Kematian, Kenyataan Virtual dan Energi

Apa yang kita pikirkan mengenai kematian? Apakah kita semua takut
mati? Mengapa kita takut untuk mati?

Bukankah kematian membuat hidup ini mempunyai ‘jalan keluar’? Adanya
kematian membuat kehidupan menjadi ilusi. Coba direnungkan, apa yang
disebut dengan kenyataan? Bila kita menyebutkan kenyataan hidup, maka
jelas yang dimaksudkan adalah kenyataan selagi kita hidup. Namun bila
kita hanya menyebutkan kenyataan sebagai kenyataan tok. Apa kenyataan
sebenarnya? Kenyataan bahwa kita eksis? Apakah eksis ini? Kenyataan
apa yang terpampang ketika kita sudah mati? Dimana diri kita ketika
kita mati? Bahkan ketika kita hidup pun, DIMANA KITA? Lihatlah pada
tubuh manusia yang telah mati. Dimanakah jiwanya? Dimanakah
‘diri’-nya? Apa bedanya keadaan tubuh mayat itu dengan diri kita?
Bukankah ‘diri’ kita juga tidak bisa kita temukan? Lalu mengapa kita
bisa bilang diri kitalah yang hidup? Apakah karena tubuh mayat itu
diam saja? Lalu kalau begitu, siapa yang ‘menggerakkan’ tubuh kita?

Kematian sebenarnya dekat sekali dengan kita. Cukup tusukkan saja
sebilah pisau ke kepala kita, dijamin kita langsung bisa merasakan
pengalamannya. Cukup mudah bukan, untuk mengetahui esensi diri kita
sebenarnya? Cukup dengan membunuh tubuh ini, maka kita akan mati. Maka
kita akan tahu ‘diri’ ini adalah apa. NAMUN kita semua tidak ingin
mati. Kita SELALU INGIN TAHU siapakah diri kita sebenarnya, tapi KITA
TIDAK INGIN MATI. Kalau bisa ya mengetahui dengan tuntas siapa ‘diri’
itu selagi kita masih hidup. Tapi apakah bisa? Benarkah kita bisa
demikian? Sia-siakah segala usaha kita mencari arti ‘siapa diri’
selagi kita hidup? Apakah semua jawabannya hanya terpampang setelah
kematian?

Adanya kematian menandakan kita sedang mengalami proses amnesia di
kehidupan kita. Buktinya adalah kita tidak mengingat apapun sebelum
kita lahir. Bahkan kita susah mengingat/tidak dapat mengingat ketika
kita di rahim ibu, ketika baru lahir, ketika berumur 1, 2, 3,
dst..dst. Mengapa sih kita bisa mengalami proses lupa? Dan mengapa
pula kita tidak bisa mengingat sama-sekali diri kita sebelum kita
lahir? DAN mengapa tidak ada orang lain yang sudah mati yang
memberitahu kita keadaan kehidupan sesudah kematian?

Mengingat kematian selalu mengingatkan kita bahwa kehidupan yang kita
jalani ini tidaklah berjalan selamanya. Suatu saat kita PASTI akan
mati dan meninggalkan kehidupan ini. Artinya apa? Artinya kehidupan
ini bisa diibaratkan sebagai kenyataan virtual. Sifat dari kenyataan
virtual adalah kenyataan yang tidak langgeng, bisa berakhir, mempunyai
kondisi dan sejarahnya sendiri dan yang mengalami bukan berasal dari
dunia virtual. Kenyataan virtual bisa dibedakan dengan kenyataan
sebenarnya. Dalam konteks kesadaran kita (dimana kita lagi hidup dan
bernafas), yang kita alami adalah kenyataan sebenarnya. Dan jika kita
masuk ke dalam permainan komputer, maka kenyataan (gambar grafis) yang
ada di layar komputer bisa disebut kenyataan virtual. Begitu juga
dengan film di tv atau di bioskop. Merupakan kenyataan virtual juga.
Kenyataan2 yang terdapat dalam film maupun dalam game bisa berakhir,
mempunyai selang waktu tayang, mempunyai dimensi peristiwa yang
berbeda dengan kenyataan yang sesungguhnya. Coba bayangkan lebih
lanjut, bila kita benar2 TERSERAP ke dalam permainan atau ke dalam
film. Maka seringkali kita tidak merasakan diri kita lagi melainkan
merasakan menjadi tokoh yang berada di dalam game atau film tersebut.
Kita menjadi lupa dengan kondisi kehidupan kita, lupa dengan sejarah2
kehidupan kita, yang kesemuanya digantikan dengan seting peristiwa
yang berada dalam game atau film tersebut. Dan jelas walaupun kita
lagi terserap dengan game/film, kita tetap bisa menyadari tubuh kita
tidak berada di dalam game/film walaupun kita merasa demikian. Dan
misalnya sang tokoh mati atau game/filmnya berakhir, maka kita tidak
ikut2an lenyap seturut matinya monitor/tv/layar, kita masih eksis di
dunia nyata, walaupun udah tidak eksis lagi di dunia virtual tersebut.

Dalam konteks dunia di luar ‘hidup-mati’ yang merupakan di luar
kesadaran kita sekarang (baik yang nanti kita alami setelah kita mati,
maupun ‘di dunia di luar’ kesadaran kita ketika kita masih hidup),
maka yang kita jalani adalah merupakan kenyataan yang virtual.
Ciri2nya sudah kelihatan sama seperti ketika kita sedang TERSERAP
main/nonton game/film. Yaitu kita LUPA apa yang terjadi sebelum lahir
dan sesudah mati, kehidupan bersifat FANA dan kita MENGIDENTITASKAN
(TERSERAP) diri kita dengan PERAN/TOKOH yang sedang kita lakukan. Dan
yang jelas, ketika kita harus mati (baik karena tewas/terbunuh/mati
wajar/sakit/dll…)KITA TETAP MERASA DIRI KITA TIDAK IKUT2AN LENYAP!
Perasaan ini mungkinadalah perasaan yang sangat aneh, karena walaupun
tidak ada bukti bahwa kita ada namun kita yakin kita tetap eksis
setelah kematian. Benarkah kita TETAP EKSIS? Ini pertanyaan lain DAN
TIDAK BISA KITA PASTIKAN. Namun dengan logika sederhana bahwa KITA
TIDAK DAPAT MENEMUKAN JIWA KITA SECARA FISIK, menandakan bahwa kita
bukan berasal dari tataran fisik. Namun begitu perlu diingat dalam
perkembangan teknologi, listrik adalah komponen fisik walaupun tak
terlihat. Dan kita mungkin tidak pernah tahu apakah ilmu pengetahuan
akhirnya bisa ‘menemukan’ jiwa seperti halnya menemukan listrik? Jadi
benarkah kita bukan dari tataran fisik? Atau kita hanyalah fisik yang
tidak terlihat oleh mata kita saja(sama seperti sinar uv, laser,
panas, listrik, udara, dsb2..)?

Jika kita lihat lebih jauh lagi, betapa mengerikan analogi yang satu
ini. Lihatlah sebuah robot yang dijalankan memakai tenaga listrik isi
ulang (batere recharge). Robot itu memiliki prosesor yang memampukan
si robot untuk berpikir (walaupun tidak serumit manusia). Bila kita
lihat, kita secara umum hampir tidak ada bedanya dengan si robot. Si
robot bisa bergerak, bisa berbicara, bisa sedih/marah/bahagia/dll
(diatur oleh program), bisa makan (direcharge). Dia pokoknya ada
sebagai robot dan dia eksis. Walaupun kita bisa mengatakan sebenarnya
yang menggerakkan si robot adalah prosesor yang notebane adalah
listrik (sama analoginya yang ‘menggerakkan’ kita adalah jiwa/roh),
kita tidak pernah menemukan si listrik. Kita hanya bisa menemukan si
prosesor (analoginya otak fisik kita). Namun kita tidak menemukan
penggerak utamanya yaitu listrik. Definisi listrik itu sendiri adalah
pergerakan ion2 positif dan negatif yang notebane juga adalah atom dan
elektron yang notebane lagi merupakan komponen2 fisik yang bersifat
menghantar listrik. Listrik adalah merupakan nama suatu sifat gaya
tarik antar ion2 positif/negatif. Jadi listrik bukan bentuk fisik
melainkan hanya merupakan sifat dari fisik itu sendiri. Listrik hanya
merupakan usaha kita untuk mengkonsepkan pergerakan/sifat dari fisik
(logam penghantar listrik), dan bukan merupakan penamaan/pelabelan
suatu benda fisik (misalnya meja, kursi, besi, yang bisa kita tunjuk
dan kita rasakan keberadaannya secara langsung dan tidak perlu
dimengerti secara rumit). Dalam hal si robot, berarti listrik BUKAN
BERADA DI SUATU TEMPAT/POSISI TERTENTU DI TUBUHNYA. Melainkan
merupakan KONSEP/DEFINISI YANG GEJALANYA DAPAT DIAMATI TERKUMPUL DI
KOMPONEN2 TERTENTU. Namun secara harafiah listrik dapat dikatakan
berada di seluruh tubuh robot tersebut karena apa yang disebut dengan
bahan isolator pun itu berarti masih berkaitan dengan konsep listrik
(gejala non penghantar pergerakan ion yang bukan berarti TIDAK ADA
SAMA SEKALI pergerakan ion disitu karena semua atom prinsipnya adalah
bergetar/bergerak/mempunyai sifat kelistrikan). BILA HAL INI
DIKAITKAN/DIANALOGIKAN DENGAN JIWA KITA…..BETAPA MENGERIKANNYA!!!
Apakah anda bisa melihatnya??? Ciri2nya mirip sekali dengan listrik!
Jiwa kita tidak bisa ditemukan dengan kasat mata. Jika tubuh kita
dibongkar/dibedah, tidak akan ditemukan sama-sekali sesuatu yang dapat
disebut jiwa. PIKIRANPUN TELAH DIKETAHUI OLEH ILMUWAN ADALAH BERUPA
GEJALA2 KELISTRIKAN. DAN SAMA SEPERTI LISTRIK ATAUPUN JIWA, PIKIRAN
TIDAK DAPAT DITEMUKAN SECARA KASAT MATA. Kita masih bisa mengerti bila
disebut pikiran adalah hasil/sifat/gejala yang dikenali dari proses
berpikir si otak. Dan berpikir adalah menggunakan kemampuan otak untuk
menghasilkan sesuatu yang logis (yang bersifat masuk akal). Kemudian
masuk akal adalah sesuatu yang sesuai dengan cara kerja otak kita.
Jadi akal adalah definisi dari ‘sifat bekerjanya otak’.
Pikiran/berpikir/akal terlihat merupakan suatu konsep, tidak senyata
otak itu sendiri. Listrik/gaya tarik ion2 juga merupakan suatu konsep,
tidak senyata dari atom2 itu sendiri. Apakah itu berarti jiwa juga
merupakan suatu konsep??? Yang merupakan ‘kata sifat/gejala’ sama
seperti kalimat ‘bersifat kelistrikan atau menghasilkan pikiran’???
Apakah jiwa tidak senyata dari…..dari apa??? APA YANG
MENGHASILKAN/MEMPUNYAI GEJALA/MERUPAKAN SIFAT yang berupa JIWA???
Tubuh secara keseluruhan??? Kesadaran??? Samakah kesadaran dengan jiwa
dengan pikiran???

Jika konsep adalah bentuk dari pikiran yang sama tatarannya seperti
jiwa adalah konsep, kesadaran adalah konsep –> konsep=pikiran. Maka
apakah asal-mula semua ini adalah pikiran? Ketika kita melihat tubuh
yang sudah mati, apakah yang sedang kita lihat? Apakah kita masih bisa
melihat sifat pikiran di tubuh mayat? Jawabannya tidak. Apakah itu
berarti otak telah berhenti bekerja? Jawabannya iya. Apakah itu
berarti otak tidak mempunyai sifat berpikir/berakal lagi? Jawabannya
iya. Sama seperti si robot yang kehabisan tenaga baterai,
prosesor/powersupply-nya tidak memperlihatkan sifat/gejala
kelistrikannya lagi (yang memberikan tenaga ke robot untuk berpikir,
bergerak, dll). Dan listrik dibutuhkan oleh robot untuk bisa berpikir
juga. Apakah otak juga membutuhkan/menghasilkan-gejala listrik? Jelas.
Darimana asal energi sehingga terdapat adanya listrik? Dari makanan
tentu saja. Bagi kita makanan adalah batere rechargenya. Listrik
adalah gejala (konsep) yang paling dekat dihasilkan oleh otak,
kemudian pikiran pun terhasilkan. Pikiran kemudian menghasilkan
konsep2 diantaranya konsep jati/identitas diri yang salah-satunya
adalah konsep jiwa/roh/pikiran itu sendiri. Sehingga kita bisa merasa
eksis, yang mungkin dirasakan oleh robot itu juga (dia tentu saja akan
berusaha melindungi diri (jati diri?) jika diserang/dirusak oleh
pengaruh luar kecuali yang sudah diijinkan melalui program di
prosesornya). Yang kesemuanya itu sebenarnya MENURUT ILMUWAN ADALAH
GEJALA LISTRIK BELAKA BAIK BAGI ROBOT MAUPUN BAGI TUBUH MANUSIA.
INILAH ALASANNYA MENGAPA KITA TIDAK BISA MELIHAT JIWA (DIRI) KITA
SENDIRI, KARENA JIWA HANYALAH BERUPA GEJALA/SIFAT DARI TUBUH SAMA
SEPERTI LISTRIK YANG JUGA GEJALA/SIFAT DARI TUBUH. Yang merupakan
penyebab dari semua sifat/gejala adalah energi (konsep yang
didefinisikan oleh ilmuwan). Energi adalah definisi dari yang bisa
menghasilkan suatu gerak/gaya/sifat/gejala. Silahkan bila kita
menyebut energi itu sebagai Tuhan, Allah, Thian, Alam semesta, The
One, apapun itu. Dan memang kemampuan pengkonsepan (pelabelan) kita
memang cuma sampai segitu. Ketika ingin menggambarkan sesuatu yang
paling awal menggerakkan yang lain, maka kita menyebutnya itu sebagai
ENERGI. Lihatlah pertanyaan mendasar ini, ‘mengapa SEMUA atom
bergetar?’ Cukuplah hal itu untuk menyadari SEMUA sesuatu di dunia ini
selalu bergetar dan bergetar dan bergetar….terus dan terus dan
terus….Siapa yang menggetarkannya? Energi….atau…ENTAHLAH!

Ilmuwan masih mencari partikel elementer. Dimana sebelumnya ternyata
yang disebut partikel terkecil masih bisa dipecah lagi. Kalau dirunut2
dari atom, maka atom adalah kumpulan partikel2 elementer yang
bergetar. Bagaimana jika tidak ada partikel elementer? Bagaimana jika
partikel dapat terus dipecah? Apakah itu berarti tidak ada benda rigid
di dunia ini? Apakah semua bahan dasar dari benda2 adalah getaran?
Silahkan merenungkannya.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s