Prima Causa

Kali ini kita akan membahas prima causa, penyebab dari segala penyebab. Dari maknanya saja, berarti prima causa adalah penyebab paling awal. Mempertanyakan apakah yang menyebabkan prima causa berarti melawan definisi prima causa itu sendiri. Jelaslah prima causa merupakan pendefinisian, bukan hasil dari kesimpulan akan sesuatu. Tidak ada sesuatu yang bisa menyebabkan prima causa. Prima causa justru harus dihadirkan tanpa sebab untuk menghentikan regresi yang tak terhingga.

Nah begitu pula dengan tuhan sebagai prima causa. Tuhan sebagai prima causa tentu tidak merupakan hasil dari regresi. Karena hasil dari regresi wajar adalah regresi tak terhingga. Sehingga tuhan sebagai prima causa adalah pendefinisian untuk menghentikan regresi tersebut. Dengan pembatasan definisi yaitu tak ada lagi yang menjadi penyebab munculnya tuhan.

So, menurut saya, salahlah mengatakan logika bahwa harus ada perhentian akhir dari suatu regresi. Karena menurut saya, kita selalu bisa mempertanyakan apa yang menjadi penyebab sesuatu. Saya tidak menemukan satu hal pun yang bisa menghentikan pertanyaan itu.

Bila kita tarik dalam konteks tuhan, tentu pertanyaan itu adalah siapa yang menciptakan tuhan? Dalam hal ini, teis SENGAJA berhenti pada sosok tuhan sebagai prima causa. Sebagai balasan, saya juga bisa mengatakan X adalah penyebab tuhan dan merupakan prima causa. Dengan rumus X = penyebab (tuhan siapapun). Atau dalam garis bilangan semisal kita urutkan sebab akibat, bila tuhan = 0, maka saya selalu bisa bilang X = T – 1, sebagai penyebab T (dengan T adalah tuhan manapun). Bahkan gak perlu label tuhan. Label apapun yang kita kehendaki sebagai prima causa, saya selalu bisa menyatakan X = L – 1, dengan L adalah label apapun.

So, siapapun bisa menjadikan labelnya, tuhannya, rajanya, singularitas big bang, lubang hitam, sebagai prima causa dan akan selalu ada operasi -1 sebagai penyebab mereka semua. Secara singkat, prima causa hanyalah kita mau berhenti dimana.

Karena itulah, peran sains kosmologi masuk dan menjadi penting untuk menjadi alat satu2nya (saat ini) untuk memecahkan ‘persoalan’ logika regresi sebab-akibat tak hingga ini. Batasannya adalah kemampuan berpikir otak kita plus dengan bukti empiris dan eksperimen (metode ilmiah), pembuktian langsung maupun tidak langsung. Ini yang paling memuaskan dan tidak bisa sekedar dicounter dengan operasi matematis sederhana minus one.

Contoh, anda mau mengcounter konsep teoritis (yang belum lengkap) teori segalanya sains kosmologi? Tentu paling sedikit harus paham fisika kuantum dan itu tuntutan yang berat. Mau bandingin dengan teologi? Bakal kalah set. Karena teologi ataupun filsafat hanya mengandalkan logika berpikir tanpa dukungan eksperimen, empiris atau lengkapnya metode ilmiah, sehingga seperti paragraf sebelumnya, tentang konsep prima causa, bisa dicounter dengan sekedar pemikiran juga yaitu operasi minus one.

So sangatlah wajar manusia modern mengandalkan dan memperkuat pengetahuan sains modernnya, karena sudah terbukti menjadi alat yang efektif dalam usaha yang tiada henti mempertanyakan segala misteri kehidupan.

Salam prima causa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s