Hidup tanpa menderita, bisakah?

Kita semua tahu apa itu penderitaan. Apapun yang sedang kita lakukan, kita PASTI selalu merasa menderita. Yang berbeda hanyalah intensitas penderitaannya. Ketika kita sedang senang, kitapun sedang merasakan penderitaan walaupun intensitasnya kecil (penderitaan berupa rasa khawatir bahwa kesenangan ini akan lewat begitu cepat). Kita semua telah begitu terbiasa menderita sehingga segala tindakan dan perilaku kita didasarkan pada rasa aman. Padahal kalau mau diteliti rasa aman adalah rasa derita yang dibiasakan.

Saya merasa aman, itu berarti saya SEDANG SELALU merasa khawatir dan takut menjadi menderita (yang merupakan penderitaan tersendiri) sehingga menghindarinya melalui rasa aman. Apakah kita bisa hidup tanpa merasa menderita? Benarkah penderitaan harus ada baru kita bisa menikmati apa itu kebahagiaan (dualitas kehidupan)? Memang dalam hidup ini kita BISA merasa menderita atau bahagia. Namun tidak HARUS kita BISA merasa menderita. Selalu kita dengar ungkapan, berusahalah untuk bahagia. Lalu mengapa tidak ada ungkapan, berusahalah untuk menderita? Mengapa untuk menderita selalu begitu mudah? Sedangkan untuk merasa bahagia selalu begitu sulit? Apakah hidup kita terutama PERASAAN kita sudah disetel sedemikian rupa untuk mengalami ayunan penderitaan-kebahagiaan (terutama lebih sering disetel untuk merasakan penderitaan)?

–>Ketika kita berusaha untuk menghindari penderitaan, kita menjadi menderita dalam usaha kita.

–>Ketika kita berusaha meraih kebahagiaan, dalam perjalanannya kita menjadi sering menderita, dan setelah sampaipun kebahagiaan tidaklah lama dan penderitaan kembali menyambut dalam rasa khawatir.

–>Bahkan ketika kita sedang menderitapun, kita menemukan kesenangan dalam hal penderitaan (mendapatkan simpati, pembuangan emosi, dsb), sehingga penderitaan kita menjadi langgeng dan menjadi zona kenyamanan kita.

Kita berputar-putar dalam lingkaran penderitaan-kebahagiaan sampai suatu saat kadang-kadang kita dapat menyadari, INILAH HIDUP DAN KEHIDUPAN dan tersenyum kepada lingkaran tersebut. Namun sedetik kemudian kita terayun dan terayun lagi dalam lingkaran yang tak berkesudahan itu.

Ketikapun kita menyadari INILAH HIDUP DAN KEHIDUPAN, apakah ini merupakan pertanyaan mustahil?

–>”Bisakah kita hidup tanpa penderitaan?”

Ketika kita menyadari lingkaran yang tak berkesudahan tersebut, dapatkah kita menanyakan hal tersebut? Bisakah?

–>”Dapatkah hidup tanpa penderitaan?”

Lalu kita berpikir, bila hidup tanpa derita maka tidak ada kebahagiaan karena hal ini adalah dualitas kehidupan. Benarkah demikian? Ataukah derita-bahagia terkait dengan konsep yin dan yang? Benarkah? Alamikah kita bisa merasa menderita?

Semua di atas adalah pertanyaan yang sangat jarang kita tanyakan ke diri kita sendiri. Mengapa? Karena kita sudah terbiasa dengan penderitaan! DAN kita sudah terbiasa dengan kebahagiaan juga! Kata kuncinya adalah TERBIASA. Pikiran kita telah menjadi mekanis sempurna. Telah menjadi robot-robot yang telah menyerang tubuh kita sendiri
(kanker, stroke, serangan jantung yang sedikit banyak akibat dari stress!!!). Mengapa kita telah menjadi terbiasa?

Saya rasa semua orang sedikit banyak telah berbohong terhadap dirinya sendiri ketika kita semua mengatakan, “kita mencari perdamaian!”, “hentikan perang ini!”, atau, “Mari kita bantu sesama manusia dari kekejaman dunia!”, dsb..dsb. Itu adalah BOHONG! TIPU DAYA KITA SEMUA! Mengapa? Karena kita JARANG SEKALI berpikir, “apakah hidup bisa tanpa penderitaan?” Bagaimana bisa kita ingin melakukan suatu hal untuk mengurangi atau menghilangkan penderitaan kita semua bila JARANG SEKALI KITA MELUANGKAN WAKTU UNTUK HANYA MEMIKIRKANNYA SAJA! Saya tantang anda semua! Pernahkan barang sejam saja kita memikirkan hal ini???

“Terbiasa dengan penderitaan!”, itulah kita. Kita jarang sekali melihat lagi ke ‘dalam’. Ke ‘jeroan-jeroan’ hati dan pikiran kita. Kita selalu ingin hasil yang cepat dengan melakukan tambal-sulam. Tanpa menyadari sumber penderitaan kita yang utama. Ini seperti membersihkan bak air dari lumpur dengan menyerok lumpur itu keluar
namun tidak menyadari keran air yang sedang mengucur mengalirkan lumpur lagi ke dalam bak. Kenapa kita menjadi demikian terbiasa dengan penderitaan? Apakah karena kemalasan kita? Apakah ketika kita rajin
melihat kembali ‘apa itu penderitaan’ maka seketika penderitaan bisa hilang? Tidak juga bukan? Sayang sekali. ‘Keran air berlumpurnya’ bukan dalam tindakan, bukan juga dalam merubah sifat atau perilaku. Yang harus dicurigai sebagai tersangka sumber penderitaan adalah…’diri’.

Begitu licinnya sang tersangka disebabkan oleh karena yang menjadi tersangka adalah hakimnya sendiri. Bayangkan ini, sang hakim capek membuat ratusan undang-undang, sang hakim capek menjalani berpuluh-puluh pengadilan, sang hakim capek membuat perintah-perintah kepada beratus-ratus aparatur negara untuk menangkap tersangka ini yang ternyata adalah dirinya sendiri. Seperti itulah yang kita jalani sekarang dalam mencoba memperbaiki dunia ini. Kita semua mengharapkan segala yang kita perbaiki menuju kepada perdamaian, namun tanpa kita sadari dan harapkan malah menuju konflik dan peperangan. Mengapa? Karena dalam tujuan kita ke perdamaian, kita malah berkonflik dengan diri sendiri. Mengapa berkonflik? Karena ternyata yang mau didamaikan BUKANLAH orang lain atau dunia luar, NAMUN YANG MAU DIDAMAIKAN TERNYATA DIRI KITA SENDIRI! DAN DIRI KITA MENOLAK UNTUK DAMAI SEHINGGA KITA MENJADI BERKONFLIK DENGAN DIRI SENDIRI! Tentu hal ini kita jalani TANPA SADAR. Kita tidak sadar, ‘diri’ kita ‘tidak ‘mau berdamai’ sama sekali. Mengapa?

Ternyata setiap usaha kita menuju kedamaian, atau usaha apapun yang menuju kebahagiaan prosesnya selalu melalui konflik. Sadarkah kita akan hal ini? Ketika kita berkonflik dengan seseorang kemudian kita berhasil saling memaafkan, benarkah perdamaian telah terwujud? Ataukah ini hanyalah tali kekang lingkaran derita-bahagia yang tak akan habisnya? Mari kita lihat apa itu ‘diri’ dan mengapa ‘diri’ selalu terikat dengan lingkaran derita-bahagia.

Pertama-tama kita harus menyadari dahulu adanya lingkaran derita dan bahagia. Ketika kita menganggukkan kepala kita dengan bijak menghadapi drama kehidupan yang terus berulang-ulang, barulah kita bisa mulai melihat apa itu esensi dari ayunan derita-bahagia ini. Lalu kita jangan berhenti disini! Kebanyakan dari kita berhenti disini karena KITA TELAH MEMPERCAYAI ILUSI DERITA-BAHAGIA INI. Apakah anda sungguh-sungguh percaya penderitaan adalah ilusi? Atau anda hanya percaya secara intelektual saja namun tidak percaya melalui hati? Nah, anda bisa lihat, apakah disini saya menawarkan suatu ‘kepercayaan’? Kita tidak harus percaya penderitaan adalah ilusi. Kita hanya bisa menyadari bahwa PENDERITAAN ADALAH SUATU ILUSI, BEGITU PULA KEBAHAGIAAN. Percaya dan kesadaran adalah 2 hal yang berbeda. Misalnya anda percaya disana ada buah apel. Hanya ketika anda melihat dengan mata kepala sendiri, maka anda menyadari adanya buah apel. Itulah
perbedaannya. Nah begitu pula dengan kita semua. Kita disebut telah mempercayai ilusi yaitu percaya adanya penderitaan. Padahal anda belum pernah melihat dengan mata kepala sediri apa itu esensi dari penderitaan? Nah, pelan-pelan kita akan menyadari bahwa penderitaan itu hanyalah KONSEP. Begitu pula dengan kebahagiaan. Disini kita melihat dengan MATA KEPALA SENDIRI bahwa penderitaan adalah suatu konsep bukan? Jadi ini bukanlah suatu kepercayaan belaka. Sedangkan kita telah tertipu dan mempercayai penderitaan adalah suatu fakta (kalau tidak, mengapa kita semua sakit hati ketika menderita? Apakah ‘konsep’ bisa membuat sakit hati? Tentu kita telah tertipu dengan mempercayai penderitaan sebagai fakta).

Dan konsep berarti sesuatu, sebuah atau kumpulan definisi yang dibikin oleh pikiran. Terbukti dari berbeda-bedanya derajat sakit setiap orang ketika menghadapi penderitaan pada peristiwa yang sama persis. Nah telah kita katakan, sumber segala penderitaan adalah ‘diri’. Dan SAYANGNYA sumber segala kebahagiaan adalah ‘diri’ juga, sehingga kita tidak bisa membuang begitu saja ‘diri’ karena dengan begitu kebahagiaanpun ikut terbuang.

Intinya adalah keterpisahan. Anda mempunyai ‘diri’ yang merupakan suatu konsep pula. Anda tidak percaya? Mari kita tanyakan dengan sungguh-sungguh apakah itu diri? Dimanakah letak ‘diri’ kita? Di hati kah? Di kepala? Di otak? Di seluruh sel tubuh? Di dalam tubuh? Di pucuk batok kepala? Di anus? Di aura kita? Dimana? Dimana? DIMANA??? Ada yang berhasil menemukan?

Dengan mata kepala kita sendiri kita tidak berhasil menemukan ‘diri’. Ini adalah suatu fakta. Dan disini kita dapat menyadari (bukan mempercayai) ‘diri’ ternyata tidak ada. Mungkinkah ‘diri’ adalah benda gaib? Suatu jiwa, roh yang bukan terbuat dari materi? Pernahkah kita melihat benda gaib? Pernahkah kita melihat jiwa, roh, bahkan tuhan?
Dengan mata kepala anda sendiri? Dengan mudah? Dengan alami tanpa usaha seperti anda melihat pohon? Nah di dalam kesadaran biasa kita, kita menyadari ‘diri’ adalah… tidak ada! Entah jika orang lain telah bisa melihat jiwa-jiwa, roh-roh, tapi disini saya menyadari melalui kehidupan yang saya rasakan melalui panca indra. Sedangkan untuk bisa melihat hal-hal supranatural butuh rasa percaya dulu dari saya. Ketiadaan diri inilah (yang tidak dapat ditangkap oleh panca indra) yang dapat kita sadari terlebih dahulu. Dan ini adalah FAKTA (yang definisinya adalah sesuatu yang dapat ditangkap oleh panca indra).

Jika diri ‘tiada’ maka apakah kita ini? Saya akan langsung menuju aspek praktis saja yang berkaitan dengan penderitaan, soalnya topik tentang identitas diri tak akan ada habis-habisnya untuk dapat dibahas. Diri ‘tiada’, maka siapakah yang menderita? Dapatkah kita semua menyadari fakta ini? Kemudian, siapakah yang merasa bahagia?
Jika diri ‘tiada’ maka apakah kita masih dapat merasakan derita dan bahagia? Kita tentu semua akan kecapekan mencoba untuk meniadakan diri (padahal diri memang tidak ada, benar-benar suatu paradoks!). Meniadakan diri sebenarnya bisa dicapai melalui perhatian penuh. Tapi ini hanyalah teori yang prakteknya sulit dilakukan kecuali sudah banyak latihan dan melalui penyadaran-penyadaran. Namun bagi kita cukuplah dengan mengetahui CARA KERJA PIKIRAN KITA. Inilah HAL YANG PALING PENTING UNTUK DIPELAJARI. ‘DIRI’ DICIPTAKAN OLEH PIKIRAN. Kalau kita sadari benar, kita akan mengetahui ‘diri’ hanyalah kumpulan-kumpulan memori otak. Tidak ada yang baru dalam ‘diri’, semuanya adalah masa lalu. Anda bisa menyadarinya? Bayangkan ‘diri’ sebagai tumpukan memori. Memori adalah segala sesuatu yang disimpan. Dan sesuatu yang bisa disimpan hanyalah masa lalu belaka. Kita tidak mungkin menyimpan masa depan bukan? Bila kita memikirkan masa depan, berarti kita bukan menyimpan, melainkan memproyeksi masa depan yang berdasarkan DATA-DATA MASA LALU. Inilah kerja memori sesungguhnya. Bila anda ingin meramalkan kinerja suatu investasi, maka ramalan anda akan semakin akurat bila anda dapat mempelajari data-data dari kinerja masa lalunya. Seperti itulah yang dilakukan oleh pikiran mengenai masa depan dan juga masa lalu.

Sifat sejati memori adalah keteraturan dan menghasilkan hasil yang mekanis (logis). Sedangkan sifat sejati kehidupan adalah PERUBAHAN (ini adalah fakta, tidak peduli kita setuju atau tidak). Nah, di titik inilah kita menjadi budaknya memori pikiran. Bukan menjadi majikannya pikiran. Mengapa? Karena kita TIDAK MENYADARI CARA KERJA PIKIRAN KITA. Karena kita tidak menyadari, maka kita terperangkap dalam peran-peran ‘diri’ yang diciptakan oleh pikiran kita. Peran-peran ‘diri’ ini tidak lain hanyalah memori-memori belaka yang tanpa tuan atau majikan. Misalnya, kita mengira diri kita ada, berarti kita mulai mengidentifikasi diri kita menurut cara main memori pikiran kita dan bila tidak disadari maka kita akan berilusi kita adalah diri kita. Kita adalah manusia. Kita adalah warga Indonesia. Kita adalah lulusan Trisakti. Kita adalah yang beragama Katolik. Kita adalah yang beragama Islam. Kita ‘mempunyai’ diri sehingga ‘diri’ kita bisa, ‘tersinggung’, ‘marah’, ‘bahagia’, ‘sedih’, dll. Atribut-atribut itu adalah pengalaman-pengalaman kita selama hidup di masa yang sudah lewat dan dikompres dalam memori disajikan sebagai ‘diri’ kita dengan berbagai peran. ‘Diri’ bisa merasa bahagia atau sedih berdasarkan penilaian pikiran melalui memori akan masa lalu kita. Dan arti ‘penilaian’ itu sendiri adalah sebuah konsep yang didapat dari yang kita pelajari di sekolah. Yang artinya dari masa lalu juga. Jadi secara kasarnya begini, memori masa lalu menilai keadaan ‘diri (yang dihasilkan oleh memori masa lalu juga)’ kemudian memberikan label (misalnya sedih), yang pengertian labelnya berasal dari memori masa lalu pula. Yang hebatnya lalu kita menyakiti tubuh kita melalui perintah label tersebut (kita sedih, maka kita sakit hati, stress dan lama-lama sakit fisik). Kelihatan rumit? Simpelnya begini. Awasi saja pikiran kita. Ketika kita merasa sakit (baik hati maupun fisik). BERHENTI DAN BERTANYALAH! Mengapa saya menyakiti diri sendiri? Sadari semua berasal dari pikiran.

Telah saya katakan, semua berasal dari keterpisahan. Ketika kita memisahkan entitas kita dengan entitas kehidupan, maka akan ada konflik. Ketika ‘diri’ kita meng-‘ada’. Maka pikiran kita akan terpecah menjadi 2 hal. Diri Kita Dan Dunia Luar Kita. Dua hal yang terpisah pasti bisa terbentur satu dengan yang lain. Itu pasti dan merupakan hukum alam. Mengapa terjadi benturan? Itu karena perbedaan hakiki kedua sifat pisahan tersebut.

–> Sifat memori (diri) adalah keteraturan, masa lalu, ketetapan-ketetapan, diam, sesuatu yang tidak berubah karena itu disebut masa lampau (masa depanpun proyeksi masa lampau), karena itu disebut memori.

–> Sifat kehidupan adalah selalu berubah, tidak tetap, mengalir, bergelombang, tidak mati, tidak diam, bukan masa lalu dan BUKAN masa depan, tidak dapat digenggam, maka itu disebut kehidupan.

–> ‘Diri’ adalah hasil dari pikiran (memori) yang sifatnya samaseperti memori.

Sehingga ketika kita mengira mempunyai ‘diri’ maka kita pasti berkonflik dengan kehidupan. Kita ingin segala sesuatunya dapat diprediksi, teratur, terstruktur, terpola dan terkait dengan zona kenyamanan kita. Sedangkan kehidupan selalu berubah, sulit diprediksi, tidak abadi, selalu terlepas dan selalu menantang kita dengan perubahan. Lihatlah salah satu contoh sederhana ini :

–> Saya sedang mengetik artikel ini. Lalu saya khawatir pulang terlalu malam, mama menunggu di rumah (diri sebagai anak), saya khawatir prospek besok saya bisa datang atau enggak (diri sebagai profesional), saya khawatir lagi mengenai keadaan keuangan saya yang cukup boros, terutama untuk bayar warnet ini (diri sebagai yang berpenghasilan), saya khawatir….bla..bla..bla..bla.

Bila anda bisa, selalulah dalam keadaan perhatian penuh (jangan diusahakan dan secara alami). Jika tidak dapat, perhatikan sajalah dan berjanji dalam diri jangan mau dibuat menderita oleh memori! Awasi seperti anda mengawasi monyet liar. Jangan terlalu ditekan dan jangan terlalu dilepas. Sadari saja. Jangan lenyapkan pikiran, namun ajaklah dengan pelan-pelan sebagai partner anda. Ajaklah pikiran untuk bekerja sama dengan anda. Hmm..memang mudah saya bicara seperti ini. Dan memang benar, yang bisa menjalankan hal ini adalah kita sendiri. Apakah kita benar-benar ingin bebas dari penderitaan? Nah berita baiknya anda telah bebas! Ini adalah fakta. Dan fakta pula anda sedang terikat ilusi penderitaan. Apakah kita mulai bermain-main dengan kata-kata dan pikiran-pikiran? Yah cukuplah ini. Sadari saja cara kerja pikiran kita. Jangan percaya apapun. SADARI SAJA!

Nb:
Menyadari bukan berarti berusaha sadar, bukan berarti berkomitmen untuk sadar. Menghilangkan penderitaan bukan berarti berusaha tidak menderita, bukan berarti berkomitmen untuk tidak menderita. Itu adalah jebakan-jebakan pikiran lainnya berasal dari memori kita. Perhatikan sajalah. Perhatian Penuh tanpa memori. Tanpa memori, bukan berarti tanpa pikiran, bukan berarti berusaha melenyapkan pikiran, bukan berarti mendamaikan pikiran.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s