Pencerahan dan utopis hilangnya penderitaan

Bagian 1.

Mari kita tinggalkan dulu sejenak tentang urusan ketuhanan teis. Saya ingin membahas pencarian saya sesungguhnya, dan ini bertolak mulai dari pemahaman ateisme saya. Ini tentang pencerahan.

Saya masih selalu merasa konsep pencerahan itu punya tujuan yang utopis, yaitu bahagia selama2nya. Supaya tidak salah paham, bukan bahagia seperti di akhir2 cerita dongeng, namun bahagia yang masih menghargai perasaan. Misal, saat sedih, tahu sedang sedih, ikhlas menjalani, dan melewati masa2 kesedihan apa-adanya, tidak ditambahi2 drama yang gak perlu. Lalu…. bahagia kembali, bahagia dengan pengayaan perasaan. Begitu pula saat menderita, rasa sakit yang terasa di hati. Dapat dialami dengan ikhlas, secara alami apa-adanya tanpa drama yang ditambah2i sendiri. Lalu bisa melepas, dan… bahagia lagi plus pengayaan lagi dari pengalaman yang sudah2.

Romantis bukan? Katanya, hal itu butuh kesadaran yang tinggi. Lebih tinggi sehingga bisa mengamati perasaan apa adanya, dan lebih tinggi sehingga tidak teraduk2 dengan demikian bisa mengalami, melewati dan melepaskan sehingga bahagia kembali.

Pencerahan seperti memberikan harapan bahwa memungkinkan seseorang untuk bebas dari pikirannya sendiri. Lebih tepatnya, bebas dari perangkap pola pikirnya sendiri. Apakah konsep pencerahan itu sendiri juga merupakan perangkap pola pikir? Mari kita telisik lebih jauh.

(Stop dulu di sini, saya ingin dengar komen2 dari teman2 di sini. Nanti saya lanjutkan lagi di trit ini bagian ke-2 nya).

————————————————————————————————-

Oke bagian ke-2.

Dari komen saya sangat tergelitik dengan sharing dari bu Olga yang menyatakan dulu bisa jauh lebih bahagia daripada saat menerapkan konsep pencerahan yang membuat perasaan seolah2 menjadi flat. Namun sebelum saya membahas hal yang menarik ini, saya ingin melanjutkan dulu narasi saya dari bagian 1.

Teman2, tentu kita pernah dan mungkin akan selalu mengalami pikiran ini seolah2 selalu aktif bersuara, berdebat, seolah2 berisi lebih dari satu orang, dan orang itu bahkan tidak selalu diri kita sendiri. Kita bisa selalu mensimulasikan perkataan orang lain, antisipasi masa depan, antisipasi segalanya, juga menghadirkan peristiwa2 masa lalu. Kalau perlu, bertubi2 datangnya sehingga emosi menjadi naik, badan rasanya menjadi kurang enak, dan kita biasa menyebutnya sebagai STRESS.

Itu baru stress kecil2an. Belum lagi bila kita mengalami musibah berat. Rasanya pikiran merupakan musuh dari diri kita. Terus-menerus menghukum diri kita, terutama bila memang kita yang bersalah.

Apakah pencerahan bisa memberi alternatif lain daripada yang biasa telah kita alami up-down-nya?

Ada teknik-teknik yang udah dikenal. Seperti berpikir positif, membentuk kebiasaan positif, sugesti diri, hipnosis, meditasi, bahkan agama yang berupa tawaran2 konsep untuk ketenangan batin. Saya sebut semua itu adalah pola pikir.

Pola pikir adalah kebiasaan yang telah terbentuk dalam mengatasi persoalan2 secara BATIN. Terbentuk pola pikir tertentu untuk mengatasi persoalan2 tertentu.

Misal, bagi yang religius, menangani kebangkrutan usaha karena kesalahan sendiri. Dia akan mencoba bertobat dan menyerahkan segala persoalan ke tuhan. Ini adalah sebuah pola pikir yang dapat memberikan ketenangan batin.

Begitu pula dengan teknik berpikir positif. Jangan melihat kehancuran atau berkutat menyesali kesalahan diri terus-menerus. Maafkan diri, minta maaf ke orang2 yang telah dirugikan, lalu move on dengan tegar. Ini juga sebuah pola pikir yang lain tapi sama2 dapat memberikan ketenangan batin.

Saya cukup memberikan 2 contoh tersebut walau ada contoh2 lainnya juga. Namun yang ingin saya katakan adalah, menurut saya, pola2 pikir itu punya PERANGKAP. Selain cukup efektif memberikan ketenangan batin, namun mereka (pola pikir) punya kebutuhan untuk MEMPERTAHANKAN DIRI. Iya. Pola pikir butuh energi untuk dipertahankan. Tentu makin banyak digunakan makin terbentuk kebiasaan dan makin mudah bertahan. Terasa mudah seperti apapun tetap saja pola2 pikir ini akan mempertahankan diri mereka.

Pertahanan diri pola pikir ini tentu seringkali tidak disadari oleh empunya otak. Ini terjadi secara alami, hal2 yang dirasa menguntungkan akan dipertahankan berikutnya secara otomatis. Tapi hal ini menurut saya punya efek yang seringkali tidak kita sadari. Yaitu setiap pertahanan yang terjadi tentu punya alat OFFENSIF untuk bertahan. Istilah pencerahannya adalah KETERLEKATAN yang nantinya akan menyerang batin jika KEHILANGAN pegangan.

Contoh kehilangan pegangan bagi yang religius adalah ketika menghadapi kekhawatiran2 akan persoalan2 yang telah ‘diselesaikannya’ padahal cuma ‘ditekannya’. Menyerahkan persoalan ke tuhan bukanlah menyelesaikannya. Persoalan terutama masalah2 yang tidak mudah terselesaikan dan sudah lama terjadi, yang cuma ditekan, pastinya akan menimbulkan kekhawatiran2. Ini cuma masalah waktu kapan persoalan2 itu muncul kembali, mengganggunya. Sehingga timbullah istilah kebutuhan hiburan rohani yang seolah2 tak pernah terpuaskan betul. Ini baru kegelisahan atau persoalan kecil.

Bayangkan bila menghadapi persoalan besar. Tekanan untuk semakin religius semakin besar. Demi bertahannya ketenangan batin (tanpa persoalan itu terselesaikan, atau tanpa kekhawatiran itu lenyap). Dia akan berusaha berdoa terus-menerus. Sampai akhirnya tidak bisa menghindar lagi dan harus menghadapi masalahnya sendiri face to face.

Ketika face-to face pun, pikirannya masih meliuk. Melapisi masalah dengan bayang2 yang bisa dihandelnya. Atas nama tuhan yang ada disampingnya. Itulah manusia dan religius. Mendapatkan kekuatan. Namun itu sama saja roller coaster batin. Bukannya terbebas, tanpa disadarinya telah terkena senjata offensif dari pola pikirnya sendiri. Atas nama ketenangan batin, batinnya terkoyak2. Tapi semua orang dapat memakluminya. Itulah hidup normal.

Kita kembali ke pola pikir satunya lagi? Sama saja. Bahkan bila pakek pola pikir apapun, hasilnya sama saja. Sebagai ateis sekalipun, pastinya menggunakan pola2 pikir dalam menghadapi persoalan.

Nah pola pikir2 atau keterlekatan ini yang pengen dilenyapkan oleh pencerahan. Bahkan, kata orang2 pencerahan, gak boleh ada tujuan, gak boleh ada kata ‘pengen’. Kesadaran harus datang begitu saja. Kita hanya membuka jendela. Semua pola pikir itu akan menjadi abu dengan sendirinya. Katanya.

(Berhenti lagi untuk mendengarkan komen2. Sebelum lanjut ke bagian 3).

—————————————————————————————————————-

Oke lanjut ke bagian 3, ini bagian terakhir.

Jadinya saya sering merenung mengamati sel2 kelabu di otak saya. Coba menggeser sudut pandang menjadi sekedar sudut pandang materialisme. Di mana semua pikiran yang timbul ada korelasinya pada tiap impuls listrik yang muncul di antara neuron2. Saya berpikir, jika pikiran adalah FISIK, maka masuk akal semua yang terbentuk secara fisik, butuh waktu untuk berubah. Tapi yang jadi masalah, untuk merubah, saya tidak bisa melalui operasi otak. Melainkan menggunakan hasil produk otak (kesadaran) untuk merubah fisiologi impuls2 listrik di neuron otak. Saya jadi membayangkan seolah2 seperti pisau yang berusaha menusuk dirinya sendiri atau seperti avatar mmo berusaha mengubah informasi harddisk.

Jika beneran otak itu adalah self mechanism, organ yang bisa mengatur dirinya sendiri, ibarat avatar mmo yang diberi akses option untuk merubah ciri2 ‘fisik’ avatar tersebut. Bisa saja programmer membuat program seperti itu supaya mmo yang dia buat berjalan otomat.

So, bisa saja otak seperti itu, dan memang sepertinya begitu dari pola2 pikir yang terbentuk. Kita memrogram sendiri supaya otak tidak memberikan kimiawi yang menyakiti perasaan kita. Masalahnya yakin kita bisa memrogram??? Atau cuma jebakan lain.

Mengapa kita mendapatkan mekanisme pola pikir yang punya punishment seperti ini? Untuk bertahan hidup dari marabahaya dasar yang mengancam hidup kita sih ok2 saja. Kita butuh rasa sakit fisik. Kita butuh rasa takut dalam perasaan sehingga respon kita bisa cepat. Tapi sekarang kita hidup di dunia modern, dimana tanpa pemicupun kita bisa stress sendiri. Depresi, bahkan stroke karena stress itu udah biasa. Membunuh diri sendiri dengan racun (rokok, narkoba, alkohol, pekerjaan, dlsb) atas nama stress juga semakin sering. Udah semakin gak berguna untuk bertahan hidup dasar. Yang kita butuhkan hanyalah rasa takut dasar, tapi yang kita dapatkan adalah pola pikir yang hobi menghukum diri kita.

Saya juga sering berpikir, apakah otak kita harus kita rawat selayaknya tubuh kita? Caranya juga sama dengan olah raga, jaga makanan, cukup tidur dsb? Kita sebenarnya tidak punya kebebasan terhadap otak. Bila misal kita sengaja menonton film porno lalu kita berharap lama2 tidak kecanduan? Bila misal kita sengaja berkata2 kotor lalu berharap itu tidak jadi kebiasaan kita? Bila misal kita berkata2 bohong dengan sering, lalu berharap itu tidak jadi kebiasaan kita? Ibarat otot pada tubuh, bila tidak dilatih jadi kendor, perut jadi buncit, begitu juga otak, dalam hal ini istilahnya batin, menjadi busuk dan kotor?

Kita seringkali meremehkan istilah batin kotor, pikiran kotor, karena seringkali mungkin kita kelupaan otak adalah properti FISIK. Neuron kita terbiasa jahat, maka jahatlah kita. Itu udah ada ‘otot-nya’. Gak bisa berubah begitu saja. Butuh waktu dan tekad. Seperti tekad untuk berolah-raga.

Meditasi untuk pencerahan? Apakah itu berarti kita sebenarnya cuma ngaca saja? Lalu berharap kesadaran datang, karena melihat bentuk ‘neuron’ kita yang menjijikan, kesadaran untuk berolah-raga? Masalahnya, saya sering membaca cerita2 zen, dimana SEKETIKA orang itu jadi SADAR dan BAHAGIA. Betapa enaknya. Betapa mudahnya. Sekedar ngaca lalu sadar diri.

FIN.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s