Manajemen Stress

Aku menyadari, untuk hidup secara lepas, aku harus tidak boleh
membawa beban waktu historisku. Namun, `hidup hanya untuk saat ini
dan sehingga tanpa beban’ bukan berarti mengabaikan atau menyangkal
masalah-masalah yang berasal dari masa lalu! Yang aku amati, jika aku
‘berusaha’ hidup saat ini dengan cara menyangkal masalah yang
kupunyai dari masa lalu ataupun mengabaikan masalah yang akan terjadi
di masa depan seolah-olah itu tidak akan terjadi, maka tetap saja
terjadi tekanan pada diriku bahkan bertambah besar dikarenakan
menjadi tambahan stress tersendiri dalam usaha merasakan hidup pada
saat ini. Oleh karena itu, untuk mencapai ‘aku ‘ yang hidup di saat
ini, dibutuhkan kesadaran bahwa PENCAPAIAN ITU TIDAKLAH DIPERLUKAN.
Bahkan mencapai `diri yang tanpa beban masa lalu/depan dan hanya
hidup di saat ini’ adalah mustahil adanya dikarenakan evolusi telah
menciptakan otak dalam sistem tubuh kita yang memiliki sistem memori
secara alami. Sehingga mustahillah kalau kita ingin menyangkal atau
berpura-pura hidup TANPA SELALU mengakses sistem memori tersebut.
Hidup dengan berusaha memblok akses dari sistem memori (walaupun
sementara saja) sama saja menyangkal sistem tubuh secara keseluruhan,
alias hidup secara sangat tidak alami! Dan apapun yang disumbat,
termasuk akses energi/informasi dari sistem memori di otak hanya akan
menyakiti tubuh karena kita telah memerintahkan tubuh kita sendiri
untuk menyangkal anggotanya sendiri. Bayangkan saja otak sebagai
pusat sistem intelegensi mengabaikan sistem memori yang juga masih
merupakan bagian otak tersebut secara fisik! Yang artinya otak
menyangkal otak! Apalagi ternyata kalau kita amati benar-benar
intelegensi tidak hanya dimiliki oleh sel-sel otak, juga dimiliki
oleh setiap sel tubuh (mahluk bersel satupun mempunyai kecenderungan
tersendiri dalam memilih cara bergerak atau cara makannya). Yang
artinya secara keseluruhan, SETIAP sel menyangkal diri masing-masing
di SELURUH sistem tubuh. Lihatlah kemustahilannya!

Namun hidup penuh dengan beban masa lalu atau/dan beban masa depan
jugalah bukan merupakan cara hidup yang baik bagi tubuh. Dikarenakan
cara hidup seperti itu juga seperti menyangkal KEADAAN kehidupannya
yang sedang berjalan saat ini, yang artinya secara harafiah si
pemilik tubuh tidak merasa puas dengan keadaan tubuhnya saat ini.
Selalu merasa keadaan ideal berada di masa lalu atau di masa depan,
yang mana hasil bersihnya tetaplah sama, yaitu menyangkal keadaan
sistem tubuh di saat sekarang ini!

Jadi, stress karena berusaha hidup di saat ini yang berusaha
menafikkan masalah-masalah dari masa lalu dan masa depan, dengan
stress belum dapat menerima keadaan diri saat ini karena merasa
terbebani dengan masa lalu atau masa depan adalah sama sifatnya.
Yaitu sama-sama tidak mau terima keadaan sistem tubuh apa-adanya.
Bahkan dalam ‘usaha’ menerimapun terdapat jebakannya! Yang arti
implisitnya jelas. Yaitu belum menerima betul oleh karena itu ingin
diperbaiki menjadi ‘lebih’ menerima. Ini adalah jebakan-jebakan
pikiran yang kacau dan tidak tenang. Dikarenakan tidak mengetahui dan
kurang mengamati cara kerja pikiran, sistem tubuh, dan energi pada
dirinya sendiri.

Sebelum saya lanjutkan, saya ingin menjelaskan mengapa saya
mengatakan menyangkal peristiwa kehidupannya juga berarti secara
harafiah menyangkal sistem tubuhnya sendiri. Itu dikarenakan reaksi
sistem tubuh sama dengan reaksi psikologis dalam menyikapi suatu
peristiwa. Sistem tubuh berfungsi dengan dua cara. Pertama secara
otomatis, seperti mengatur detak jantung, tekanan darah, sistem
saraf, dsb yang pasti masih akan berjalan walaupun tubuh mengalami
keadaan koma sekalipun. Dan yang kedua berfungsi sesuai dengan hasrat
kita. Misalnya, nafas selain berfungsi secara otomatis, juga dapat
kita atur sesuai dengan keinginan kita, begitu pula misalnya dengan
reaksi perut yang menjadi sakit ketika kita tertekan atau juga ketika
kita tertawa. Bagitu pula dengan perasaan tidak enak badan yang
biasanya kebanyakan disebabkan oleh kekhawatiran dan stress. Oleh
karena itu masuk akallah kalau saya katakan ketika kita menyangkal
peristiwa kehidupan dan menjadi stress, kita menyangkal jalannya
sistem tubuh kita sendiri dan tubuh kita akan ikutan menjadi stress!
Tidak ada bedanya misalnya perut yang sakit dengan diri kita yang
lagi tertekan. Setiap sel tubuh kita akan bereaksi sesuai dengan
hasrat kita. Dan bila hasrat kita tersebut mengandung energi yang
negatif, seringkali hasrat itu akan diwujudkan oleh tubuh sebagai
penyakit. Dari pengamatan yang sederhana ini, mestinya kita akan
mudah sekali menyadari ternyata kita dapat menganalogikan sistem
tubuh dengan sistem alam. Dimana bila kita menyangkal sistem alam
maka secara langsung kita menyangkal sistem tubuh.

Dengan kesatuan analogi antara sistem alam dengan sistem tubuh, kita
juga bisa menyadari, ternyata naif sekali bila kita menganggap diri
kita TERPISAH dengan alam semesta dan menganggap alam semesta itu
bukan diri/tubuh kita! Setiap sel tubuh yang kita miliki, mempunyai
garis turunan evolusi langsung dengan alam semesta. Contoh yang
paling konkrit (tapi agak mengerikan jika dibayangkan), adalah ketika
kita mati, semua sel tubuh itu akan kembali ke pangkuan alam, baik
yang masih hidup maupun yang sudah mati (sehingga bertransformasi,
misalnya menjadi makanan belatung dan menjadi bagian sel hidup dalam
diri belatung). Atau contoh ketika kita memakan hewan yang notebane
adalah merupakan sel hidup yang telah mati, sel tersebut menyatu
dnanya dengan dna anda dan bertransformasi lagi menjadi sel-sel hidup
yang baru di sistem sel tubuh anda! Sehingga sebenarnya sel hidup
ayam yang belum anda makan dengan sel hidup anda sendiri bisa menyatu
dan menjadi satu tubuh! Lagipula kalau dipikirkan lebih mendalam lagi
bila diurai dalam unsur kimiawinya, kita terdiri dari unsur-unsur
yang sama jenisnya yang banyak terdapat di alam. Misalnya karbon,
oksigen, nitrogen, air, protein, karbohidrat, dsb. Apakah kita
menganggap unsur karbon yang masuk ke tubuh kita menjadi hidup
kemudian setelah keluar lagi dari tubuh mati kembali? Apakah kita
menganggap sel hidup ayam yang telah kita cerna dan menjadi sel hidup
tubuh kita, setelah kita keluarkan melalui sekresi, sel hidup itu
mati kembali? Seharusnya kita mulai menyadari ketika melihat bahwa
reaksi terhadap alam semesta sama dengan reaksi tubuh, dapat
menyimpulkan alam yang hidup membalas mengekspresikannya kembali
kepada anda melalui reaksi tubuh yang anda alami. Sebab reaksi tubuh
adalah reaksi alam! Alias kita sering menyebutkannya sebagai reaksi
alami!

Jadi merupakan ilusi besar-besaran menganggap tubuh dan alam adalah
terpisah. Ilusi jugalah yang menganggap kita bisa menyangkal atau
menekan peristiwa alam tanpa berpengaruh pada tubuh. Dan selama ini,
kebudayaan modern yang lebih mementingkan tindakan melawan atau
menekan (kata halusnya memperbaiki) sangatlah tidak baik bagi tubuh
kita sendiri. Karena prinsip dasar dari kebudayaan modern adalah
penyangkalan keadaan saat ini. Idiom populer yang sangat disukai oleh
manusia modern yaitu menuju keadaan lebih baik. Itu hanyalah frasa
lain dari `keadaan sekarang belumlah begitu baik, maka mari kita
bertolak darinya menuju keadaan yang lebih baik’. Masalahnya dengan
jebakan ‘keadaan yang lebih baik’, kita tidak pernah sampai pada
suatu keadaan YANG lebih baik! Selalu ada keadaan yang ingin dikejar
karena dinilai lebih baik. Selalu ada target yang ingin dicapai!
Inilah kebanyakan inti dari kebudayaan modern. Yaitu usaha untuk
mencapai sesuatu. Saya tidak mengatakan kebudayaan modern itu jelek.
Saya tidak peduli dengan penilaian baik atau jelek. Yang saya amati
adalah kehidupan modern itu penuh dengan tekanan dan stress! Dan saya
hanya berusaha melihat dimana sumber sejati dari tekanan dan stress
tersebut. Tapi itu bukan berarti lagi-lagi menyangkal semua kemajuan
akibat budaya modern dan terus kita kembali ke budaya primitif! Tentu
bukan begitu. Karena menyangkal budaya modern sama saja menyangkal
kuadrat! Yaitu menyangkal kehidupan kita yang penuh sangkalan-
sangkalan. Di sinilah sebenarnya terletak trik dari cara kerja
pikiran kita yang begitu licin dan terlatih menyebabkan stress pada
tubuh. Kebudayaan modern adalah budaya yang percaya adanya pemisahan
yang signifikan antara kesejahteraan tubuh dengan peristiwa-peristiwa
alam. Dia mengira dengan memanipulasi alam (tanpa memikirkan konsep
kesatuan diri dengan alam karena budaya modern percaya dengan diri
yang terpisah), kesejahteraan tubuh/diri dapat tercapai. Yang intinya
adalah jangan puas dengan keadaan sekitar dan keadaan diri anda!
Jargon-jargon, raihlah kemajuan, bekerja untuk hari yang lebih baik,
anda dapat lebih baik, sampai pada jargon-jargon turunannya yaitu
kompetisi akibat mengejar kesempurnaan diri dari kekurangan diri,
mengakibatkan stress yang begitu meluas dan dianggap sudah sangat
lumrah hal itu terjadi. Jadi yang ironis di sini, satu-satunya
penerimaan sejati adalah budaya menerima stress dirinya adalah lumrah
adanya. Oleh karena itu tidak heran yang bertahan selalu di dunia
modern adalah stress!

Saran ini mungkin terdengar sangat radikal di telinga anda. JANGAN
MEMPERBAIKI DIRI! Jika anda ingin bahagia dengan tubuh anda dan bebas
dari stress, janganlah memperbaiki diri. Jangan pula BERUSAHA
menerima diri anda juga. Kemudian, jangan hidup di masa lalu atau
masa depan, sekaligus jangan BERUSAHA hidup di saat ini. Dan yang
terpenting, jangan mematuhi kata-kata ‘jangan’ di paragraf ini
sekaligus!

Nah kontradiksi bukan? APAPUN yang coba anda lakukan untuk mengubah
situasinya tetap akan berupa penyangkalan keadaan yang menghasilkan
reaksi tubuh yang negatif! Bahkan berdiam diri tidak melakukan apa-
apa juga termasuk penyangkalan diri karena anda telah memutuskan
untuk MELAKUKAN diam diri tersebut. Semua yang coba anda lakukan
(baik yang berdiam diri sekalipun) telah pasti memiliki motif. Dan
motif itu adalah selalu penyangkalan keadaan saat ini. Motif selalu
menuju kepada target. Dan target adalah sesuatu yang lebih baik
daripada sekarang. Target ini akan ada selalu ada di kepala anda
ketika anda mencoba segala sesuatu apapun, baik yang paling halus
sekalipun tidak kentaranya!

Rahasianya adalah, sejauh yang saya amati, hasrat selalu terikat
dengan sistem ruang dan waktu. Artinya untuk mewujudkan atau
menyatakan hasrat dibutuhkan ruang untuk ekspresinya (yang artinya
selalu membutuhkan energi) dan dibutuhkan waktu untuk membuat hasrat
itu berproses melahirkan hasrat yang lain. Ya, hasrat selalu
melahirkan hasrat. Yang selalu menjadi ilusi di sini adalah kita
selalu merasa mempunyai hasrat yang unik dan bersifat individu.
Padahal pada kenyataannya hasrat kita tidaklah berbeda dengan hasrat
alam. Apa bedanya sih mengatakan tubuh kita mempunyai hasrat dengan
alam yang mempunyai hasrat? Tokh tubuh dan alam adalah kesatuan. Dan
di sini letak masalahnya. Jika anda selalu merasa hasrat anda berbeda
dengan hasrat alam (yang berarti anda sedang mempertahankan diri dan
menyangkal peristiwa alam yang anda sering sebut sebagai musibah atau
bencana, pribadi maupun bukan), hasrat alamlah yang selalu menang
karena memang yang ada hanyalah hasrat alam (yang sejatinya hasrat
anda yang sebenarnya) sehingga anda selalu dalam posisi tidak
menerima keadaan. Akibatnya secara harafiah anda akan selalu berusaha
menyakiti (mengubah keadaan) tubuh memaksa tubuh supaya tidak selaras
dan sesuai dengan alam. Dan apa yang tidak selaras dengan alam akan
dipaksa oleh alam untuk menjadi seimbang dan selaras lagi dengannya
oleh hukum sebab-akibat. Nah mengapa kita bisa melakukan hal seperti
itu? Hal ini dapat ditinjau dari sudut pandang bahwa ‘kita’ bukan
berasal dari dunia ruang waktu. Kita tidak berasal dari dunia sebab-
akibat ini. Bukti yang paling kokoh tentang ini adalah adanya
kematian. Kemudian adanya dunia sebab-akibat adalah supaya cocok
dengan keberadaan kita. Namun bila diri kita tidak berformasi manusia
lagi, tidak ada jaminan yang pasti, kita tetap hidup dalam dunia sebab
-akibat. Kesimpulan ketiadaan jaminan/kepastian tersebut memang
diambil karena semata-mata bentuk fisik yang menghasilkan pikiran
tidak akan sampai kepada logika non dualitas kehidupan.

Anda bukanlah pikiran anda, karena pikiran akan dipastikan hilang
ketika otak mati sedangkan anda menjadi potensi yang ada. Mungkin
memang tepat kalau dikatakan kita semua adalah potensi dalam bentuk
yang paling murni. Potensi yang menunggu diekspresikan dalam bentuk
apapun, seperti dalam bentuk kehidupan sekarang ini. Ketika potensi
mewujud dalam bentuk energi di kehidupan ini, maka energi itu akan
patuh pada hukum sebab-akibat, sebab memang demikianlah cara kerja
energi dalam bentuk kehidupan sekarang ini. Jika tidak, potensi
tersebut akan menjadi energi model kehidupan yang lain, yang tidak
bisa dinalar dan tidak ada kaitan apapun dengan kita-kita di sini.
Kita pada bentuknya yang murni, sebagai potensi, tentu seharusnya
bisa melihat segala kemungkinan ruang dan waktu di model kehidupan
ini. Namun karena sedang terekspresikan dalam bentuk tubuh yang
padat, potensi telah turun menjadi getaran energi yang sangat lambat
dan mengikuti secara sangat detil setiap momen pada ruang dan waktu
di kehidupan ini. Nah potensi inilah yang menjadi tuan yang
sebenarnya atas tubuh kita. Jika kita menyebut diri sebagai ‘aku’,
itu masihlah ego, bukan diri sejati. Bukan ‘aku’ yang menjadi tuan,
itu ilusi! Yang menjadi tuan adalah potensi! “Aku” masihlah dalam
bentuk pecahan-pecahan memori dan pikiran. Sedangkan potensi adalah
yang serba mencakup!

Itulah mengapa, setiap KEHENDAK BEBAS terasa seperti PENYANGKALAN
diri! Setiap hasrat kita terasa seperti melawan hasrat alam! Dan jika
kita berpikir lebih jauh lagi, ujung yang berlawanan adalah
deterministik oleh alam. Artinya secara sekilas dan ini yang kita
sangkal mati-matian, kita bisa merasakan masa depan kita terikat oleh
determinisme. Sebenarnya dua-duanya adalah sama dan sebangun.
Memberontak dari determinisme dengan menuruti saja determinisme diri
anda sama-sama mematuhi hukum sebab-akibat. Hukum sebab-akibat itu
sendiri adalah merupakan determinisme mutlak. Namun karena kita tidak
begitu menyadarinya, maka yang kita kira sebagai kehendak bebas pada
kenyataanya TIDAK DAPAT TERLEPAS SAMA-SEKALI oleh hukum sebab-akibat.
Alias dengan kata lain, determinisme yang tidak disadari adalah
dirasakan sebagai kehendak bebas! Jadi, memang terbukti, apapun
reaksi kita, akan pasti sama dengan reaksi alam dan reaksi tubuh.
Apapun hasrat kita, sebebas apapun hasrat tersebut, masih merupakan
hasrat alam bagi kita! Rasa sakit disebabkan karena hasrat kita
sering sekali berubah-ubah tidak menetap dan tubuh kita terus-terusan
terkena hukum sebab-akibat. Hukum sebab-akibat menyebabkan rasa
sakit! Yang sebenarnya disebabkan oleh pertahanan diri kita. Dan
pertahanan diri disebabkan oleh potensi yang berhasrat untuk mewujud.
Mirip seperti analoginya tangan kita mendorong batu yang sangat
berat. Butuh usaha yang keras dan merasakan dulu rasa sakit pada
tangan-lengan supaya potensi dari batu itu terwujud. Yaitu potensi
terdorong!

Jadi, melalui perangkat keras hukum sebab-akibat dan perangkat lunak
hasrat alam yang deterministik, potensi mewujudkan dirinya menjadi
ekspresi yang tak terbatas yang penuh detil dan makna. Penjelasan
panjang lebar ini masih mengasumsikan alam dunia waktu yang berbeda
dengan ‘alam’ dimana potensi atau jiwa kita berada. Namun hendaknya
kemudian kita bisa terlepas dari konsep pemisahan ini dan bergerak
lebih lanjut, dimana alam dipahami sebagai realita tunggal (tempat
tinggalnya potensi) yang mewujud menjadi alam dunia waktu beserta
potensi-potensi yang terwujud secara fisik. Jadi, hasrat alam adalah
hasrat realita tunggal (potensi) yang terkurung oleh hukum sebab-
akibat. Dan hasrat potensi adalah hasrat murni yang tidak terkurung
oleh hukum sebab-akibat. Dan jangan dipahami bahwa hasrat potensi
berkonflik dengan hasrat alam! Namun pahamilah sebagai kenyataan
bahwa rasa sakit tidaklah dapat dihindari disebabkan karena
karakteristik hukum sebab-akibat dan karakteristik potensi diri kita.
Tujuan kita hidup memang bukan untuk menghindari rasa sakit,
melainkan memaksimalkan ekspresi dari potensi yang kita miliki. Dan
buatlah rasa sakit sebagai partner anda dalam terus berekspresi, saya
yakin, pada suatu waktu anda sadar bahwa rasa sakit itu tidak perlu
dicari, dipertahankan, dibuang, melainkan dijadikan keniscayaan
akibat adanya hukum sebab-akibat. Anda tidak perlu buang waktu dan
tenaga anda untuk memanajemeni rasa sakit dan stress anda. Manajemen
stress justru akan menaikkan sensitivitas rasa sakit Anda. Seharusnya
anda akan tidak peduli lagi apakah akan makin banyak merasakan rasa
sakit atau makin berkurang. Yang terpenting bagi anda adalah
menikmati permainannya! Bahkan pemain depan sepak-bolapun tidak
berkeberatan untuk dijegal jatuh. Asalkan potensi untuk mencetak-
golnya masih hidup di benaknya. Apalagi dijatuhkan di kotak penalti!
Itu adalah berkah terselubung!

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s