Kemenyatuan dalam Cinta

Seringkali kita ditanya, “Gimana rasanya jatuh cinta?” Jawaban klise, “Sejuta Rasanya…!” Dan jawaban klise itu tetap bertahan karena memang menggambarkan dari apa yang kita rasakan ketika lagi jatuh cinta. Bila dua insan sudah saling jatuh cinta, mereka akan merasa diri mereka MENYATU.

Saya teringat dengan diskusi antara mbak Jeni dengan mas Audifax tentang permainan logika kalimat. Salah satunya pada kalimat :

“Kucing membaca koran.”

Kalimat di atas terlihat logikanya sudah benar. Tapi apakah pemaknaannya bagi kita terasa benar? Tentu saja kita bisa langsung mengeluarkan argumen, “kucing tidak mungkin bisa membaca, apalagi membaca koran.”

Tapi kalau kita diberitahu bahwa Kucing adalah nama orang (misalnya bernama lengkap Ku Cing Pao)? Tentu argumen kita tadi bisa langsung dipatahkan bukan? Jadi secara tidak kita sadari argumen itu memiliki kesalahan asumsi yaitu “Kata ‘kucing’  SELALU merupakan label penamaan jenis binatang.” Yang ternyata hal itu tidaklah selalu menunjukkan penamaan jenis binatang.

Lalu apa hubungannya dengan Cinta?

Cinta sanggup meruntuhkan semua logika pengkotak-kotakan. Dalam contoh tadi, jika anda adalah pencinta kucing sehingga SAMPAI TERSINGGUNG mendengar bahwa kucing dituduh tidak bisa membaca……! Maka anda akan serta-merta mencari bahkan sudah memiliki amunisi argumen untuk meyakinkan orang lain bahwa kucing bisa membaca (apalagi cuma koran, kita bisa juga lho belajar filsafat dari kehidupan kucing, karena kucing banyak membaca alam) sekaligus mengobati ketersinggungan anda.

Akibatnya anda mungkin ditertawakan. Tapi ada juga orang-orang yang menjadi kagum dengan anda karena dapat berpikir di luar kotak, kemudian dari kagum menjadi mencintai anda dan bersama-sama anda membela argumen “Kucing dapat membaca koran”.

Dan lebih jauh, bisa saja gerakan ini malah berhasil (karena makin banyak pendukung yang terbuka matanya tentang filosofi kucing). Dan malah banyak manusia di kemudian hari berbondong-bondong belajar membaca ala filosofi kucing.

Akhirnya semua menjadi senang dan mendapatkan manfaatnya dari cara  alternatif mendapatkan pemaknaan dengan membaca ala filosofi kucing.

Semua berawal dari CINTA AKAN KUCING.

Kisah khayalan di atas terlalu utopia? Memang. Kemungkinan besar tidak akan terjadi seperti itu. Kemungkinan besar Sang Pencinta Kucing akan tetap berada dalam kesendiriannya DAN bersama kucing-kucing kesayangannya membaca koran….

Tapi karena cinta maka akan ada selalu kemungkinan miracle. Miracle bahwa Cinta bisa menyatukan perbedaan paradigma (kucing tidak bisa vs bisa membaca).

Itulah mengapa jatuh cinta sejuta rasanya. Sejuta rasa perbedaan dua individu yang menyatu dalam kalbu.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s