Kebenaran hanyalah konsep. Sia-sia bagi yang mencarinya

Anda hadir. Anda lahir. Anda berada di dunia ini. Lalu anda bertekad
untuk menemukan kebenaran dari kehidupan ini. Bertekad menemukan
kesejatian dalam hal kehidupan ini. Anda ingin menemukan kebenaran
tentang siapakah diri anda sebenarnya? Anda ingin menemukan kebenaran
tentang siapakah pencipta manusia dan seluruh dunia ini? Anda ingin
menemukan kebenaran tentang tingkah laku hidup yang benar. Ingin
membawa kebenaran sejati itu selalu terwujud di tengah-tengah
kehidupan ini. Selalu ingin merefleksikan diri sebagai kebenaran yang
mewujud. Anda ingin selalu benar, sehingga anda sanggup rela mengakui
bahwa anda telah salah.

Lalu anda mulai melihat sekeliling anda. Anda mulai mengklasifikasikan
keadaan sekitar. Anda mulai menilai tingkatan-tingkatan kebenaran dan
kesalahan di sekeliling anda. Anda mengatakan, `itu benar!’, anda
mengatakan juga `itu salah’. Anda mulai merasakan nikmatnya mencari
kebenaran dari segala sesuatu. Anda bahkan mulai merasakan nikmatnya
melakukan kebenaran dalam suatu hal yang telah anda yakini
kebenarannya. Anda akan merasa bersalah kalau telah mengetahui
perilaku yang benar namun tetap melakukan hal yang salah baik karena
kesengajaan, kekhilafan maupun ketidaksanggupan. Anda bahkan mulai
takut akan dinilai orang sebagai yang melakukan kesalahan. Nilai-nilai
internal anda mengenai kebenaran dan kesalahan mulai mengatur emosi
anda. Itu disebabkan karena anda memang BERSUNGGUH-SUNGGUH DAN SEPENUH
HATI dalam mencari kebenaran maupun dalam melaksanakan kebenaran yang
anda temukan. Karena kesungguhan hati yang seperti itu jugalah anda
juga sungguh-sungguh akan menyesal kalau masih membuat kesalahan.
Kemudian juga anda mulai mengaitkan nilai kebenaran dengan nilai
kebaikan. Apa yang anda anggap benar hampir sebagian besar kalaupun
tidak seluruhnya, akan anda anggap baik pula. Dan apa yang anda anggap
salah, sebagian besarpun akan anda anggap sebagai kekurang-baikan atau
malah keburukan. Sehingga ketika anda berbuat salah, anda akan merasa
buruk. Sistem nurani anda kemudian akan membuat diri anda tidak nyaman
dengan label buruk akibat kesalahan anda sendiri. Dan nurani anda akan
terus menyalahkan anda, bahkan boleh jadi akan menghukum anda yang
anda fungsikan sebagai pembayar proses pemurnian citra keburukan anda
akibat kesalahan. Sehingga anda bisa merasa baikkan lagi dan kesalahan
anda sudah anda berusaha perbaiki (lihatlah kata ini, `per-“baik”-i’
bukan `”benar”-kan’) menuju hal yang benar dan baik bagi anda.

Sistem nilai model seperti ini akan membuat anda menjadi sakit hati
kalau dijahati oleh orang lain akibat tingkah-laku mereka yang anda
anggap salah dan `jahat’ atau `buruk’. Mengapa anda bisa sakit hati?
Pertama, karena anda telah mempunyai definisi baik dan buruk di dalam
sistem internal nilai anda yang anda kaitkan pula dengan nilai
kebenaran dan kejahatan (perhatikan di sini seringkali yang dipakai
bukan kata kesalahan, melainkan kejahatan). Anda telah memilah potensi
reaksi anda dan membuatnya bersifat mekanis otomatis melalui sistem
nilai baik dan buruk. Bila anda merasa berbuat kesalahan, biasanya
anda akan merasa buruk. Kemudian bila anda merasa dilanggar oleh orang
lain yang anda anggap berbuat kesalahan atau kejahatan, anda juga
merasa buruk. Anda telah mengeset dan memberi batasan-batasan moral
baik pada reaksi internal anda sendiri maupun pada reaksi eksternal
dari hubungan sosial anda dengan orang-orang lain. Pokoknya anda telah
menset, anda harus merasa buruk, bila dizolimi orang (dijahati orang)
maupun dizolimi oleh diri-sendiri (berbuat kesalahan sendiri). Mengapa
anda telah menset sedemikian kakunya perasaan dan reaksi anda sendiri?
Karena apa? IYA! KARENA ANDA TELAH MENEMUKAN SEBAGIAN HAL YANG TELAH
ANDA ANGGAP BENAR DAN PERLU MEMPROTEKSI KEBENARAN-KEBENARAN TERSEBUT!
Anda berpikir, kebenaran harus dilindungi karena membawa kebaikan bagi
seluruh manusia. Sehingga jika anda sampai berbuat salah, anda harus
merasa menyesal dan merasa buruk, karena kalau tidak, maka anda tidak
dapat menyadari bahwa anda telah salah dan dengan demikian anda tidak
menyadari kebenaran yang seharusnya anda lakukan tersebut.

Kedua (mengapa anda sakit hati), karena anda telah merasakan sakitnya
berbuat kesalahan atau kejahatan (padahal timbul dari nilai internal
anda sendiri), anda harus merasa orang yang telah menjahati anda harus
merasakan atau diberi pelajaran mana hal yang baik dan mana hal yang
buruk (atau mana yang benar dan mana yang salah). Dan supaya
penyadaran tentang benar-salah itu dapat efektif, maka anda akan
memaksakan supaya orang itu dapat merasakan apa yang anda rasakan
ketika berbuat kesalahan (yaitu rasa bersalah dan perasaan
buruk/sakit) sehingga diharapkan orang tersebut dikemudian hari
menjadi kapok berbuat kesalahan atau keburukan dan mulai mencari dan
melaksanakan kebenaran atau kebaikan.

Inilah mengapa orang yang berbuat kejahatan atau kesalahan harus
dihukum dengan hukuman yang setimpal dengan kejahatannya. Setimpal
sehingga cukup membuat diri orang tersebut menjadi sadar akan
kejahatannya namun tidak berlebihan dalam penghukumannya sehingga
menjadi tidak adil. Kemudian anda melihat di sekeliling anda masih
banyak ketidakadilan di dunia ini. Yang berbuat jahat dibiarkan saja.
Orang baik dan benar diperlakukan tidak adil. Standar moral diabaikan
begitu saja. Semua ini membuat hati anda menjadi MIRIS. Anda merasa
miris karena nilai-nilai kebenaran banyak yang tidak dihormati
sehingga menambah dorongan anda untuk menyuarakan kebenaran karena
anda tidak nyaman hidup dalam lingkungan yang tidak kondusif bagi
kebenaran dan kebaikan. Iya! Anda tidak nyaman hidup dalam lingkungan
yang telah anda anggap tidak kondusif bagi kebenaran dan kebaikan.
Anda merasa terganggu, Karena anda peduli dengan lingkungan sekitar
anda. Kepedulian andalah yang membuat apa yang dilakukan oleh
orang-orang yang anda pedulikan, anda anggap sebagai pelanggaran yang
mengenai rasa peduli dan rasa kebenaran anda. Karena kepedulian anda,
anda dapat merasa sakit, sedih, miris terhadap segala keburukan dan
kejahatan yang terjadi di lingkungan kepedulian anda. Anda tahu betapa
tidak enaknya (sakitnya) berbuat kejahatan atau kesalahan maka anda
ikut berempati dan ikut prihatin merasakan ketidaksadaran orang-orang
yang anda pedulikan tersebut (prihatin akan rasa sakit yang akan
mereka dapatkan dari berbuat kejahatan) dan khawatir dengan
kesejahteraan kejiwaan dan spiritual mereka (atau keagamaan mereka).

Hal ini membuat anda hanya mempunyai 3 pilihan. Pilihan pertama adalah
bersikap apatis kemudian sampai cuek dengan keadaan sekitar. Awalnya
mungkin ikut merasa prihatin dan miris, tapi anda tidak peduli lagi
karena ke-apatisan anda. Anda sudah menyerah, dan hanya memproteksi
lingkup yang tersisa yang bisa diselamatkan oleh anda sekaligus
menyelamatkan diri sendiri dari pengaruh buruk mereka (atau kejahatan,
kesalahan mereka). Pilihan kedua adalah bersikap ikut arus. Pilihan
ini adalah pengembangan dari pilihan pertama. Pada akhirnya anda
menilai bersikap apatis tidaklah begitu menguntungkan anda karena
mungkin anda menjadi terkucil, atau anda menyadari kebenaran yang anda
pegang ternyata bukanlah kebenaran sejati dan bersedia mengakui
kesalahan pandangan anda sendiri (yang telah menuduh orang lain
`jahat’). Pilihan ketiga adalah melawan arus (atau melawan, titik).
Anda lawan kejahatan dan kesalahan disekitar anda. Anda perluas
kepedulian anda. Anda perluas lingkup sosial tentang benar-salah
anggapan anda. Anda tidak mau terikut arus. Bahkan anda tidak hanya
betah diam dan menjadi apatis. Menurut anda orang apatis adalah
kebaikan yang terjelek bagi orang lain. Jika hanya apatis apakah orang
lain juga bisa terbantu menemukan kebenaran yang telah anda temukan
(dalam sebagian hal yang telah anda yakini)? Apakah kita hanya diam
saja melihat orang lain salah arah atau tersesat dan kita tidak peduli
untuk menolong mereka hanya karena kita takut akan tereksposnya diri
kita akibat kebenaran yang kita junjung? “Tunjukkan diri anda dan
tunjukkan kebenaran”, begitulah anda berargumentasi.

Begitulah. Memperjuangkan kebenaran ada dalam setiap tingkat peristiwa
kehidupan. Dari memperjuangkan hak orang miskin, memperjuangkan
keadilan negara tertindas atau miskin, menggulingkan kekuasaan,
menggulingkan penjajahan, memusnahkan teroris, pasukan perdamaian,
perang keadilan, memperjuangkan hak buruh, memperjuangkan hak
pendidikan, memperjuangkan kehidupan yang layak, dsb..dsb. Semua hal
ini diperjuangkan dalam kerangka mempertahankan kebenaran dan
kebaikan. Dalam rangka menghancurkan kejahatan dan memperbaiki
kesalahan. Budaya manusia berkembang semakin ber’adab’ dan semakin
`baik’ karena manusia tidak henti-hentinya berjuang mempertahankan
kebenaran. Tidak henti-hentinya berjuang untuk menemukan kebenaran
sejati. Tidak henti-hentinya berjuang untuk `menjadi lebih baik’.
Tidak henti-hentinya untuk memperbaiki kesalahan dan menyebarluaskan
kebenaran hakiki terutama dalam HAM.

Tapi mengapa? MENGAPA DENGAN SEGALA USAHA YANG TIADA HABISNYA SELAMA
BERABAD-ABAD BUDAYA MANUSIA TERSEBUT, KEDAMAIAN TIDAK DAPAT BERTAHAN
LAMA? MENGAPA MASIH SELALU ADA KEJAHATAN? MENGAPA MASIH BANYAK
PENDERITAAN SEOLAH-OLAH KITA TIDAK PERNAH DAPAT BELAJAR DARI SEJARAH?
DAN MENGAPA SAMPAI ADA SENJATA PEMUSNAH MASSAL SEPERTI BOM ATOM?

Menurut saya. HILANGKAN KEBENARAN DARI MUKA BUMI INI! MAKA KITA
SEKALIAN AKAN MENDAPATKAN KEDAMAIAN ABADI.

Jangan mencari kebenaran kalau anda ingin kedamaian! Kedua hal itu
sangat bertentangan. Jangan mencari kebenaran kalau anda ingin
penderitaan menghilang. Kedua hal itu juga sangat bertentangan.

Anda mencari kebenaran, maka anda berpotensi berperang dengan orang
lain. Apalagi kalau anda mengklaim telah menemukan kebenaran tersebut,
paling tidak anda pasti akan merasa tersakiti atau bahkan disakiti
oleh orang lain akibat kebenaran anda itu dan perangpun akan menjadi
keniscayaan anda.

Ini seharusnya pelajaran anak TK (yang sayangnya anak TK malah disuruh
menghafal nama-nama presiden). Mudah sekali menyadari bahwa jika kita
menemukan kebenaran, maka kita menemukan kesalahan. Jika kita mencari
kebenaran, maka kita sebenarnya mencari kesalahan. Jika kita
menganggap diri kita benar, maka kita berpotensi menganggap akan ada
diri orang lain yang salah. Jika kita ingin menegakkan kebenaran,
sebenarnnya kita berpotensi menegakkan peperangan. Jika kita
mewartakan kebenaran, maka kita berpotensi menghancurkan kedamaian.

Kita jarang sekali bisa tulus menerima kritik atau dianggap salah oleh
orang lain. Lalu mengapa kita jarang sekali berempati merasakan hal
yang sama ketika kita menggebu-gebu mewartakan kebenaran kita?
Mengerti bakal ada orang yang merasa disalahkan akibat pewartaan
kebenaran kita. Inilah yang jarang sekali kita sadari. Kita menganggap
menemukan kebenaran, maka orang lain akan menemukan dirinya
disalahkan. Ini sudah menjadi hukum sebab-akibat. Hukum aksi-reaksi
yang sangat-sangat sederhana tapi sangat jarang disadari bisa
menyebabkan perang!

Carilah kebenaran sampai dapat! Kemudian salahkanlah orang lain! Anda
sangat berpotensi menyalahkan orang lain karena kebenaran anda. Lalu
anda berteriak, bukankah memang ada kejahatan yang sudah jelas-jelas
salah dan jahat? Seperti terorisme, pembantaian massal, ketidakadilan
rezim, dsb… dsb? Lalu saya akan mengatakan, lalu memang kenapa?
Apakah dengan begitu anda berhak menyalahkan orang-orang tersebut
hanya karena kebenaran anda BERBEDA dengan kebenaran mereka? Anda
tidak suka disalahkan bukan? BEGITU JUGA DENGAN MEREKA! Jika anda
bereaksi keras terhadap mereka memaksakan untuk menyadari kebenaran
(yang tentu saja kebenaran versi yang berbeda dengan kebenaran
mereka), maka mereka juga akan bereaksi sama kerasnya bahkan lebih
keras karena mereka pihak minoritas dan pihak yang dianggap jahat.
Semua ini adalah PELAMPIASAN SAKIT HATI AKIBAT SALING MENYALAHKAN.
AKIBAT KEBENARAN YANG MENCIPTAKAN KESALAHAN BAGI YANG LAIN! Sakit
hati! Bukankah begitu saudara-saudaraku yang terkasih? Mereka menjadi
teroris, menjadi penjahat, menjadi diktaktor, menjadi pembantai
BUKANNYA TANPA SEBAB-AKIBAT. Mereka TIDAK DILAHIRKAN MENJADI SEPERTI
ITU. MANUSIA DILAHIRKAN TANPA PERAN APAPUN! Ingatlah ini. Manusia
tidak di awal kelahirannya telah menjadi presiden misalnya. Atau
menjadi penjahat sejak dari dalam kandungan misalnya. Tidak! Kita
semua adalah memulai kehidupan dari tanpa peran apapun. Mereka
hanyalah MINTA DIMENGERTI SAKIT HATINYA. DIMENGERTI PENDERITAANNYA.
DIMENGERTI ATAS PENSTIGMAAN DIRI MEREKA. DIMENGERTI ATAS
KETIDAKPERCAYAAN DIRI KITA TERHADAP MEREKA. DIMENGERTI ATAS PENGUCILAN
KITA. Dan please….PLEASE!!! Jangan menjawab mereka dengan BOM!!!
Hukum sebab-akibat yang anak TK pun dapat mengerti akan mengatakan,
kita akan dibalas juga dengan bom oleh mereka. KITA SEMUA TELAH SAKIT
HATI HANYA KARENA KITA TELAH MENCARI DAN MENEMUKAN KEBENARAN!

Yang bagi saya kebenaran tiadalah gunanya. Yang berguna adalah
keberfungsian (fungsionalitas). Carilah dan dapatkanlah nilai-nilai
fungsionalitas. Nilai-nilai yang dapat membantu kita mencapai
tujuan-tujuan luhur kita bersama selain juga mewujudkan potensi setiap
diri kita. Nilai fungsionalitas janganlah dianggap sebagai nilai
kebenaran. Sebagaimana kebenaran dianggap sulit berubah, nilai fungsi
malah harus paling mudah berubah, paling mudah elastis sesuai dengan
keadaan. Saya berikan sebuah contoh. Jika `jangan mencuri’ adalah
suatu nilai fungsionalitas. Maka bagi yang mencuri atau pencurinya,
hukuman penjara bukanlah keharusan! Apalagi kalau dia masih punya
tanggungan anak istri yang harus dinafkahinya. Kita seharusnya mencoba
berempati dulu dengan perasaannya. Kita mencoba terhubung dengan
perasaannya tersebut, mengapa dia sampai mencuri. Semua sebab pasti
ada akibat yang rasional asal kita mau memberi kepercayaan kita
kepadanya untuk berbagi rasa sehingga dia mempercayai kita. Diri kita
sendiripun harusnya sudah tidak ada perasaan `harus menghukum si
pencuri untuk menyadari kesalahan mencuri’. Perasaan menghukum dan
menghakimi harus dihilangkan dulu dari diri kita baru bisa berbagi
rasa dengan pencuri sebagai sesama manusia bukan sebagai otoritas
dirinya. Perlu disadari perasaan menghakimi timbul dari sistem rasa
diri kita sendiri yaitu `pasti sakit hati kalau kecurian ataupun
merasa bersalah kalau mencuri’. Sehingga penghukuman bisa-bisa
hanyalah refleksi dari sakit hati kita yang diproyeksikan ke pencuri
supaya pencuri itu ikut merasakan rasa sakit dan rasa bersalah
sehingga diharapkan dia sadar. Tidak bukan begitu caranya menyadarkan
si pencuri. Proyeksi sakit hati kita akibat konsep kebenaran `anti
mencuri’ hanyalah menghasilkan luka hati yang kemudian dari hukum
sebab-akibat hanyalah membuat si pencuri 1) menjadi pengawas nilai
kita untuk membalaskan atau memproyeksikan sakit hatinya kepada orang
lain yang dianggap pencuri, di lain kesempatan (jikalau kebenaran kita
diterima) …ATAU 2). Membalas langsung ke diri kita melalui
perlawanan atau kekesalan hati karena telah ditolak untuk dimengerti
(kebenaran kita tidak diterima). Terlihat khan, kekerasan (sakit hati)
yang telah kita tanam dan proyeksikan ke sang pencuri hanya akan
menghasilkan kekerasan yang lain (sakit hati yang lain) di masa
depannya. Ini seperti lingkaran kekerasan yang tiada habis-habisnya,
saling memproyeksikan rasa sakit dan saling menunjukkan atau
mempertaruhkan kebenaran masing-masing pihak.

Jadi jika kita hanya menghukum karena memproyeksikan sakit hati kita,
sang pencuri kemungkinan besar akan lambat datang kesadarannya
mengenai nilai `tidak mencuri’ karena luka hati yang timbul akibat
penghukuman kita dan akibat ketidakpedulian kita atas perasaan ingin
dimengerti dari sang pencuri tersebut. Jika kita tidak berurusan lagi
dengan kebenaran (sehingga kita tidak butuh sang pencuri untuk yang
menjadi sang terdakwa atau yang disalahkan). Kita hanya berurusan
dengan keberfungsian. Maka kita akan dengan mudah menunjukkan MELALUI
HATI KE HATI bahwa tujuan hidup kita mempunyai banyak kesamaan dengan
dirinya yang dapat dicapai dalam hal nilai fungsi `tidak mencuri’.
Lalu kita akan mengerti mengapa orang itu sampai jadi pencuri bahkan
dapat membuat kita menjadi peduli dan jatuh hati dengan
penderitaannya. Saya yakin bila kita sampai pada titik ini, kita akan
menyadari KEMUNGKINAN BESAR, penjara bukanlah solusi yang paling
tepat!!! Selain hanya akan membuat penderitaan bagi istri dan anaknya
yang ditinggal dan tidak dinafkahi lagi (karena kepala keluarganya
yaitu sang pencuri dipenjarakan), pengurungan model penjara seperti
saat ini hanyalah berarti pengucilan dan stigma bahwa dia adalah
penjahat alias akan semakin sulit menerima dirinya nanti di lingkungan
masyarakatnya sendiri akibat stigma penjahat tesebut. Yang justru yang
paling dibutuhkan oleh sang pencuri adalah penerimaan masyarakat
lingkungan terdekatnya. Yang paling tepat mungkin MEMAAFKAN
PERBUATANNYA, kemudian MEMBIARKAN DIA MENGALAMI KONSEKUENSINYA SECARA
ALAMI. Saya yakin dia akan sadar akan perbuatan mencurinya karena 1)
dia telah didengarkan dan dimengerti, 2) telah dipedulikan pula
kelangsungan nafkah istri dan anaknya dengan tidak memenjarakan
dirinya, 3)tak ada dendam, sakit hati, karena memang tak ada kekerasan
yang diproyeksikan terhadap dirinya, 4)belajar bertanggungjawab
menjalankan konsekuensi sebab-akibat alami dari perbuatannya tersebut.
Artinya bilapun dia tetap mengalami pengucilan oleh lingkungannya,
biarlah dia mengalami hal itu langsung (daripada setelah dia habis
dipenjara toh akan mengalami pengucilan oleh lingkungan juga). Hal ini
dapat mendorong 1) lingkungannya untuk akhirnya lebih cepat belajar
merelakan dendam dan memaafkan sang pencuri ..2) sang pencuripun bila
dia telah disadarkan oleh kita untuk menerima tanggung-jawab penuh,
bisa dengan sabar menghadapi hal ini tanpa sakit hati karena
kebutuhannya untuk dianggap sebagai manusia untuk didengar dan
dimengerti telah dipenuhi oleh kita. Saya yakin dirinya bahkan bisa
melepaskan rasa bersalahnya dan labelnya sebagai pencuri akibat dia
telah belajar bertanggungjawab menerima konsekuensi sebab-akibat
(bukan penghakiman dari diri kita, tolong dibedakan), dan dapat
mengerti ketidakberfungsian dari nilai `mencuri’ secara sadar.
Sehingga nilai ini dapat bertahan lama karena kesadarannya bukan
karena ketakutan, sakit hati, kapok yang masih merupakan sumbatan
kekerasan yang sewaktu-waktu bisa lepas kendali melalui perlawanan
nilai (misalnya mencuri lagi karena merasa tidak dihargai oleh manusia
sehingga berpikir apa salahnya mencuri lagi. Toh aku sudah tidak
dianggap manusia baik-baik. Ada kemarahan yang terpendam).

Ini adalah satu contoh penerapan nilai keberfungsian (fungsionalitas).
Carilah nilai-nilai apa yang dapat berfungsi sesuai tujuan. Jika tidak
berfungsi lagi sesuai tujuan anda, ubahlah sesuka anda. Buatlah nilai
anda se-elastis mungkin sehingga bisa beradaptasi dengan tujuan-tujuan
anda. Jangan lagi mencari nilai yang benar yang hasilnya hanya akan
saling menyalahkan tidak peduli lagi apakah bisa mencapai tujuan atau
tidak. Kemudian sadarilah dan insafi bahwa tujuan kita sebagai manusia
sebagian besar adalah sama. Kita menganggap tujuan kita berbeda. Ini
hanyalah kesalahpahaman kita belaka. Bila disadari benar, seluruh
manusia ingin mencapai kesejahteraan dirinya, yang kemudian diperluas
sesuai dengan tingkat kepeduliannya (misalnya menjadi kesejahteraan
keluarga, teman, bangsa, atau bahkan dunia). Awalnya semua tujuan
sama. Yaitu sama-sama ingin mencapai kebahagiaan hidup. Inilah
kesamaan kita, kebahagiaan! Tak ada orang yang tak ingin bahagia. Dari
sinilah seharusnya nilai keberfungsian kita bekerja. Dari sinilah
seharusnya kita MULAI memahami dan berempati. Dan masalah kitapun
bahkan sama! Sama-sama menderita!

Bagi yang sedang mencari kebenaran, saya bersimpati dengan anda. Hasil
bersihnya anda hanya akan menemukan kesalahan orang lain (setelah
menemukan kebenaran anda). Mencari kebenaran tidak akan bisa memenuhi
tujuan kebahagiaan anda. Mungkin lain hal kalau kebahagiaan anda
adalah mendapatkan kebenaran dengan mengorbankan kedamaian! Bagi anda
yang seperti ini, selamat menderita dalam kebenaran anda! Sia-sia saja
bila tujuan anda bahagia. Sia-sia.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s