Menyatukan Pecahan Diri

Dalam perjalanan hidup ini, kita memiliki kebiasaan untuk selalu mengaitkan diri kita dengan sesuatu penilaian maupun pelabelan. Kebiasaan ini telah meresap di segala dimensi kehidupan diri kita. Mungkin hal ini tidak begitu kita sadari benar. Namun, herannya, ketika menghadapi persoalan hidup, serta-merta kita membutuhkan suatu pegangan. Suatu acuan. Suatu arah. Ataupun suatu pengalaman/pengetahuan. Ketakutan dan stress juga begitu alami meresap setiap kita mencoba menyelesaikan suatu masalah. Frasa ‘penderitaan’ merupakan frasa yang mengungkapkan pengalaman yang tidak enak tersebut dalam menghadapi masalah kehidupan. Bahkan terbentuknya ‘masalah’ itupun menyiratkan ketidakberdayaan kita dalam menentukan tujuan-tujuan hidup kita sendiri. Bagaimana cara kita menikmati kehidupan. Bagaimana cara kita mengejar kesenangan maupun menghindari penderitaan. Masalah akan terus mendera kita. Ketakutan dan stress akan menjadi teman setia kita. Penderitaan tanpa disadari malah akan tetap menjadi tujuan favorit hidup diri kita. Karena masalah akan selalu menyebabkan perubahan nilai-nilai. Dan sayangnya perubahan/benturan nilai seringkali diiringi/melalui jalan kekerasan.

Dan memang kita semua telah/terlalu terbiasa dengan yang telah diungkapkan oleh paragraf di atas tersebut. Rasanya saya sendiri pengen berteriak melepaskan belenggu kekerasan yang begitu ulet mengelilingi kehidupan kita. Namun tak bisa. Karena saya sendiri menyukai kekerasan. Sama seperti anda semua. Dan hendaknya mulailah kita bertanya. Saya mengajak anda semua untuk mulai bertanya ke diri kita masing-masing. Darimanakah semua kekerasan ini muncul? Apakah kekerasan hidup juga merupakan hakikat kehidupan, seperti juga kelembutan atau kedamaian atau cinta yang telah dipercaya sebagai hakikat kehidupan? Apakah ada gunanya juga kita bertanya yang juga sekaligus menyelidiki perihal kekerasan ini? Jikalau ternyata kekerasan hanyalah sisi relatif dari cinta, lalu apakah dengan demikian penderitaan mendapatkan justifikasinya? Mendapatkan alasan hakikinya untuk selalu terombang-ambing bersama-sama dengan kebahagiaan? Saya sendiri merasa semua ini relatif. Semua ini hanya masalah bagaimana kita mau memaknainya. Semua ini bisa dijadikan sebagai pelajaran maupun aktualisasi diri. Penderitaan maupun kebahagiaan sama-sama memiliki kemampuan mencerahkan bagi manusia. Romantis sekali! Hanya saja, satu-satunya yang tetap menjadi masalah sesungguhnya adalah mendapati diri kita yang terkoyak-koyak dalam gelombang penderitaan-kebahagiaan, kesedihan-kesenangan. Dan saya akui pula, diri saya lebih terkoyak ketika mendapatkan kebahagiaan. Oleh karena itulah saya lebih sering menyabotase diri saya sendiri supaya tidak sering-sering mendapatkan peristiwa-peristiwa yang membahagiakan.

Nah, dalam tulisan ini saya mencoba memperhalus koyakannya. Menyatukannya sedikit-demi sedikit. Mencari penyebab-penyebab koyakan tersebut. Tapi saya di sini bukanlah diumpamakan sebagai pemulung koyakan. Bukan pula sebagai pemungut pecahan diri. Masa itu sudah lewat. Sebab saya sedang tidak depresi sehingga sampai perlu mengajak pembaca untuk ikut serta memungut pecahan diri saya (yang notabene memang mirip dengan pecahan anda-anda juga). Bukan-bukan itu tujuan saya. Saat ini saya sedang dalam keadaan sehat mental dan jasmani. Dan justru di saat sehatlah baik sekali kita bisa mengadakan penyelidikan ini. Alasannya, ketika sehatlah, koyakan itu menjadi tidak begitu jelas. Pecahan diri kita sedang berada di bawah sadar. Sehingga sangat baik untuk mengetahui asal-mula dari keterpecahan diri. Ketika lagi sakit, kita tidak bisa melihat asal-mulanya lagi. Karena jelas diri kita sedang terpecah/terkoyak

Saya masih ingat pengalaman ketika saya kecil dan masih di SD kelas dua. Ketika itu guru sedang membagikan hasil ulangan. Saya saat itu sudah mengerti saya hanya mendapatkan nilai 2. Namun lucunya, ketika itu saya tidak merasa minder. Kemudian, saya juga melihat melalui jendela, ibu saya yang akan menjemput saya pulang karena saat itu pelajaran sebentar lagi akan berakhir. Malah dengan entengnya saya melambai-lambaikan kertas ulangan saya dan sedikit berteriak tertawa-tawa murni alasannya karena saya hanya mendapatkan nilai 2 saat itu. Tidak ada perasaan bersalah. Tidak ada perasaan takut dimarahin. Tidak juga perasaan tertekan atau iri dengan anak lain yang lebih mendapatkan nilai bagus. Ibu saya juga akhirnya ikut tertawa-tawa melihat kepolosan saya. Kepolosan. Orang dewasa (seperti kita saat ini) tahu secara intuitif (karena dirinya juga pernah menjadi anak kecil), kebahagiaan macam seperti ini, dan ini disebut sebagaikepolosan. Dari pengalaman seperti ini jugalah yang sebenarnya memberikan warna kebahagiaan dalam pengalaman ibu saya sebagai orang tua. Terus, ketidaktahuan/kepolosan saya masih berlanjut, sampai suatu saat ayah saya mulai menerapkan kekerasan pada diri saya. Sebenarnya bukan kekerasan yang terutama membuat saya menjadi mulai penakut, minder dan sebagainya. Tapi penerapan standarisasi nilai yang mulai diterapkan oleh ortu saya dan diganjarkan melalui kekerasan maupun hadiah-hadiah. Itulah pelajaran pertama saya. Sabetan-sabetan sapu lidi masih bisa saya rasakan kalau saya mau hingga sekarang. Bukan sakit fisiklah yang teringat di memori saya, melainkan perlawanan pertama/awal-awal saya terhadap pengharapan, aturan, standarisasi, sopan-santun, prestasi, dsb, dari ortu saya. Itulah yang membuat saya kesulitan. Itulah pertama kali saya mulai memeluk konsep keselamatan (survival). Disitulah saya mulai memetakan, mana-mana yang mendukung keselamatan saya sebagai anak kecil, mana-mana yang masih bisa saya lawan, dan mana-mana yang saya benar-benar harus menghindari/mematuhinya. Lama-kelamaan, perlawanan dan kepatuhan berjalan seiring dengan munculnya sifat penakut, minder, cari aman, dsbnya. Perlu diketahui, di sini saya bukan ingin mengkontraskan nilai-nilai (takut itu jelek, pemberani itu bagus, minder itu jelek, pede itu bagus, dsb). Tapi saya ingin menunjukkan bahwa pemetaan yang saya lakukan asli/murni dari tarikan antara pembentukan diri saya yang sangat saya inginkan (yang berupa idealisme seperti memiliki prestasi yang bagus, dapat bermain terus-menerus, dsb), dengan tarikan atau lebih tepat melatih diri untuk merasa bersalah, minder, dsb, atas perbuatan-perbuatan yang tidak disukai oleh ortu. Lama-kelamaan pula, diri saya mulai nempel pada tujuan idealisme seperti cerita kepahlawanan, prestasi sekolah yang bagus, mainan-mainan yang canggih, bahkan kesombongan-kesombongan gaya anak kecil. Dan semakin saya nempel dengan hal-hal seperti itu, semakin saya bisa merasakan sakitnya tidak mendapatkan hal-hal seperti itu lagi. Dan dari hal-hal yang mulanya saya tiru dari orang dewasa, mulai mendapatkan justifikasinya dalam pelampiasan-pelampiasan rasa sakit (tentu melalui proses ‘pembelajaran’ dari televisi, majalah, game, teman-teman, ortu, orang dewasa lain, dsb).

Untuk lebih jelas lagi, contoh yang paling simpel akan saya perlihatkan dalam ilustrasi berikut ini.

Seorang anak saat itu pertama kali menunjukkan hasil ulangannya kepada ibunya . Kebetulan si anak mendapatkan nilai 8 (bagus) dalam ulangan matematikannya tersebut. Si ibu menjadi senang dan terus memuji-mujinya secara agak berlebihan (maklum ibu muda baru senang-senangnya punya anak SD). Kemudian, si anak ternyata pada kesempatan-kesempatan beberapa ulangan berikutnya nilai-nilainya tidak pernah di bawah nilai 8. Ibunya secara terburu-buru karena senang, menilai anaknya jenius/ber-IQ tinggi. Dan mulailah si anak dipuji-puji setinggi langit.

Oke, saya stop dulu ilustrasinya sampai di sini. Apa yang telah dipelajari dari sikap ibunya oleh si anak tersebut? Si anak berdasarkan pola sikap dan cara berpikir ibunya mulai belajar untuk terikat dengan nilai bagus (sama seperti ibunya yang telah terikat dengan hal-hal lain). Saya lanjutkan ilustrasinya.
Suatu saat ketika mengerjakan ulangan, si anak menyadari dia mengalami kesulitan dalam mengerjakannya. Padahal dia sudah mati-matian belajar (ingat! Anak ini sudah terikat dengan nilai bagus). Si anak menjadi takut nanti hasil ulangannya jelek. Si anak juga sudah menyadari alternatif yaitu menyontek saja, untuk menyelamatkan (konsep keselamatan) ulangannya. Namun keinginan menyontek terbentur dengan kebanggaan diri akibat dari pujian-pujian ortunya, dan dari moralitas yang diajarkan oleh guru dan ortunya. Maka akhirnya si anak tetap memutuskan untuk menyontek saja. Namun ketika itulah untuk pertamakalinya, si anak merasakan rasa bersalah.

Dari ilustrasi tersebut tersirat bahwa, diri anak itu terkoyak dan untuk menutupinya si anak menimbulkan rasa bersalah dalam dirinya. Sampai di sini saya harap saya sudah menunjukkan dengan jelas hasil dari gelombang kelekatan akan kebahagiaan yang berubah menjadi penderitaan pada diri kita. Dan sengaja saya berikan contoh masa kecil karena pada saat-saat itulah kita memulai pada segala hal.

Lalu hal-hal seperti ini berlanjut terus sampai kita dewasa dan sampai liang kubur. Jika kita mau pikir lebih dalam dan mengaitkannya dengan ilustrasi masa kecil seperti di atas, maka sesungguhnya kejahatan hanyalah hasil dari usaha yang keras untuk tetap lekat pada kebaikan. Mengapa disebut sebagai usaha yang keras? Karena kelekatan pada hal-hal yang baik ketika gelombangnya terlalu besar yang artinya ada suatu saat kebaikan/idealisme tidak dapat diterapkan, maka dirinya akan terpecah, dan penyatuan pecahan-pecahan tersebut membutuhkan usaha yang keras/dengan kekerasan. Dan kekerasan inipun disebut juga sebagai kejahatan. Persis seperti ilustrasi anak kecil tadi yang akhirnya tidak dapat lagi mencapai hasil ulangan yang diinginkan, namun karena dirinya sudah terlekat dengan tujuan hasil ulangan yang bagus, maka akhirnya anak itu memutuskan untuk merubah nilai moralitasnya dengan harga yang harus dibayarnya yaitu rasa bersalah dan keterpecahan dirinya untuk seterusnya (mungkin sampai harga dirinya pulih kembali). Dengan demikian, bagi dirinya yang terpenting adalah dirinya tetap terlekat pada label anak jenius/pintar. Inilah yang dimaksud dengan usaha keras. Yaitu merubah nilai moralitas dengan harga yang berat supaya bisa tetap melekat pada hal-hal/label-label yang idealis/baik.. Harga yang harus dibayar bisa saja bukan hanya rasa bersalah. Bisa juga minder, takut, tidak pede, intovert. Bahkan juga keberanian, nekat, keras kepala, kepura-puraan, dlsb.

Tulisan ini juga saya persembahkan bagi Vincent Liong teman saya yang terkasih yang dianggap indigo. Dan juga semua anak yang diberikan pelabelan yang telah mengikat anak-anak tersebut. Juga untuk kita sendiri yang tanpa kita sadari juga sering dilabelkan macam-macam oleh orang lain yang kemudian kita menjadi terlekat dengan pelabelan tersebut. Pujian memang memabukkan. Apalagi pujian yang telah menjadi label diri kita dimana kita terikat dengannya. Namun saya tidak berhenti sampai kesimpulan di sini saja. Sesuai dengan misi kompatiologi yang dibawa oleh Vincent si anak yang dianggap indigo, maka mari kita lanjutkan penyelidikan pada paragraf berikut ini.

Mungkin telah terlihat solusi termudah dari semua persoalan ini adalah menjadi tidak terikat dengan pelabelan. Tapi hal ini mudah mengatakannya daripada melaksanakannya. Dan tetap saja paradoksnyausaha untuk melepaskan lekatan pada label malah membuat kita terlekat dengan usaha tersebut yang ujung-ujungnya ketika kita tidak sanggup lagi berusaha seperti itu, kita kemudian akan merasakan lagi tarik-menarik keinginan diri kita (pemecahan diri kita) antara mempertahankan usaha tersebut (yang idealis) atau merubah lagi paradigma beserta harga yang harus dibayarnya (misalnya menjadi pragmatis, pendiam, menarik diri, masa bodoh, topeng kejiwaan, dlsb). Lalu sebagai antisipasi hal ini kitapun mengambil kesimpulan sebaiknya jangan diusahakan, melainkan merupakan kesadaran sendiri yang pada saatnya datang untuk lepas dari keterlekatan (ingat, bukan melepaskan, karena menyiratkan usaha). Lalu kita akan terpancing lagi bertanya, kapan kesadaran itu akan datang? Dan bilamana kesadaran itu akan datang? Benarkah satu-satunya cara supaya terbebas dari pertentangan keinginan (pemecahan diri) adalah dengan terlepas dari keterlekatan? Hidup seperti apakah lepas dari kelekatan itu? Kesempuranaankah? Pencerahankah? Menjadi bijakkah? Di sinilah biasanya konsep spiritualisme masuk. Ingat lho… saya lagi-lagi tidak sedang mengontraskan antara spiritualisme dengan kompatiologi. Karena yang saya tuju sebagai bahan penyelidikan adalah konsep-konsep, yang pada konteks ini dilabelkan sebagai konsep-konsep spiritualisme. Mungkin saya harus menjelaskan lebih lanjut bahwa, konsep-konsep sejatinya hanya merupakan kumpulan-kumpulan ide tentang sesuatu (dalam hal ini spiritualitas), bukan spiritualitas itu sendiri. Karena memang spiritualitas sejatinya adalah pengalaman hidup yang unik. Konsep hanyalah usaha untuk generalisasi saja. Saya berikan sedikit contoh. Banyak konsep spiritualisme menyarankan supaya bermeditasi sambil menunggu kesadaran datang (yang tanpa usaha tersebut). Namun karena hanya mengikuti konsep tanpa benar-benar mengerti bahwa asal-mula konsep itu muncul beserta keunikan situasinya, maka banyak orang hanya mengeneralisasikan saja kalau ikut metoda konsep tersebut maka hasilnya akan sama bagi mereka (yaitu berupa kesadaran yang datang/diharapkan). Padahal melakukan suatu metoda dari suatu konsep tanpa mengenal diri sendiri adalah merupakan suatu tarik-menarik antar dalam dirinya sendiri. Mengapa saya katakan seperti ini? Karena ciri khas dari mengikuti konsep adalah komitmen. Dan komitmen adalah bukti langsung bahwa yang dilakukannyatidak begitu sesuai dengan keinginannya sehingga sampai harus membuat komitmen. Sedangkan mungkin ada pembaca yang sudah menyadari bahwa spiritualitas itu murni pengalaman hidup yang unik. Pengalaman hidup yang unik ini akan sulit dilabelkan hanya dengan salah satu polaritas saja (misalkan dianggap pengalaman bijaksana, mengalami pencerahan, dlsb). Karena apa? Karena seperti yang telah kita ketahui, seluruh pengalaman hidup adalah unik dan karena itu seluruh pelabelanpun/sifat/kriteria tercakup (misalnya dapat dipastikan pengalaman hidup kita tidak hanya yang bijak-bijak saja melainkan perbuatan yang bodoh dan jahatpun tercakup). Dan saya yakin, orang-orang yang sudah berumur mengerti hal ini ketika mereka mengenang masa lalu mereka. Dan dari situlah sumber dari segala sumber ajaran/konsep spiritualisme yang ada di bumi ini.Dari mengenang masa lalu.

Jika begitu, apakah dengan demikian keterlekatan dan keterpecahan diri adalah suatu keniscayaan? Sama seperti ketidakterlekatan dan penyatuan diripun merupakan keniscayaan? Mereka hanyalah seperti koin yang sama tapi berbeda permukaan? Melepaskan diri dari kelekatan menyebabkan pertentangan, demikian pula mempertahankan kelekatan. Bahkan menyatukan diripun menimbulkan pertentangan diri juga atas kenyamanan status quo diri yang terpecah sebelumnya. Apalagi mempertahankan keadaan diri yang terpecah. Atau bahkan mempertahankan konfigurasi pecahan diri tertentu! Inilah terlihat bahwa keinginan kita dari melepaskan-mempertahankan sesuatu hanyalah mempunyai arti cuma merubah konfigurasi pecahan diri kita belaka. Alias lagi-lagi penderitaan akibat ayunan emosi dari pecahan diri kita akan tetap menjadi teman setia kita.

Ada fenomena pemikiran menarik dari kasus pelabelan indigo pada diri Vincent Liong. Saya sendiri tidak begitu jelas inventarisasi/standarisasi dari kumpulan-kumpulan sifat seperti apa yang disebut sebagai indigo. Banyak hal dan variabel yang berkembang dalam wacana kumpulan sifat indigo seperti warna aura, dapat melihat roh, dapat meramal, menguasai bahasa asing, bersikap dewasa sebelum waktunya, dlsb. Namun dalam kasus Vincent Liong, saya mulai menyadari bahwa kompatiologi merupakan salah satu ekspresi reaksinya (atau aksinya) terhadap pelabelan indigo. Vincent pernah mengatakan dia menganggap (dan banyak juga orang yang menyadarinya) sifat-sifat yang diinventarisir sebagai sifat indigo banyak terdapat pada anak kecil, terutama balita dan batita. Dan beberapa masih dapat diamati rata-rata sampai anak SMP. Tapi kebanyakan dari kita menganggapnya sebagai kepolosan. Saya rasa memang tetap ada perbedaan antara anak-anak yang terlalu mencuat sifat indigonya (kadang sampai dewasa) dengan anak-anak biasa yang hilang sifat keindigoannya pada saat mulai masuk sistem sekolah. Namun bagi saya hal ini tidak menutup makna yang ingin ditunjukkan oleh Vincent bahwa indigo akhirnya hanyalah pelabelan. Kumpulan sifat-sifat seperti indigo ternyata pernah dimiliki oleh sebagian diri kita. Dan wajarlah dengan sifat alam yang penuh variasi ini (variasi dna), ada anak-anak yang lebih terlihat dan lebih tahan lama sifat indigonya. Hanya saja, ternyata lama tidaknya si anak memiliki sifat-sifat indigo juga tergantung (selain dari kekuatan anak itu sendiri) dari sistem pendidikan sosial kolektif yang diterapkan oleh lingkungan masyarakat. Inilah salah satu hal yang terpenting yang ingin ditunjukkan oleh si Vincent dalam ilmu kompatiologinya.

Berdasarkan konteks dan latar belakang lingkungannya (yang membuat dirinya menjadi seperti memiliki kelebihan indigo), anak ini (Vincent Liong) memiliki kesempatan yang bagi yang lain sangat langka untuk dapat tidak sejalan dengan sistem kolektif yang sudah ada. Kemampuan untuk dapat tidak sejalan ini selain berasal dari garis keturunan (dna), juga sebagaian besar berasal dari kesempatan yang terbuka dari jalan kehidupan, konteks dan latar belakang yang disediakan oleh dunia untuk dirinya. Dan kesempatan ini tidak disia-siakan oleh Vincent yang salah satu hasil penemuannya adalah Kompatiologi. Pembahasan mengenai kompatiologi sudah banyak dibahas ditulisan awal saya di KMA ini dan juga sudah dijelaskan secara lengkap dan di-up to date oleh si Vincent sendiri. Jadi paragraf berikutnya saya akan lanjutkan lagi penyelidikan kita dalam konteks penyatuan pecahan diri ini.

Munculnya pelabelan indigo ataupun pelabelan yang lain seperti autis, jenius, debil, anak emas, dlsb, sebenarnya semuanya berasal dari sistem kolektif yang berlaku saat ini. Sistem kolektif seperti apa? Ya itu, sistem yang sesungguhnya telah saya jelaskan panjang lebar di beberapa paragraf sebelum ini. Sistem yang memproduksi dualitas kelekatan pada konsep-konsep. Ketidaklekatan maupun kelekatan seperti yang telah kita bahas sama-sama menuju keterpecahan diri. Usaha untuk lepas maupun tidak berusaha untuk lepas sambil menunggu kesadaran datang tetap saja secara implisit mensyaratkan komitmen yang lagi-lagi menyiratkan ketidaksesuaian dengan keinginan (tarik-menarik/keterpecahan diri juga). Melakukan gabungan kedua hal itupun hanya akan menghasilkan gelombang/dualitas kehidupan yang sangat kita kenali. Bahkan spiritualitas akhirnya hanya merupakan hikmah dari kenangan masa lalu. Apakah itu berarti tugas kita yang tersisa hanyalah menjalani saja? Rahasianya sebenarnya terletak pada masa kecil kita (seperti sebagian yang telah diuraikan pada beberapa paragraf awal). Munculnya pelabelan sesungguhnya merupakan refleksi dari harapan-harapan semu kita akan kesempurnaan. Yang mana kesempurnaan yang dimaksud sama-sekali tidak menggambarkan gelombang/dualitas kehidupan. Tetap akan ada pelabelan seperti indigo, jenius, pintar, cerdas, baik, bodoh, labil, debil, autis, pas-pasan, dlsb, yang semuanya mau menggambarkan seluruh usaha kita untuk mencapai kesempurnaan. Kita rame-rame mengagumi kecerdasan, kejeniusan, keindigoan, keemasan, hanya karena kita sangat-sangat merindukan kesempurnaan. Saya rasa akan masih sangat sulit bagi sebagian besar balita yang bisa menghindari pelabelan tersebut dan dengan demikian bisa menghindari pula luka akibat terlalu lekat dengan label-label yang selalu menarik-narik atau memecah-mecahkan dirinya. Kalau masih ada dari anda yang penasaran dimana sih posisi yang ingin diisi oleh kompatiologi. Maka saya akan langsung mengatakan, di sinilah salah satunya kompatiologi akan bekerja (tentu masih ada bidang-bidang yang lain). Bersama Vincent dan juga orang-orang lain yang telah menyadari keterpecahan dirinya dan ingin menyelidiki dari nol (bukan dari acuan konsep tertentu).

Mari kita lanjutkan penyelidikannya. Setelah kita mengetahui keadaan yang serba mengambang seperti ini. Tentu pilihan yang tersisa hanyalah tinggal menjalani kehidupan apa-adanya saja. Bukan begitu? Namun kalau begini, jebakan status quo telah menganga lebar. Karena apa yang disebut sebagai menjalani apa-adanya hanyalah kata lain dari tetap menjalani hidup dengan metoda dan konsep yang dulu, alias tidak ada perubahan apapun! Dan justru di sinilah poin pentingnya! Orang jarang konsisten dengan apa yang dijalaninya hanya karena kekurangan integritas diri (alias memang karena keterpecahan dirinyalah dia mencari hal yang lebih baik, sehingga konsekuensinya dia menjadi kurang konsisten). Namun integritas diri tidak akan terbentuk kalau dirinya tertarik/tarik-menarik ke segala-arah akibat ingin membentuk jati diri/integritas diri dari suatu konsep yang sudah ada. Jadi, bukanlah pasrah yang saya sarankan. Karena pasrah masihlah merupakan reaksi pasif, yang berarti masih melekat pada konsep (yaitu konsep pasrah). Melainkan berkomunikasi empati dengan alam semesta. Empati di sini artinya sama-dengan. Komunikasi empati adalah komunikasi ‘sama-dengan’. Jadi berkomunikasi empati dengan alam semesta (semesta ini juga berarti dengan sesama manusia juga), berarti terhubung (komunikasi) ‘sama-dengan’ atas alam semesta. Mari kita coba terapkan definisi di atas dengan suatu contoh kasus.

Diri yang terpecah, berarti logisnya diri kita tersebar dimana-mana di alam semesta.

Mari kita selidiki satu-persatu apa yang sesungguhnya terjadi:

Pertama. Menyatukan diri terlihat seperti perbuatan sia-sia, karena selalu ada tarikan kepentingan dan keinginan dari dalam diri kita sendiri, alias selalu timbul aksi-reaksi yang memang alami dan memang merupakan hukum alam.

Kedua. Diri yang terpecah bila disadari sesungguhnya adalah akibat dari peristiwa-peristiwa yang terpisah dalam lingkup ruang-waktu kehidupan diri kita.

Ketiga. Sebaran pecahan diri kita banyak yang tersimpan di memori masa lalu, dan banyak juga yang merupakan bentuk kekhawatiran akan masa depan.

Keempat. Usaha yang kita lakukan tanpa kita sadari juga ikut andil memperbanyak pecahan diri kita (atau usaha memperbanyak tekanan dan tarikan kepentingan/keinginan yang kita rasakan).

Kelima. Pecahan diri itu memang nyata ada karena kita membutuhkannya untuk ekspresi dan pelabelan diri juga alam semesta. Dan kecenderungannya bukan semakin sedikit melainkan semakin banyak seiring dengan usaha yang kita lakukan di bumi ini dan seiring dengan penuaan diri kita (sehingga makin banyak pengalaman yang kita miliki, makin banyak kesempatan peristiwa-peristiwa yang dapat memecah-mecah diri kita).

Lima poin tersebut dapat disimpulkan bahwa pecahan diri kita tersebar di segala peristiwa dalam lingkup ruang waktu alam semesta. Singkatnya, pecahan diri kita tersebar di alam semesta. Komunikasi empati diri kita dengan alam semesta adalah hubungan diri kita yang ‘kita sama-dengankan’ dengan alam semesta.Dengan ‘menyama-dengankan’ kita tidak berusaha mengambil pecahan diri kita melainkan memetakan (secara harafiah) diri kita terhadap pecahan diri kita di ruang waktu alam semesta. Jadi ilustrasi mudahnya adalah seolah-olah kita memiliki peta yang menunjukkan dimana letak semua pecahan diri kita di alam semesta. Lalu kita tidak mengambil pecahan-pecahan tersebut, melainkan menyamadengankannya konsep diri kita dengan pecahan yang nyata berada di alam semesta. Inilah komunikasi empati sesungguhnya dengan alam semesta. Inilah juga berarti mirip dikatakan sebagai pembesaran ego/diri sebesar pecahan ego/diri yang mencakup alam semesta. Sederhananya, semakin kita bisa memetakan secara lebih lengkap, maka kita tinggal memperbesar diri/ego kita sebesar luasan alam semesta yang dicakup oleh pecahan-pecahan ego/diri tersebut. Terdengar rumit? Saya akan mencoba memberikan contoh yang sangat sederhana di bawah ini.

Tentu hampir setiap diri kita pernah mengalami insomnia. Masalah sulit tidur sering-kali dicoba di atasi dengan teknik-teknik menyibukkan, menghipnotis, mengalihkan diri, dlsb. Namun jikapun teknik-teknik itu memang berhasil, apa sih yang sesungguhnya terjadi? Saya akan bahas dalam sudut pandang keterpecahan diri.

Jelas sekali, dalam fenomena susah tidur, terjadi perpecahan diri antara kubu yang ingin tidur segera dengan kubu yang masih ingin aktif/stress. Biasanya diusahakan kubu yang masih aktif untuk dialihkan, ditekan, diabaikan, dlsb, sampai kesadaran kita terjatuh dan tertidur, dan saat itu boleh dianggap kubu yang menginginkan aktif telah kalah dan lenyap, yang tertinggal hanyalah kubu yang ingin tidur segera. Namun bagaimana bila teknik-teknik itu tidak berhasil? Atau takut kalau bisa menyebabkan ketergantungan fisik maupun mental terhadap teknik atau obat-obatan tertentu? Maka, ketika itu saya melakukan percobaan kecil. Saat saya susah tidur, saya sengaja berdamai dengan kedua kubu saya. Bukan pasrah. Karena kalau pasrah berarti saya terikat dengan konsep. Yang artinya saya malah menciptakan satu kubu lagi, yaitu kubu pasrah yang berharap dengan pasrah bisa tertidur. Ingat, saya tidak berusaha untuk tidur. Setelah saya jugamelepaskan pasrah, kemudian saya membiarkan diri saya terjatuh kesadarannya, lalu aktif kembali, lalu terjatuh lagi, bolak-balik. Saya akui diri saya pecah dengan segera. Dan menerimanya sebagai kenyataan susah tidur. Apa yang terjadi? Saya memang bolak-balik susah tidur hampir selama 3,5 jam. Gelisah bukan main. Tapi tetap saya terapkan dengan sabar kesadaran berkomunikasi empati (pemetaan) saya dan menerimanya seolah-olah diri saya ya mencakup pecahan diri saya juga. Saya melayani pikiran-pikiran liar saya sekaligus rasa kantuk saya. Akibatnya malah agak aneh. Saya dapat menyadari saat-saat mau masuk ke alam mimpi hampir dalam keadaan belum tidur. Dan lama-kelamaan, saya merasa saya dapat berdamai dengan kedua kubu tersebut yang berarti saya berdamai dengan keterpecahan diri saya. Lalu saya menjadi tenang, dan senyum-senyum sendirian bahwa saya malah mendapatkan hikmah bonus yang tidak saya sangka-sangka. Yaitu hakikat disiplin. Disiplin bukanlah pemaksaan diri untuk berkomitmen atau dengan kata lain sengaja memecah diri lalu berjuang mengatasi perpecahannya. Misalnya melakukan kegiatan mendisplinkan diri dalam belajar 2 jam sehari dengan pemaksaan melawan keinginan hura-hura. Bukan seperti itu. Bukan melawan keinginan. Melainkan memetakan seluruh keinginan/perpecahan diri dan menerimanya/menyamadengankannya sebagai kenyataan. Itulah komunikasi empati. Dapat membawa serta seluruh pecahan karena telah dapat mengenal baik dan harmonis pada setiap pecahan. Bukan berusaha memaksakan menyatukan diri sehingga muncul aksi-reaksi.Disiplin menjadi sederhana. Jika saya ingin mendisiplinkan diri untuk tidur ketika insomnia. Maka yang saya lakukan hanyalah tidur bersama pecahan-pecahan diri saya bersama-sama. Itu saja. Tak ada perlawanan keinginan. Keinginan manapun dari pecahan tersebut tetap saya penuhi walaupun tema saya adalah tidur. Tentu bakal ada pertanyaan. Bagaimana kalau keinginannya berupa kegiatan fisik yang mengharuskan tidak tidur? Ya pilihan yang mudah sebenarnya. Dari hasil pemetaan, akan terlihat sendiri tubuh kita sebenarnya butuh tidur atau tidak? Jika butuh tidur, maka akan terlihat keinginan itu lebih lemah dan lebih mudah dicari alternatif pemuasannya sehingga bisa sinkron lagi dengan keinginan tidur. Jadi di sini yang paling penting adalah mendapatkan hasil pemetaan yang jujur terlebih dahulu. Selebihnya menjadi mudah untuk mengharmonisasikan (memenuhi/mentransformasikan setiap permintaan) pecahan-pecahan diri.

Jadi kesimpulannya. Diri/ego adalah kumpulan pecahan diri yang tersebar pada seluruh peristiwa dalam lingkup ruang waktu alam semesta. Berkomunikasi empati dengan alam semesta berarti dapat memetakannya dan menyamadengankannya sehingga semua pecahan yang telah diempatikan (disamadengankan) telah dikenal, diharmonisasikan dan diterima sebagai kesatuan keluarga besar diri/ego. Memang tidak mungkin hanya dengan sekali memetakan dapat mengkoordinatkan semua pecahan diri/ego. Namun, sejalan dengan waktu, semakin sedikit pecahan yang masih yatim-piatu, dan kita bakal semakin mengenal diri kita jauh lebih baik melalui pecahan yang telah kita empatikan. Bahkan dengan semakin banyaknya pecahan yang dapat kita empatikan, semakin memperbesar kemampuan kita menerima umpan-balik dan informasi dari alam-semesta mengenai diri kita, kehidupan kita dan alam semesta itu sendiri. Anda dilabelkan indigo, pintar,jenius? Tidak masalah. Jikapun terlekat dengan label itupun tetap bukan masalah. Karena anda telah menerima keterlekatan tersebut sebagai keluarga besar diri anda. Anda dilabelkan sebagai tolol, bodoh, lambat, telmi, pas-pasan? Tidak masalah juga. Kalaupun anda terlekat dengan label-label negatif tersebut, anda tidak mengaggapnya sebagai masalah. Karena justru karena telah menerima ada diri yang terpecah dan terlekati dengan pelabelan tersebut, maka anda bisa mendapatkan banyak informasi yang berharga via ekspresi/label/pecahan negatifnya. Dan anda tidak merasa seluruh diri anda menjadi negatif bukan? Karena anda telah menganggap itu hanyalah salah satu anggota keluarga pecahan diri/ego anda. Semakin anda berumur, semakin luaslah cakupan pengalaman dari pecahan-pecahan diri/ego anda. Semakinlah anda mengenal keluasan mekanisme proses alam-semesta ini melalui pecahan-pecahan diri anda. Dan bila kelihatannya ego/diri anda diserangpun, yang mana sih diserang? Setiap luka bisa menjadi pecahan diri/informasi yang berharga. Dan setiap kemenangan tidaklah memabukkan karena kelekatannya telah anda terima sebagai pecahan saja, tidak berusaha disatukan ke diri anda. Tapi perlu diketahui bahwa bukan berarti senangnya cuma terasa seperti pecahan belaka. Kalau lagi senang ya senangsepenuh-penuhnya. Mengapa bisa? Karena memang khan kesenangan itu sudah tidak dianggap sebagai faktorkonflik/bahaya/tarik-menarik antar pecahan diri/ego. Jadi tidak perlu lagi sikap hati-hati yang munafik. Hanya menjalani apa yang lagi ada di pecahan diri. Lagi senang ya senang… tidak masalah. Lagi sedih ya sedih, abis itu tidak masalah. Lama-kelamaan, ayunan emosi akan semakin terkontrol karena memang sudah tidak ada lagi konflik sebagai sumber ayunan emosi. Cuma semakin mengenal diri anda dan mengenal alam-semesta melalui diri anda.

Akhirnya, semua yang saya tulis di atas cumalah konsep. Jadi tidak benar-benar mewakili apa yang saya rasakan saat ini. Saya tidak sanggup menjelaskannya sehingga menjadi seperti copy-paste kepada anda. Tidak ada yang seperti itu lho…! Anda punya pengalaman unik sendiri dan tidak akan sama seperti saya. Apa yang saya rasakan sendiripun tidak sanggup saya mencari penjelasan yang paling tepat bagi diri saya sekalipun. Ini semuanya hanyalah hasil interpretasi dari apa yang saya rasakan.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s