Tiga Catatan Penyamun Hati

Catatan seorang penyamun hati :

Telah kulihat sebuah kesempatan yang tak bisa diabaikan begitu saja.
Gadis itu semampai dengan wajah yang sangat manis telah menyapaku
untuk bertemu janji di kafe Olala. Aku telah menjawab iya karena
tiadanya pilihan bagiku selain mengikuti aura hatiku yang telah
panas-dingin dibuatnya. Jam di dinding sekarang tepat pukul 7 malam.
Menunggu gadis muda. Duduk di kursi warna merah muda. Dan aku seperti
anak muda yang tersenyum sendirian memetik harapan-harapan fajar.
Telah kupesan teh penghangat suasana hatiku yang kebat-kebit, telah
kukunyah kue-kue termanis dipikiranku dan telah kulamunkan
bayang-bayang sutera cinta kasih yang tersampaikan di bukit-bukit asmara.

Mendadak gadis itu telah ada di depan pintu restoran kafe ini, melihat
diriku dan tersenyum manis ingin duduk di dekatku. Pelayan
melonggarkan kursi merah muda itu, gadis itu duduk dengan sopan dan
manis. Kami berdua menjadi canggung. Ini kali pertama aku berkencan
dengannya, walaupun ajakannya hanyalah ingin mencicipi suasana kafe
yang belum pernah dimasukinya. Bagi aku kencan dan bagi aku kode untuk
menetapkan suatu pilihan. Apakah ini adalah fajar karbitan, aku belum
mengetahuinya. Namun aku juga tidak mau berpikir tentang itu dulu.
Yang terpenting dia sekarang begitu manis, seperti seharusnya wanita
dewasa berkencan dengan pria dewasa. Kita bukan teman lagi di sini.
Kita telah memainkan sandiwara cinta. Dengan alunan lagu-lagu cinta,
semerbak diantara aura-aura kasih yang mendekatkan kami berdua.
Tangannya memandang dengan gugup seperti suara hatinya yang penuh
harap. Pesanan makanan kami sudah datang. Sementara pangggilan alam
memenuhi jeda perkawinan kami.

Selesai makan kami baru berbincang-bincang. Tiada perkawinan tanpa
pertengkaran, namun kami belum sempat bertengkar. Berumur setangkai
jagung dan cinta masih belum lengkap lingkarannya. Aku hanya berpikir
dan kemudian mengatakan
” Tidak baik kita berdiam diri terus seperti ini.”
“Tak ada baiknya setelah aku menyadari kamu hanyalah bayang-bayang.”,
dia membalas dan dia memang betul.
“Reyia, aku sudah mengakuinya kemarin malam. Dan kita telah melewati
malam pertama itu tanpa pertengkaran.”
“Aku tidak sanggup bertengkar denganmu Gior, aku akan selalu lengket
denganmu, walaupun kamu adalah bayang-bayang bagiku.”
Gadis yang baru aku nikahi itu perlahan matanya menjadi berkaca-kaca.
Bening air mata sama beningnya dengan hati yang tulus mencintaiku.
Suasana musik yang sentimentil membawa aku ke puncak kegelisahan yang
samar-samar bisa memabokkan sanubariku. Apakah malam ini juga harus
ternodai dengan kejujuran? Ataukah aku terus tertidur dengan pulas
tanpa membangunkan hati cintaku sebenarnya?
“Tapi aku menerima keadaan ini Giorku sayang…! Cukuplah kamu memberi
nafkah ke aku dan cukuplah aku menerima mimpi-mimpi menidurkan
kesadaranku.”
Gadis yang kunikahi baru 2 hari kemudian melanjutkan kata-katanya…
“Lagi pula aku sudah tidak mencari apa-apa lagi selain status sebagai
isteri sah kamu. Aku akan memuja kamu, aku akan mengikuti kemana kamu
pergi, aku akan menjadi wanita pelayan dan pendamping kamu, tidak
peduli kamu butuh aku atau tidak. Cintaku ini sudah cukup
membahagiakan aku sendiri. Tidak perlu dari bayang-bayang dan
harapan-harapan pelangi yang palsu dan menyilaukan.”

Aku memegang tangannya. Tapi aku yakin tanganku tidak cukup hangat
untuk menghilangkan kuduk kegelisahannya. Tangannya dingin dan
berkeringat sedangkan tanganku normal adanya. Jantungku berdetak
normal sedangkan jantungnya cepat sekali seperti cinta kilat. Semua
ini mungkin dimulai dari keputusan yang salah. Tapi bukankah cinta
sejati memang selalu begitu? Ataukah ini cuma pelaksanaan nilai-nilai
normatif belaka? Apakah aku telah melemparkan diriku sendiri ke lembah
kesepian yang tersamar. Apakah aku telah menyamar dalam nama cinta?
Apakah gurunku adalah fatamorganaku dan tidak ada oase kehidupan cinta
sama-sekali? Apakah aku sudah bertekuk-lutut dengan duri-duri cinta
dan kepalsuan?

Makan malam itu selesai sudah. Kamipun tidur sekamar kedua kalinya.
Tanpa seperti malam pertama. Malam ini lebih hambar tapi lebih berisi.
Setidaknya dia telah jujur sedangkan aku tidak. Akupun tertidur
membawa citra diri seorang pembohong besar. Pembohong atas nama cinta.
==============================

Catatan seorang pembawa meditasi :

Aku adalah seorang guru pembawa meditasi. Murid-muridku berjumlah 20
orang. Mereka telah mengikuti ajaranku selama 2 tahun dan sebentar
lagi mereka akan lulus bermeditasi. Entah apa artinya lulus
bermeditasi. Aku hanya menerima kurikulumnya saja. Dan sekarang hari
tes penentuan kelulusannya.

Pertanyaan untuk murid ke-1, nama : Leonardus.
“Bagaimana penderitaan bisa sebagai cinta?”
Jawaban : “Jika yang bermeditasi itu telah tiada.”
Aku mendengarkan jawaban-jawaban dari murid-muridku yang lain. Dan
tidak ada yang memuaskan hatiku. Meditasi hanyalah pelajaran belaka.
Tapi aku mencari keutuhan jiwa yang bersemanyam di keheningan batin.
Akhirnya setelah berjalannya hari dan tes berakhir, aku meluluskan 12
orang yang entah nanti menjadi apa. Delapan orang lagi akan mengikuti
tes perbaikan 3 bulan kemudian. Diantara delapan orang itu ada yang
bernama Sindu. Dan dia bertanya,
“Master, mengapa ketika cinta menghampiri meditasi menjadi hambar?”
Aku jawab sekenanya,
“Tak ada yang hambar. Cuma penyangkalan kamu yang terus-menerus
membuat semuanya menjadi hambar. Sergaplah cinta tersebut seperti kamu
menerima tertusuk duri ketika sedang memetik mawar.”
“Tak adakah yang tulus tanpa duri?”, kali ini yang bertanya adalah
Mio, gadis yang tak lulus tes meditasi tadi.
“Ada saja. Tapi kamu akan curiga ketulusannya bukanlah cinta melainkan
nafsu.”
Rirey, pria yang tak lulus dari tes meditasi menyambung,
“Master, anda cuma bermain kata-kata saja.”
Aku tinggal menjawab,
“Tak apalah aku bermain kata-kata. Kamu sendiri toh belum lulus tes
meditasi ini.”

Tanya jawab seperti ini bagiku sudah biasa. Mereka yang merasakan
manfaat meditasi bagi mereka sendiri. Bukan aku. Aku hanyalah pembawa
meditasi. Bukan pembawa cinta kasih.
==========================

Catatan seseorang yang akan bunuh diri :

Marjk melihat ukuran mini dari mobil-mobil, motor-motor, lansekap
jalan raya dan jalan pedestrian. Memperkirakan titik kejatuhannya. Dan
memperkirakan sakitnya pula. Tinggi kejatuhannya tidak kurang dari 65
lantai. Mungkin dia akan mati di udara. Seperti kulit-kulit yang
terkelupas melepaskan nadi-nadi dan urat-urat hidupnya. Hari ini baru
saja dia memutuskan untuk mati. Rasanya enak ternyata ketika
mengetahui dirinya bakal mati. Hidup jadi lebih mengalir. Tanpa masa
lalu yang menumpuk. Tidak bisa dibilang menyakitkan juga.

Meri melihat perilaku aneh Marjk yang terus melihat-lihat di balik
jendela kantor ungu tersebut. Meri bertanya apakah Marjk sedang
memikirkan sesuatu atau menunggu seseorang. Marjk mengatakan,
“Aku akan bunuh diri jam 2 siang nanti. Masih ada satu jam untuk
bertukar-pikiran dengan kamu.”
Mereka hanya berdua saja, jadi orang lain selain Meri tidak mendengar
perkataan Marjk tadi. Meri mendengarnya dan tidak menganggapnya
sebagai lelucon. Meri menanggapi dengan serius,
“Kalau begitu apa yang bisa kubantu menemani satu jam terakhir kamu di
dunia ini?”
Tidak merasa aneh pula bagi Marjk mendengar bantuan Meri seperti itu.
Marjk hanya mengatakan,
“Aku bosan.”
Meri mengangguk. Membiarkan saja Marjk merenung. Mereka berdiaman
selama 10 menit. Tinggal 50 menit untuk bunuh diri. Meri berkata,
“Bolehkah aku menemani kamu bunuh diri?”
“Bagaimana cara kamu menemani aku bunuh diri? Ikut bunuh dirikah?”
“Benar. Aku akan ikut kamu bunuh diri.”
“Kalau begitu silahkan. Makasih kamu sudah mengerti perasaan aku. Kita
akan bunuh diri bersama.”
“Iya.”
Mereka berdiaman lagi 10 menit kemudian. Tinggal 40 menit untuk bunuh
diri.
“Perhatikan burung itu…!”, Meri berkata.
“Dia memang sudah bebas Meri… Yang aku masih ragu, benarkah nanti
aku benar-benar terbebas dari segala belenggu?”
Meri hanya merenung saja mendengarkan pertanyaan Marjk. Sebebas
burung. Yang membikin sarangnya dengan cara yang tetap itu-itu saja
selama berabad-abad kehidupan. Aliran apakah nanti yang terdapat
setelah mati? Bukankah setiap sel tubuhnya sudah pada berguguran?
Siapakah aku nantinya yang tanpa tubuh? Pikirankah?

Marjk memandang Meri dengan penuh perhatian. Tiga puluh menit lagi
mereka akan bunuh diri. Marjk memandang tepat di mata Meri. Lalu
mereka berciuman.

Lidah mereka bersatu dan terlilit-lilit. Dengan benang-benang halus
transparan mereka merajut cinta kematian. Tangannya Marjk merasakan
kulit-kulit Meri, merasakan energi panas yang terpancar dalam tubuh
Meri. Bibir lembut menandakan kesungguhan hati untuk menjalani
kehidupan setelah kematian. Cinta mereka tidak mempunyai kisah. Tidak
mempunyai sejarah. Dan tidak mempunyai saingan hidup. Terjadi begitu
saja. Dua puluh menit telah berjalan sambil tetap merajut benih dan
benang-benang cinta. Nafsu menggelegak namun halus menapak seperti
nafas seorang gadis yang lagi puber. Kehalusannya seperti sarang
burung. Melipat-gandakan ganjaran-ganjaran hidup yang mewadahi
kematian mereka nanti. Lima menit menuju bunuh diri, mereka sudah
telanjang bulat dan bersatu-padu. Gerakan alam penuh irama menandakan
cinta yang tidak abadi dan mempunyai alur gelombang-gelombang
kepahitan. Selalu kehidupan bisa dirasakan melalui kematian. Semenit
sudah tinggal untuk bunuh diri. Tiga puluh detik, mereka berhenti
berciuman. Berhenti bercumbu. Berhenti saling memasuki. Hanya melihat
dan menatap. Menatap jendela mereka tersenyum. Terpukau. Telanjang.
Dan terberani. Tanpa beban. Satu detik, kemudian melayang. Jemputlah
cinta sejati melalui jalan aspal yang keras.

Seonggok daging, dua onggok sebenarnya namun tak bisa dipisahkan.
Tertutupi tanah sekarang. Namun tanah-tanah itu tak rapat seperti yang
terlihat. Sinar matahari menerobos masuk. Kulit-kulitnya sudah pada
terkelupas. Cairan-cairan sudah banyak menonjol disana-sini. Namun
disitulah terdapat pesta kelahiran. Pesta kelahiran cinta-cinta belatung.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s