Tujuan Yang Selalu Tercapai Di Jalan Buntu

“Andai aku mempunyai tangan midas, aku ubah semua benda menjadi emas.
Lalu kemudian apa? Jalan buntu…”

Sampailah kita di jalan buntu. Jalan ini tidak menuju kemana-mana.
Hanya ada tembok yang membuntukan jalan tersebut. Tak ada jalan lain
kecuali berbalik. Jika sudah lelah berjalan dan tak ingin berbalik,
mari…, beristirahatlah di sini. Nikmati sandaran tembok di jalan
buntu ini. Mari mengenang perjalanan yang sudah kita lakukan. Sambil
tersenyum.

Tapi sejurus kemudian kita ternyata masih gelisah. Kita tidak bisa
menikmati istirahat kita di jalan buntu ini. Mungkin ada beban yang
masih kita bawa-bawa? Mari lepaskan satu-persatu :
1. Lepaskan keharusan kita.
Kita merasa harus istirahat? Lepaskan keharusan tersebut. Kita merasa
tidak seharusnya kita istirahat? Lepaskanlah juga ketidakharusan
seperti itu. Kita merasa harusnya tidak nyasar ke jalan buntu? Apalagi
mengenai keharusan ini… lepaskanlah…! Tak ada yang mengharuskan kita
sama sekali. Kita sudah memilih untuk bersetapak di jalan buntu. Yang
kemudian kita telah memilih beristirahat di jalan buntu.
2. Senyumlah.
Mengapa harus bertekanan? Mengapa harus stress? Senyumlah. Jika
setelah berusaha senyum kita ingin menangis… menangislah. Kadang tubuh
ingin membuang stressnya dengan romantis.
3. Bosan.
Jika kita bosan, maka bosanlah sampai puas. Jika tidak bisa, maka
silahkan lanjutkan perjalanan kita kembali. Tapi bila tubuh kita tidak
beranjak juga, maka ini adalah kegelisahan. Gelisah adalah pangkal
energi. Sesungguhnya ini menandakan kita siap lagi berjalan.

Dengan berjalan kegelisahanpun dapat dilepaskan. Kita mulai berjalan
berbalik meninggalkan jalan buntu dan mengarah ke tujuan kita kembali.
Sambil mengenang betapa bergunanya jalan buntu tersebut!

Jalan buntu selalu siap sebagai tempat beristirahat bagi siapa-siapa
yang masih belum mencapai tujuannya. Jalan buntupun selalu siap
menerima para pecundang yang sudah menyerah dalam mencapai tujuannya.
Tidak apa-apa. Pecundang maupun pemenang sama-sama diterima di jalan
buntu. Welcome home buddy…!

Setiap peta niscaya memiliki petunjuk dimana jalan-jalan buntu berada.
Silangkanlah atau tandailah petunjuk jalan buntu itu dengan spidol
warna biru yang menenangkan. Maka dalam perjalanan kita, kita tidak
akan pernah kehilangan jalan buntu. Bukankah lebih membosankan jalan
yang lurus lapang tapi tak kelihatan ujungnya dibandingkan jalan buntu
yang lengkap dengan tembok yang siap menahan sandaran punggung kita
yang telah kelelahan dalam perjalanan kita? Jadi jangan lupa
memberikan silang biru pada peta sebagai penanda/petunjuk jalan buntu…!

Ketika beranjak, berbalik dari jalan buntu. Jangan kelupaan
barang-barang kita. Jangan sampai ketinggalan. Karena nanti bisa repot
kalau kita mesti balik lagi ke jalan buntu tersebut hanya untuk
mengambil kembali barang kita yang ketinggalan. Istilahnya, jangan
terobsesilah dengan jalan buntu!

Lalu, kenapa masih ada orang yang berlari-lari seolah-olah
dikejar-kejar setan? Mengapa ada juga orang yang tertatih-tatih cara
berjalannya, seolah-olah dia berjalan di semak berduri? Mengapa ada
juga orang yang ngumpet di jalan buntu yang gelap takut sama aspal
mulus perjalanan mengarah tujuan? Bahkan mengapa ada orang yang duduk
saja seolah-olah perjalanannya sudah sampai, padahal hatinya masih
berharap untuk terus?

Kalau begitu, mari-mari. Kita bikin lagi tenda dan kemping di jalan
buntu. Mari kita curhatkan bersama masalah-masalah kita tersebut.

Hakikat Tujuan

Hakikat tujuan adalah rasa telah sampai. Inilah yang sebenarnya yang
ingin dirasakan ketika telah mencapai tujuan. Yang merupakan rasa puas
karena telah mengarungi perjalanan yang berat. Makin berat
perjalanannya makin puaslah ketika telah sampai pada tujuan. Supaya
kepuasan dapat terjamin, hindari jalan-jalan berikut ini :

1. Jalan yang terlalu membosankan.
Kebosanan akan mengurangi motivasi kita dalam mencapai tujuan. Jika
kita merasa bosan, janganlah duduk-duduk di tengah jalan. Melainkan
carilah sebuah jalan buntu untuk tempat beristirahat. Duduk-duduk di
tengah jalan hanyalah menambah kebosanan diri kita karena masih
terbebani dengan tugas dalam pencapaian tujuan. Duduk di tengah jalan
walaupun tidak kemana-mana memang tidak membuat kita merasa tersesat.
Namun ini bisa menjadi ilusi bahwa kita masih berjalan/mengarah ke
tujuan. Padahal yang kita lakukan gak beda kalau kita beristirahat di
jalan buntu. Jadi kenapa tidak sebaiknya beristirahat di jalan buntu?
Setelah menemukannya beristirahatlah dengan bersandar di tembok jalan
buntu. Ini jauh lebih baik. Karena kita tidak berilusi lagi masih
berjalan menuju tujuan akibat kita masih berada di jalan tujuan kita.
Jadi tidak ada beban `seharusnya tetap berjalan’ ketika waktunya
istirahat. Hanya beristirahat dengan tenang dan rileks.

2. Jalan yang tidak bermakna.
Misalnya jalan yang mengarah ke tujuan adalah jalan yang hanya lurus
belaka. Jalan itu terlalu lurus dan terlalu lebar. Dan misalnya juga
tujuan terlalu mudah tercapai. Jalan mencapai tujuan terlalu pendek.
Mencapai tujuan hampir-hampir tanpa usaha. Maka inilah yang disebut
sebagai jalan yang tidak bermakna. Jalan yang tidak bermakna
mengurangi keinginan kita merasakan kesukaan dalam mencapai tujuan.
Kalau kita misalnya mengetahui jalan yang sedang kita tempuh ternyata
jalan yang tidak bermakna, sebaiknya cari saja sebuah jalan buntu.
Lalu duduk bersandar di temboknya. Sambil mencari rute yang lebih
rumit dan menantang walaupun tempat tujuannya sama. Atau lebih baik
lagi, biarlah cepat-cepat mencapai tujuan. Setelah sampai, kembalilah
ke jalan buntu, lalu duduk bersandar tembok menunggu tugas/keinginan
berikutnya. Bukankah ini lebih baik daripada tidak mencapai tujuan
sama-sekali hanya terus berada di jalan yang tak bermakna?

3. Jalan tanpa tujuan.
Nah, apalagi yang ini. Jauh lebih baik bila kita nongkrong saja di
jalan buntu. Daripada kita ikut-ikutan orang lain berjalan namun
tujuan kita sendiri belum jelas. Ciri-ciri tujuan yang tidak jelas
adalah jalan yang sedang kita jalani ternyata buntu juga. Ketika di
suatu daerah/tempat orang-orang berhenti berjalan karena tempat itu
merupakan tujuan perjalanannya, kita masih tidak bisa berhenti karena
merasa daerah ini bukanlah tujuan kita. Kita masih saja berjalan dan
merasa capek karena terus-menerus bertanya-tanya kapan kita akan
berhenti berjalan. Kalau begini sih, cepat-cepatlah menentukan tujuan
kita. Dan jalan buntu paling mudah dijadikan sebagai tujuan. Sebabnya,
jalan buntu ada dimana-mana dan memiliki tembok sebagai tempat
bersandar.

4. Tujuan tanpa jalan.
Lalu buat apa kita berjalan? Kita tidak memiliki jalan. Lalu buat apa
melangkah? Jangan-jangan jalan yang menuju ke tujuan hanyalah jalan
yang terlalu idealistik atau jalan yang hanya berada pada khayalan
diri kita saja. Atau kita malah berpura-pura tujuan yang sedang kita
tempuh memiliki jalan? Padahal kita telah tahu jalan kita adalah jalan
pura-pura. Orang lain berhenti berjalan ketika sampai pada tujuan.
Kita malah tidak mempunyai garis start. Namun kita tetap saja ngotot
berjalan. Dan ikut-ikutan berhenti bersama orang lain seolah-olah kita
telah selesai menempuh suatu jalan/perjalanan. Seolah-olah kita
memiliki jalan yang mempunyai tujuan seperti orang-orang lain.

5. Tanpa jalan sekaligus tanpa tujuan.
Selamat datang di jalan buntu bagi yang tidak memiliki jalan sekaligus
tidak memiliki tujuan. Inilah jalan yang paling sesuai bagi kita yang
seperti ini. Jalan buntu. Tanpa tujuan dan tanpa keinginan untuk
berjalan lagi. Hanya bersandar di tembok sambil menonton dan menikmati
dinamika usaha orang lain yang sedang berjalan. Makna? Ah… Tentu saja
tembok yang ada di jalan buntu dan bisa sebagai sandaran untuk
beristirahat selamanya adalah makna yang paling tinggi yang paling
bisa kita resapi. Istirahat panjang.

Jadi kesimpulannya, jalan buntu cukup ideal bila dijadikan tujuan
perjalanan. Yang mana setelah tercapai, kita dapat beristirahat dan
bersandar pada tembok jalan buntu tersebut. Daripada yang bukan
merupakan jalan buntu. Dimana kita hanya bisa berhenti berjalan ketika
telah sampai di tempat tujuan. Namun tidak ada tembok untuk bersandar.
Sehingga kita tetap saja kelelahan, apalagi ternyata tempat
perhentian/tujuan kita hanyalah berupa jalan dan jalan lagi. Membuat
pilihan kita satu-satunya setelah mencapai tujuan adalah berjalan
lagi, entah dengan tujuan baru atau belum memikirkannya sama-sekali.
Yang pasti kita merasa terpaksa berjalan karena ada jalan. Lain hal
dengan jalan buntu. Adanya tembok menyurutkan keobsesifan kita untuk
berjalan. Dan ada keuntungan lain. Dengan bersandar di temboknya, kita
dapat menonton dinamika orang-orang lain yang masih berjalan. Entah
bertujuan maupun tidak bertujuan. Dan jangan lupa, masih ada pilihan
kalau-kalau kita ingin berjalan lagi. Yang mana berjalan bukan karena
ada jalan, melainkan karena bersifat pilihan yang terciptakan dari
beristirahat di jalan buntu beserta temboknya.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s