Psikologi dan Pikiran Kolektif Tentang Ketuhanan

Pola pikir adalah cara pandang hidup kita terhadap suatu objek. Setiap
diri kita disadari maupun tidak pasti telah terbentuk suatu pola pikir
yang cukup baku sebagai standar bagi dirinya (atau filter) dalam
menyikapi suatu objek atau masalah. Dan kebanyakan pola pikir yang
kita miliki berasal dari pikiran-pikiran kolektif suatu masyarakat
dimana kita hidup dan berkembang. Di Indonesia, pikiran kolektif
terlihat sangat jelas dalam bidang ketuhanan atau agama. Memang benar
pemahaman atau iman setiap individu berbeda-beda dan sangat pribadi
sifatnya. Namun pemahaman tersebut juga memiliki kesamaan yang cukup
signifikan sehingga bisa diorganisir dalam suatu bentuk lembaga
keagamaan. Nah, lembaga-lembaga agama inilah yang sebenarnya
merepresentasikan adanya pemikiran-pemikiran kolektif yang berkembang
di masyarakat. Dalam tulisan ini saya akan mengupas bahwa MASALAH
moralitas dan nilai-nilai tingkah-laku di Indonesia disadari maupun
tidak disadari hampir semuanya berasal dari pemikiran kolektif tentang
ketuhanan ini.

Sebenarnya, apa itu pemikiran kolektif? Pemikiran kolektif adalah
pemikiran yang telah menjadi akar (atau meta atau bisa juga disebut
akar pemikiran) dan disetujui oleh mayoritas sehingga menjadi
kekuatan, perbandingan, batu penjuru dan pedoman bagi pemikiran-
pemikiran yang lain dalam suatu bidang pemikiran atau objek masalah.
Ini berarti pemikiran kolektif tentang ketuhanan adalah pemikiran yang
banyak dianut oleh mayoritas BAIK DISADARI MAUPUN TIDAK DISADARI telah
merasuk (karena kekuatannya sebagai pemikiran kolektif) mengenai
konsep ketuhanan. Di Indonesia, pertama-tama sangat terlihat dari
kontrak sosial republik tercinta ini, yaitu sila pertama dari
Pancasila. Dengan adanya sila pertama tersebut, sama saja menyatakan
bahwa salah satu pikiran kolektif tentang ketuhanan di Indonesia
adalah konsep TUHAN ITU MAHA ESA. Yang berarti pemikiran-pemikiran
lain yang tidak menyatakan Tuhan itu satu adanya akan melawan kekuatan
mayoritas dari pemikiran kolektif sila pertama tersebut. Bagi yang
tidak menyadari bahwa agama samawi (terutama agama kristen dan islam)
telah menancapkan dasar moralitas dan logika agamanya kedalam dasar
negara kita, sila ini dapat membuka mata kita bahwa tanpa disadari
sebenarnya nilai-nilai agama (dalam hal ini kristen dan islam) telah
menjadi pikiran kolektif BAWAH SADAR. Kenapa saya sebut bawah sadar?
Karena negara Indonesia sendiri juga mengakui agama Budha dan agama
Hindu. Padahal telah kita ketahui agama Budha tidak ada konsep Tuhan
seperti agama samawi. Dan pada agama Hindu malah terdapat banyak Dewa
atau banyak Tuhan. Bagi para penganut agama-agama ini MEREKA TIDAK
MENYADARI IMPLIKASI DARI SILA PERTAMA TERSEBUT. ATAU KALAUPUN
MENYADARI, SECARA TIDAK SADAR PULA IKUT TERPENGARUH, buktinya mereka
tidak melihat kontradiksinya (agama hindu atau budha cukup
bertentangan dengan sila pertama?) atau tidak protes, dan paling tidak
ikut terpengaruh dalam hidup bermasyarakat dan bernegara. Sebabnya
karena perundang-undangan dan peraturan yang melingkupi mereka dan
kita semua (mereka juga harus mematuhi undang-undang tentu saja)
dibuat hampir semuanya berasal dari pemikiran-pemikiran kolektif yang
kurang-lebih merupakan turunan atau hampir sama seperti yang terdapat
dalam Pancasila dalam hal ini sila pertama. Mari kita telisik lebih
lanjut.

Telah disebutkan pikiran kolektif tentang ketuhanan yang pertama
paling menonjol di Indonesia adalah : 1. Ketuhanan yang maha esa.
Apakah disini berarti bagi para penganut Atheis, paganisme, Hindu,
Taoisme, Budha, Agnostik, dll, mereka tidak dapat hidup di Indonesia?
Tidak juga. Karena sifat dari pemikiran kolektif yang satu ini
kebanyakan merasuk tanpa disadari. Tidak disadari bisa juga berarti
mayoritas (yang mengikuti pikiran kolektif) bisa bersikap cuek aja
dengan mereka-mereka ini (yang merupakan pikiran minoritas). Namun
cuek BUKAN BERARTI PEDULI. BUKAN BERARTI PULA BISA BEREMPATI.
Bertoleransi mungkin saja. Tapi BEREMPATI BELUM TENTU BISA. Karena
dengan berusaha berempati berarti sama-saja berusaha memahami agama-
agama diluar agama samawi yang sedang berkuasa di Indonesia ini. Kalau
tidak percaya lihat saja pernyataan-pernyataan para agamawan dan para
rohaniawan yang budiman tersebut. Walaupun secara empiris telah
terbukti tingkah-laku mereka banyak didasari oleh perbuatan altruisme
(kasih), namun karena pikiran-pikiran kolektif yang telah tertanam
sedemikian kuatnya secara tidak sadar, para petinggi agama ini sulit
sekali menerima kebenaran dari agama-agama lainnya (kebenaran yang
pluralistik). Padahal berempati adalah bisa ikut merasakan masalah
orang lain, yang berarti pula menyatakan bahwa kita adalah satu
keluarga. Sedangkan toleransi hanya berarti menjaga diri masing-masing
agar tidak konflik dan tidak ikut campur masalah orang lain. Para
petinggi agama ini tidak menyadari apa penyebabnya dan apa akibat dari
sikap toleransi-non empatik ini. Begitu pula dengan umat-umatnya.
Begitu pula dengan hampir dari kita semua. Mari kita runut asal-muasal
dan sebab-akibatnya mengapa sampai ada sikap seperti ini.

Saya bahas akibatnya dulu. Karena kebanyakan kita baru menyadari bahwa
pola pikir kita menuju ke arah yang negatif ketika kita menyadari
akibat-akibatnya. Akibat dari sikap toleransi-non empatik adalah :

1. Ada pengkotak-kotakan.
Tidak terbayangkan sama-sekali bukan kalau misalnya agama kristen dan
islam bersatu menjadi agama krislam misalnya. Nah ini adalah bukti
yang sangat kokoh bahwa kita mempunyai sikap saling memisahkan diri.
Ada memang yang mengatakan, bukankah iman adalah urusan pribadi? Dan
tentu saja kita sangat menghindari iman yang homogen? Karena itu
merupakan pemaksaan HAM pula bukan? Tentu saja itu benar. Tapi yang
saya katakan disini adalah pengkotak-kotakan ala LEMBAGA. Memang benar
pula setiap organisasi harus mempunyai pemisahan dan definisi yang
jelas yang membedakan dari organisasi yang lain. Tapi lain halnya
dengan LEMBAGA AGAMA, dimana yang menjadi definisinya adalah pemahanan
terhadap Tuhan. Ini adalah masalah yang sangat krusial yang sangat-
sangat menyentuh ego dasar para individu penganutnya. Atau bisa
disebut masalah hidup-mati. Sehingga wajar kalau berempati menjadi
tidak mungkin! Contohnya adalah bagaimana mungkin umat islam bisa
merasakan penderitaan Yesus disalib karena mereka tidak percaya Yesus
mati disalib? Sehingga bila ada orang kristen yang membicarakan
masalahnya dan mulai membicarakan masalah tersebut dari sudut pandang
kekristenannya, akan tidak mungkin bagi umat islam ikut memakai kaca-
mata umat kristen dalam memandang masalah tersebut dan ikut merasakan
perasaan orang kristen tersebut. (perasaan empati). Mengapa bisa
seperti ini? Karena umat islam mematuhi anjuran ulamanya bahwa tidak
ada kebenaran yang paling benar selain agama islam itu sendiri. Begitu
pula bagi umat kristen yang mematuhi pastor/pendetanya, kebenaran yang
paling hakiki ada dalam agama kristen/katolik. Disini, mematuhi
berarti MENGIKUTI PIKIRAN KOLEKTIF. Sebenarnya bertolak belakang
dengan pernyataan bahwa iman adalah urusan pribadi. MENGIKUTI PIKIRAN
KOLEKTIF berarti MEMBUAT IMAN MENJADI URUSAN PUBLIK DAN MENJADI
HOMOGEN.

2. Selalu ada potensi konflik yang sangat mendasar.
Jika keimanan telah menjadi urusan publik dan menjadi cukup homogen (5
agama yang diakui di Indonesia plus aliran kepercayaan… cukup
homogen bukan?) , maka iman homogen berarti mewakili atau menjadi
pikiran-pikiran kolektif yang cukup kuat. Terutama di Indonesia
terwakili oleh 2 pemikiran kolektif tentang ketuhanan yaitu dari umat
kristen dan dari umat islam. Mereka memang sama-sama mengakui Tuhan
maha esa. Namun Tuhannya belum tentu sama dalam pemikiran kolektif
masing-masing! Islam menganggap Tuhan tidak mungkin punya anak
sehingga mengira umat kristen tidak memiliki pemahaman yang sama
seperti mereka. Sedangkan bagi umat kristen, selain Bapa di surga,
Yesuspun adalah Tuhan juga. Dan mereka tetaplah satu. Disini mereka
bukan tidak setuju dengan Tuhan yang esa, melainkan ingin memberi
pengertian (atau memaksakan juga boleh) Tuhan itu ada 3 bentuk tapi
satu, dan mereka adalah anak-anak Tuhan! Umat kristen tidak akan sudi
berdoa melalui nabi Muhammad karena sudah mempunyai Yesus sebagai
perantaraNya. Dan mereka tetap akan merasa heran kenapa umat islam
tidak menyadari bahwa Yesus, anak Tuhan sendiri telah turun tangan dan
seharusnya manusia bersyukur telah mempunyai perantara yaitu Tuhan
yang mewujud dalam daging (Yesus). Nah pikirkan. Ini adalah pikiran
kolektif yang dipunyai umat masing-masing. Apakah konsep-konsep yang
dipaparkan tadi ada yang berupa penerimaan kebenaran hakiki dari agama
lain? Tidak ada bukan? Tapi masih untung pemahaman mereka masih
sejalan dengan sila pertama (karena itu pemikiran mereka disebut
pemikiran kolektif). Bagaimana bagi umat Hindu atau Budha, atau yang
lainnya? NO COMMENT!

3. Membuat masyarakat menjadi kaku dalam melihat nilai-nilai
kehidupan.
Karena apa? Karena hanya bisa bertoleransi! Sehingga mereka masing-
masing banyak gagal dalam melihat benang merah nilai-nilai kebaikan
antar agama. Mengapa menjadi seperti ini? Dalam hidup bernegara,
banyak hal yang harus dimusyawarahkan dan diwujudkan menjadi
peraturan/perundangan untuk kepentingan bersama. Disinilah seharusnya
masing-masing individu bebas dari pengaruh sempit agamanya masing-
masing. Namun tidak akan bisa, karena mereka hanya saling
bertoleransi. Tidak/belum saling mengenal sebagai sahabat atau
keluarga. Tidak percaya juga? Mungkin kebanyakan kita memang MENGIRA
menganggap saudara kita yang beda agama sebagai sahabat atau keluarga
kita. Tapi sejauh-jauhnya toleransi hanya mempunyai hikmah imanku-
imanku, imanmu-imanmu. Agamaku-agamaku, agamamu-agamamu. Padahal, ini
pokok pentingnya. Kita sering kali tidak mneyadari YANG MENJADI DASAR
DARI NILAI-NILAI YANG TELAH MENJADI PRINSIP KITA KEBANYAKAN BERASAL
DARI KEBENARAN TERTINGGI YANG KITA BISA ANGGAP. DAN KEBENARAN
TERTINGGI SERING KALI TIDAK LAIN ADALAH BERASAL DARI KEIMANAN KITA
ATAU KEPERCAYAAN KITA ATAU AGAMA KITA. Hubungan kita dengan Tuhan
MENDASARI hubungan kita dengan antar manusia dan dengan lingkungan
kita. Inilah yang sering tidak kita sadari. Dan nilai-nilai prinsip
seperti ini sudah pasti akan bentrok dengan nilai-nilai prinsip yang
lain yang ditemukan cukup berlawanan. Contoh paling anyar adalah
pembahasan mengeani RUU Pornoaksi. Atau tentang peraturan perijinan
pembangunan tempat ibadah. Nah disinilah nilai dan prinsip saling
beradu, terutama nilai prinsip islam vs nilai prinsip kristen/sekuler.
Masih menyangkalnya? Bagaimana kalau saya katakan pertarungan tersebut
terjadi di bawah sadar masing-masing individu. Disebabkan masing-
masing individu membawa prinsip kebenaran mutlak dari agamanya hasil
dari menuruti para ulama/oendeta/pastor karena hanya menyuruh kita
untuk bertoleransi. Bertoleransi berarti mengakui agama kita mempunyai
kebenaran mutlak. Ini adalah pemikiran kolektif juga, selain Tuhan
adalah yang maha esa. Jadi kita sudah menemukan 2 pemikiran kolektif.
Keesaan dan Kemutlakan. Ada yang berani melawan kebenaran mutlak? Ada
yang berani melawan ulama/pastor/pemdeta. Berarti melawan Tuhan itu
sendiri. Berarti anda akan berdosa sangat besar! Siapa yang berani?
Wajarlah kalau dalam musyawarah terdapat pertarungan ego yang tak
masuk akal. Wajar.

Memang tidak semua yang menjadi pemikiran kolektif adalah negatif
semata. Banyak nilai-nilai yang telah memberikan sumbangsih bagi
kemajuan bangsa dan negara Indonesia tercinta ini. Namun tujuan saya
menulis disini bukan hanya sebagai tukang papar saja. Tapi mengajak
untuk menyadari apa-apa saja pikiran kolektif itu. Kemudian mengajak
lagi untuk memepertahankan yang positf kemudian membuang yang negatif
atau mengembangkannya sehingga menjadi lebih positif. Positif disini
maksudnya adalah sesuai dengan tujuan luhur umat manusia. Yaitu damai
dan bahagia (dan hal yang lain-lainnya juga). Inilah kesamaan tujuan
kita semua. Namun sering-kali kita baru menyadari tujuan kita sudah
melenceng setelah semuanya telah begitu runyam. Mari sekarang kita
berpikir dan menelaah/meninjau ulang/mengevaluasi nilai-nilai kita
kembali sebagai tanda bahwa kita telah cukup dewasa untuk menjadi
bangsa yang berhasil membangun manusia-manusia yang utuh.

Mari kita lanjutkan. Pemikiran kolekttif berikutnya adalah : 2.
Kebenaran yang mutlak.
Ini adalah fundamental dari kebanyakan lembaga keagamaan terutama
agama-agama samawi (terutama pula agama islam dan kristen/katolik di
Indonesia). Mengapa ini disebut salah satu pemikiran kolektif? Karena
hal ini telah begitu banyak menginduksi rasa takut kepada pemeluk-
pemeluknya. Disinilah secara psikologis rasa takut itu bisa dirunut
dimulai dari doktrin kebenaran yang mutlak. Kita bisa merunut-runut
kenapa doktrin ini muncul dan apa sebab-sebabnya. Dimulai dari setiap
individu dipastikan mencari kebenaran dan hikmah dalam kehidupannya.
Individu tersebut tentu awalnya hanya bisa merasakan takjub, kecil,
rendah, heran, atau tak bermakna dihadapan alam semesta yang begitu
besar ini. Singkat kata, kebudayaan Indonesia mengenai hal ini
berkembang dari jaman animisme, dinamisme, dewa-dewa, Hindu, Budha,
Kristen kemudian Islam. Dan beserta variasi-variasi lainnya yang
merupakan minoritas budaya. Terlihat menurut sejarah, manusia
sejatinya selalu mencari pegangan. Mengapa? Jawaban filosofisnya
adalah untuk menemukan dirinya sendiri lagi tentu saja. Untuk
menemukan jawaban SIAPAKAH DIRIKU SEBENARNYA? Inilah pertanyaan yang
menghidupi SELURUH PETUALANGAN MANUSIA. Bagi yang telah menemukan
dirinya (atau dalam proses/sudah mengetahui jawaban siapa dirinya),
kita ucapkan selamat! Tapi bagi yang belum menemukan siapa dirinya,
dipastikan individu itu akan mengalami rasa takut, disebabkan
kekurangpengetahuannya tentang alam semesta. Mudah saja dimengerti
misalnya kita akan sangat takut melihat geledek/kilat dan mengira itu
berasal dari kemarahan dewa-dewa/Tuhan jika kita belum mengenal apa
itu fenomena kelistrikan. Nah sama halnya dengan kita sekarang di
jaman modern ini YANG PENGETAHUANNYA TENTANG KEHIDUPAN SETELAH MATI,
PENGETAHUAN TENTANG KEMATIAN DAN KEHIDUPAN SEBELUM LAHIR, PENGETAHUAN
TENTANG KETUHANAN MASIH NOL BESAR. WAJAR SEKALI KEMUDIAN KITA AKAN
TAKUT AKAN HAL-HAL TERSEBUT. Wajar sekali kita takut terhadap
kematian, karena kita tidak tahu apa-apa mengenainya. Nah disini agama
mengisi peran terhadap ketakutan-ketakutan kita. Dan disini kita bisa
bandingkan perjalanan pengertian/pemahaman melalui agama dengan
perjalanan pengertian/pemahaman melalui iptek. Contoh yang tadi, bila
kita belum mengenal listrik, maka kita membayangkan fenomena geledek
sesuai dengan pengetahuan atau pemahanan yang sedang kita miliki saat
itu. Bisa berupa `Tuhan yang marah’, berupa `langit terbelah’, berupa
`anak dewa petir’, dan jawaban-jawaban lain yang tentu saja sekarang
terdengar sangat menggelikan bagi kita yang telah mengenal listrik.
Menarik untuk dicermati, kebanyakan orang-orang jadul (jaman dulu) itu
memilih pemahaman Tuhan sedang marah, karena itulah pemahaman yang
berasal dari pemikiran kolektif (gereja kristen yang sedang berkuasa)
yang berlaku. Namun bagi orang yang tidak mau menuruti atau didikte
oleh doktrin gereja, mereka mencoba memahami fenomena tersebut melalui
pendekatan lain. Yaitu yang sekarang disebut pendekatan iptek. Sebagai
lawan dari pendekatan dogma gereja. Ada perbedaan mendasar antara
pendekatan iptek dengan pendekatan agama (gereja kristen). Pendekatan
agama mendasarkan pemahamannya pada dogma agama yang bersifat tetap
DAN BENAR MUTLAK (mana mungkin sih agama Tuhan salah? Belakangan ada
cara berkelit yang bagus. Disebutnya INTERPRETASINYA YANG SALAH bukan
Ajaran Tuhan yang salah! Jadi tetap berpegang pada konsep kebenaran
mutlak). Sedangkan pendekatan iptek selalu diasumsikan pendekatan
tersebut bisa salah (tidak ada kebenaran mutlak, adanya asumsi/
kebenaran sementara yang sewaktu-waktu bisa dipatahkan melalui
percobaan/penemuan selanjutnya). Konsep seperti inilah yang melahirkan
metode percobaan modern dan melahirkan loncatan teknologi yang sangat
luar biasa. Dan mengapa pendekatan iptek melahirkan kemajuan? Karena
pendekatanya itu sendiri (iptek) mencoba selaras dengan gejala alam
(yaitu selalu berubah, sehingga bagi iptek segalanya hanyalah asumsi.
Kerendah-hatian kalangan iptek terhadap fenomena alam. Kerendah-hatian
selalu melahirkan pemahaman yang utuh). Jadi mirip seperti membaca
alam semesta. Untuk dapat membaca alam, kita harus menjadi satu
dengannya dengan memperhatikan tanpa teori dan asumsi. Kembali lagi ke
pemikiran kolektif : Kebenaran Mutlak. Bertolak belakang sekali dengan
pendekatan iptek. Sehingga yang terlihat dan terjadi adalah, kalangan
yang masih mengikuti pemikiran kolektif waktu itu (gereja yang
berkuasa) masih merasa ketakutan akan fenomena geledek, sedangkan
kalangan ilmuwan sudah pasti akan menertawakan ketakutan yang tak
berdasar seperti itu. Hal ini mungkin bisa diaplikasikan sama persis
dalam dunia modern sekarang ini yaitu contohnya, dengan fenomena
kematian, fenomena reinkarnarsi, fenomena roh, fenomena telepati,
fenomena indera keenam, fenomena-fenomena ganjil dan misteri lainnya.
Entahlah apakah fenomena-fenomena tersebut akan menjadi teknologi
(seperti fenomena petir yang menjadi teknologi listrik) atau hanya
karena keterbatasan persepsi kita saja (yang di jaman dulu pernah
mengira bumi itu datar atau bumi sebagai pusat tata surya). Apakah
kita semua takut dengan fenomena-fenomena ganjil-misteri tersebut?
Jelas (siapa sih yang gak takut mati?). Nah sekarang sepertinya akan
terulang lagi sejarah seperti yang dulu. Pilihannya, bertahan dengan
dogma agama, atau mau membuka pikiran seluas-luasnya terhadap segala
yang mungkin? Dan saya tahu, kebanyakan orang akan bertahan dengan
dogma agama. Mengapa? Ya itu, karena rasa takut. Rasa takut terhadap
kehidupan (kematian adalah FENOMENA KEHIDUPAN JUGA). Dan rasa takut
ini begitu merasuk dikarenakan orang ingin CEPAT-CEPAT mendapatkan
rasa aman. Penyebabnya bisa banyak. Bisa dikarenakan pendidikan sedari
kecil, bisa dikarenakan dulu ada luka batin dan tertutupi oleh
kegembiraan beragama, kebiasaan keluarga atau sebab-sebab lainnya yang
biasanya saat ini berada di bawah sadar. Itu semua alias
kekurangpengetahuan saja. Contohnya, kita sekarang tidak mungkin bukan
menyembah geledek agar tidak menyambar diri kita? Atau lebih absurd
lagi menyembah mobil di jalan agar nanti tidak menabrak diri kita?
Karena kita tahu cara kerja sebab-akibat dari geledek dan dari mobil
tersebut. Sehingga kita sudah mempunyai derajat kepastian dan derajat
keamanannya. Sedangkan pada fenomena kematian di jaman modern ini,
kita tidak mempunyai pengetahuan apa-apa mengenai kepastian dan
keamanannya. Sehingga mungkin bisa dimengerti bilamana ada orang yang
menyembah geledek atau mobil dikarenakan orang itu selama hidupnya
dididik di suku terpencil yang belum mengalami kemajuan modern.
Apalagi untuk contoh sekarang, kita semua melihat orang-orang
menyembah Tuhan (pengaruh dari pikiran kolektif mayoritas yang begitu
kuat), sehingga membuat hal itu menjadi normal (yang normal belum
tentu alami), sehingga dengan mudah kita mengikuti saja untuk menutupi
rasa takut dan mencari rasa aman kita. Inilah penyebab utamanya
mengapa timbul doktrin kebenaran mutlak, karena kalau tidak mutlak
(tidak mutlak berarti menjadi pendekatan secara iptek) sama saja
menantang rasa takut kita sendiri yang analoginya seperti ilmuwan yang
menantang dirinya untuk mengetahui fenomena geledek dengan nekat
memainkan layang-layang ditengah hujan geledek. Yah, kemudian dengan
mudah pula kita memahami konsep kebenaran mutlak menjadi ego seseorang
(yang menetap, tidak mau berubah) dan menguatkan kembali menjadi
pemikiran kolektif yang tambah-tambah kuat.

Jadi kita semua kemudian melihat fenomena-fenomena sosial yang lain.
Seperti fundamentalis, terorisme, anarkis, dsb-dsb yang timbul dari
rasa takut dicampur rasa cari aman kemudian digodok menjadi pemikiran
kolektif mayoritas yang pengaruhnya semakin menguat dan menguat. Yang
bisa kita lakukan terhadap pemikiran kolektif yang telah membawa kita
menjadi salah jalan adalah, setelah menyadari bagaimana awal
terbentuknya pemikiran kolektif tadi (yang telah dibahas panjang-lebar
di paragraf sebelumnya), kesadaran ini kemudian membawa kita kepada
pemahaman yang utuh bahwa sebenarnya kita semua ini adalah sama. Sama-
sama mempunyai masalah yang sama. Yaitu rasa takut. Yang kemudian
menjadi rasa ego pencari keamanan melalui benteng ketakutan. Inilah
dasar konflik kita semua. Itulah mengapa kita dengan mudahnya menerima
konsep-konsep yang sebenarnya susah dicerna akal sehat. Misalnya
konsep Tuhan yang bisa marah, bisa menghukum, konsep dosa, konsep
setan, konsep dosa turunan, konsep keselamatan, konsep pahala dan
hukuman, konsep surga dan neraka. Yang herannya adalah kita
kelihatannya kurang sekali belajar dari sejarah. Apa karena kita sudah
terlalu terikat sama ego kita yah? Padahal konsep-konsep seperti itu
telah usang diterapkan di fenomena-fenomena alam di jaman-jaman moyang
kita. Kita sulit sekali mengambil hikmah rupanya. Lihatlah kasus
Copernicus, lihatlah kasus para penyihir, lihatlah jaman kegelapan
baik di eropa maupun di arab. Dan yang paling jelas dari hasil
pemikiran kolektif kita mengenai ketuhanan secara langsung maupun
tidak langsung, LIHATLAH 1 MILYAR ORANG KELAPARAN DI DUNIA INI. Boro-
boro menyikapi fenomena fisik, fenomena sosial saja disikapi dengan
cara dogmatik pula. Saya tidak mempersoalkan isi dari dogma tersebut,
tapi saya mempersoalkan pendekatannya. Pendekatan dogmatis terbukti
tidak cocok dalam mendekati atau memahami kehidupan. Kehidupan adalah
PERUBAHAN. Iptek bisa berjalan seiring dengan perubahan. Sedangkan
dogma tidak dapat seperti itu.

Pikiran kolektif merupakan akar-akar yang perlu kita tinjau kembali.
Disebut akar, karena pikiran kolektif lebih bersifat tidak disadari
disebabkan karena kekuatan yang berasal dari mayoritas pemikiran
tersebut (kolektif). Pertama, sadari, baru bisa melihat akar-akarnya.
Kemudian, setelah bisa melihat akar, maka dapat dipilah mana akar yang
masih menyokong tujuan mulia kita mana yang tidak lagi menyokong. Cara
mengetahuinya adalah bisa melalui menyadari mengapa timbul akar
pemikiran tersebut, atau bisa belajar dari sejarah timbulnya akar
pemikiran tersebut, atau bisa dilihat dari akibat-akibat dari
penerapan akar pemikiran tersebut apakah negatif atau positif (sesuai
tujuan atau tidak?). Ini sangat penting! Karena kalau pemikiran
kolektif (atau akar-akar pemikiran) tidak disadari dengan benar, maka
akar-akar pemikiran tersebut akan membusuk di dalam hati kita (artinya
kita tanpa menyadarinya menjadi budak dari akar pemikiran tersebut),
dan akhirnya menjadi dogmatis. Kalau sudah begini biasanya kita hanya
bisa saling menyalahkan, bingung melihat keadaan yang semakin buruk,
frustasi, menuju pada gejala psikologi penghancuran diri. Sudah banyak
gejala yang terjadi seperti ini di Indonesia. Mereka masih saja hanya
memperbaiki sintom-sintomnya saja. Akar yang telah membusuk dibiarkan
saja. Padahal perubahan sejati dimulai dari : akar pemikiran (bisa
berupa pemikiran kolektif atau keimanan atau doktrin) baru bisa
merubah nilai-nilai dan prinsip (yang didasari dari akar pemikiran)
dan baru tingkah-laku (yang didasari dari nilai-nilai) akan ikut
berubah sejalan dengan akar-akar pemikiran yang masih segar dan
dicerahkan tersebut.

Hanya dua contoh pemikiran kolektif mengenai ketuhanan yang saya
paparkan. Masih banyak yang lain dan akan terlalu banyak kalau hanya
dibahas ditulisan ini saja. Mungkin dikesempatan lain akan saya bahas
pemikiran kolektif berikutnya. Namun baik juga bila saya persilahkan
anda-anda sekalian ikut meneliti pemikiran kolektif yang lain dan
sekaligus menyadari kekuatan dari pikiran kolektif tersebut yang telah
menetap kebanyakan di bawah sadar kita.
Jadi, selamat meneliti akar pemikiran anda! Dan sadari pula pemikiran
kolektif yang mendukungnya!

Salam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s