Sukses Sebagai Ilusi

Seringkali orang mengatakan, jadilah orang yang sukses berguna bagi bangsa dan negara. Dan berbondong-bondong orang berusaha mengikuti segala formula yang tersedia untuk dapat menjadi orang yang sukses. Hal ini sangat terlihat di dunia kerja dan dunia bisnis. Dan pengertian tentang sukses itu sendiri biasanya setiap orang sudah mendapatkan gambaran di benaknya masing-masing. Gambaran dimana jika telah mendapatkan kesuksesan maka kehidupan yang penuh dengan kebahagiaanlah yang seterusnya dapat dinikmati. Kepenuhan hidup dapat diraih, sehingga dapat menikmati nantinya pensiun penuh dengan kenangan indah dan menjalani kehidupan hari tua dengan damai.

Saya saat ini bisa dibilang lagi hidup dengan bergelimang kesuksesan. Saya merasa telah sukses, lagi sukses, dan akan sukses terus-menerus selama-lamanya. Saya tidak mengerti mengapa ada orang yang mengatakan untuk dapat sukses butuh perjuangan. Karena saya merasa raihan sukses saya tidak membutuhkan perjuangan sama-sekali. Malah sepertinya terdapat kontradiksi disini. Semakin saya berjuang untuk mencoba meraih sukses, maka bukan rasa sukses yang saya dapatkan, namun rasa bingung atau rasa tersesat. Aneh saja kalau melihat orang-orang sampai mati-matian mengejar sukses. Sampai-sampai ada yang kena stroke. Ada yang menunda menikmati hasil jerih payahnya sendiri. Ada yang mengalami insomnia, kemudian setelah bangun tidurpun pertama kali yang menghampirinya adalah tekanan/stress, bukannya burung-burung yang bernyanyi dengan begitu indahnya. Aneh saja saya rasa ketika suatu waktu ada teman saya yang mengajak saya bergabung dengan gaya hidupnya dengan menawari saya untuk mengalami stress di pagi hari, stress ketika makan siang, stress ketika pulang kantor, stress ketika mau tidur kembali, sambil menggosipkan/menjelek-jelekkan/menyalah-nyalahkan orang lain. Wah gaya hidup seperti itu mah saya tolak mentah-mentah, walaupun bayarannya adalah sukses. Karena toh, bagi saya sukses itu tak bisa dibeli oleh stress sebagai pembayarannya toh? Sukses itu gratis, ada dimana-mana, dan untuk siapa saja yang berminat. Masalahnya, orang-orang sepertinya lebih berminat sama stress. Entah mengapa.

Sukses bagi saya ya dapat merasa aman tiap hari. Saya bisa merasa aman karena bagi saya, tidak ada yang dapat membuat saya dikejar-kejar/ditekan oleh apapun/siapapun itu. Semuanya tampak damai di mata saya. Dengan keadaan ekonomi yang sekarang saya alami, saya rasa saya bisa dibilang aman, nyaman dan serba berkecukupan. Sayang sekali saya masih melihat ada puluhan juta orang dengan keadaan ekonomi yang kurang-lebih sama seperti saya, tidak bisa melihat dirinya aman, nyaman dan serba berkecukupan. Menurut saya, kecuali seseorang sangat miskin banget sampai tidak bisa makan 2 kali sehari, seharusnya mereka bisamenikmati keberlimpahan mereka dengan hati damai dan nyaman. Saya pernah juga kok menjadi orang yang terlihat sangat ambisius. Mengejar penghasilan 2-5 juta perak perbulan dengan mimpi nantinya bisa meningkat sampai puluhan juta perak perbulannya. Lalu dengan cara pandang hidup bahwa hidup saya masih tergantung dengan harta ortu. Uang pensiun dan bunga deposito dari tabungan yang dipikir juga tidak akan mencukupi sampai setidaknya 10 tahun kedepan. Belum lagi keinginan untuk mandiri dan mapan sehingga dapat menarik lawan jenis untuk dapat menikah dan membangun keluarga. Belum lagi ongkos gaya hidup untuk meningkatkan citra diri seiring dengan target market/pelanggan yang dituju adalah kelas menengah atas. Kalau diingat-ingat sekarang sih susah untuk membayangkan stressnya, tapi saya tahu dulu saya selalu merasakan betul stress beserta tekanan sekaligus ketegangannya. Seolah-olah tiada hari tanpa perjuangan hidup-mati yang mencekik. Belum lagi rasa takut yang semakin besar karena ketakutan akan kegagalan dan akan persaingan semakin menghantui. Dan terutama sebenarnya stress karena mengetahui diri ini sedang menjalani kehidupan yang terlalu memaksakan diri. Terlalu ingin meniru orang lain yang telah sukses. Terlalu INGIN SUKSES! Tidak mau melihat realita, selalu membuat realita mimpi/visi. Silahkan mencoba membuat realita mimpi/visi anda sendiri, maka anda akan tahu stressnya akan seperti apa menjalani hidup melalui filter mimpi/visi anda. Citra diri anda akan menjadi seperti boneka. Dan tali-talinya sebenarnya adalah pikiran anda sendiri yang tertutup oleh program-program meraih sukses yang sedang anda jalani. Itulah yang persisnya yang pernah saya alami dulu. Inilah yang sekarang ini saya sedang tinjau kembali, tentu dari sudut pandang baru. Sudut pandang kompatiologi.

Tanyakanlah mengapa frasa ‘kerja keras’ adalah frasa yang paling populer dalam mengejar kesuksesan. Dan tanyakan lagi mengapa kerja hampir selalu dilawankan dengan bermain. Lalu mengapa sedikit sekali orang yang bisa menikmati pekerjaan. Dan lihatlah pula pada frasa ‘pengorbanan’, frasa ‘prihatin’, frasa ‘kemauan yang kuat’ dlsb. Pada frasa-frasa seperti itulah merupakan tanda yang sangat kuat bahwa mengejar kesuksesan merupakan perjuangan bukan pelesiran. Dan frasa ‘perjuangan’ pun bukan dalam konteks permainan seperti dalam ungkapan ‘perjuangan dalam permainan bola’ yang bukan urusan hidup-mati. Melainkan dalam konteks perjuangan hidup-mati, sampai sanggup membuat orang-orang bisa bunuh diri ditengah-tengah perjuangannya! Wajarlah kalau banyak orang rindu karena telah kehilangan kedamaiannya. Kedamaian yang pernah dicicipi penuh ketika di masa kecilnya. Kedamaian dimana bukan status, uang, pekerjaan, citra diri yang menjadi taruhannya. Melainkan berasal dari kepolosan bermain, belajar dan saling membantu dalam pekerjaan keseharian yang kesemuanya diiringi oleh senyum karena hangatnya kedekatan antar keluarga/teman/sesama. Semua itu seolah hilang ditelan oleh dinginnya suasana ibu kota yang dimana individu-individunya tidak bisa saling mengenal secara luwes lagi. Dimana masing-masing harus menunjukkan kedudukan, status atau jenjang sosialnya. Dimana semua begitu terkotak-kotak. Oleh karena itulah saya telah menyatakan mundur dari permainan pura-pura seperti itu. Bosan oleh stress dan tekanannya. Bosan menjadi diri orang yang (akan) sukses. Bosan oleh intrik-intriknya. Bosan oleh pancingan materi tapi kosong kehangatan manusiawinya. Bosan dengan PENGINDUSTRIANNYA! Semuanya serba diproduksi masal sehingga hampir semua produk tidak ada kehangatannya lagi, termasuk produk budaya ini yaitu KESUKSESAN!Tidakkah ada yang menyadari bahwa kesuksesan itu merupakan suatu produk hasil dari industri. Dimana mempunyai tujuan industri yaitu menyajikan kesuksesan seperti produk masal sehingga semakin banyak orang yang mendapatkan kesuksesan dengan beragam pilihan metoda dan formula yang sudah dipatenkan/dibakukan? Ah sudahlah dengan segala tetek-bengek kesuksesan. Saya lebih baik menikmati diri saya selagi saya muda. Buat apa dicetak oleh dunia industri untuk menjadi manusia produk sukses ala industri?

Itulah mengapa saya saat ini memilih tidak bekerja kantoran dengan suatu perusahaan. Saya memilih tidak menghabiskan waktu saya yang sangat berharga 8 jam sehari boo… hanya untuk mendapatkan pekerjaan kemudian menjadi mapan ala industri/budaya modern. Saya melihat itu hanyalah buang-buang waktu dan tenaga sahaja. Buat apa sih mengikuti dalam-dalam budaya industri/modern dengan bekerja di kantor kalau hasil bersihnya nanti banyak orang yang merasa kehilangan kedamaian atau malah kehilangan dirinya? Banyak lho orang yang mencari pekerjaan bukan karena senang dengan pekerjaan tersebut melainkan hanya mencari status dan kemapanan tertentu. Kalaupun senang, cepat atau lambat akhirnya juga harus bersikap pragmatis dengan pekerjaannya, yang artinya makin lama kesenangan akan bekerjanya semakin pudar karena ditekan oleh budaya industri yang telah diadopsi oleh pikirannya tersebut. Sayang sekali.

Dari tadi saya menyebutkan budaya industri/modern. Apa sih itu sebenarnya? Mari kita telisik lebih jauh.

Saya akan memakai contoh diri saya sendiri. Ketika saya melihat realitas apa-adanya keadaan keuangan diri saya sekaligus keluarga saya (ortu saya maksudnya), maka waktu itu saya baru menyadari bahwa tanpa bekerja mencari uang pun saya aman. Sedemikian amannya sehingga hampir-hampir saya sulit untuk mempercayainya karena udah keseringan diprogram bahwa kita selalu tidak aman dalam posisi keuangan kita sekarang ini. Nah saat itu lah saya menghembuskan nafas yang sangat lega sekali. Saya tidak perlu melakukan apapun untuk mempertahankan rasa aman saya tersebut. Ternyata selama ini keamanan adalah merupakan berkat yang tersembunyi dari pandangan saya, dan juga sekarang bagi ibu saya sendiri dalam memandang kondisi keuangannya sendiri. Ibu saya sampai heran mengapa dulu suami (ayah yang sekarang telah meninggal), begitu stress melihat keuangan keluarga sampai melototin pergerakan bunga bank. Yang ternyata sekarang dengan pikiran yang jauh lebih tenang, kita-kita ini malah lebih kreatif dalam berinvestasi sehinggatujuan keamanan pasti/telah tercapai. Memang keamanan itu relatif. Tapi justru disitulah kuncinya. UNTUK MENDAPATKAN KEAMANAN FINANSIAL, KITA HARUS MERASA AMAN DULU. Jika kita telah dapat merasa aman, maka tiba-tiba pandangan kita menjadi jauh lebih cerah. Otak kita akan jauh lebih kreatif pula. Tiba-tiba semuanya telah begitu jelas. Dan keamanan keuangan yang hanya selalu diimpi-impikan ternyata teronggok di sana begitu saja menunggu untuk dinikmati. Dan yah, kita sekeluarga sekarang kerjaannya tinggal ketawa-ketiwi menikmati deposito, investasi, dan yang paling penting rasa aman yang juga dapat menghangatkan hubungan para anggota di keluarga saya tersebut. Tak ada lagi terpikir apakah kita akan kekurangan duit. Malah kita merasa duit selalu ada menghampiri kita, tidak perlu kita usaha capek-capek memutar otak untuk dapat mengembang-biakan duit. Semua telah tersedia. Manis untuk dinikmati. Melimpah. Tinggal ketawa-ketiwi.

Nah lo.. anda bingung atau malah anda mengira saya adalah keluarga super kaya? Oh tidak kok. Kami hanyalah keluarga dengan pengeluaran per bulan rata-rata 4 juta saja (itu sudah semua). Kami, dalam konteks tulisan ini saya, telah lama meninggalkan konsep bekerja untuk mencari uang. Saya sekarang memakai konsep uang menghasilkan kebahagiaan, begitu pula sebaliknya, kebahagiaan terutama bahagia dalam bekerja sambil bermain selalu menghasilkan uang. Jadi berlipat-lipat deh, uang menghasilkan kebahagiaan yang menghasilkan uang. Nah anda bisa melihat khan sumber kelimpahan saya? Penghasilan keluarga saya yang diterima dari bunga atau hasil investasi merupakan hasil dari kebahagiaan kita sekeluarga dalam menanamkan uang tersebut di bank atau di suatu investasi, sehingga kita merasa hasil bunga yang didapat lebih dari cukup! Mengapa bisa seperti ini? Ada dua penyebab :

  1. Kebahagiaan tak ternilai
  2. Kebahagiaan begitu murah cenderung gratis

Dua penyebab inilah yang mengakibatkan uang kita hampir selalu berhasil kita tukarkan dengan barang yang tak ternilai harganya, yaitu kebahagiaan. Dan itu makin lama makin terasa murah, hampir setiap bulan kita bisa semakin menabung karena kita hanya membeli kebahagiaan. Alias untuk membeli kebahagiaan makin membutuhkan uang yang semakin sedikit, padahal kebahagiaan itu tak ternilai harganya! Betapa murahnya bukan?

Bahkan kebahagiaan bisa menghasilkan uang! Karena apa? Karena kita (dalam konteks tulisan ini saya), menjual kebahagiaan ke orang-orang lain melalui pekerjaan/permainan saya. Bayangkan transaksi yang terjadi. Ketika mitra dagang saya akhirnya benar-benar yakin dia telah mendapatkan kebahagiaan dari saya, mendadak semua uangnya dirasa tidak cukup untuk membayar/merefleksikan nilai kebahagiaan yang telah dia dapat (karena dia merasakan sendiri kebahagiaan itu tak ternilai). Dia tidak begitu peduli lagi dengan jumlah uangnya melainkan bisa melihat kembali fungsi uang yang sebenarnya sebagai alat tukar belaka. Maka akibatnya bayangkan orang yang telah diberikan kebahagiaan oleh kita akan merasa utang budi dengan kita sehingga kerjasama bisnis apapun akan berlangsung mulus. Selain karena utang budi, juga karena ketulusan yang akhirnya dapat dia ekspresikan melalui kondisi kebahagiaannya ketika sedang bertransaksi dengan diri kita. Nah bisnis apa lagi yang bakal akan terus menguntungkan keduabelah pihak selain bisnis yang didasari oleh ketulusan hati dalam meningkatkan nilai kehidupan melalui perdagangan? Inilah sumber uang yang abadi. Tidak hanya dari peningkatan kuantitas jumlah uangnya, melainkan kualitas nilai tukarnya. Kita akan mendapatkan uang hasil dari hubungan baik yang membahagiakan kita semua, itu membuat uang yang kita terima menjadi sangat berharga karena telah merupakan lambang ekspresi ketulusan dan kebahagiaan hati. Dan uang bahagia tersebut tentu akan ditukarkan lagi dengan barang-barang yang dapat membahagiakan empunya tersebut. Sadarkah bahwa bagaimana cara kita menukarkan uang kita merupakan akibat dari cara kita mendapatkan uang tersebut? Jika kita stress ketika mendapatkan hasil uang (uang stress), maka kita tukarkan secara stress pula dan kita tidak menuai kebahagiaan (biasanya berupa pelampiasan untuk menetralkan stress yang didapat, yang sayangnya orang malah kecanduan pelampiasannya, bukan berusaha untuk bahagia secara mandiri). Sebaliknya jika kita bahagia ketika mendapatkan hasil uang tersebut (uang bahagia), maka penukaran kita akan kita lakukan dengan bahagia pula, menghasilkan barang-barang yang dibeli adalah barang-barang yang membahagiakan.

Lalu anda bertanya lagi. Apakah saya tidak pernah merasa menderita? Oh tentu saja saya bisa merasa menderita dan juga pernah, sedang dan akan menderita lagi. Itu adalah suatu kewajaran. Tapi masih ingat khan ilustrasi saya mengenai penderitaan dalam permainan olah raga? Tanyakan pada pemain bola yang kakinya dijegal. Menderitakah dia? Tentu saja menderita. Tapi dia menderita dalam konteks bahagia (jika memang bermain bolanya murni bermain). Dijegal tidak apa-apa. Malah bisa mendapatkan tendangan bebas atau pinalti sekalian jika dijegal di depan gawang musuh. Ataupun jika harus diganti, masih tetap bisa merasakan atmosfer permainan teman-teman yang telah mempunyai nuansa pertemanan yang sangat-sangat akrab dan kompak. Hal itu saja sudah sangat menghibur dirinya sehingga tulang kering yang terasa nyeri, sakitnya sebentar saja sudah terasa hilang karena terhibur oleh aksi teman-temannya yang kocak atau yang keren. Itulah konteks ketika saya sedang mengalami penderitaan. Menyenangkan bukan penderitaan seperti itu? Pengalaman yang manis. Alih-alih malah jadi ahli dan sangat menikmati dalam permainan, seperti sang pemain bola yang sudah keseringan dijegal, sehingga akhirnya dia dapat menciptakan gerakan menggiring bola yang meliuk-liuk seperti pemain balet yang sangat sulit untuk dijegal oleh lawan.

Jadi saran saya, tidur sianglah yang banyak, nikmati hidup sepuasnya bagi para penganggur kerja. Bagi yang sudah bekerja, lupakan tekanan pekerjaan anda. Tak ada guna mengingat-ingat tekanan pekerjaan anda. Anggap semua orang yang stress adalah hasil budaya yang menggilai stress. Kerjakan pekerjaan anda dengan tempo anda sendiri. Jika tidak memungkinkan, buatlah negosiasi dengan atasan, katakan sejujurnya kemampuan anda sendiri. Hal ini sekaligus mensyaratkan anda mulailah jujur pada diri anda sendiri apakah anda sekarang ini bekerja berdasarkan angan-angan dan citra diri yang anda ingin dilihat oleh orang lain atau memang bekerja karena ingin? Jika anda hanya berusaha menyenangkan orang lain (terutama atasan anda), hasil bersih yang akan anda dapat adalah stress dan ketakutan anda sendiri. Anda akhirnya takut anda telah mencapai batas kepura-puraan anda. Lalu anda bisa saja meledak tak keruan, atau malah melarikan diri seperti seorang pengecut. Yah ini wajar saja terjadi, karena pada mulanya pun anda memulai seperti seorang pengecut berusaha tampil besar tapi hanya pura-puranya bisa, tidak berani jujur pada orang lain sebenarnya kemampuan kita sampai dimana. Anda akan menyadari di titik ini, anda akan muak dengan kepura-puraan anda sendiri. Herannya orang lain malah dapat memaklumi kepura-puraan anda sendiri, karena sepertinya mereka pun juga sama seperti anda, pura-pura juga. Kalau gak percaya lihatlah bualan para sales yang mewakili perusahaan. Semuanya menjual kecap nomor satu. Hampir semua menjual pelayanan/produk muluk-muluk yang menjadi target yang hampir tidak masuk akal bagi sdm-nya. Salah siapa coba? Kura-kura dalam tempurung, pura-pura tidak tahu…hehehe!

Kalau mau ekstrim, bagi yang lagi punya pekerjaan, coba bisakah bolos sebentar dari pekerjaan (barang sehari-dua hari), lalu leyeh-leyeh di rumah sambil merasa bahagia dan tidak stress karena pekerjaan? Nah 95 persen orang akan bilang tidak mungkin! Nah anda pasti akan terkaget-kaget kalau saya katakan di barisan 95 persen itu ada orang-orang dengan jabatan direktur dengan gaji 50 juta perbulan, plus aset tabungannya sekian puluh milyar rupiah. Dan mereka tidak akan mau disuruh leyeh-leyeh di rumah melepaskan kekhawatirannya barang sehari jua mengenai pekerjaannya. Dan hal ini jangan salah, dapat diterapkan kepada status kekayaan seperti kita juga (kelas menengah). Pengemis di jalan akan terkaget-kaget melihat kita ogah leyeh-leyeh di rumah menikmati aset tabungan kita sambil berbahagia melupakan stress di pekerjaan. Kalau mau dilihat secara teliti, ternyata hampir di seluruh tingkat sosial-ekonomi permasalahan kekurangan duit, sulit bahagia, kebanyakan stress, selalu ada. Masalahnya, orang selalu diajari mengejar kesuksesan. Tidak pernah diajari bagaimana menikmati kesuksesan. Bagaimana menikmati kegagalan. Bagaimana melepaskan candu akan perjuangan meraih sukses. Atau sekalian jika ada orang yang menyadari bahwa sukses ternyata hanyalah ilusi, hasil bersihnya berbaring tenang di ruang ICU, dapat diajari bagaimana dia paling tidak bahagia di ranjang ICU-nya, tidak dendam sama industrialis karena telah menciptakan ilusi kesuksesan ala stroke, sakit jantung, tumor, kanker, dan segala penyakit kritis lainnya.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s