Laut

Andi akhirnya memutuskan untuk `menembak’ Rani. Hatinya tidak tahan
lagi untuk menjadikan Rani kekasihnya.
“Ran, ada yang ingin aku katakan kepadamu saat ini.”
“Apa An?”
“Aku sayang kamu Ran. Bolehkah aku menjadi pacarmu?”
“Kamu belum mengenal aku An, kita baru berkenalan 3 bulan.”
“Tapi itu cukup bagiku untuk dapat mengenal perasaan hatiku.”
“Aku tahu. Dan akupun begitu dengan perasaanku. Tapi bukan berarti aku
mau menjadi pacarmu.”
“Mengapa?”, Andi terpana, dia khawatir cintanya ditolak.
“Sebenarnya tidak ada alasan apa-apa. Cuma aku ingin bebas saja
seperti bunga-bunga itu.”
“Bebas? Kamu belum ingin pacaran dulu? Bukankah katamu sendiri
perasaanmu sama seperti aku? Lalu kenapa kamu menahan dirimu?”
“Aku tidak menahan diriku. Aku tetap mencintamu seperti sekarang ini.
Hanya saja aku tidak ingin cintaku beku dan mati karena aku menjadi
pacar kamu.”
“Tetapi kenapa kamu takut cintamu menjadi beku dan mati? Bukankah
dengan kita menjadi pacar, cinta itu dapat diekspresikan menjadi lebih
dalam?”
“Benar, kalau itu adalah harapanmu. Dan itu sebenarnya harapanku juga.
Aku ingin cintaku menjadi lebih dalam. Tapi Andi, aku telah mengenalmu
walaupun mungkin cuma luarnya saja. Tetapi aku merasa kamu belumlah
mengerti diriku sebenarnya.”
“Jadi kamu butuh waktu untuk memberikan jawaban ya?”, Andi bertanya,
dan selalu heran dengan sifat cewek yang tidak dapat terus terang.
“Bukan waktu yang aku butuhkan. Tapi pengertianmu. Aku ingin bebas
mengekspresikan cintaku. Tidak terbatas oleh apapun, walaupun itu
bernama pacar atau sebagainya. Aku tidak mau cinta kita dibatasi oleh
rasa kepemilikan. Kamu mungkin tidak mengerti jalan pikiranku. Tapi
jika aku mengatakan sebenarnya, mungkin kamu tidak bisa menerimanya.”
“Jalan pikiran apa? Tidak mau dimiliki? Kita sama-sama saling
memiliki. Apa anehnya dari hal itu? Kenapa kamu harus menghindar dan
takut? Kenapa cinta menjadi dibatasi? Aku rasa tidak…!”
“Benar sekali. Tapi maukah kamu mendengarkan penjelasanku? Aku ingin
kamu juga dapat mengerti aku.”
“Baiklah”, Andi menarik nafas panjang. Dia menunggu gerangan
penjelasan apakah yang akan dia dengar? Apakah aku belum mengerti dia?
“Tolong dengarkan baik-baik. Aku mencintaimu, itu benar. Bahkan sejak
permulaan kita bertemu, aku sudah tahu bahwa aku bakal mencintaimu,
dan sekarang telah terjadi seperti itu. Dan ternyata kamupun mencintai
aku. Terima kasih atas cintanya. Tapi lain halnya ketika kamu meminta
aku menjadi pacar kamu. Aku tidak mau menjadi pacar kamu. Karena aku
terlalu mencintaimu, sehingga aku tidak mau di kemudian hari kamu akan
merasa terikat dengan aku, begitu pula dengan diriku harus merasa
terikat denganmu demi kebahagiaan kamu itu. Meskipun aku memang tidak
bakal merasa terikat terlalu lama bila aku menjadi pacar kamu, tetapi
aku khawatir kamu, yang pada waktunya datang, cintamu berubah bentuk,
tapi kamu merasa harus terikat dengan aku.”
“Aku tidak mengerti. Apa yang mau kamu katakan? Kamu meragukan
cintaku? Kamu tidak mau merasa terikat? Aku janji kamu tidak akan
merasa terikat denganku, melainkan kita akan menjalani hidup penuh
dengan kebahagiaan.”
“Simpan kebahagiaan untuk dirimu sendiri. Aku tidak butuh kebahagiaan
seperti itu. Aku sudah berusaha menjelaskan, tetapi kamu kelihatannya
tidak dapat menangkapnya. Maafkan aku kalau penjelasanku tidak dapat
kamu terima. Maafkan aku, aku tidak mau jadi pacar kamu.”
Andi termenung, dia sudah susah payah mengajak gadis yang penuh dengan
pesona ini berada di pantai Lombok ini. Dia tidak rela kehilangan
mimpinya. Dia sudah terlanjur menambatkan hatinya mentah-mentah ke
gadis ini. Dan Andi merasa laut memusuhinya. Andi merasa geram.
“Kamu tidak tahu kebahagiaan ya? Kamu benar. Aku telah ditolak olehmu,
dan aku tetap tidak bisa mengerti apa maumu. Jika kamu benar-benar
mencintaiku juga, seharusnya kita sudah bersama sebagai pasangan yang
bahagia. Aku rela mengorbankan diriku untuk kebahagiaanmu. Itulah
kebahagiaanku.”
“Kalau begitu, biarkan aku dapat mencintaimu dengan caraku sendiri.
Dan bila kamu tidak dapat menerima hal itu, tinggalkanlah aku, aku
tidak mau kamu menjadi salah sangka dengan cintamu itu.”
“Salah sangka?”
“Ya, aku juga sebenarnya tidak mau menerima cintamu yang seperti ini.
Cinta seperti itu akan sangat menyakitkan dirimu dan diriku juga bila
diteruskan.”
“Cinta seperti apa? Aku benar-benar tidak mengerti!”
“Cinta seperti kepemilikan. Bagiku itu sama-sekali bukan cinta
sesungguhnya. Cinta itu bebas, murni, abadi dan tak terbatas.”
“Berarti kamu merasa hanya cintamulah yang seperti itu! Sedangkan
cintaku tidak seperti itu. Kamu yang salah sangka Rani! Aku
mencintaimu sepenuh hatiku. Walaupun kamu tidak mau menjadi pacarku,
tapi janganlah kamu menilai cintaku tidak seperti cintamu itu. Aku
terus-terang bingung.”
“Apakah kamu akan sakit hati ketika aku tidak akan menjadi pacarmu?
Bagaimana kamu akan melanjutkan hidupmu?”
“Sakit hati? Kuharap tidak! Aku tetap bisa melanjutkan hidupku.
Cintaku ini akan terus aku usahakan sampai kamu benar-benar tidak
memilih atau mencintai aku lagi. Sampai kamu memilih orang lain untuk
menggantikan aku.”
“Dan ketika aku memilih orang lain, maka ketika itu kamu akan sakit
hati, benarkan?”
“Benar Rani, benar. Tapi setidaknya itu jelas bagiku. Dan aku tidak
dapat memaksakan kehendakku demi kebahagiaanku semata saja. Aku juga
mau kebahagiaanmu terwujud juga, karena itu adalah kebahagiaanku juga.
Walaupun mungkin aku sakit hati, setidaknya aku tahu kamu bahagia
dengan pilihanmu itu.”
“Lalu apa bedanya?”
“Apa bedanya?”
“Apa bedanya aku menolak menjadi pacar, atau dengan memilih cowok lain?”
“Beda. Kamu sekarang mencintai aku. Hanya saja kamu belum mau menjadi
pacarku. Mungkin kita harus saling berkenalan lebih jauh, sehingga
kamu nanti dapat merasa aman dan bebas bersamaku. Kamu hanya merasa
tidak nyaman dan bebas saja sekarang. Itu wajar. Menjadi pacar memang
butuh komitmen. Tapi ketahuilah aku selalu siap berkomitmen dan tidak
perlu ragu terhadap hal itu. Aku siap menunggumu sampai ada orang lain
yang menggantikan di hatimu. Sampai saat itu, aku tetap menunggu,
karena aku telah berkomitmen untuk menyayangimu.”
“Terima kasih, terima kasih. Aku sedikit terharu dengan pengungkapan
perasaanmu. Tapi maaf, kamu tidak tahu apa yang kamu katakan.”
“Kamu meragukan aku? Aku tahu apa yang aku katakan!”
“Tidak, kamu tidak tahu! Sayang sekali, aku akan tetap merasa kesepian
di dunia saat ini. Tapi aku tetap harus bisa tersenyum, karena itulah
yang dinamakan proses cinta. Dan aku harus tetap bersyukur.”
“Ngomong tentang apa kamu ini? Kenapa harus kesepian? Aku benar-benar
tidak mengerti jalan pikiranmu itu.”
“Tidak perlu mengerti dengan jalan pikiranku ini. Biarkanlah semua ini
berlalu Andi. Tinggalkanlah aku. Aku memang tidak butuh cintamu.”
“Tapi kamu mencintai aku! Kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu
saja. Ada apa sih ini sebenarnya?”
“Tidak ada apa-apa. Hanya luapan perasaan saja. Aku sedih tidak dapat
membagikan perasaan ini kepada kamu.”
“Tolonglah apa yang sebenarnya ingin kamu katakan? Aku akan berusaha
mengerti…!” Andi bingung apa yang harus dia lakukan lagi. `Penembakan’
ini sudah menjadi salah arah. Dia benar-benar tidak siap dengan
jawaban maupun alasannya. Mabuk, itulah yang ada dalam dirinya.
Seolah-olah dia ada di kapal Titanic, mabuk laut. Mungkin dirinya akan
tenggelam. Tidak tahulah!
Rani memandang Andi. Andi memegang tangannya. Rani hanya tersenyum,
dia berharap tangannya bersatu terus seperti itu, dan berharap Andi
dapat mengerti tentang cinta dirinya. Tapi Rani seperti memegang
kekakuan hati. Seperti memegang topeng dan kepalsuan. Seperti memegang
kebuntuan hati. Dia tidak tahu kenapa laki-laki ini terus memilih
seperti keadaannya saat ini. Kenapa hampir semua laki-laki seperti
ini. Dapatkah dia menemukan partner? Untuk menikmati hidup? Bukannya
untuk berjuang? Air matanya menetes. Dia merasa benar-benar kesepian.
Atau aku harus balik lagi seperti aku yang dulu? Tidak bisa! Pikirnya.
Aku suka kebebasan ini. Tanpa hambatan. Lagi pula sudah tidak mungkin
balik lagi seperti yang aku yang dulu. Aku sudah berubah. Dan
laki-laki ini belum. Aku menggenggam erat tangan ini. Aku akan
berpisah dengannya. Dan perasaan ini akan menggumpal di dada. Aku
tahu, aku harus tetap meneruskan hidupku sendiri. Dan sebenarnya kita
tidaklah berpisah, dan kau tahu itu di dalam hatimu yang terdalam. Aku
adalah kamu untuk selamanya. Mungkin jalan kita akan bertemu lagi di
lain cerita kehidupan. Heh!
“An, aku mencintaimu. Tapi tolong tinggalkanlah aku sekarang juga. Aku
tidak perlu lagi kau antarkan pulang. Aku sudah mandiri kok!
Pulanglah, dan aku juga akan pulang. Kita akan meneruskan hidup kita
masing-masing di Jakarta. Tapi kalau kamu mau jadi sahabatku,
boleh-boleh saja, tapi netralkan dulu perasaan kita masing-masing
supaya kita dapat berpikir jernih kembali. Kamu akan menemukan gadis
lain yang menjadi pendampingmu, dan mungkin saat itu sudah melupakan
aku. Bagus, saat itu aku akan selalu mendoakan kamu supaya kamu selalu
bahagia sampai selamanya.”
“Tidak usah berkata muluk-muluk Ran, aku tidak tahu harus berkata apa
lagi. Benarkah ini yang kamu inginkan?”
“Ini yang seharusnya terjadi An, aku yakin kamu tidak akan mau hanya
berusaha menjadi sahabatku. Bagimu, hubungan kita hanya ada 2 pilihan,
menjadi pacar atau teman `say helo’ saja.”
“Aku akan jadi sahabatmu. Aku janji itu.”
“Kamu seharusnya tidak berjanji seperti itu. Itu hanyalah mengkhianati
dirimu sendiri. Jalani saja semua prosesnya seperti ini. Dan kita
lihat nanti.”
“Kamu benar-benar mau pulang sendiri?”
“Benar, jangan khawatirkan aku. Melainkan khawatirkan dirimu sendiri
yang, maaf, telah terseret ke keadaan seperti ini.”
“Tidak, aku tidak akan menyesal terjadi seperti ini. Dan aku tidak
akan khawatir terhadap diriku sendiri. Aku cukup kuat. Dan sepertinya
aku sudah mulai sedikit mengerti apa maumu itu.”
“Mungkin An, mungkin. Kita sebaiknya berpisah di sini.”
“Seradikal ini? Kita harus berpisah sekarang?”
“Demi kebaikanmu.”
“Tidak! Setidaknya biarkan aku menemanimu barang sejenak lagi. Kita
tidak akan pulang buru-buru khan? Lagi pula kita tetap akan pulang
bareng. Aku bertanggung jawab terhadap diri kamu.”
“Sampai berapa lama? Benar kamu mau menemani aku? Ingat, aku bukan
pacar kamu.”
“Benar, tapi apa bedanya? Aku tetap punya tanggung jawab terhadap diri
kamu. Aku yang telah mengajak diri kamu ke sini. Akulah yang harus
memastikan keselamatan dan kenyamananmu di sini juga.”
:”Baiklah. Pesankan aku tiket pesawat ke Jakarta jam 5 sore ini juga.
Kalau kamu ingin tetap menemani aku pulang, mari kita cek out dari
hotel siang ini. Kita harus balik dari pantai ini sekarang juga supaya
sempat cek out dan pesan tiket pesawat oke?”
Andi merasa terpojok dan tidak punya pilihan lain, selain mengikuti
permainan Rani. Aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan sekarang.
Aku kesal dan mungkin tidak rela pulang sekarang. Mungkin aku sampai
di rumah depresi berat. Tetapi aku tetap sebagai cowok menuruti apa
yang dikehendakinya dan bertanggung jawab atas keselamatan dirinya.
“Baik Rani. Kita pulang sekarang juga. Terima kasih kamu mau telah
kuajak ke sini. Terima kasih, walaupun aku telah ditolak, tapi kamu
tetap mau menjadi sahabatan dengan aku. Terima kasih semuanya.”
“Kamu baik sekali berkata seperti itu. Mungkin kamu mulai mengerti
aku. Tapi gap di antara kita terlalu jauh untuk kita lalui. Mari
sekarang pulang dan kita ngobrol yang ringan-ringan saja oke?”
“Terserah apa katamu Ran, aku sudah siap apapun itu. Mari kita pulang.”
Dan Andi pulang meninggalkan kepedihan yang akan mengikutinya seperti
air laut. Dan Rani pulang membawa kesepian dan belajar mengingat
bagaimana mencintai tanpa rasa sakit.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s