Apa yang terjadi ketika kita mati? (bag. 1)

Topik kematian selalu merupakan topik yang penuh dengan misteri. Namun
bila kita mau berusaha berpikir lebih jauh dan membebaskan diri dari
otoritas pengetahuan yang telah ada di pikiran kita, mungkin fenomena
kematian bisa kita mengerti atau paling tidak bisa kita sadari sebagai
realita fisik seperti kehidupan. Banyak yang menganggap kematian
terpisah dari kehidupan. Atau dengan kata lain, yang disebut dengan
‘hidup’ itu rentangnya hanya dari kita lahir (atau paling tidak di
mulai dari pembuahan) sampai kita berhenti bernafas. Di luar rentang
tersebut kita tidak mendefinisikan sebagai ‘kehidupan’. Walaupun
banyak yang menyebutnya sebagai ‘kehidupan setelah mati’, ‘roh’,
‘kehidupan spiritual’, dsb.

Dan dari pengertian ‘kehidupan terpisah dari kematian’ maka kita
mengenal konsep ‘dunia materi’ dan ‘dunia non materi’. Materi biasa
disebut atau didefinisikan sebagai ‘sesuatu yang nyata yang bisa
dicerap oleh indera-indera tubuh’. Sedangkan non materi biasa disebut
sebagai ‘sesuatu yang tidak nyata yang tidak bisa dideteksi oleh
indera tubuh namun terasa keberadaannya’. Materi berada dalam tingkat
‘indera’, non materi berada dalam tingkat ‘rasa’. Contoh non materi
yang paling mudah di’rasa’kan adalah pikiran. Berikutnya adalah
perasaan, jiwa, roh, spirit, dsb. Manusia terdiri dari tubuh dan jiwa
, konsep ini muncul karena kita telah memisahkan pengalaman kehidupan
dan pengalaman kematian.

Lalu bagaimana jadinya bila kita membuang konsep ‘kehidupan terpisah
dari kematian’? Yang artinya kehidupan dan kematian dimengerti sebagai
satu-kesatuan pengalaman yang tidak terpisah. Menyatakan hidup kita
TIDAK BERAKHIR ketika kita mengalami kematian. Banyak agama dan konsep
-konsep spiritualisme yang telah menggali tema seperti ini. Dan banyak
yang telah menyatakan bahwa hidup terus berlanjut setelah kematian.
Namun satu hal yang pasti, konsep-konsep yang diusung oleh agama
maupun spiritualisme kebanyakan hanya bisa dimengerti melalui ‘rasa’
atau melalui pengertian non materi. Yang akibatnya tidak bisa
dilegitimasi oleh ilmu pengetahuan yang sangat menjunjung tinggi
materialisme atau pencerapan oleh indera-indera tubuh.

Nah, hal inilah yang membuat pengalaman kehidupan sesudah mati tidak
bisa dijadikan sebagai suatu cabang ilmu. Misalnya saja disebut ilmu
‘kematian’. Atau menganggap kematian hanyalah sebagai teknologi portal
belaka. Tidak bisa atau belum bisa seperti itu, karena sampai saat ini
ilmu masih berbatas rentangnya dari kehidupan materi (yang rentangnya
sesudah kelahiran dan sebelum kematian).

Keterbatasan ilmu inilah yang membuat kita sebagai manusia terus
penasaran dan membuat pengalaman hidup sesudah mati hanya dapat
dibayangkan sebatas kepercayaan individu masing-masing. Menurut saya,
ini terjadi karena kita telah MEMISAHKAN pengertian kita terhadap
kehidupan menjadi 2 bagian yang telah disebutkan di atas, yaitu bagian
materi dan bagian non-materi. Jika kita masih memisahkan hal tersebut,
maka menurut saya, kita telah membuat suatu definisi batasan yang kita
buat sendiri. Intinya, kita telah MEMBUAT KESIMPULAN bahwa dunia nyata
dimana kita hidup didefinisikan sebagai entitas NYATA dan TELAH ADA
yang terpisah dari ‘diri’ kita. Dalam hal ini ‘diri’ dirujuk sebagai
‘roh atau jiwa’ kita. Dunia nyata diasumsikan TELAH ADA sebelum kita
lahir atau hadir di dunia tersebut. Dan itu disebut sebagai sejarah
dunia. Dunia nyata juga diasumsikan TETAP ADA walaupun kita telah mati
atau meninggalkan dunia tersebut. Ini dapat dikatakan sebagai dunia
masa depan yang eksis bagi anak-cucu atau generasi penerus kita. Dan
terakhir, dilihat dari sudut individu, dunia nyata hanya eksis ketika
kita lahir sampai sebelum kita mati. Yang artinya ketika kita telah
mati, dunia yang kita alami AKAN BERBEDA dengan dunia nyata, begitu
juga sebaliknya, BERBEDA PULA dengan dunia nyata, apa yang kita alami
sebelum kita lahir.

Inilah definisi dari dunia nyata, yang telah menjadi pondasi bagi
perkembangan ilmu pengetahuan dewasa ini. Namun pemisahan mana yang
nyata dan mana yang tak-nyata, atau disebut fragmentasi, telah
menghasilkan suatu pendekatan terhadap kehidupan yang tidak utuh. Yang
mana telah dan terus menghasilkan konflik akibat fragmentasi yang
terjadi dalam memahami kehidupan. Dalam bagian selanjutnya dari
tulisan ini, saya akan membahas tentang pemaknaan dunia nyata,
penyatuan diri dengan alam semesta, kematian sebagai pengingat
kesejatian diri, dsb.

BERSAMBUNG.

Salam.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s