Realitas Itu Membebaskan

Mudah sekali orang mencapai hati yang bersih, pikiran yang tenang,
perasaan yang peka dan tubuh yang rileks, segala macam atribut
pencapaian spiritual dan kebahagiaan, ketika saat sedang melakukan
meditasi, doa hening, perenungan, refleksi, rileks mendengarkan
musik yang menghanyutkan, di dalam rumah ibadat, dsb. Namun, coba
cemplungkan orang tersebut kedalam hiruk-pikuk dunia. Kedalam hiruk-
pikuk dunia bisnis, dunia rumah-tangga, dunia hiburan, dunia godaan,
dunia dosa dan kejahatan, dunia pamer, dunia topeng-topeng, dunia
kemunafikan, dsb. Maka bisa dipastikan nilai-nilai dan jejak-jejak
kebahagiaan yang pernah dia rasakan selama retret (meditasi dsb.)
terabrasi atau malah menjadi lupa, lenyap bersama dengan keadaan
hati yang sebelumnya itu. Sulit sekali mempertahankan kemawasan diri
ditengah serbuan energi-energi penderitaan dan kekalutan. Sulit
mencari ketenangan diri ditengah dunia hiburan yang penuh gosip,
dunia bisnis yang penuh intrik, dunia munafik yang penuh siasat,
dunia kedosaan yang penuh penyangkalan, dsb. Saya bahkan hampir
yakin, tariklah seorang pertapa saleh dan jadikan dirinya seorang
ayah dari 5 orang anak-anaknya yang hampir mati kelaparan, atau
jadikan seorang direktur yang perusahaannya hampir roboh. Jadikan
dia seorang negosiator bisnis yang harus mengkompromikan
integritasnya demi asap dapur keluarganya sendiri yang harus tetap
ngebul plus asap dapur seratusan kolega yang lainnya yang bergantung
pada kompromi hasil negosiasi tersebut. Jadikan dia apapun yang
ditawarkan oleh dunia, uang, sex, kekuasaan, dan lihat apakah dia
masih tetap saleh dan sederhana jiwa kehidupannya. Masihkah dia
mempunyai kebijaksanaan yang dapat membuka hati orang-orang?
Masihkah dia murah senyum, tidak serakah dan selalu merasa cukup
atas segala yang dia terima?

Bagaimana dengan orang yang telah menjadi penjahat, telah dicap
oleh masyarakat dirinya adalah penjahat? Apakah orang tersebut
mungkin saja malah sanggup di kemudian hari memunculkan keluhurannya
sebagai manusia karena kerap mendapatkan hikmah dari kejahatan-
kejahatannya? Setiap peran yang ditawarkan oleh dunia ini, menuntut
kita untuk selalu mengekspresikan diri tidak peduli nilai-nilai yang
sedang kita anut saat itu. Dunia tidak memedulikan apakah anda
sedang tersesat, tergoda, penuh luka batin, menderita karena
menganut nilai yang menurut anda salah/tidak sesuai dengan keinginan
anda. Dunia tidak peduli! Yang dipedulikannya hanyalah menawarkan
kesempatan yang tak terbatas untuk ikut mengalir bersamanya. Dan
apapun reaksi anda, ekspresi anda tetaplah terekspos bagi dunia.
Meskipun anda tidak mau mengakuinya. Anda menolak untuk bermain?
Penolakan anda itulah ekspresi anda yang terwujud di dunia. Anda
berpura-pura bermain? Kepura-puraan anda itulah ekspresinya. Anda
munafik, anda bermain peran, anda tertekan, dsb, semua itu adalah
ekspresi anda sendiri yang anda wujudkan di dunia ini. Anda siap
atau tidak, yang sedang `ada’ di dalam diri andalah yang akan keluar
sebagai ekspresi dari anda. Bila anda malah terlihat konyol,
memalukan, minder, rakus, serakah, ambisius, tidak pedulian, jahat,
licik, curang, dsb. Itulah ekspresi anda sejalan dengan waktu dan
kesempatan yang mampir di kehidupan anda. Walaupun anda berusaha
untuk menyangkal ekspresi anda yang jelek-jelek dan hanya mengakui
ekspresi yang bagus-bagus saja, tetap saja anda tidak berkuasa
menunda sang waktu dan sang kesempatan untuk tidak menarik ekspresi
anda (yang manapun) ke dunia nyata. Itulah kita. Takut untuk
terekspos oleh realitas. Takut untuk hidup apa-adanya.

Yang aneh dari diri kita adalah, kita berusaha mati-matian untuk
membuat hidup kita menjadi membosankan dengan hanya membolehkan
mengekspos ekspresi diri kita yang baik-baik saja. Mengapa
membosankan? Karena filterisasi seperti itu membuat kita menjadi
penuh perhitungan dengan mekanisme penciptaan kesempatan di
kehidupan ini. Filterisasi ini biasa disebut sebagai RASA AMAN. Dan
tanyakan saja kepada orang-orang yang menilai dirinya telah hidup di
zona rasa amannya. Jawabannya adalah masalah mereka malah bertambah
satu, yaitu hidup menjadi penuh rutinitas dan MEMBOSANKAN. Mereka
yang merasa hidupnya terkurung pada rutinitas dan kebosanan, yang
ironisnya, pagar kurungan itu sendiri adalah rasa amannya sendiri.
Hidup mereka menjadi serba-salah dan serba ditekan. Hasilnya adalah
berpura-pura bahagia di dalam kebosanannya karena tidak merasa
sanggup untuk hidup penuh warna yang sering dimimpikannya namun
terlalu pengecut dan bersembunyi daripada menjalankannya. Itu adalah
penderitaan tersendiri. Belum lagi kecemasan dan ketakutan dalam
menjaga agar pagar kurungan rutinitas itu tidak melemah atau menjadi
roboh. Mereka selalu ingin agar hidup selalu dapat diprediksi,
diramalkan kalau perlu digladi-resikkan. Sayangnya alih-alih
mendapatkan kedamaian, malah lebih sering mendapatkan kegelisahan,
rasa rendah diri, rasa pahit, pengekangan/penyangkalan diri, iri
hati, dan masih banyak efek perasaan lain yang begitu menekan
seiring dengan semakin cepatnya sang waktu berlalu dan semakin
jauhnya hiruk pikuk ekspresi dari sang kesempatan yang telah
meninggalkan kehidupan mereka yang sepi dan kering. Karena sang
kesempatan di kehidupan mereka selalu mendapatkan ekspresi yang sama
dari mereka, yaitu ekspresi kebosanan sekaligus kecut dan takut.
Membosankan memang.

Jikapun akhirnya mereka ikut bermain atau ikut mengambil kesempatan,
mereka akan bermain penuh perhitungan, atau karena mereka sangat
sulit memberikan diri mereka sepenuhnya dalam berinteraksi dengan
karakteristik kehidupan (karena selama inipun sudah sangat terlatih
untuk menarik diri). Mereka terjebak dengan perhitungan dan
penilaian mereka sendiri. Mereka masih menyangkal ekspresi-ekspresi
mereka sendiri. Bermain bagi mereka adalah BERJUANG. Mereka tidak
bermain apa-adanya melainkan menghindari luka bagi mereka berupa
penghindaran ekspresi yang buruk-buruk dan hanya mencari kesempatan
untuk semakin memunculkan ekspresi mereka yang bagus-bagus saja.
Ironisnya, semakin mereka mencari-cari kesempatan seperti itu (untuk
ekspresi bagus) kesempatan itu dirasakan semakin jarang. Dan semakin
mereka menghindari ekspresi mereka yang jelek-jelek, semakin
sedikitlah peran mereka dalam permainan tersebut, alias mereka akan
merasa seperti dikucilkan, tidak dihargai, tidak dianggap, atau
keluar dari kelompok permainan kehidupan. Maka tidak lama kemudian,
mereka akan marah terhadap permainan tersebut, marah terhadap
kehidupan, marah terhadap kesempatan yang semakin jarang, marah
terhadap manusia lain yang dinilainya bejat dalam moral, marah
terhadap dirinya-sendiri yang merasa hidupnya sial dan penuh dengan
perjuangan, bahkan marah terhadap Tuhan yang membuat hidup lebih
banyak nerakanya daripada surganya. Sedangkan kehidupan? Tetap
setianya memungut setiap ekspresi yang terekspos (apapun itu) di
tiap kesempatan yang telah tersedia. Kehidupan hanya melakukan hal
itu, terus dan terus, tidak peduli empunya marah-marah karena
ekspresinya diambil (diekspos).

Jadi, apa yang harus kita lakukan? Saya akan mengatakan, TIDAK ADA
YANG HARUS dilakukan. Anda tidak berkewajiban untuk melakukan apapun
untuk memperbaiki interaksi anda dengan kehidupan. Soalnya kehidupan
juga tidak peduli apakah anda harus diperbaiki atau tidak. Kehidupan
hanyalah mesin pemungut ekspresi kita. Tidak lebih dan tidak kurang.
Anda bebas kok mengeluarkan ekspresi apapun yang anda suka dan
kehidupan akan selalu memungutnya apapun itu. Anda bebas. Sayapun
bebas. Inilah yang sangat sulit kita percayai. Inilah yang sangat
sulit kita lihat sebagai kenyataan. Tidak perlu sampai memperbaiki
diri. Kalau anda suka dengan ekspresi-ekspresi anda yah teruskan
saja pola kehidupan anda. Jika anda tidak suka, yah jangan lakukan
pola kehidupan seperti itu, simpel khan?

Realita di dalam diri anda (perasaan) tidaklah berbeda dengan
realita di luar diri anda. Anda tidak akan mempunyai jejak perasaan
apapun kalau anda tidak mengalami kehidupan. Simpel bukan? Jadi
perasaan merupakan reflektif dari pengalaman hidup anda. Jika anda
menyangkal perasaan anda sama-saja mengatakan anda telah menyangkal
pengalaman yang telah anda alami. Ekspresi berasal dari kumpulan
perasaan dan kumpulan pemikiran yang mewujud. Pikiran adalah
kumpulan jejak pengalaman yang telah menjadi memori. Perasaan adalah
kumpulan jejak pengalaman (baik dari pikiran maupun yang dialami
secara langsung) yang direflektifkan sekaligus diwujudkan secara
fisik melalui reaksi tubuh. Kita jarang menyangkal pemikiran kita
sendiri karena pikiran gampang dicari rasionalisasinya. Namun kita
seringkali menyangkal perasaan kita sendiri karena perasaan tidak
dapat dirasionalisasikan ketika kita tidak menginginkannya. Perasaan
lebih langsung mewujud secara fisik dibandingkan pikiran. Sehingga
ketika kita sedang menyangkal perasaan kita, imbasnya langsung
terasa pada kesehatan dan kestabilan tubuh. Secara harafiah,
perasaan adalah ekspresi yang paling langsung dan asli dari diri
kita dibandingkan dengan pikiran karena pikiran telah selalu
dirasionalisasikan (dipilah-pilah, difilter sebelum mewujud secara
fisik) dulu supaya sesuai dengan kemauan diri kita. Namun perlu
diingat, sesungguhnya pembedaan antara pikiran dengan perasaan
hanyalah bertujuan untuk mempermudah pemahaman kita mengenai
ekspresi diri. Sebenarnya diri kita tidaklah terpecah menjadi dua
bagian seperti itu, melainkan hanya diri yang utuh. Jadi sebaiknya
kita tidak terjebak dengan kebingungan antara ekspresi `merasa’
dengan `berpikir secara rasional’, karena dua-duanya menyatu dan
saling mempengaruhi.

Jadi pentinglah untuk menerima perasaan kita apa-adanya. Karena
dengan begitu otomatis kita menerima kehidupan apa-adanya. Menolak
kehidupan hanyalah berarti menolak perasaan kita sendiri
terhadapnya. Kemudian penolakan itu diteruskan sehingga dirasakan
secara fisik oleh tubuh, kemudian dirasakan melalui rasio atau
pikiran. Pikiran biasanya sanggup merasionalisasikannya sehingga
seolah-olah peristiwa yang harus ditolak/menyakitkan itu tidak
terjadi. Tubuhpun sanggup tidak merasakan peristiwa yang
ditolak/menyakitkan tersebut melalui sugesti atau perintah melalui
pikiran. Namun perasaan hanyalah dapat ditekan dan disimpan dalam
bawah sadar pikiran menggunakan sistem penyimpanan logika pemicu
(pemicunya bisa peristiwa atau suatu pemikiran tertentu yang sedang
terbetik). Yang artinya jika pemicunya dapat disembunyikan,
dihindari, tidak dipikirkan, maka perasaan tersebut akan tetap
tersimpan baik di gudang bawah sadar. Jika suatu waktu pikiran tak
bisa menghindar atau peristiwa pemicunya tak dapat dihindari, maka
perasaan itu akan muncul kembali. Ini cukup merugikan, karena
perasaan yang ditekan, memakan terus energi tubuh untuk supaya bisa
menekan perasaan itu sedalam mungkin dan bisa tidak dirasakan oleh
tubuh secara langsung. Sehingga membuat energi penekan semakin
membesar. Dan jika perasaan yang ditekan akhirnya muncul kembali,
akan muncul sambil diperkuat dengan energi penekan (hukum aksi-
reaksi energi). Dan ini berarti terjadi ledakan perasaan/energi
yang tidak sehat yang dapat mengganggu sistem kesetimbangan energi
tubuh dan kekebalan tubuh.

Cara yang paling baik untuk menghindari ledakan energi perasaan yang
ditekan seperti ini adalah dengan menyalurkan perasaan tersebut
sesegera mungkin. Baik itu perasaan positif maupun perasaan negatif.
Tentu tidak harus menyalurkan sampai berwujud secara fisik, sampai
menyakiti orang lain atau menyakiti tubuh sendiri. Melainkan dengan
MENGALAMI LANGSUNG perasaan anda. BUKAN HANYA MENGAMATI BELAKA.
ALAMILAH SECARA LANGSUNG inilah kuncinya menyalurkan perasaan anda.
Karena ketika anda mengalami langsung perasaan anda, sama-saja
mengatakan anda telah membuat kontak langsung dengan realitas
sesungguhnya. Realitas yang paling murni adalah energi, begitu pula
wujud manusia yang paling murni adalah energi pula, dalam hal ini
energi itu DIRASAKAN LANGSUNG MELALUI PERASAAN. Itulah antena
penerima paling langsung yang dipunyai oleh sistem intelegensi anda
(otak anda dan intelegensi yang terkandung di seluruh sel tubuh
anda).

Dengan mengalami langsung perasaan anda, maka anda telah merasakan
sendiri aliran energi langsung dari kehidupan yang dirasakan melalui
tubuh anda. Ingatlah perasaan TIDAK mempunyai penghakiman internal
nilai. Yang mempunyai sistem penghakiman nilai adalah pikiran rasio.
Di dalam perasaan yang ada hanyalah energi yang terasa negatif
(tidak enak pada tubuh) dan energi positif (yang enak pada tubuh).
Energi negatif pun bukanlah berarti energi yang dinilai oleh tubuh
sebagai yang buruk. Energi negatif berarti ada sumbatan energi
sehingga aliran energi tersebut terasa seperti menyakiti tubuh.
Sumbatan energi terjadi akibat perasaan yang ditekan sampai
menggumpal karena tidak dipedulikan oleh sistem tubuh (pikiran). Ini
bisa menyebabkan penyakit pada tubuh. Pada energi positif, aliran
tidak dihambat oleh sumbatan sehingga bisa harmonis dengan sistem
tubuh bahkan menguatkan. Perlu diingat pula, 70 persen tubuh kita
sesungguhnya adalah cairan, sehingga penting sekali untuk selalu
tetap mengalir sehingga dapat terus memperbarui diri. Kalau anda
terus tidak membiarkan diri anda untuk mengalami langsung perasaan
anda, maka permasalahan sumbatan itu akan tetap ada, aliran anda
akan semakin terbatas, energi yang dapat diperbarui juga semakin
terbatas, kontak dengan realitas untuk memperbarui energi (bayangkan
sesak nafas) juga semakin terbatas, tubuh anda bisa-bisa hanyalah
menjadi sampah yang terus-menerus didaur-ulang namun tidak dapat
dikonversikan menjadi energi yang segar karena terlalu beracun dan
tidak ada sentuhan udara dan sinar realitas.

Jadi ketika ada perasaan yang negatif, alami langsung perasaan
tersebut bersama dengan pemicu peristiwa/pikirannya. Contohnya,
saat menunda presentasi karena takut bermasalah. Apabila pemicunya
adalah ketakutan makalah anda dinilai buruk, hadapilah langsung
kertas-kertas presentasi anda yang masih anda nilai buruk, dan ALAMI
LANGSUNG PERASAAN YANG TERKAIT. Kedua hal itu sama, saling terkait,
TIDAK TERPISAH, SAMA-SAMA REALITA YANG SAMA. Jika anda ngotot
menghadapi makalah anda tapi mengabaikan perasaan anda (dengan
sugesti berpikir positif misalnya), anda tidak akan bisa melihat
dengan jernih REALITA SESUNGGUHNYA YANG TERJADI PADA ANDA.
Pertimbangan anda akan menjadi tidak jernih karena anda tidak ikut
mempertimbangkan perasaan anda. Solusi yang anda dapatkan pun tidak
akan memuaskan anda karena memang anda hanya melihat `separuh’
realita yaitu hanya melalui pikiran rasio belaka. Lain halnya kalau
anda mau mengakui dan mengalami perasaan anda sendiri. Pastilah anda
mengalami proses menjadi lega karena perasaan anda telah/sedang
tersalurkan. Artinya, jika marah, marahlah, jika frustasi,
frustasilah kalau perlu sampai keluar kata-kata tak senonoh di
kepala anda pun tak masalah. Menyakiti diri pun oke. Sakitilah
sampai puas (asal jangan diwujudkan dalam fisik, hanya perlu sampai
tataran mental saja). Rendah diri? Minder? Sedih? Mengutuk?
Menghujat? Ingin membunuh pun oke-oke saja. Terus. Teruslah
keluarkan seluruh perasaan negatif anda. Sampai anda puas. Kalau
masalahnya berat, mungkin perlu sampai anda menangis atau berteriak-
teriak (usahakan jangan sampai mengganggu orang lain). Sebagai
pertimbangan, dalam `membaca’ realitas (kata lainnya mengalami
perasaan), menyalahkan atau membenarkan perasaan anda malah dapat
menghambat dalam mengalami proses perasaan diri. Jika kita masih
bersikeras terikat dengan nilai benar-salah seperti itu, maka kita
dipastikan akan menekan perasaan yang `salah’ dan hanya meneruskan
perasaan yang `benar’. Kita masih menunda bersentuhan dengan
realitas karena kita ingin menjadi `benar’ seluruhnya terlebih
dahulu. Jadi supaya tidak terjadi tundaan, lepaskan sajalah nilai
benar-salah kita dahulu, sentuh saja realitas apa-adanya tanpa
pretensi apapun. Sesederhana mungkin. Jika masih terasa ada
sumbatan/tekanan perasaan, alirkan sebisa mungkin tanpa penghakiman.
Lalu tatap kembali pemicu anda. Tatap kembali makalah-makalah sumber
masalah anda tersebut. Jika anda sudah benar-benar tenang dan semua
perasaan telah tersalurkan dengan baik, maka anda akan menjadi jelas
dan sadar KEBERFUNGSIAN (PERAN) ANDA DAN TUJUAN ANDA dalam hal
permasalahan makalah ini. Anda akan sadar ekspresi apakah yang anda
lakukan berikutnya. Anda akan melihat gambaran besarnya. Sudut
pandang anda akan menjadi lebih lebar. Bahkan anda akan tertawa
sendiri pernah bisa merasa frustasi atas masalah ini padahal
permasalahannya hanyalah kabut pada mata anda sendiri yang menutupi
visi (tujuan) anda dan keberfungsian anda. Keberfungsian disini yang
saya maksud adalah anda dapat berekspresi sesuai dengan fungsi yang
anda maksud (tidak anda anggap salah arah) dalam mencapai tujuan
yang telah menjelas. Diri anda bekerja begitu saja tanpa usaha.
Itulah keberfungsian. Keharmonisan dalam mencapai tujuan.

Saya berikan contoh riil yang lain. Misalnya ada seorang PNS yang
terhitung masih anak baru yang ingin meraih konduite bagus supaya
bisa dipromosikan tahun depan. Dirinya lalu digoda untuk menerima
sogokan dari para pengusaha. Jika dia menekan/terikat dengan
perasaannya (yaitu rasa takut, was-was, takut disalahkan), maka
responnya akan menjadi kaku. Pemilihan responnya pasti mencari cara
yang paling aman yaitu meniru dari pengalaman sogok-menyogok senior-
seniornya yang belum tentu tepat dengan kondisinya. Bila dia menjadi
begitu ketakutan dan tegang sekaligus was-was, maka respon dia
hanyalah pasif belaka, tidak berani mengambil tindakan dari otoritas
sendiri, melainkan mencari otoritas lain misalnya tidak mengiyakan
juga tidak menolak sogokan tersebut (seperti itulah yang
dinasihatkan oleh senior-seniornya). Pengusaha yang berusaha
menyogok dia tentu saja mudah melihat ketakutan dirinya untuk
kemudian melakukan provokasi sehingga pada akhirnya dirinya bisa
dibujuk dengan memberikan nomor rekening banknya jikalau dia setuju
menerima sogokan. Mengapa bisa terjadi seperti ini? Karena memang
yang dia lakukan hanyalah bersikap pasif, maka agar bisa terbebas
dari provokasi pengusaha tersebut dia berikan saja nomor
rekeningnya. Setelah kejadian tersebut, untungnya si pns lapor sama
atasannya. Mengejutkan, atasannya marah besar (karena peduli pada si
pns). Atasannya mengatakan bahwa nomor rekening bank bisa menjadi
bukti atau si pns bisa dijadikan kambing hitam jika ada kasus
penyogokan nantinya. Si pns menyadari kesalahannya dan buru-buru
menutup nomor rekening bank yang telah diberikannya itu.
Beruntunglah nasi belum menjadi bubur ayam. Lain halnya andaikan
dari awal si pns mengalami dahulu perasaannya secara langsung,
MERELAKAN rasa bersalahnya (nilai benar-salah) sehingga perasaannya
dapat mengalir mulus, maka dia bisa merasakan perasaannya perlahan-
lahan menjadi plong terlebih dahulu sehingga tidak menjadi kabut
pada pandangannya kedepan mengenai permasalahan sogok-menyogok ini.
Dia kemudian bisa mulai `membaca’ kondisi perasaan pengusaha
tersebut, karena dia sudah mulai terhubung dan mengalir bersama
realitas (dengan mencairnya dan mengalirnya perasaannya di dirinya
sendiri) yang kemudian memungkinkan dia untuk membangun komunikasi
perasaan dengan pengusaha tersebut. Dia jadi tahu sesungguhnya apa
yang diungkapkan dari perasaan sang pengusaha (yang dapat dilihat
dari bahasa tubuh, tatapan mata, dsb) Setelah itu, dengan mudah pula
dia akan bisa melihat yang dipertaruhkan disini adalah konduite
untuk promosi jabatannya, sehingga dia akan dengan mudah menolak
sogokan tersebut, menolak memberikan nomor rekening bank, tanpa
merasa munafik telah menjadi anak baik-baik. Tanpa merasa disalahkan
dari misalnya seniornya karena telah menolak sogokan. Jikapun
kasusnya kita buat lain, misalnya bukan konduite yang dipertaruhkan,
dia tidak mengejar promosi jabatan, melainkan butuh uang cepat
karena butuh biaya berobat atau ada alasan lain yang tidak
mengganggu integritasnya (jika menguliahkan anak ke luar negeripun
melalui menerima sogokan tidak mengganggu integritas), maka dengan
mudah dia bisa setuju menerima sogokan dan tetap jelas melihat masih
perlunya berhati-hati (toh dia tidak ingin sampai dipecat walaupun
sudah tidak memedulikan konduitenya, udah tahu sama tahu khan)
dengan tidak menyerahkan nomor rekening melainkan langsung secara
tunai. Hal yang terpenting disini adalah, dia menerima sogokan TANPA
PERLU MERASA BERSALAH! Dia ikhlas menerima sogokan.

Inilah yang saya sebut realitas yang membebaskan. Ketika kita
terhubung dengan realitas melalui menerima pengalaman perasaan diri
dan tidak menghakimi perasaan diri kita, seketika itu juga kita
bebas tidak berkabut dalam melihat sistem mekanis sebab-akibat dunia
ini. Dengan mudah kita mengetahui rantai akibat dari
pilihan/ekspresi yang kita ambil, kemudian memilih yang paling
menguntungkan bagi diri kita tanpa merusak harmoni aliran realitas-
perasaan apalagi integritas diri kita. Mengalir bersama realitas
adalah integritas kita yang tertinggi. Karena dengan begitu
integritas kita adalah integritas alam/realitas. Bukan integritas
buatan konsep pikiran yang terkadang harus dipertahankan mati-matian
karena bisa tidak bisa mengalir bersama realitas.

Jadi siapkah kita semua bersentuhan dengan realitas? Atau sampai
perlukah kita menunggu kematian untuk bisa bersentuhan dengan
realitas sedangkan selama itu kita terperangkap oleh pikiran kita
sendiri, terperangkap oleh DUALITAS? Harus ada penderitaan jika
ingin bahagia, pikiran kita merasiokan. Namun jika kita hanya
MENGALIR SAJA APAPUN ITU, BUKANKAH HAL ITU MENJADI TIDAK RELEVAN?
Ibaratnya harus ada Hulu (baik) dan Hilir (jahat) supaya ada aliran
bukan? Namun kita tidak terikat dengan Hulu (baik) maupun Hilir
(jahat). Karena yang tersisa hanyalah aliran dan ekspresi. Karena
selama kita masih terperangkap dengan benar-salah, kita tidak akan
bisa mengalir.

Jadi, selamat berekspresi, apapun itu! Sebebas keberfungsian anda.
Sepanjang aliran energi/perasaan yang tak bersekat dengan realitas.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s