Sepeda Kontrol

Suatu hari, di tengah hutan yang agak-agak lebat nan hijau di
pinggiran desa yang berjalan aspal kecil-kecilan, tergoreslah sebuah
ban kecil berdecit sedikit berayun ke utara-selatan dengan jeruji besi
yang cukup tua dan karatan. Sebut saja nama abang si pengayuh sepeda
tua itu adalah Mandar Bedaga. Mandar Bedaga ini membawa terong-terong
segar yang dikontrol melalui tali-tali yang cukup kuat dan tua pula.
Ibu-ibu dengan setianya menunggu di pinggiran depan pasar yang baru
kaget, berharap ceria-ceria melihat sang Mandar membawa terong nan
segar. Rencananya terong ini akan dilempar-lemparkan, maklum hari ini
adalah hari ulang tahunnya pak Mandar. Jadi terong yang dilempar itu
bisa dibayar besoknya gak usah hari itu juga. Namun naas bagi sang
Mandar, sepedanya tergelincir hampir jatuh, namun terongnya sudah
keburu jatuh duluan, terinjak ban cuman kena sedikit tapi
mengakibatkan mencelat muncrat ke mulutnya salah satu ibu-ibu yang
cukup bahenol. Akibatnya pula cairan terong itu agak membuat noda
fraktal di rok bagian bawah sang ibu muda yang bahenol tersebut.
Tersebutlah sang ibu ternyata ndak marah karena ternyata terongnya
sudah cukup masak. Malah mang Mandar menawarkan sebuah terongnya lagi
ke ibu muda itu. “Mau gak jeng dikombo?” Kata ibu muda itu, “mas,
sayangnya kok kurang bengkok. Punya yang bentuk pisang gak?” Kata mang
Mandar, “Jangan ah, nanti bisa kepleset, berabe sama mandor.” Ibu muda
itu langsung menanggapi, “Hmm, saya rasa enggak kok mang, saya tunggu
ya di rumah, mang beresin dulu tuh terong menggantungnya.” Mang Mandar
berkata “Yang mana nih yang jeng maksud terongnya?” Ibu muda itu
langsung ngeloyor pergi sambil berdesis, “Uuu… maunya….”

“Mas bagi rokoknya dong….?”
“Yeee, emang elu ngerokok…?”
“Yeee, emang pernah gw bilang gw ngisep?”
“Yeeee, siapa yang bilangin elu ngisep. Ngerokok tau…!”
“Btw elu udah punya gebetan yang baru nih…!”
“Yeee, dia mah gak ngerokok…”
“Gak ada hubungan lagi…!”
“Biarin!”
Begitulah percakapan dua insan yang cintanya gak pernah kesampaian.
Mereka saling mencintai namun sayangnya sudah punya pacar
masing-masing. Yang cewek udah punya anak empat dari anaknya engkong
juragan terong. Yang cowok lagi jalan ma cowok lain, agak bosen emang
main pedang-pedangan terus. Jadi begitulah. Walaupun mereka saling
mencintai, namun hobi makan mereka sama! Hobi makan terong. Terkadang
untuk makan terong terpaksa suami si cewek dibawa ikut serta pula
supaya bisa nemenin pacarnya ngisep terong bersama. Tentu sang suami
gak curiga dong, karena makannya di rumah masing-masing, cuma emang
janjian di jam yang sama, dan saling sms-an sambil makan terong.
Suaminya pernah nanya, “Kok sempet-sempetnya sms-an sih? Siapa yang
di-sms?” Jawab istrinya, “Gw sms bapakmu (penjual terong). Katanya
rasa buah blackberry, kok asem sih?” Suaminya hanya mesam-mesem
tertawa kecil melihat kebodohan istrinya. Dengan begitu sang suami
tidak curiga, taktik istri berhasil untuk ngisep tandem bareng pacar
beda rumah.

Melihat lama-lama terongnya kurang laku gara-gara ada engkong terong
yang memonopoli berdagang terong, Mandar Bedaga berusaha introspeksi
diri. Apakah selama ini terongnya kurang jress? Pikirnya. Kurang
lunakkah? Ataukah kurang panas? Bukankah terong biasa dipanggang biar
uenak tenan? Tapi kalau terongnya gak mateng gak enak juga sih
dipanggang. Batinnya berpikir. Kok gw jadi pusing sendiri sih? Ini mah
masalah kurang stok saja. Makin sedikit ibu-ibu penggemar terong
lokal. Engkong terong sialan itu menjual terong kelas Thailand nomor
satu hitamnya. Padahal si Mandar sudah berusaha menambah stok terong
kelas lokal wahid dari pulau Dewata yang terkenal dengan urat dan
panjangnya. Tapi ibu-ibu disini rupanya sudah agak bosen dengan terong
lokal. Padahal sambal terasi paling enak dengan terong lokal (kata
dokter Boyke, ibu-ibu pada bau terasi). Atau jangan-jangan ibu-ibu
disini udah pindah ke sambal xyz…? Masa sih?

Nah karena si Mandar makin kebingungan nyari alasan dagangannya kenapa
makin gak laku-laku, maka si Mandar merubah strategi berdagangnya.
Yang biasanya pake gerobak dorong sosor dan borongan (kadang pake
sepeda). Sekarang si Mandar mau jual privat saja per pesanan per
ibu-ibu. Agar lebih sreg, dipilih ibu-ibu yang lebih mudaan supaya gak
bawel nawar-nawarnya. Tentu saja lebih asyik lagi ibu-ibu yang rindu
karena ditinggal/diceraikan suami sehingga terong bisa dipake sebagai
pelampiasan. Dan tepat jem 5 sore pukul hari tua (hari tua lebih
disukai karena duit gajian pasti udah menipis jadi pilihan lauknya
biasanya tinggal terong doang), si Mandar dengan gagahnya mengapit 10
terong pesanan khusus ukuran jumbo (terong ukuran 60 sentimeter).
Sampai sedikit kewalahan si Mandar mengapit terong-terong tersebut,
sehingga terpaksa (maaf) ada yang diapit disela-sela selangkangannya.
Dengan tergopoh-gopoh, si Mandar memencet bel (terpaksa memakai
terong, karena tangannya sudah kepenuhan), setelah tit – tit (bel
ditekan dua kali), penghuni rumah akhirnya keluar juga. Ibu ini tidak
cantik, tidak pula bahenol. Tidak gemuk, tidak pula berambut panjang.
Hanya saja ibu ini memesan terong ukuran jumbo yang sekarang
dijatuhkan begitu saja oleh si Mandar di depan pintu, sehingga
semuanya menjadi muncrat tak karuan. Cairan ungu belepotan
dimana-mana. Sang ibu muda (muda?) nyaris terjatuh karena kelicinan
cairan terong ungu, untungnya si Mandar sigap menangkap sang ibu muda.
Namun malangnya ternyata ada satu terong jumbo yang belum dijatuhkan
oleh Mandar Begada ini, yaitu di selangkangannya. Akibatnya tak
berampun juga tak berejeki. Kegencet tanpa ampun dengan tubuh ibu muda
yang tentu saja walaupun tidak gemuk beratnya tentu melebihi 100
terong jumbo yang pernah menghuni apitan selangkangannya. Dan terong
di selangkangan itu pecah, muncrat lagi, berwarna ungu lagi, sisa
terong yang tak pecah menyumpal mulut ibu muda ini dengan ganasnya.
Mandar dipecat oleh ibu muda. Dan dipecat oleh istrinya sendiri tak
dapat jatah 2 minggu karena gak sanggup muncrat selain isi terong
melulu (itu kata istrinya lho…!).

Pelajaran yang dapat ditarik di kisah ini, janganlah bermain privat
nanti mengganggu privasi kalau sampai muncrat. Mendingan isep-isepan
saja kombo jarak jauh dan kawini saja anaknya engkong juragan terong
yang cewek (ini tips untuk si Mandar, tokh lagi dipecat sama istri,
siapa tau dikasih ijin…hehehe). Lagian, dari pada saingan mendingan
dikawin-silangkan saja varietas terong Thailand dengan terong pulau
Dewata, sehingga fulus makin kenceng, istri-istrinya (jika jadi
ngawinin anak gadisnya engkong) makin sayang walaupun 2 in 1, dua
orang untuk satu terongnya…, dan dengan si engkong tidak saingan dan
tidak dimonopoli… bukankah itu yang terpenting…?

Salam dari pembibit yang lagi jual bibit terong pake sepeda kontrol
(meniru Mandar Bedaga).

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s