Sistem kesenjangan sosial?

Terkadang kita terpikir mengapa kita tega bisa melihat pengemis-
pengemis di jalanan, tunawisma, orang-orang yang sangat miskin yang
untuk makan satu kali sehari saja belum tentu bisa. Apa yang salah
dalam sistem perekonomian dunia ini sehingga tega membiarkan
sesamanya sangat berkekurangan sedangkan tidak lebih semeter dari
dirinya terdapat panggung kemewahan dan keberlimpahan. Bila kita
memperhatikan pengemis di jalanan tidaklah salah-salah amat
menganalogikan pengemis seperti manusia yang mati di lumbung padi.
Apakah sistem perekonomian kita telah menjadi sistem kesenjangan
sosial? Inilah yang harus kita renungkan baik-baik jika tidak ingin
hati nurani kita semakin hari semakin tumpul sehingga kita terus
merasa hampa dalam hidup kita.

Banyak dari kita merasa kita tidak dapat berbuat banyak dalam
mengatasi kemiskinan. Paling-paling yang bisa dilakukan adalah
tindakan karikatif belaka. Atau jika ada program dalam membantu
mengatasi kemiskinan, program itu diluncurkan dengan tindakan yang
fragmentaris. Artinya membantu hanya menghilangkan gejala terluarnya
saja, sedangkan penyebab-penyebabnya JARANG SEKALI KITA MAU
MEMIKIRKANNYA. Bahkan begitu tumpulnya hati nurani kita dewasa ini
sehingga ketika kita melihat kemiskinan di sekitar kita, kita sudah
menganggap sebagai KEWAJARAN BELAKA, MENGANGGAP SEBAGAI DUALITAS
YANG HARUS ADA, YAITU ADA YANG KAYA DAN ADA YANG MISKIN. Banyak
pemikiran yang berkembang di masyarakat yang mengatakan, `rejeki
datangnya dari Tuhan’ atau `miskin merupakan nasib’, yang artinya
MENYAMAKAN FENOMENA KEMISKINAN DENGAN KEHENDAK TUHAN ATAU ALAM.
Padahal yang harus benar-benar disadari adalah, kemiskinan bukanlah
buatan alam atau Tuhan melainkan KONSTRUKSI SOSIAL MANUSIA AKIBAT
DARI SISTEM PEREKONOMIANNYA SENDIRI.

Untuk mengatasi kemiskinan, kita tidak akan bisa mengatasinya kalau
hanya mempunyai jawaban-jawaban atau program-program yang
fragmentaris atau terpecah-pecah. Yang tidak melihat masalah
kemiskinan sebagai suatu masalah keseluruhan konstruksi soial dan
ekonomi yang salah arah. Jika kita hanya membuat lagi program-
program yang fragmentaris, kita hanya akan merubah sistem, NAMUN
TIDAK MERUBAH CARA BERPIKIR ATAU PIKIRAN KOLEKTIF YANG BERLAKU DI
MASYARAKAT. Sistem apapun yang diterapkan untuk mengatasi kemiskinan
tidak akan dapat berjalan efektif dan efisien karena manusia-
manusianya sendiri masih mempunyai PANDANGAN YANG SALAH ARAH
MENGENAI MAKNA DARI KEMISKINAN ITU SENDIRI.

Setiap fenomena yang terjadi mempunyai makna, filosofi, yang
mendasari mengapa fenomena itu terjadi. Begitu pula dengan
kemisikinan. Jika kita tidak menyadari makna dan filosofinya,
akibatnya kita bisa lepas tanggung jawab baik secara pribadi maupun
sebagai anggota masyarakat bahwa kita telah ikut mengambil bagian
dalam MEMISKINKAN ORANG-ORANG TERSEBUT. Namun bila kita menyadari
benar-benar, maka kita akan insaf bahwa masalah kemiskinan terus ada
karena KITA MENGIJINKAN BAHKAN IKUT SEBAGAI SPONSOR SECARA KOLEKTIF
DALAM MENGABADIKAN KEMISKINAN.

Makna dari kemiskinan itu sendiri adalah bahwa kita tidak menyadari
FILOSOFI sistem perekonomian kita telah salah arah dalam memenuhi
tujuan `menyejahterakan seluruh umat manusia’. Jika kita sudah
menyadarinya, tentu saja kita tidak akan membiarkan PELUANG
terjadinya kemiskinan dan PEMISKINAN dalam sistem tersebut. Masih
lebih baik jika mempunyai kesadaran ketika kita membuat sistem,
ternyata kita MENYADARI telah kecolongan terciptakan kemiskinan
pula. Namun kesadaran seperti itu pun tidak ada di dalam diri kita
ketika kita sedang merumuskan sistem atau program apapun. Kita
selalu menganggap sistem yang telah kita buat adalah netral dan
ADIL. Kata `adil’ inilah yang salah dimengerti maksud dan
tujuannya. Netral dan adil adalah filosofi yang berada di belakang
setiap sistem yang kita ciptakan. Namun ternyata belum berhasil
mengatasi atau TIDAK MENCIPTAKAN LAGI KEMISKINAN. Apakah ada yang
salah arah dalam filosofi tersebut?

Maksud dari penciptaan sistem perekonomian adalah menciptakan
kesempatan yang sama dan adil dalam meraih sumber daya ekonomi yang
ada. Namun kenyataanya kita terkurung oleh sistem kapitalis (hukum
pasar) yang telah ikut menciptakan pemiskinan, atau sistem
komunis/sosialis yang ternyata menimbulkan mental-mental korupsi
dalam pelaksanaannya. Sistem-sistem tersebut memang mencoba menjawab
setiap permasalahan perekonomian manusia, sayangnya sistem itu
didasari oleh kehendak manusia yang tidak sadar bahwa mereka sedang
berada dalam arah yang salah untuk mencapai tujuan luhurnya.
Kehendak yang salah arah melahirkan sistem yang salah arah pula.
Sehingga, untuk memperbaiki arah tersebut, perlu kita kembali
melihat ke tujuan semula dalam perekonomian masyarakat dunia.

Tujuan perekonomian dunia adalah menyejahterakan SELURUH umat
manusia. Dan untuk mencapai konsep `seluruh’, dibutuhkan kesatuan
visi yang kuat bagi semua pelaku perekonomian dunia. Tidak seperti
sekarang keadaannya, dimana 80 persen sumber daya/daya ungkit
dikuasai oleh 20 persen penduduk saja, akibat dari ketiadaan visi
mengenai konsep `seluruh’ tersebut. Mari kita coba menelisik apa
arti `sejahtera bagi seluruh umat manusia’ tersebut.

Manusia SEBELUM dia lahir (dibuahi), tidak mempunyai JAMINAN sumber
daya ekonomi apapun. Ini didasari oleh kenyataan bahwa, MANUSIA
TIDAK BISA MEMILIH STATUS EKONOMI KELUARGA DIMANA DIA AKAN LAHIR.
Bahkan manusia TIDAK MEMINTA untuk dilahirkan! Yang mana kemudian
menjadi problem ekonomi bagi kehidupannya. Jadi, walaupun tidak
diinginkannya, akan ada manusia yang lahir di keluarga miskin maupun
di keluarga kaya. Jika lahir di keluarga kaya, tidak akan ada
masalah, namun jika lahir di keluarga miskin, perkembangan dan
ekspresi dirinya sebagai manusia yang utuh akan terganggu karena dia
akan disibukkan oleh urusan bertahan hidup belaka. Atau bahkan akan
mati sia-sia sebagai manusia berbudaya karena seumur hidupnya hanya
dipenuhi urusan perut saja. Kebudayaan manusia akan menjadi lambat
berkembang jika semakin banyak orang miskin di dunia ini. Di sisi
keluarga kaya, mereka akan melihat sesamanya yang miskin dan akan
cukup mempunyai pengalaman yang traumatik mengenai kemiskinan
sehingga seumur hidupnya digunakan untuk MENGHINDARI kemiskinan.
Walaupun dia sempat mengembangkan budi dan dayanya dikarenakan tidak
hanya memikirkan urusan perut saja, namun hidupnya akan tetap
gelisah dan penuh dengan ketakutan akan kemiskinan. Mengapa
ketakutan ini ada? Karena memang dalam sistem perekonomian modern
yang ada di dunia ini, satu pun tidak ada jaminan penuh bahwa
setidaknya mereka tidak akan jatuh miskin seperti saudara-saudara
mereka yang malang tersebut. Akibatnya adalah, gaya hidup orang-
orang kaya adalah pertama-tama, mengamankan kekayaan mereka dengan
menimbun, kedua, mengejar kesenangan-kesenangan yang bersifat sangat
memboroskan sumber daya disebabkan untuk sebagai silih dari
ketakutan akan kemiskinan. Jadi gaya hidup mereka bukannya mendorong
untuk menjadi manusia-manusia yang berbudi-daya dan
mengejewantahkannya dalam kebudayaan yang luhur, melainkan tercekik
sendiri dalam kesenangan-kesenangan yang tak berharga (pemborosan
sumber daya alam hanya untuk pengakuan, obsesi atau pemenuhan sifat
posesif). Misalnya, membeli kemewahan-kemewahan yang tujuannya hanya
untuk mencari pengakuan, gengsi atau kedudukan. Sambil tidak sadar
bahwa sistem perekonomian yang menopang gaya hidup mereka
menghasilkan pemiskinan dan bisa menghasilkan kriminalitas yang
semakin meningkat yang ujung-ujungnya adalah perang! Inilah kalau
terjadi kesalahan prioritas penggunaan sumber daya alam yang tidak
diarahkan untuk kesejahteraan seluruh umat manusia. Semua
permasalahan ini bersumber pada satu hal. Yaitu cara berpikir kita
(filosofi kita) dan sisi psikologis diri kita yang harus dimengerti
dan disadari benar-benar.

Mari kita kembali ke titik NOL. Yaitu DIRI KITA SENDIRI. Mari kita
melihat ke dalam diri kita sendiri, ke dalam selokan-selokan
psikologis diri kita dimana semua permasalahan di atas dapat timbul
dan belum teratasi dengan baik. Hal yang paling mendasar mengenai
kemiskinan adalah, TAKUT MISKIN. Inilah sifat psikologis yang
mendasari SEMUA tindakan dan program yang diciptakan di dunia ini.
Semua hal mengenai kemiskinan berawal dari rasa takut! Dan HAMPIR
TIDAK ADA ORANG yang berusaha untuk mengerti dan menyadari mengapa
mereka takut miskin? YANG ADA HANYALAH MENGATASI KEMISKINAN.
Bagaimana mungkin kita dapat mengatasi kemiskinan secara MENYELURUH
(bukan hanya fragmentaris atau karikatif belaka) bila TIDAK
MENYADARI BAHWA hal mengatasi kemiskinan adalah MENGATASI KETAKUTAN
KITA SENDIRI AKAN KEMISKINAN? Perhatikan pernyataan itu baik-baik,
karena hal itu paling sulit dimengerti disebabkan sulitnya untuk
melihat diri kita sendiri. Bila kita hanya berusaha mengatasi,
menghilangkan kemiskinan, kita AKAN TETAP TAKUT MISKIN, yang ujung-
ujungnya adalah MEMPEREBUTKAN DAN MENIMBUN LAGI SUMBER DAYA ALAM
TERSEBUT. Jadi ini adalah sebuah lingkaran. Kemiskinan mungkin dapat
diatasi dengan baik, NAMUN sayangnya kita TETAP SALING BERKOMPETISI
memperebutkan penguasaan sumber daya supaya DAPAT MERASA TERJAMIN
sebagai ganti dari RASA TAKUT MISKIN. Yang akhirnya yang paling
berkuasalah yang akan terus menimbun sumber daya sehingga terjadi
KESENJANGAN ekonomi yang berakibat KESENJANGAN SOSIAL. Anda bisa
lihat, semua ini sebenarnya adalah masalah psikologis. Masalah takut
miskin!

Mengapa kita sampai menjadi takut miskin? Mari kita telaah dan
bongkar satu demi satu. Pertama dari arti kata `miskin’. Miskin
adalah keadaan dimana seseorang sulit atau tidak dapat memenuhi
kebutuhan dasarnya akibat dari akses sumber daya alamnya yang lemah.
Dan kita bisa lihat pula, lemahnya pengaksesan sumber daya alam bagi
orang miskin sedikit yang disebabkan oleh alam (misalnya karena
alamnya tandus, gersang atau tidak bersahabat). Namun banyak sekali
disebabkan oleh karena sistem yang sangat membatasi pengaksesan
sumber daya alam tersebut (misalnya banyak pengangguran kerja,
ketidakadilan upah buruh, bahkan dalam hukum pasar itu sendiri,
dimana yang kuat modalnyalah yang mendapatkan akses paling banyak).
Kemudian, kita lihat alat aksesnya sendiri, yaitu UANG. Uang sangat
tergantung oleh sistem dikarenakan uang tidak mempunyai nilai
intrinsiknya. Melainkan diberikan nilai oleh sistem. Tanpa sistem,
uang tidaklah bernilai. Namun, nilai itu sendiri yang diberikan oleh
sistem tidak ada artinya jika tidak ditukarkan atau dibelanjakan
menjadi barang atau jasa yang riil. Uang adalah simbol kebebasan dan
simbol penguasaan, dimana orang yang banyak uang diartikan dirinya
tidak tergantung oleh orang lain secara ekonomi dan dirinya
memperoleh penguasaan atau akses ke sumber daya alam yang semakin
mudah. Kehilangan uang sama-saja dengan kehilangan kemandirian
ekonomi dan kehilangan akses sumber daya. Yang artinya adalah
menjadi miskin dan menjadi manusia yang mati di lumbung padi. Hal
inilah yang sangat ditakuti oleh kita dimana uang TELAH menjadi
bagian dari harga diri kita. Tanpa memiliki uang (atau menjadi orang
miskin), kita tidak akan dapat hidup layak DI TENGAH-TENGAH
panggung kemewahan dan pemborosan sumber daya alam ini. IRONIS BUKAN?

Mari kita bahas secara psikologis. Ketika kita takut miskin, apa
yang kita rasakan? Sebagai bantuan, saya akan berikan contoh kasus.
Cobalah rasakan menjadi seseorang yang sebatang kara dan baru saja
dipecat dari pekerjaannya. Orang itu menjadi depresi sehingga
pikirannya menjadi tertutup dari alternatif jawaban yang kreatif
yang mungkin bisa menjawab permasalahannya. Di pikirannya hanyalah
berpikir berapa lama lagi tabunganku akan bertahan untuk membiayai
gaya hidupku? Ini adalah rasa takut miskin yang nyata bukan? Yang
melumpuhkan segala kemampuan berpikir nalar orang tersebut. Orang
itu terlalu takut akan ketidakpastian gaya hidupnya nanti sehingga
orang itu menjadi lumpuh tidak berani bergerak, ataupun jika
bergerak (misalnya melamar pekerjaan), dirinya tidak penuh dengan
energi dan terlihat oleh orang lain atau si pewawancara yang sebagai
alasan untuk menolak dirinya. Orang itu akan melarikan diri dari
ketakutannya atau berusaha mengatasinya. Mungkin setelah sebulan
atau 2 bulan depresi dia mulai bisa mengatasi ketakutannya tersebut,
dan dia mulai bisa melamar pekerjaan dengan lebih efektif sehingga
akhirnya suatu hari dia mendapatkan suatu pekerjaan. Namun
sebenarnya, ketakutan akan menjadi miskin tidaklah hilang, malah
menetap dan menguat terlihat dari semakin hati-hatinya dalam
bersikap dalam pekerjaannya supaya tidak dipecat. Dia tidak akan
bisa menikmati hidupnya dengan penuh lagi karena dia menjadi sangat
tergantung dengan pekerjaannya. Dia TETAP takut miskin.

Apa yang dilakukan oleh orang tersebut adalah sering yang kita
lakukan bukan? Mengenai ketakutan miskin atau KETAKUTAN APAPUN,
pertama-tama kita mencoba melarikan diri darinya bukan? Namun bila
tidak efektif menjawab persoalan, kita mulai MENGATASINYA bukan?
Apakah cara seperti itu bisa MELENYAPKAN RASA TAKUT MISKIN?
Perhatikan! Hal ini sangat PENTING untuk DISADARI! SEMUA sistem
perekonomian dibuat setidaknya secara bawah sadar untuk MENGATASI
rasa takut miskin! Namun ternyata TETAP ADA kemiskinan dimana-mana!
Karena memang rasa takut miskin itu nyata-nyata MASIH BERCOKOL di
HAMPIR setiap manusia di muka bumi ini. Sehingga apa sih yang bisa
diharapkan oleh manusia yang menyimpan rasa takut miskin? ORANG YANG
SELALU MEMIKIRKAN DULU JAMINAN AKAN KESELAMATAN EKONOMI DIRINYA. Dan
satu-satunya cara untuk menjamin kesejahteraan ekonomi untuk
KEPENTINGAN SEMPIT SEPERTI INI adalah dengan cara MENIMBUN! Menimbun
sumber daya alam sehingga ORANG LAIN TIDAK DAPAT MENGAKSESNYA.
Sedihnya, orang lain pun JUGA PUNYA PEMIKIRAN YANG SAMA. JUGA SAMA-
SAMA MENIMBUN SUPAYA KITA TIDAK DAPAT MENGAKSES SUMBER DAYA ALAM
TERSEBUT. Nah, supaya setiap orang tidak main klaim atas sumber daya
alam, maka dibentuklah konvensi sosial yang disebut KEPEMILIKAN
(atau OWNERSHIP). Dan dibentuklah seluruh sistem perekonomian
(terutama kapitalisme) di sekitar konsep kepemilikan. Dan kita
kembali lagi ke orang yang apes, yang kebetulan lahir di keluarga
miskin dan tidak mempunyai akses ke TIMBUNAN-TIMBUNAN sumber daya
alam tersebut. Lagi-lagi akan ada orang mati di lumbung padi!

Berputar bukan? Itu karena kita berusaha untuk MENGATASI jika tidak
bisa MELARIKAN DIRI dari ketakutan akan kemiskinan. Dan itu tidak
efektif! Inilah persoalan psikologisnya. Mari kita gali lebih dalam
lagi. Perlahan-lahan.

Ketika anda merasa takut miskin, apa YANG SEBENARNYA anda rasakan?
Cobalah merasakannya, jangan MEMIKIRKANNYA. Jika anda tidak tahu
beda antara merasakan dengan memikirkan, pertimbangkan hal berikut
ini. Pikiran selalu berasal dari hal yang lampau. Ketika kita
berpikir, selalu hal yang lampau masuk sebagai bahan pemikiran kita.
Lain halnya dengan `merasa’. Merasa adalah MENGALAMI saat sekarang
tanpa embel-embel masa lalu, yang artinya juga bersedia BELAJAR
tanpa informasi dari masa lalu. Hanya `rasa’kan saja dengan semangat
belajar penuh keingin-tahuan. Jadi balik lagi ke pertanyaan semula.
Apa yang anda rasakan ketika anda mengalami takut miskin? Apa yang
bisa dipelajari? Jika anda berusaha berpikir obyektif, anda akan
jatuh ke dalam kegiatan `berpikir’ lagi bukannya `merasakan’. Namun,
bilapun akhirnya anda tetap bersikukuh anda berusaha `merasakan’,
marilah kita melihat cara `merasakan’ anda. Kita bisa mulai melihat
dari cara kita menanggapi rasa takut miskin tersebut. Cara yang
biasa kita pakai adalah `melarikan diri’ dan `mengatasi’. Yang sudah
terbukti ke dua cara tersebut tidaklah efektif dalam melenyapkan
rasa takut miskin. Pelajarilah mengapa tanggapan kita seperti itu.
Mari kita teliti. Jika kita sedang berhadapan dengan takut miskin
kita, apa sebenarnya yang menjadi konfliknya? Jelas, yang menjadi
konfliknya adalah `diri kita’– dan –`diri kita yang mengalami
kemiskinan’– sehingga –`diri kita menjadi takut’. Lihatlah frasa
yang ada di dalam tanda petik tersebut. Ada setidaknya 3 entitas
yang terpecah dalam `diri kita’, Kemudian kita bisa lihat pula,
dalam frasa `mengatasi’ atau `melarikan diri’. `Diri kita’–
mengatasi atau melarikan diri dari –`diri kita yang mengalami
kemiskinan atau yang takut miskin’. Frasa `mengatasi atau melarikan
diri’ ternyata telah memecah integritas diri kita dan mengakibatkan
konflik antar pecahan tersebut! Yang sederhananya dengan kata
lain `diri kita’ melawan `diri kita’ sendiri! Tidak heran kalau kita
menjadi kehabisan energi. TIDAK HERAN KALAU KITA INGIN MENGISI
ENERGI YANG HILANG TERSEBUT DENGAN PEMENUHAN DARI LUAR, YAITU
KETERJAMINAN. Namun, konflik akan terus ada, energi akan terus
bocor, kita akan terus gelisah, dan yang namanya keterjaminan tidak
akan bisa menutup semua yang bocor, KARENA MEMANG PEMBOCORNYA BELUM
DIHILANGKAN. Jadi akan sia-sia saja menimbun harta atau sumber daya
karena energi kita tetap terkuras seberapa besarnya pun timbunan
atau jaminan tersebut. Akan sia-sia saja sebab secara psikologis,
kita masih memisah-misahkan `diri kaya’ dengan `diri miskin’. Ketika
kita kaya kita takut miskin, dan ketika kita miskin kita kesal
dengan kemiskinan kita dan ingin kaya. Konflik terus menerus. Semua
ini terus terjadi dalam diri sendiri.

Jadi,…. sudah sanggupkah anda `merasakan’ anda yang takut miskin?
Mari kita lihat pemisahan atau pemecahan integritas diri kita.
Pertama, mulai dari pertanyaan, “Siapa yang merasakan diri yang
takut miskin?” Diri anda yang manakah yang merasakan diri yang
sedang takut miskin? Sadarkah diri anda bahwa mengatasi atau
melarikan diri hanyalah memperbesar rasa takut miskin anda? Siapakah
yang menyadari itu? Sadarkah bahwa anda sedang memecah belah diri
anda ke dalam bermacam-macam identitas atau entitas yang
menghasilkan konflik? Siapakah yang menyadari itu?

Saya bantu dengan analogi ini. Saya berkulit coklat. Saya tidak
minder berkulit coklat yang berarti saya tidak mengalami konflik
akibat saya berkulit coklat. Apakah yang sebenarnya saya rasakan
mengenai kulit coklat saya yang tidak saya buat sebagai konflik?
Anda pasti bisa menebaknya! Ya! SAYA BAHKAN TIDAK MENYADARI BAHWA
SAYA BERKULIT COKLAT!!! Atau dengan kata lain, karena saya tidak
mengalami konflik apapun mengenai warna kulit, maka saya
tidak `ngeh’ dengan kulit coklat saya. Saya TIDAK PEDULI dengan
kulit coklat saya. Dan saya menjadi TIDAK MENYADARI kecoklatan kulit
saya karena memang tidak membawa efek apa-apa dalam pergaulan dan
suasana hati saya. JIKA ADA ORANG YANG MENGEJEK KULIT COKLAT SAYA,
SAYA BARU MENYADARI KECOKLATAN KULIT SAYA DAN SAYA BERKONFLIK DENGAN
ORANG TERSEBUT AKIBAT DARI EJEKAN DAN KECOKLATAN KULIT SAYA. Jadi,
arti kesadaran adalah melihat bahwa kita sedang dalam konflik. Saya
SADAR kulit saya coklat karena saya sedang BERKONFLIK. Begitu juga
dengan, saya SADAR saya takut miskin karena saya sedang BERKONFLIK.
Jika anda tidak mempunyai masalah apa-apa mengenai hal kaya dan
miskin, anda bahkan tidak menyadari bahwa anda itu kaya atau miskin?
Tidak akan relavan bagi anda bila mengatakan anda kaya atau anda
miskin. Anda tidak berkonflik. Dan anda tidak menimbun hanya untuk
menghilangkan konflik anda mengenai keterjaminan. Pandangan anda
akan menjadi lebih cerah. Tindakan anda bukan berasal dari konflik
masa lalu anda, melainkan murni tindakan yang TIDAK fragmentaris
(tidak berasal dari diri yang terpecah-pecah). Tidak akan ada
kegelisahan dalam diri anda. Anda tidak akan mengatakan diri anda
miskin atau diri anda kaya. Bahkan anda tidak menyadari diri anda
ada (maksudnya diri anda begitu menyatu sehingga tidak menjadi diri
yang kaya atau diri yang miskin yang merupakan perpecahan diri dan
pemisah-misahan diri).

Jika anda belum mengerti (atau tidak `mudeng’) dengan apa yang saya
katakan. Memang ini butuh waktu dan kewaspadaan yang tangguh.
Mempelajari diri yang begitu licin dan dinamis memang bukan
pekerjaan mudah. Di paragraf ini mari kita balik lagi ke topik awal.
Yang sebenarnya jawabannya mungkin sudah terlalu jelas bagi diri
kita. Manusia tidak minta dilahirkan. Manusia tidak bisa memilih
status sosialnya. Sehingga jawabannya jelas, buat saja sistem yang
menjamin KEBUTUHAN DASAR dari setiap manusia yang lahir dan hidup di
dunia ini. Alihkan dana perang menjadi bugdet kebutuhan dasar bagi
SELURUH umat manusia. Pasti cukup! Melihat aturan penguasaan 80/20
yang berlaku sekarang pastilah cukup untuk seluruh manusia dengan
pengaturan sistem yang bijaksana (misalnya pembatasan kelahiran
supaya tidak terjadi lagi baby booming). Anda rela membuat sistem
seperti ini? Dimana orang tidak perlu bekerja untuk mendapatkan
kebutuhan dasarnya? Mengapa anda tidak rela? Apakah anda takut?
Takut terhadap apa? Apakah anda berprinsip orang harus bekerja untuk
memenuhi kebutuhannya? TAPI UNTUK KEBUTUHAN YANG MENDASAR SEKALI,
APAKAH ORANG HARUS TETAP BEKERJA UNTUK MERAIHNYA? Bagaimana untuk
orang yang tidak dapat akses kerja? Bagaimana dengan orang yang
seumur hidupnya bekerja hanya untuk memenuhi kebutuhan perut saja?
Bukankah energinya lebih baik dialihkan untuk hal-hal yang jauh
lebih bermanfaat misalnya untuk pengembangan diri? Bukankah itu
(pekerjaan yang harus dilakukan hanya untuk memenuhi kebutuhan
dasar) mengakibatkan banyak kebudayaan negara miskin menjadi tidak
berkembang? Mengapa anda mempunyai prinsip tersebut? Berasal
darimanakah prinsip tersebut? Kelahiran adalah anugerah. Bukankah
KELANGSUNGAN HIDUP juga merupakan anugerah dan merupakan HAM dari
setiap manusia?

Apakah ini berarti saya menyarankan sistem komunis? Sudah terlalu
banyak prasangka negatif di sekitar komunisme. Banyak hal yang baik
di komunisme tertutup oleh sentimen sempit dari masyarakat kita.
Tapi saya tidak mau ikut ke dalam pusaran konflik tersebut. Yang
saya sarankan, mari kita berpikir menuju dunia yang lebih baik!
Apapun itu, baik komunisme, kapitalisme, sosialisme, atau apapun!!!

NB: Tidak menimbun bukan berarti tidak menabung! Menabung dilakukan
untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan penting. Sedangkan menimbun hanya
untuk memenuhi kebutuhan psikologis akan rasa takut miskin.
Janganlah menabung untuk rasa aman, melainkan menabung sebagai
tindakan tidak menyia-nyiakan dan memboroskan sumber daya ekonomi.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s