyarakat. Aku bangsa. Aku negara. Aku umat manusia.

Rasa hadir ini terasa dimana-mana. Rasa identitas. Sekali lagi aku
tertawa-tawa membayangkan kesadaran yang memencar ke segala penjuru.
Memperhatikan setiap detil momen. Inilah kehidupan yang NYATA.

Nyata-nyatanya kesadaranku udah begitu mekanis. Muter-muter terus
antara derita-derita-derita- terus ampe 100 kali lalu baru bahagia.
Lalu balik ke cemas n derita kembali. Hahaha, pencinta penderitaan.
Bukannya aku tidak puas lho dengan derita model menikmati seperti ini.
Namun terkadang hanya bosen saja. Sekali lagi rasa penasarankulah yang
membawaku lagi ke bintang-bintang di langit. Dimana mainan derita
seperti mainan anak kecil di mata supernova-supernova yang pasti
permainannya jauh diatas permainan anak kecil seperti seleraku ini.
Tetap saja betapapun besarnya usahaku untuk ke `atas’, aku ketarik
lagi ke `bawah’ ke permainanku yang dihadapkan ke mukaku lagi walaupun
aku sebenarnya hanya ingin melarikan diri darinya. Tak bisa secara
fisik. Secara mentalpun sulit untuk melarikan diri. Karena ya…
program yang tertanam ini. Bintang-bintang di langitpun masih program.
Dibuat untuk menghiburku, sebagai pelarianku SESAAT. Intinya tetep
sama. Aku hadir. Hanya saja dalam dunia manusia. Bukan dunia supernova
seperti yang telah kusebutkan tadi.

Terkadang kasihan juga aku melihat kehadiran-kehadiran. Kehadiran yang
terperangkap dalam pola tubuh masing-masing. Aku menyayangi anjingku
yang terperangkap dalam tubuhnya. Tumbuh-tumbuhan yang sangat
mengidam-idami sentuhan tangan ibuku yang terperangkap pula namun bisa
berseri-seri menampilkan bunga yang indah-indah. Bahkan kompieku
sayang yang gak betah dipegang oleh tangan adikku. Hahaha…kadang-
kadang ngambek juga nih kompieku terutama harddisknya yang sering
rewel. Tapi aku tahu kok gimana cara menghadapinya. Dengan penuh
perhatian dan kasih sayang yang tak posesif aku betulin aja letak
kabel bus harddisk tersebut, sebenarnya hanya bahasa lainnya kompie
untuk sekali-sekali minta dielus dan disayang. Dan aku memang jarang
keberatan karena memang dia telah setia menemaniku. Kesadaran yang
terperangkap dalam kompie yang aku bilang, telah menjadi temanku.
Sama-sama terperangkap memang. Belum lagi guling, bantal, mobil. Yah
mobil. Aku sering cuekin kamu. Tapi hebatnya kamu gak nuntut (misalnya
saja sering mogok). Aku harus isi oli nih hahaha.

Mungkin anda telah menganggap gila diriku yang menganggap benda
matipun punya kesadaran dengan demikian punya kehidupan pribadi pula.
Bagiku kesadaran hanyalah kehadiran, sama-sama hadir dan terkadang
bisa juga lho komunikasi dengan benda mati kalau anda mau. Apa bedanya
sih jiwa kompie dengan jiwa anda? Sama-sama tak dapat dibuktikan khan?
Hanya dapat dirasakan saja kesadaran anda. Begitu juga dengan logika
sederhana saja (baca tulisan saya dengan judul “Kita Adalah Satu
Tubuh” di milis psikologi transformatif), kita bakal tahu konsep
kesadaran kompie enggak beda dengan konsep kesadaran kita. Hehehe.
Kehidupan inipun adalah kesadaran. KEHADIRAN. Apapun yang hadir dalam
kesadaran kita (walaupun itu benda mati yang HADIR), pastilah punya
kesadaran pula karena pola mereka dapat hadir dan bertahan juga
berkelidan di kesadaran masing-masing pihak. Apakah anda pernah
terpikir mengapa batu tahan lama bentuknya dan dapat bertahan
sedemikian rupa? Karena sebab akibatkah? Karena hukum fisika kah?
Hehehe, itu mah cuma konsep kita aja untuk menenangi batin kita yang
stress gak tau apa-apa mengenai kesadaran diri sehingga cari jalan
keluar berupa iptek untuk menjelaskan yang dianggap tercipta DI LUAR
diri kita. Padahal secara intuitif kita semua tahu, gak ada yang di
luar diri kita sejauh kesadaran kita mencakup. Apalagi cuma sebuah
batu yang dapat dengan mudah kita lihat. Dia hadir, bertahan terus-
menerus di dalam kita. Dia hadir dengan kemampuan dapat dikenali
polanya oleh kita. Dia hadir dalam bentuk cuilan kesadaran kita
terhadap dirinya. Dia hadir membentuk sebagian kecil kesadaran kita.
Dia hadir sehingga tersadari. Dia hadir, bertahan, mempunyai daya
tersadari. Artinya dia hadir berkomunikasi dengan kita melalui
menciptakan kesadaran kita terhadap polanya. Ya batu itu sama
pentingnya dalam membentuk sebagian kesadaran kita. Batu itu
berkomunikasi dengan kita. Batu itu hadir. Kesadaran kita tidak lebih
baik dibandingkan dengan kesadaran batu yang menyadari dirinya. Diri
kita pun merupakan bagian dari perdefinisi dirinya. Ini juga kusadari
ketika aku sedang melihat temanku yang lagi asyik main bulu-tangkis.
Kesadarannya adalah termasuk terdiri dari diriku juga. Malah yang
disadari mengenai dirinya hampir-hampir merupakan kumpulan dari
kesadaran tentang segala sesuatu di luar dirinya yang membentuk
definisi untuk mengenali pelabelan dirinya. Diriku adalah termasuk
pelabelan dirinya. Dia melihat siapa dirinya melalui aku. Dia berisi
aku. Sama seperti aku berisi batu. Dan batu berisi aku. Sama-sama
menyadari. Sama-sama hadir dan menghadiri. Sama-sama saling
mendefinisikan diri. Dengan kata lain, tidak mungkin temanku yang
sedang bermain bulu-tangkis itu tidak memasukkan aku ke dalam
kesadarannya setelah mengetahui aku hadir dalam kesadarannya. Yang aku
lihat dan anggap sebagai citra dirinya kuinsafi sangat berbeda dengan
anggapan tentang citra dirinya sendiri, karena temanku pasti melihat
citra dirinya memakai kehadiranku, sedangkan pada anggapan aku, aku
ternyata telah luput atau lupa memakai faktor kehadiranku dalam
kesadarannya.

Saling menyadari. Program batu (untuk dapat bertahan dan dapat kita
labeli sebagiai batu) hanyalah program yang kita anggap lebih
sederhana dibandingkan dengan program kita sendiri. Kita membentuk
pola yang telah kita dapat sadari dan telah menganggap pola kita jauh
lebih rumit dari pada pola pertahanan sang batu. Dia tokh hanya
bertahan sebagai batu, sedangkan kita capek-capek bertahan sebagai
manusia! Wahahahahaha… siapakah diri kita selain hanyalah segepok
tak terhitung pecahan kesadaran akan kehadiran yang lain? Ada yang
bilang kita seperti puzzle, mozaik. Menurut aku kita lebih tepat
seperti senter! Diri kita selalu berubah definisnya sesuai dengan
perhatian yang kita tuju baik mental maupun fisik. Dan juga sesuai
dengan konsep pemikiran maupun realita yang kita anggap kenyataan diri
kita. Tergantung cahaya senter menyorot kemana, disitulah cahaya
perhatian kita. Dan perhatian kita ternyata jarang sebagai perhatian
penuh! Perhatian kita pun terpecah-pecah. Analog dengan senter yang
terus bergerak-gerak yang hasil bersihnya pola kita adalah sangat
dinamis. Terus berubah. Perubahan pola membuat kita sulit
berkomunikasi dengan pola-pola kesadaran kita sendiri. Dan itu mewujud
dalam kehidupan dunia kita dalam bentuk kebodohan komunikasi, alias
tidak bisa baca tanda alam, zaman, bumi, budaya, dsb. Terputus dengan
dunia, dengan alam. Perhatian yang terpecah membuat kesadaran menjadi
terpecah dan melemah. Pola-pola mental ikut melemah yang akhirnya pula
mempengaruhi tubuh menjadi penyakit, kematian maupun pelepasan
sederhana (tertidur atau diangkat ke surga oleh tuhan misalnya). Belom
lagi program-program yang mempertahankan pola-pola itu. Ada program
dalam kuasa kita (yang masih bersifat program dalam dualitas) ada juga
program yang tak dapat kita sadari (program di luar dualitas, atau
program `asal-mula segala sesuatu’).

Mengingat telah menjadi rumitnya pecahan kesadaran kita, saya usul
masing-masing dari kita mulai menyatukan pecahan ini. Untuk apa? Ya…
untuk dipecahkan lagi…hehehe! Embuh ah! Yang pasti sih kita sekarang
sudah menjadi kehadiran yang terpisah-pisah dan terpecah-pecah. Dan
gak dijamin pas kita mati nanti kita bisa mengalami kesadaran yang
menyatu. Lebih besar kemungkinannya kesadaran kita lebih terpecah
lagi, karena penyatuan oleh tubuh sudah tidak ada. Hal ini boleh jadi
karena memang penyatuan kesadaran selama waktu hidup tidak pernah
diusahakan. Yah kehidupan memang gelombang. Ketika kita terpisah, kita
ingin menyatu. Dan ketika kita menyatu, kita ingin terpisah. Bolak-
balik seperti itu hanya untuk memenuhi nafsu kehadiran di setiap
tingkatan hirarki momen-litas. Ingin hadir di setiap tingkat momen.
Jikalau sampaipun timbul konsep tentang Tuhan, itupun hanya karena
keinginan kita untuk hadir sampai `tingkat tertinggi’ artinya ingin
menyatu total bukan? Atau juga ingin terpecah total? Ke tingkat suatu
ekstrim untuk menuju ekstrim lain yang berlawanan! Itulah konsep
ketuhanan kita.

Jadi aku senang-senang aja hadir `dimana-mana’ sambil seringkali masih
bisa sedih yak melihat saling hadir dengan bom! Saling berusaha
melenyapkan eksistensi atau melenyapkan kehadiran. Aku tidak mau lihat
kamu hadir dalam kesadaranku. Itu menyakitkan! Maka kamu aku bom biar
kamu tidak hadir dalam kesadaranku lagi! Ya… padahal dengan
mengurangi kehadiran orang lain sama-saja mengurangi kesadaran tentang
diri kita sendiri. Kita semakin tidak mengenal diri kita kalau kerjaan
kita hanya berusaha melenyapkan kehadiran-kehadiran yang lain, alias
melenyapkan susunan kesadaran kita sendiri! Wah-wah perdefinisi pola
anda akan menjadi kacau, anda akan menjadi terpecah lebih banyak lagi.
Sebabnya kehadiran sesungguhnya tak bisa dilenyapkan, karena ketika
kehadiran mencoba dilenyapkan, kehadiran hanyalah berubah menjadi
pecahan-pecahan yang lebih kecil. Mirip seperti ketika kita membunuh
kehadiran manusia, manusia mati melahirkan 1000 belatung! Artinya
terciptalah pecahan setidaknya 1000 pecahan kehadiran yang akan
membuat semakin rumit susunan kesadaran anda karena bertambah 1000
pecahan perhatian yang saling berkelidan dalam diri anda. Ini seperti
penjelasan secara fisik yang kelihatan tak berarti, namun
TERJEMAHANNYA dalam mentalitas adalah sangat berefek soalnya ketika
anda membunuh 1 orang, akan ada 1000 kehadiran rasa bersalah dari
nurani anda yang akan berkonflik dalam kesadaran anda, 1000 rasa
bersalah adalah manisfestasi langsung di kesadaran anda yang secara
fisik terasa di tubuh anda dan terciptakan dalam bentuk belatung
(kemungkinan) di dunia fisik. Alias kalau dipikir-pikir mengapa kita
jijik dengan belatung yang keluar dari mayat manusia? Karena kita juga
jijik dengan rasa takut dan bersalah dari peristiwa pemayatan ini dan
termanisfestasi langsung dalam ciptaan energi fisik dari kita berupa
belatung (binatang yang mewakili kejijikan).

Sekarang pertanyaannya hanya ada dua. Ingin menyatu atau ingin
terpecah? Dua pilihan itu adalah valid, yang satu tidak lebih baik
daripada yang lain. Semua tergantung tujuan kita sekarang ini. Yang
LUTJUNJA….. hihihihihihi… kebudayaan modern kita berkoar-koar
ingin damai, tenteram, sejahtera, adil, kesatuan (yang artinya semua
ini inginnya menyatu dalam kesadaran kesatuan diri dan keadilan), tapi
tetap melakukan kekuasaan, pengkotak-kotakan, penumpukan, pemisahan,
perang, konflik, permusuhan, kekerasan, (yang kesemuanya itu menuju
pada pemecahan kesadaran). Jika kita mengambil konsep bahwa kita
adalah individu yang terpisah, maka pemisahan menjadi keniscayaan.
Jika kita mengambil konsep bahwa kita adalah satu tubuh, maka
penyatuan menjadi keniscayaan. Jangan salah, dua-duanya bisa
menimbulkan konflik dan penderitaan. Hanya saja kalau budaya modern
terlihat dalam konsep pemisahannya terdapat banyak nilai yang dianggap
negatifnya sedangkan dalam konsep penyatuan banyak terlihat nilai yang
dianggap positif itu berarti hanyalah tujuan evolusi bentukan manusia
saat ini memang kita setel untuk menyatu (mungkin, harus dibuktikan
oleh waktu nantinya). Jika kita menyetelnya untuk memecah, maka
perdamaianpun bisa difungsikan untuk memecah kesadaran kita (yang
sudah pernah kita lakukan di jaman dulu kala, memecah dan menyebar
untuk mengisi seluruh muka bumi dan menikmati setiap potensi momen
yang mungkin). Jadi terlihat disini yang terpenting adalah apakah ada
konflik atau tidak dalam pencapaian tujuannya? Semua ini tergantung
pada tujuan kita sesungguhnya. Apa tujuan kita? Kalau aku sih enaknya
damai aja kali ya? Menyatu atau memecah peduli amat? Itu hanya alat
penikmat momen.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s