Perusahaan Asuransi Mark Bermotto

Perusahaan Asuransi Mark Bermotto

Visi :
Membawa masyarakat pada umumnya dan para klien pada khususnya untuk
berpartisipasi dalam pemerataan sumber daya ekonomi dengan bersama-
sama ikut memperluas akses hak atas pelayanan kesehatan dan akses hak
atas kehidupan ekonomi yang layak bagi mereka sendiri dan bagi seluruh
masyarakat melalui program asuransi jiwa dan kesehatan.
Misi :
1. Memberi penyadaran pentingnya memastikan terpenuhinya hak asasi
manusia dalam bidang kesehatan dan kesejahteraan ekonomi yang akan
sangat berkaitan dengan kesejahteraan kehidupan yang sesungguhnya.
2. Meyakinkan masyarakat bahwa komitmen perusahaan adalah untuk
saling bekerja sama dalam program asuransi yang bertujuan untuk
memberikan pemerataan keterjaminan kesehatan dan ekonomi yang dapat
mengurangi kemiskinan pada umumnya
3. Memberi pendidikan tentang pengelolaan keuangan yang bijaksana
dan gaya hidup yang berintegritas dan peduli terhadap kesejahteraan
sesama manusia yang lain.
4. Memberi penyadaran bahwa program asuransi itu penting. Karena
dengan semakin banyaknya orang yang mengikuti program asuransi
kesehatan dan jiwa maka dana yang terakumulasi akan semakin besar
sehingga bisa memberi kekuatan pada perusahaan dan masyarakat untuk
semakin berperan dalam memberikan dan memeratakan jaminan kesehatan
dan kesejahteraan ekonomi yang akhirnya membantu ekonomi Indonesia
secara keseluruhan.
5. Mengajak masyarakat bersama-sama dengan perusahaan untuk ikut
serta mempersempit jurang antar golongan kaya dan miskin dengan
mendukung sistem asuransi sehingga semakin bisa menjangkau masyarakat
yang akses ekonominya sangat terbatas. Tujuannya agar mereka juga
mempunyai standar keterjaminan kesehatan dan ekonomi yang layak.
Dengan begitu mereka mulai bisa bergabung dengan masyarakat dalam
membangun bangsa yang utuh yang saling sederajat satu sama yang lain.

Permasalahan :
Dengan masih mudahnya kita menemui pengemis di jalanan padahal tidak
ada 50 meter darinya berdiri sebuah gedung mal yang menandakan harta
yang berlimpah ruah merupakan tanda yang pasti pemerataan
kesejahteraan yang berupa kebutuhan dasarpun masihlah sangat jauh dari
harapan kita. Kita begitu tidak peduli dengan kesejahteraan sesama
kita kecuali yang berkaitan dengan kesejahteraan kita sendiri. Mengapa
kita sulit untuk saling berbagi sehingga setidaknya kita tidak melihat
lagi anak-anak balita mengamen di pinggir jalanan? Konsep pasar bebas
telah menjauhkan kita semua dari rasa peduli. Dimana justru bagian
yang paling menyedihkan adalah kita telah membuat sistem yang secara
otomatis telah memiskinkan banyak orang, apalagi memeratakan
kesejahteraan? Mungkin secara individu masih banyak orang baik di
dunia ini. Namun secara institusi ekonomi? Banyak sekali institusi
ekonomi yang dengan sadar memanfaatkan sistem pasar bebas untuk
memproteksi dan sangat membatasi akses sumber daya ekonomi. Misalnya
saja institusi rumah sakit yang memasang tarif yang mahal, institusi
sekolah yang membatasi akses pendidikannya dengan mematok uang gedung
yang tinggi, institusi pasar modern seperti mal dan supermarket yang
hanya semakin memacu gejala konsumerisme yang tidak sehat dengan
banyak menjual gaya hidup yang tidak begitu berguna dengan harga
tinggi. Belum lagi institusi real estat yang sulit sekali untuk
membangun kewajiban sarana umum, apalagi menyediakan rumah murah yang
layak. Institusi-institusi ini telah berjalan secara otomatis dengan
tujuan untuk menangguk keuntungan yang sebesar-besarnya tanpa
memperhatikan dampaknya yang lebih luas akibat dari pembatasan dan
kecemburuan sosial.

Mengapa institusi-institusi model seperti ini bisa tercipta? Itu
karena salah satu jargon kapitalisme, yaitu penciptaan aset supaya
uang dapat menghasilkan uang melalui sistem. Seringkali suatu
perusahaan yang baru dibangun memang mempunyai visi dan misi yang
cukup adil dan peduli yang biasanya sesuai dari keinginan ideal para
pendirinya. Namun sejalan dengan waktu, para pengusaha tersebut ingin
menciptakan aset tanpa kerja (yang artinya duit menghasilkan duit),
sehngga para pengusaha tersebut semakin berusaha untuk efektif membuat
sistem yang bisa menghasilkan uang sendiri tanpa keterlibatan dan
kerja dari mereka sendiri. Pada awalnya, sistem yang akhirnya
diciptakan untuk menciptakan aset ini berjalan masih sesuai dengan
visi dan misi idealnya. Namun karena sudah berbentuk sistem yang
artinya keterlibatan dan kepedulian akan kesejahteraan perusahaan itu
sendiri (terutama kesejahteraan para pegawai di dalam perusahaan, juga
kesejahteraan para klien dengan produk yang berkualitas dan harga yang
terjangkau) semakin minim dari para pemiliknya. Sehingga yang makin
menjadi kepeduliannya sekarang ini adalah apakah sistem itu segera
bisa menciptakan aset sehingga duit menghasilkan duit? Semakin lama
sistem itu berjalan, semakin para pemilik melihat kinerja
perusahaannya hanya sebagai statistik dan penghasil keuntungan belaka.
Di titik ini, bila suatu perusahaan mulai kehilangan misi dan visi
orisinilnya, biasanya akan banyak mengalami kejatuhannya hingga
bangkrut. Namun banyak juga yang bertahan disebabkan diterapkannya
efisiensi tangan besi ala sistem. Mengapa? Karena para pemilik yang
biasanya kalut melihat bisnisnya semakin menggurita namun tidak punya
kemampuan cukup untuk mengurusnya sendiri ditambah ketakutan dan
obsesinya dalam menciptakan aset, merupakan alasan yang lebih dari
cukup untuk MULAI menjual bagian-bagian sahamnya. Sehingga mengundang
pihak luar untuk berpartisipasi sebagai bagian pemilik yang baru yang
biasanya tidak mempunyai kepedulian sedikitpun mengenai visi dan misi
perusahaannya. Biasanya di benaknya hanyalah terpikir apakah investasi
atas pembelian saham perusahaan ini akan balik modal dan menguntungkan
atau tidak. Hanya itu saja sejauh kepeduliannya terhadap perusahaan.
Penjualan saham membuat para pemilik yang lama semakin kehilangan
kontrol akan perusahaannya sendiri yang berakibat para pemilik
tersebut akhirnya beralih hanya mementingkan modal dan keuntungannya
sendiri. Pada titik ini, biasanya akan banyak pemilik lama yang
akhirnya hanya menjadi komisaris pasif, yang bila bisnisnya semakin
membesar maka cita-citanya akan terciptanya aset melalui saham-
sahamnya sudah terwujud dan uang dipastikan akan menghasilkan uang.
Pemilik baru yang memiliki kontrol akan perusahaan biasanya tidak mau
mengurusi perusahaan itu secara langsung. Maka biasanya akan disewa
seorang konsultan bisnis yang akan membentuk lagi sistem baru ala
kepentingan konsultan dan kepentingan para pemegang saham. Dan sistem
ini sudah murni profit driven (tidak seperti sistem lama yang masih
hibrid dikarenakan masih adanya kepentingan emosional dan kontrol dari
para pemilik asli). Di posisi ini akan banyak terjadi pemecatan
karyawan lama dan pergantian karyawan yang baru disebabkan karena
efisiensi dan perubahan visi dan misi. Karyawan-karyawan lama yang
sebenarnya banyak mencintai pekerjaannya banyak digantikan dengan
karyawan-karyawan baru yang oportunistis, ambisius sekaligus lebih
profesional (yang biasanya tidak tahu menahu lagi dengan visi-misi
awal para pemilik asli). Visi-misi baru yang diciptakan oleh sang
konsultan mengikuti kaidah tren bisnis modern. Yaitu visi-misi dalam
lingkup go public. Karena biasanya pada titik ini perusahaan diarahkan
untuk go public, menciptakan dan menjual saham sebanyak-banyaknya ke
masyarakat untuk mengeruk modal sambil tetap mempertahankan saham
mayoritas atau paling tidak kontrol terhadap perusahaan. Dana yang
terkumpul dari masyarakat dipastikan hanya sebagian kecil dikembalikan
dalam bentuk jasa yang sesungguhnya bagi masyarakat, maka sebagian
besar akan berbentuk keuntungan yang dinikmati oleh para pemilik
pemegang saham mayoritas yang sesuai dengan tujuan penciptaan aset.
Pertama, uang menghasilkan uang. Kedua, menghasilkan penumpukan sumber
daya/keuntungan kepada tangan yang lebih sedikit (para pemegang saham
). Inilah tujuan dibentuknya sistem yang menciptakan aset yang hanya
menguntungkan bagi segelintir orang. Aset itu tentu akan diproteksi
mati-matian melalui sistem sehingga proses uang menghasilkan uang
dapat berjalan stabil dan abadi.

Tambahkan label usaha pada perusahaan di atas menjadi misalnya
perusahaan `rumah sakit’ (yayasan), perusahaan `sekolah’ (yayasan),
perusahaan `farmasi’, perusahaan `real estat’, dsb. Secara teoritis
akanlah berarti hampir semua perusahaan di dunia ini terutama
perusahaan multinasional yang telah go public menerapkan prinsip
sistem penciptaan aset yang profit driven. Kita mungkin bisa
diyakinkan para pengusahanya secara individu bukanlah seseorang yang
serakah atau tidak pedulian. Malah kebanyakan para pengusaha yang
telah sukses mempunyai hati yang lembut, peduli pada sesama dan banyak
membantu kegiatan sosial karikatif. Namun yang kita bicarakan di sini
tepatnya, bukanlah para pengusahanya, melainkan SISTEM, PIKIRAN
KOLEKTIF, PASAR BEBAS, KAPITALISME, KORUPSI BIROKRASI, ASET, UANG
MENCARI UANG, dsb. Kata-kata yang saya huruf besarkan inilah yang
merupakan SUMBER KETIDAKSADARAN BAHWA KITA SEBENARNYA TIDAK BEGITU
PEDULI DENGAN PEMERATAAN. Kita tidak peduli dengan masih adanya orang
miskin. Kita menganggap wajar orang miskin itu harus ada. Kita
menganggap wajar ada orang yang tidak bisa makan bahkan satu kali per
harinya. Kita anggap wajar bila ada orang yang tidur di kolong
jembatan karena SUDAH HAMPIR TIAP HARI KITA MELIHAT PEMANDANGAN
SEPERTI ITU DAN TUMPULAH HATI NURANI KITA. Tumpuuuul…… !!!

Kita selalu berusaha menjawabnya dengan kegiatan karikatif belaka.
Untuk apa sih misalnya dana BLT, BOS, Jaring Pengaman Sosial, dsb yang
dari pemerintah. Juga yang dari LSM berupa bantuan makanan, minuman,
pakaian, pendidikan, JIKA DAN HANYA JIKA kondisi tersebut tetaplah
akan digilas oleh roda pasar bebas? Bantuan karikatif memang sangat
berguna meringankan penderitaan atau bahkan bisa mendaya-upayakan
orang yang dibantu. Namun efeknya selalu sangat tidak signifikan bila
kita tetap mempertahankan suatu prinsip tidak mau berbagi, saling
menumpuk sumber daya, saling membatasi sumber daya, menciptakan aset
yang menghasilkan aliran dan penumpukan uang secara abadi, yang ujung-
ujungnya adalah mempertahankan porsi 90/10 dimana 10 persen menguasai
90 persen sumber daya? Sistem ekonomi secara keseluruhan telah
dimanfaatkan sehingga UANG telah menjadi alat untuk memeras, membatasi
dan menumpuk sumber daya yang sebenarnya dibutuhkan oleh semua orang.

Jika kita tidak mempunyai kemampuan dalam mengelola keuangan, akan
sangat mudah sekali menukarkan uang yang telah capek-capek kita
dapatkan dengan sesuatu barang atau jasa yang tak berguna sama-sekali
terhadap kesejahteraan kita. Kita SANGAT TERPIKAT dengan uang sampai
lupa bahwa UANG HANYALAH ALAT TUKAR BELAKA. Dan lupa juga bahwa DALAM
MENUKARKAN UANG DENGAN BENDA APAPUN, SERING KALI PENUKARAN TERSEBUT
TIDAK BERKAITAN SAMA SEKALI DENGAN PENINGKATAN KESEJAHTERAAN KITA.
Kita selalu merasa banyak uang maka kesejahteraan otomatis meningkat.
Padahal bukan karena uanglah kita bisa merasa sejahtera namun
bagaimana sikap kita terhadap uanglah yang menentukan kesejahteraan
kita.

Solusi :
Bila anda ditanya, untuk apa anda berinvestasi? Maka kebanyakan dari
anda akan menjawab, supaya uang bisa beranak-pinak, berbunga dan
berkembang dengan sendirinya dengan resiko yang seminim-minimnya. Bagi
saya itu kedengarannya bukanlah seperti tujuan, namun banyak dari anda
merasa dengan uang yang BERTAMBAH banyak maka tujuan apapun pasti bisa
tercapai. Tapi ada juga yang mulai mengerti berinvestasi itu harus
benar-benar ada tujuannya, tidak hanya memperbanyak uang, supaya
investasi itu menjadi efektif sesuai tujuannya dan dapat memilih,
mengukur resiko agar aman sampai tujuan (berbeda dengan hanya
mengembangbiakkan uang, dimana resiko sering kali paling belakang
diperhitungkan karena yang paling penting biasanya seberapa cepat dan
banyak uang itu dapat berkembangbiak. Biasanya resiko dapat dipikirkan
belakangan asal potensi keuntungan yang diperoleh juga sepadan dan
cukup besar). Dengan mempunyai tujuan yang spesifik biasanya kita akan
menjadi lebih mudah dalam mengerti kebutuhan kita sendiri, mengerti
profil kesanggupan resiko kita dan mengerti investasi mana yang paling
cocok. Misalnya secara umum tujuan dibagi 3 jangka waktu, yaitu untuk
tujuan jangka pendek, menengah maupun panjang. Sejauh ini bila anda
berinvestasi sesuai dengan tujuan anda, anda telah melayani
kepentingan anda, keluarga anda atau perusahaan/bisnis anda. Jika
anda hanya berinvestasi demi uang belaka, anda tidak melayani siapa-
siapa kecuali ketidakpastian yang ditimbulkan apakah uang anda
akhirnya akan digunakan untuk kepentingan yang lebih baik dan
bertujuan atau hanyalah akan lenyap ditelan resiko atau ditelan gaya
hidup? Uang yang tidak bertujuan tidak memenuhi kepentingan siapapun
kecuali kepentingan usaha yang anda investasikan. Jadi anda hanya akan
melayani orang lain dimana uang anda digunakan hanya untuk kepentingan
mereka (jika anda tidak mempunyai ketertarikan apapun terhadap
bisnisnya selain berinvestasi). Apalagi bila anda berinvestasi di
reksa dana atau saham dan tidak mempunyai tujuan apapun terhadap uang
anda. Maka yang sebenarnya menikmati manfaat (seperti pembentukan
aset, penumpukan modal, pemanfaatan dana anda untuk kesejahteraan
mereka) adalah pihak yang diinvestasikan. Bunga yang besar sekalipun
bagi anda tidak akan begitu berguna karena tidak ada tujuan spesifik
bagi anda, dan hanya ada tujuan reaktif yang biasanya tidak berguna
untuk jangka panjang.

Dan dari tadi saya mengatakan tentang tujuan investasi. Marilah kita
telisik lebih lanjut. Tujuan-tujuan seperti apakah yang biasanya kita
maksudkan?
Tujuan investasi :
1. Untuk membiakkan uang. Namun di sini ada ketidakpastian tujuan
dalam penggunaan uang tersebut nantinya yang bisa beresiko salah dalam
menetapkan, mengeposkan atau menggunakan anggaran keuangan.
2. Untuk jangka pendek. Misalnya untuk membayar uang muka rumah,
membeli mobil, liburan, dana menikah, dsb.
3. Untuk jangka menengah. Misalnya untuk membeli rumah yang lebih
layak, membiayai pendidikan anak, biaya kesehatan, modal usaha, dsb.
4. Untuk jangka panjang. Misalnya untuk dana pensiun, warisan,
perawatan jompo, dana pernikahan anak-anak, biaya kesehatan, dsb.
Ini adalah tujuan-tujuan yang stereotip yang kebanyakan orang memilih
tujuan-tujuan tersebut secara otomatis. YANG SEBENARNYA HAL-HAL DIATAS
TERSEBUT BUKANLAH TUJUAN melainkan KEBUTUHAN DASAR KEHIDUPAN MODERN
ANDA. Perhatikanlah, hampir seluruh manusia modern mengidam-idamkan
hal di atas dan berjuang mati-matian untuk memenuhi kalau tidak bisa
seluruh, sebagian kebutuhan tersebut. Dengan begitu bisalah kita
rangkum seluruh tujuan di atas menjadi :

1. Untuk memenuhi kebutuhan dasar manusia modern.

Apakah ada tujuan lain dalam berinvestasi? Apakah hanya ini fungsi
uang bagi kita? Apakah kita yang telah/akan mau berkorban selama +- 30
tahun bekerja (saya katakan berkorban karena saya yakin sedikit sekali
yang menganggap bekerja seperti melakukan hobi), hanya untuk memenuhi
kebutuhan dasar saja? Apakah setelah kebutuhan dasar itu terpenuhi,
anda akan hidup sejahtera? Tentu kehidupan harus kita isi dan tidak
hanya untuk memenuhi kebutuhan dasar saja. Dan itu BIASANYA berarti :

2. Untuk memenuhi gaya hidup.

Gaya hidup adalah standar ekonomi yang digunakan dalam menikmati hidup
setelah kebutuhan dasar terpenuhi. Yang biasa disebut sebagai
kebutuhan sekunder dan tersier. Dan hanya sedikit sekali orang-orang
yang telah merasa selesai mengejar kebutuhan dasar manusia modern
untuk terus kemudian memenuhi gaya hidupnya melalui investasinya.
Biasanya gaya hidup dan kebutuhan dasar dianggap sama dan menyatu.
Namun di sinilah letak lubang dan potensi penderitaan akibat tidak
memperhitungkan rencana tujuan gaya hidupnya. Jika gaya hidupnya tidak
direncanakan dari dini maka nanti gaya hidupnyalah yang akan selalu
mengejar dirinya untuk terus menjadi budak uang karena selalu merasa
kurang dalam memenuhi gaya hidupnya (akibat tidak ada perencanaan
menyebabkan biaya gaya hidup yang sulit dikendalikan).
Mari kita review sebentar. Masih banyak orang yang tidak mempunyai
tujuan investasi, hanya menunggu uang berbiak. Hidupnya dipastikan
akan sulit dikarenakan nafsu dan resiko biaya hidup yang kurang
diperhitungkan olehnya. Kemudian sebagian besar orang yang lain telah
memperhitungkan tujuan kebutuhan dasarnya sebagai tujuan investasinya.
Namun orang-orang ini kemudian juga akan kelabakan karena hanya
kebutuhan dasarnya saja yang direncanakan, gaya hidupnya tidak ikut
terencana akibatnya nanti gaya hidupnya dapat menyusul penghasilannya
dan investasinya harus ditebus demi menutupi gaya hidupnya. Ada orang-
orang di bagian ketiga yang telah merencanakan kebutuhan dasarnya
maupun gaya hidupnya. Hanya sedikit orang-orang seperti ini, dan
biasanya merupakan orang-orang dari golongan pengusaha, wiraswasta
yang telah berhasil membangun perusahaan melalui aset-aset. Aset-aset
yang diciptakan melalui investasi yang telah memperhitungkan gaya
hidupnyalah yang membuat orang-orang ini yang mungkin bisa menguasai
sebagian besar sumber daya ekonomi. Saya sebut `mungkin’ karena itu
tergantung dari seberapa ambisiusnya anda dan seberapa posesifnya anda
untuk menumpuk sumber daya ekonomi. Karena memang, di dunia kapitalis
ini yang `tersisa’ untuk dilakukan setelah berjuang dan mendapatkan
keterjaminan kebutuhan dasar dan gaya hidup adalah menumpuk sumber
daya (yang berjalan otomatis disebabkan karena aset yang berbuah)
sembari melakukan kehidupan sosial yang terlihat berhasil dan baik
hati (misalnya kegiatan karikatif atau altruisme sekalian). Inilah
keadaan `bebas finansial’ yang banyak diidam-idamkan oleh hampir
seluruh manusia modern. Jadi ada tujuan akhir dari semua ini :

3. Untuk mendapatkan kebebasan finansial.

Inilah yang ditawarkan oleh sistem kapitalis atau pasar bebas kepada
kita semua, SEMBARI melihat pemandangan pengemis, anak batita ngamen,
pengelap kaca pada mobil built-in terbaru kita di suatu perempatan
lampu merah Jakarta. Jika anda bisa tidak terganggu dengan orang-orang
yang terpinggirkan tersebut, silahkan mengejar kebebasan finansial
sambil mengetahui melalui berita TV ada ibu dengan 12 anak menderita
busung lapar sedangkan anda menonton sambil terlihat sedih dengan roti
sandwich di kafe seharga seluruh harta milik ibu tersebut. Dan
walaupun saya mengatakan seperti ini, ironisnya kita semua (termasuk
saya sendiri) sudah dan sepertinya akan terus tidak peduli tentang hal
seperti ini. Kesenjangan sosial yang keterlaluan pahit dan kejamnya
telah dianggap begitu biasa dan wajar. Terkadang saya tidak ingin
berpikir terhadap mereka-mereka yang kurang beruntung tersebut (karena
telah dimiskinkan oleh sistem termasuk oleh kita juga melalui
investasi kita terhadap sistem-aset yang telah menyedot sumber daya
orang banyak). Rasanya saya tidak ingin berpikir atau PEDULI terhadap
mereka! Karena saya sudah begitu TERBIASA, bahkan tidak bisa muak lagi
melihat semua ini. Di sini saya juga tidak mengatakan bahwa sistem
kapitalis sepenuhnya salah, atau pasar bebas telah membuat sistem-aset
menjadi sistem setan. Tidak! Saya tidak ingin mencari kambing hitam.
Ini semua hanyalah masalah ketidaksadaran kita akan makna
`persaudaraan’ kita. Jawabannya bukanlah menghancurkan sistem-aset
tersebut. Melainkan mengenai sikap dan kepedulian kita sendiri
terhadap pengelolaan sumber daya ekonomi untuk kesejahteraan seluruh
umat manusia. Tujuan finansial dunia kita belumlah sampai pada tujuan
menyejahterakan seluruh umat manusia. Walaupun tujuan tersebut
tercantum pada setiap piagam pendirian setiap bangsa, setiap
perusahaan, namun itu hanyala utopia belaka. TERUS TERANG saya
mengalami konflik yang mendalam ketika mengetahui bahwa sikap umum
manusia modern terhadap sistem-aset adalah menggunakannya sebagai
pertahanan, pembatasan dan penumpukkan sumber daya ekonomi. Semua
orang saling menumpuk sumber daya ekonominya dan membatasi orang-orang
yang bisa ikut mengaksesnya. Semua orang berkelahi dalam memperebutkan
sumber daya ekonomi. Semua orang seperti dikejar-kejar setan dalam hal
akses sumber daya. Oleh karena itu, saya menguatkan diri saya untuk
mencantumkan tujuan investasi saya yang ke-empat :

4. Untuk MERELAKAN rasa aman dari uang (karena memang rasa aman tidak
akan dapat dipenuhi oleh uang berapapun banyaknya) sehingga
mendapatkan rasa aman yang sejatinya berasal dari dalam diri-sendiri.

Dan tujuan yang ke-lima :

5. Untuk mendapatkan kesejahteraan mental dan spiritual dengan ikut
serta berinvestasi dalam bentuk sikap diri dan sistem yang tidak
menumpuk sumber daya melainkan memeratakannya sehingga tujuan akhirnya
seluruh orang bisa menikmati kehidupan yang layak (yang tidak dipenuhi
oleh urusan perut saja) dan selanjutnya dapat berkembang bersama-sama
mewujudkan potensi diri masing-masing yang sesungguhnya (dimana pada
akhirnya setiap orang dapat menganggap pekerjaannya sebagai hobi atau
pekerjaan yang membahagiakan karena tidak ada dorongan hidup-mati lagi
untuk dikejar-kejar mencari uang).

Tentu saja arti `memeratakan’ di sini bukanlah `menyamaratakan’
seperti anggapan orang pada sistem komunis dimana setiap orang
mempunyai harta yang ekivalen. Tentu saja bukan seperti itu. Yang saya
maksud adalah memeratakan sumber daya ekonomi supaya setiap orang
setidaknya bisa memenuhi kebutuhan dasarnya yang layak sesuai
kodratnya sebagai manusia (HAM). Memang saat itu tetap akan ada
perbedaan kaya dan miskin. Tapi yang disebut `miskin’ saat itu saya
rasa orang yang dilabelkan miskin tidak akan merasa miskin. Lebih
tepat ungkapan `perbedaan kaya dan miskin’, menjadi perbedaan `kaya
dan kebercukupan’. Ada orang yang memilih menjadi kaya, dan ada orang
yang merasa cukup dengan keadaan `kebercukupannya yang layak’. Beda
sekali dengan keadaan sekarang, miskin bisa disebut lebih parah
keadaannya daripada tikus yang penghidupannya pun dipelihara oleh
alam.

Kaitannya dengan program asuransi? Jelas sekali asuransi juga tidak
bisa dilepaskan dari sistem-aset bentukan pasar bebas. Dan memang saya
akui tetap akan masih banyak dana yang terkumpul dari asuransi, masih
sebagian besar lari menjadi keuntungan pemilik modal. Dan hanya
sebagian kecil yang dikembalikan dalam bentuk jasa pelayanan jaminan
kesehatan dan ekonomi. Saya sebagai agen asuransi selama 2,5 tahun
belakangan ini juga merasa bahwa sebagian besar agensi pun hanya
memikirkan omzet, komisi ataupun target penjualan yang disetir oleh
keinginan menguasai dan menjadi nomor satu belaka untuk secepat-
cepatnya mengalami keadaan bebas finansial melalui investasi sistem-
aset. Kita tidak bisa begitu saja mengganti atau mengabaikan sistem
seperti ini yang sudah berjalan berpuluh-puluh tahun seperti
membalikkan telapak tangan. Rencana saya adalah, saya sebagai agen
mengumumkan melalui milis ini visi dan misi saya. Kemudian tetap
dengan menggunakan kendaraan yang sama (program asuransi dan
perusahaan dimana saya bernaung), mari kita bersama-sama merubah sikap
dan paradigma kita tentang sistem-aset yang hanya menumpuk sumber
daya, sehingga melalui gabungan kesadaran kita yang mudah-mudahan
cepat menular ke seluruh orang lain, sistem-aset itu akhirnya berhenti
menumpuk terus sumber daya dan akan semakin banyak berpihak kepada
pemerataan kesejahteraan SELURUH umat manusia. Kesalahannya di sini
sebenarnya bukanlah di sistem. Tapi ketidaksadaran manusia. Hanya itu.
Dan adakah kemauan untuk menjadi sadar? Menjadi sadar bahwa SETIAP
ANAK YANG MENGELAP KACA MOBIL KITAPUN BERHAK ATAS KEHIDUPAN YANG
LAYAK? Hanya melalui ini saya bisa berbagi dalam perwujudan nyata yang
merupakan pekerjaan aktif saya. Yang lainnya adalah tulisan-tulisan
saya yang saya coba untuk terus dihasilkan melalui milis ini. Jika ada
yang ingin mau bergabung dengan saya baik secara pasif (menjadi
nasabah) atau secara aktif (menjadi agen seperti saya) silahkan
melihat dan pertimbangkan kembali visi dan misi saya di atas dan
kemudian menghubungi saya secara japri, dan kita bisa bertukar-pikiran
mengenai hal ini. Terima kasih atas perhatiannya.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s