Mind Power

Seberapa besarkah sesungguhnya kontrol yang kita punyai akan pikiran kita sendiri? Kita sudah mengetahui bahwa segala sistem bawah sadar (misal jantung yang harus tetap berdetak) berjalan secara otomatis. Bagian itu memang tidak kita kuasai/kontrol. Lalu kita mengira seluruh pikiran kita ada dalam kontrol kita. Benarkah?

Lalu mengapa ketika kita dihina kemudian kita sakit hati, kita tidak semudah menekan tombol untuk mengabaikan hinaan itu dan menjadi bahagia?

Mengapa ketika kita kena musibah, kita menjadi sedih/depresi, sama-sekali tidak mudah melalui perasaan depresi tersebut?
Seharusnya, kalau itu dalam kontrol kita, akan semudah membalikkan tangan bukan begitu?

Jelaslah pikiran bukan terdiri dari ‘tombol2’ yang bisa ditekan agar sesuai dengan keinginan kita. Pikiran memiliki momentumnya yang sulit kita lawan dan pikiran memiliki ‘mekanisme bawah sadarnya’ sendiri yang seringkali tidak kita ketahui tapi terjadi begitu saja terutama ketika kita terjerembab dalam emosi kemarahan, kesedihan, stress, maupun depresi. Hal2 itu seringkali kita tidak bisa perkirakan. Yang kita kira diri kita kuat, ternyata tidak ketika menghadapi masalah sesungguhnya.

Belum lagi bila kita perhatikan orang lain (refleksi ke diri sendiri juga), pikiran2 yang terdogma, pikiran2 yang terlekat dengan ideologi2 tertentu, ataupun tentang keyakinan/iman agama. Terlihat sangat sulit melepaskan hal itu semua, satu bukti lagi pikiran bukan sesederhana tombol2 kontrol.

Seberapa besar sih kontrol yang kita punya? Saya rasa sebesar atau sekecil yang kita SADARI. Makin tidak sadar diri kita, makin sedikit kontrol yang kita punya. Kesadaran juga menyadari bahwa kontrol yang kita punya TIDAK BESAR. Menyadari bahwa kita harus mengenal diri kita sendiri dengan lebih dekat, alias MEMAKLUMI ketidak-elastisan pikiran. Memahami sebagaimana bentuk2 fisik lainnya, otak adalah bentuk fisik yang punya mekanisme otoritasnya sendiri, kontrol kita (atas pikiran) hanyalah salah satu hasil dari perkembangan/evolusi intelegensi otak manusia. Fisik otak yang memungkinkan munculnya intelegensi, dan tak akan pernah intelegensi menguasai impuls2 fisik seluruhnya, sebagian besarpun tidak.

Kenyataan ini terbukti dari contoh2 kasus kerusakan otak. Ada yang kehilangan kemampuan bicara, sampai berubah kepribadian, paranoid, kemampuan matematis, kehilangan kemampuan mengambil keputusan, kehilangan konsep waktu, bahasa, mengenal wajah, bahkan sampai mengira diri udah mati….

Dengan pemahaman ini, ketika kita menghadapi stress berikutnya, ketahuilah, kita memang TIDAK ditakdirkan untuk bahagia selama2nya. Otak kita secara alami digunakan untuk mengalami semua spektrum perasaan (marah, sedih, bahagia, stress, senang, bete, derita, dlsb). Hilangkan saja anggapan bahwa masa depan cerah = kebahagiaan. Kecuali kita udah gak menggunakan otak lagi sebagai kendaraan kesadaran/intelegensi, misal udah diimplan/digantikan dengan silikon atau apapun. Selama masih mengandalkan fisik otak, selama itulah penderitaan merupakan perasaan yang pasti kita alami RUTIN.

Memahami hal ini saya rasa bisa membantu kita melangkah lebih alami (dan mungkin lebih ringan) sesuai dengan ritme biologis kita.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s